TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
58 KEMATIAN ISTRI TONI


__ADS_3

Santi mencoba menggapai Toni dengan sisa tenaga yang masih dimiliki, ia menangis menahan nyeri. Darah mengalir di sela-sela kakinya. "Toni," sebutnya lirih.


"Bakar! Bakar! Bakar! Bunuh!"


Obor dilempar oleh mereka, rumah terbakar dan api membesar terhembus angin. Santi merasakan panas, ia mulai berkeringat, lututnya terasa lemah, lumpuh seketika dan tersungkur. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Asap api membuatnya kesulitan untuk bernapas, perutnya mulai terasa nyeri kembali. "Toni!" Tenaganya sudah terkuras habis, nyaris tidak sadarkan diri. Hanya mampu merayap sambil mengeret perutnya yang terasa berat.


Kepala Toni melayang di atas atap dan menembus masuk ke dalam. Kembali menyatu pada tubuhnya, lama ke lamaan sempurna. Jemarinya bergerak perlahan dan matanya terbuka. Santi menyaksikan kejadian itu syok berat, ia batuk dan mengeluarkan darah segar.


"Santi!" teriak Toni saat melihat Santi terkapar tidak berdaya. Toni segera memangku kepala istrinya.


"Pantas saja mereka membakar rumah ini. Kamu ternyata bukan manusia baik, uhuk! Uhuk!"  Airmata Santi mengalir deras.


"Tidak, tidak! Aku melakukan ini karena cinta padamu!" ralat Toni sambil mengguncang tubuh Santi yang nyaris terkulai. "Santi, bertahanlah!"


"Seandainya di kehidupan nanti aku hidup kembali, tolong jangan pernah kamu mencintaiku. Aku tidak ingin anakku jadi sepertimu!" pinta Santi. Napasnya mulai sesak.


"Jangan berkata begitu!" teriak Toni sambil menangis merangkul kepala Santi.


"Bi-bi--biarkan, aku pergi," ucap Santi sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.


Api melahap rumah itu, tidak ada satu pun yang menolong mereka. Toni membawa Santi dengan menerobos pintu dapur. Api membakar punggungnya, tidak dihiraukan. Ia terus berlari jauh sangat jauh dari sana. "Akh!" teriak Toni histeris segera bersimpuh di tengah hutan sambil menggendong tubuh Santi. Diturunkannya Santi dan menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kamu tingalkan aku?! Kenapa?!"


Toni menggali tanah dengan kukunya untuk mengubur Santi. Setelah selesai dikuburnya Santi di sana. Toni diam di samping kuburan istrinya berhari-hari tanpa makan dan minum.

__ADS_1


"Sedang apa dia di sana?" tanya salah seorang dari mereka yang melewati hutan itu.


"Entah, sudah tiga hari dia di sana sedang melamun di atas gundukan itu."


Toni mendengar, tetapi hanya diam tidak bergeming. Ia tidak akan mau dan tidak akan pernah menjauh dari Santi. Hingga suatu hari kontraktor datang untuk menggusur hutan itu.


"Minggir! Kamu tidak lihat kami sedang meratakan tanah ini!" bentak satu dari mereka.


Toni memandang orang yang membentaknya, ia kemudian memandang pusara Santi. "Ini kuburan istriku. Aku tidak bisa membiarkan kalian menggusurnya."


"Kamu pikir ini tanah nenek moyangmu! Enak sekali mengubur orang di tanah atasan kami!"


"Biarkan dia di sini, kumohon!" pinta Toni.


"Hey, kenapa belum bekerja!" teriak pengawas mereka.


"Pindahkan!" bentaknya.


Toni memandang pengawas itu dan berlutut. "Biarkan dia di sini, kalau harus pindah akan pindah ke mana kami?"


"Itu urusanmu! Resikomu menanam orang di situ!" bentak pengawas itu. "Ratakan!" perintahnya.


Toni segera berlari menghalangi mobil yang akan meratakan kuburan Santi. "Bunuh aku dulu!" tantangnya.

__ADS_1


Pengawas mendesah dan para pekerja menjadi cemas dengan keadaan Toni. "Kembalilah ke asalmu, dan kubur dia di sana," saran Pengawas. Nadanya mulai melunak.


