
Anggara baru tiba di kantor, ia segera berlari ke dalam dan bertanya pada resepsionis. Ia ditunjukkan ke arah
ruangan Chang. Dengan segera ia mendatangi gadis itu di sana.
"Siapa?" tanya teman sesama kerjanya sebagai resepsionis tadi.
"Gak tahu. Katanya nyari Shabita," jawabnya.
Mereka memandang kepergian Anggara hingga pemuda itu menghilang di ujung lorong sana. Anggara masuk ke dalam lift dan menekan angka tiga. Setelah tiba di ruangan yang ditujunya, ia segera berlari ke dalam ruang staf bagian pemasaran dan keuangan.
"Shabita-nya ada?" tanyanya pada Sani yang kebetulan sedang duduk sambil mengerjakan tugas dari Chang.
"Kamu siapa?" tanya Sani. Ia meneliti seragam pemuda itu.
"Saya kenalan Shabita yang ditelepon tadi." Anggara segera menunjukkan bukti panggilan masuk di ponselnya pada gadis itu.
Semua karyawan yang bekerja di situ berdiri. Nampak terkejut dengan pernyataan Anggara. Pemuda itu memandangi sikap heran mereka dengan pandangan bertanya-tanya.
"Shabita sudah dijemput 5 menit yang lalu," kata Lani dari ujung sana.
"Sama siapa?!" Kini gantian Anggara yang terkejut. Ada kepanikan di balik sikapnya.
"Dia bilang namanya Anggara," sahut Chang yang baru keluar dari ruangannya.
Anggara menghampiri Chang dan menatapnya. "Anggara itu saya. Kalian salah orang," katanya.
Semua terkejut dengan pengakuan pemuda itu. Mereka mulai panik dan bertanya-tanya siapa yang sebenarnya membawa Shabita.
"Maaf, kami tidak tahu," ucap Chang lirih. "Begini saja, saya akan membantu sebisa saya untuk menemukan gadis
itu," tegasnya.
Anggara memejamkan mata kemudian membuka matanya dan menghembuskan napas lelahnya. Ia memijat keningnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya diletakkan di antara pinggangnya. "Kalian harus
memberi keterangan serinci mungkin bila dalam 24 jam dia tidak ditemukan," kata Anggara seraya menunjuk pada mereka satu per satu.
Setelah berkata demikian ia segera meninggalkan kantor itu untuk kembali pulang dan memastikan keberadaan Shabita.
"Vanesa! Vanesa!" Anggara mengetuk pintu kamar gadis itu begitu keras karena Shabita tidak juga membuka pintu kamar penginapannya.
__ADS_1
"Dia belum pulang," kata ibu pemilik penginapan itu. "Bukannya kamu sering mengantar-jemput dia. Kok gak
tahu?" tanyanya. Setelah berkata begitu ibu itu pergi.
Anggara memandang kepergian perempuan itu dengan tatapan mata kosong. Ia bingung harus mencari gadis itu ke mana. Shabita selama ini tidak pernah bercerita apa pun tentang keluarganya dan para sahabatnya. Ia
meremas rambutnya, hampir menangis. "Zakaria, dia pasti tahu!" Anggara tiba-tiba ingat pemuda itu. Ia segera pergi lagi untuk menemui pemuda itu.
Zakaria bingung saat melihat Anggara mendatanginya sendirian. Tidak biasanya pemuda itu menemuiyatanpa Shabita. Tumben. Batin Zakaria.
"Apa kamu melihat Shabita atau dia bersamamu sekarang?" tanya Anggara.
"Sudah beberapa hari ini Shabita tidak datang," jawabnya.
Anggara mengawasi Masjid di mana mereka berdiri. Ia mencari sosok Shabita di sana. Zakaria sepertinya tahu apa yang ia cari.
"Kamu benar tidak melihatnya?" Anggara mengulang pertanyaannya lagi.
"Untuk beberapa hari ini belum," jawabnya.
"Oke, kalau kamu melihatnya segera menghubungi
Anggara kembali lagi ke kamarnya dan menghirup napas sebanyak-banyaknya. Ia putuskan untuk mandi dulu dan setelah selesai kemudian pergi lagi dengan mengenakan kaus hitam dan celana levi's biru. Kembali menaiki motornya dan melaju.
"Hey, siapa itu yang datang. Tumben dia tidak pakai seragam," kata Ali pada temannya.
Anggara memarkirkan motornya dan masuk begitu saja. Ia membuka berkas di mejanya, menulis sesuatu di sana dan berjalan memberikan buku itu pada Tono yang sedang mengetik laporan dari tersangka yang dimintainya
keterangan. "Buat laporan dalam buku ini," perintahnya.
"Atas nama pelapor siapa, Pak?" tanya Tono.