Toni menggeleng lemah, ia tidak punya tempat lagi di sana. Bagaimana bisa mengubur Santi di kampung yang menolak mereka. "Saya tidak bisa," jawabnya lemah. Putus asa sekali dirinya.


"Kami hanya bekerja, tolong pindahkan kalau tidak akan kami gusur. Besok kami ingin kamu sudah tidak adalagi di sini," pintanya. Ia memerhatikan pakaian Toni yang terbakar di bagian belakang.


Toni terdiam, memandang mereka yang merubah arah penggusuran ke arah timur. Ia memandang kembali kuburan Santi. "Santi, ke mana lagi kita? Semuanya hancur tidak tersisa. Ke mana aku harus menguburmu, San?" Toni menangis kembali sambil menaruh kepalanya di atas pusara Santi.


Siang berganti malam, para pekerja akan pulang. Pengawas mereka menaruh bungkus berisi nasi ke samping Toni. "Makanlah," katanya. Setelah itu pergi bersama mereka.


Toni memandang kepergian mereka, ia menatap nasi bungkus yang diberikan tadi, tak ada niat untuk membuka apalagi memakannya. Ia kembali menaruh kepalanya di atas kuburan istrinya.


Suara lolongan anjing saling bersahutan, membuat Toni memandang ke sana-kemari. Uwe...! Uwe...! Ia seperti mendengar suara bayi sedang menangis di sekitarnya. Uwe! Uwe! Toni mendekati kuburan Santi dan mendengarkan. "Uwe! Uwe! Ia tersentak mundur dan segera merayap maju menggali tanah. "Anakku! Anakku, lahir!" teriak Toni penuh semangat. Ia tidak lelah menggali walau tangannya terluka.


Uwe! Uwe! Toni terkesima melihat bayi perempuan di atas tubuh istrinya. Ia menangis terisak sambil menggendong bayinya. Menciuminya dengan kasih sayang. "Santi, anak kita lahir, San!" Ia memandang jenazah Santi yang membiru. Ia membuka bajunya dan menutupi tubuh bayinya. Memeluknya dengan erat membawanya jauh dari sana meninggalkan jenazah Santi.


"Dialah Talia, anakku satu-satunya dari Santi." Toni telah selesai bercerita. Pemuda itu menyapu airmatanya dan tersenyum getir. "Istirahatlah. Selamat malam," katanya sambil memerbaiki selimut dan mengusap lembut pipi Shabita kemudian pergi.


Shabita terharu mendengar jalan kisah Toni, walaupun hatinya membenci, namun tidak bisa ia pungkiri betapa ia juga kasihan pada pemuda itu. Apakah hatinya akan terbuka untuk menerima Toni? Sayangnya rasa cinta itu hanya untuk pemuda di sana yang setia menunggunya.


Anggara terdiam di seberang sana, ia mengenakan jaket dan kacamata hitam. Memandang Shabita yang sedang berdiri di balik jendela sedang memandangnya pula. Seperti ada ikatan di antara dia dan gadis itu, Shabita tahu Anggara di sana sedang memandangnya dari jauh. Gadis itu berbalik dan bersandar pada teralis jendela. Ia memejamkan mata dan tersenyum.


Talia masuk ke kamar ayahnya. Ia tersenyum menyelimutinya. "Papa, Talia sayang, Papa. Jangan menangis lagi, Pa." Talia membelai lembut kening ayahnya. Ia mematikan lampu kamar dan menutup pintu secara perlahan.

__ADS_1


Talia menghela napas, ia tidak pernah ingin seorang ibu apalagi ibu tiri. Baginya ayahnya sudah lebih dari cukup. Hadirnya Shabita hanya pelengkap kebahagiaan ayahnya dan itu yang membuat Talia tidak sanggup menolak pernikahan mereka. "Kebahagiaannya juga kebahagiaanku," ucapnya beberapa minggu lalu saat pertama kali bertemu Shabita.


Jangan lupa like ya. Malam saya akan up kembali. Kalau bisa komentari


__ADS_2