"Tulis nama saya. Kerjakan cepat biar saya bisa mengajukan ini pada komisaris," perintahnya lagi.
"Tapi hilangnya belum 24 jam, Pak. Kita tidak bisa membuat laporan kehilangan saat ini," tolak Tono. "Bapak tahu, 'kan prosedurnya," tambahnya lagi.
Anggara menggosok pelipisnya, merasakan marah dan kecewa. "Buat saja dulu, bila sampai waktunya baru kamu berikan padanya." Anggara mengalah. Pemuda itu mendesah kemudian pergi lagi dengan motornya.
****
__ADS_1
MALAM pukul 19:20, Chang ditelepon Anggara, ia diminta untuk tidak pergi ke mana-mana. Pemuda itu disuruh menunggunya saja di rumah. Suara motor terparkir di depan rumahnya. Chang segera memerintahkan pelayannya untuk membuka pintu dan mempersilakan pemuda itu duduk di sofa.
"Silakan duduk, Tuan." Pelayan wanita berusia empat puluh tahun memintanya untuk duduk.
"Ke mana majikannya?" tanya Nggara sambil mengawasi setiap sisi ruangan itu.
"Di dalam sedang menyiapkan semua bukti yang Bapak pinta," jawabnya. "Saya permisi, Pak. Mau buatkan minum," pamitnya.
Tidak lama Chang datang dengan membawa tas berisi barang yang diminta Anggara di telepon tadi. Ia mengeluarkan laptop dan beberapa kaset rekaman CCTV di kantornya. Anggara mengamatinya hingga rekaman itu ditayangkan. "Coba lihat ini," kata Chang seraya menunjuk layar laptopnya. "Ini rekaman kemarin pagi hingga siang hari," tambahnya lagi.
Rekaman ditayangkan mulai dari Shabita turun dari mobil hitam hingga gadis itu masuk ke dalam kantor dan pingsan. Tidak lama datang seorang pemuda yang hampir sama dengan Anggara, tetapi wajah mereka berbeda, yang menyamakan hanyalah tubuh mereka. Pakainnya juga hitam seperti yang Anggara kenakan saat ini.
"Itu orang yang membawanya?" tanya Anggara.
"Iya," jawab Chang.
"Percepat waktunya. Saya mau melihat kendaraan yang digunakan!" perintah Anggara.
"Sebentar." Ia kembali menentukan waktu rekaman itu lebih cepat ke arah di mana kendaraan pelaku itu terparkir.
"Ini." Chang memutar layar laptopnya ke arah Anggara.
Mobil merah terparkir di sana dan seseorang yang dikira mereka adalah Anggara membawa Shabita masuk ke dalam mobil itu. Anggara segera menghafal nomor plat mobil itu. "Terima kasih." Anggara segera
berdiri dan meninggalkan Chang yang mengantarnya sampai di depan pintu.
Chang mematung memandang halaman rumahnya yang kosong, ia menghela napas. Gadis yang
disukainya telah memiliki pemuda lain di hatinya.
Anggara memarkirkan motornya di tepian jalan yang biasa dipakai oleh anak-anak muda nongkrong di sana. Ia mengambil duduk di bangku tepian itu dan mengambil ponsel yang tersimpan di saku depan celananya. "Halo, Pak. Laporan saya sudah sampai pada Tono siang tadi. Tolong dicek," pintanya. Setelah menelpon ia membuka galeri foto HP-nya. pemuda itu memandang foto Shabita yang sedang memakai pakaian dokter, foto itu dulu ia ambil secara diam-diam saat Shabita sedang berbicara dengan Dokter Hariadi.
Beberapa bulan yang lalu sebelum kematian Vanesa
Asaka dan Anggara sedang mengunjungi Rumah sakit. Mereka sedang ada tugas memeriksa pasien korban kecelakaan di Rumah sakit itu. Mulanya Anggara akan pergi bertanya pada dokter tentang kondisi pasien, tetapi langkahnya terhenti. Ia mendorong Asaka untuk maju dan Anggara malah bersembunyi di balik dinding.
"Kamu saja," katanya waktu itu.
Asaka tidak membantah, pemuda itu mengiyakan perintah sahabatnya itu dan pergi. Anggara mengambil. handphone-nya dan memotret seorang gadis yang mengenakan pakaian putih sedang mengobrol dengan rekannya. Cepat-cepat disimpannya handphone itu saat Asaka datang sambil membawa beberapa berkas yang disimpan dalam map kuning berkunci. Anggara berjalan keluar dengan sesekali memandang ke belakang menatap gadis yang sedang tertawa bersama rekan-rekannya. Bila mengingat itu semua ingin rasanya ia menangis dan berteriak memanggil nama gadis itu. Tanpa terasa air matanya mengalir dan jatuh pada layar ponselnya.
__ADS_1