TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
99


__ADS_3

Anggara membawa Shabita ke rumah Sean untuk sementara sebelum mereka pulang ke Indonesia.


"Rumahku bukan penampungan warga miskin. Sudah pulang minta didanai, eh malah numpang lagi!" omel Sean pada Anggara.


"Kejam sekali, sih!" balas Anggara.


"Sariani! Kamu urus mereka!" perintah Sean. Ia berlalu sambil merampas tas yang dibawa Shabita. "Laki apa bukan, sih? Istri disuruh gendong bayi sekaligus bawa tas berat!" omelnya lagi.


Shabita memandang punggung Sean yang menjauh dari mereka. "Dia marah?" tanyanya.


"Nggak, dia cuma bercanda," sangkal Anggara.


Prang! Brak! Mereka terkejut mendengar suara pecahan kaca dan barang yang dihantam di dalam sana.


"Kayaknya dia nggak suka kita tinggal di sini?" duga Shabita. Ia tidak enak dengan Sean.


"Ah, dia it--" Brak! Dar! "Woy! Ngapain itu?!" teriak Anggara sambil  mendatangi Sean ke ruang tengah.


"Apa?" tanya Sean.


"Kamu kenapa ribut?" tanya Anggara sambil memperhatikan kelakuan Sean.


"Suka-suka akulah. Sana, istirahat!" Ia mendorong Anggara untuk menjauhinya.


"Ngapain, sih dia?" tanya Shabita saat Anggara kembali.


"Nggak usah dipikirkan. Ayo istirahat," ajak Anggara.


Sariani meraih boneka beruang yang berada di kamarnya. Ia memindahkannya ke kamar Sean. Shabita sempat melirik kelakuan Sariani yang terkesan manis baginya.


"Bikin apa, sih?" tanya Sariani saat memandang Sean sedang sibuk di dapur.


"Masak buat ipar," jawab Sean.


"Kenapa nggak nyuruh aku?' tanya Sariani.


Sean melirik Sariani. "Aku lupa kalau ada kamu," jawab Sean.


"Tadi memerintah nggak lupa, tuh!" sindir Sariani.


"Masa?" goda Sean.


"Hah! Dasar!"


Anggara mencari sesuatu di dalam tasnya. Shabita yang kini menaruh Dara di atas kasur, tercuri perhatiannya karena tingkah pemuda itu.

__ADS_1


"Cari apa, sih?" tanyan Shabita.


"Tadi aku naruhnya di sini," jawab Anggara.


"Apanya, mungkin terselip ke dalam tasku."


"Masa?" tanya Anggara ragu.


"Emang nyariin apa?" tanya Shabita penasaran.


"Hatiku."


"Sial!" Shabita sudah dapat menebak arah perkataan selanjutnya pemuda itu. "Dimakan kucing kali!" ejeknya seraya berbaring.


"Serius, tadi aku beli hati sapi kumasukkan ke dalam tas ini untuk dimasak," kata Anggara.


"Jadi bukan maksud ngerayu?" Shabita bangun dari baringnya.


"Ah, kamu. Minta dirayu melulu."


"Siapa juga," elak Shabita.


"Ke mana, ya?" gumamnya.


"Coba tanya Sean. Dia yang bawa tas ke sini tadi," saran Shabita.


"Tidak, emangnya punya uang buat beli?" sindir Sean.


"Serius!" Anggara kesal.


"Enggak ada buka-buka tasmu. Mungkin kamu salah menaruhnya?" duga Sean.


"Aku yakin, Sean. Aku naruhnya di dalam tas."


"Daging, kok ditaruh di tas pakaian. Ada-ada aja kamu, Ang," ejek Sean sambil mencolek pipi Sariani.


"Apaan, sih?!" decih Sariani sambil menjauh.


"Atau mungkin tasmu bocor," duga Sean.


"Kalau gitu semuanya pasti jatuh." Anggara pusing sendiri memikirkannya. "Ah, lupakan." Anggara akhirnya menyerah dan kembali ke kamar. Ia memandang Shabita yang telah tertidur lelap sambil merangkul Dara.


Pemuda itu memandang Dara yang terjaga, ia tidak menangis saat matanya terbuka. Anggara diam-diam memangkunya. Bahkan saat pemuda itu memainkan hidung mungilnya dengan cara ditarik-tarik pelan olehnya.


Shabita gelisah, wajahnya berkeringat, Ia bermimpi sedang berada di sebuah rumah sederhana sedang memandang dirinya yang sedang memasak di dapur. Seorang gadis,  tidak terlihat wajahnya sedang membelakanginya menuju dirinya di dalam mimpi itu. Gadis itu membawa pisau tajam di belakangnya, siap untuk melukainya.

__ADS_1


"Jangan!" Ia coba mencegah, tetapi malah berpindah ke tempat lain. Kini dirinya berada di sebuah kamar. Aaaah! Ia mendengar suara orang mengerang kesakitan. "Apa itu?" gumamnya. "Hah?!" Ia terkejut saat memandang di kasur ada sebuah tubuh tanpa kepala. Padahal tadinya kamar itu kosong tiada berpenghuni. Shabita syok, ia termundur dan segera melangkah cepat menuju pintu kamar. Brak! Pintu kamar terkunci. "Tolong! Tolong!" mohonnya sambil menggedor kuat-kuat pintu.


"Mama ... Mama!" Suara seorang gadis memanggilnya.


"Tidaak!" jerit Shabita.


"Van! Vanesa!" Anggara segera menaruh Dara dan memangkul kepala Shabita.


"Aku mimpi!" kata Shabita. Ia memandang dengan wajah tegang Anggara.


Anggara menyeka keringat di wajah Shabita. "Suuussst ... itu cuma mimpi. Tenang, ya."


"Aku takut, Anggara! Dara ... Dara?" Ia mencari-cari putrinya.


"Itu dia," tunjuk Anggara tepat di sampingnya.


"Aku takut, dia jadi sepertiku," kata Shabita. Ia melirik Dara yang sedang bermain sendiri.


"Jangan pikir kejauhan," kata Anggara sambil mengusap lembut kepala Shabita.


Shabita merangkul erat pinggang Anggara. "Aku takut!" ucapnya.


"Kenapa kalian mesra-mesraan? Bukannya istirahat?" sindir Sean. Ia telah bersandar pada sisi pintu. "Makan dulu," ajaknya. Ia segera pergi setelah berkata itu.


"Yuk, kita makan," ajak Anggara sambil membawa Dara.


Sariani dan Sean telah berada di meja makan. Mereka sengaja menunggu Shabita dan Anggara.


"Lama amat, sih. Aku lapar! Aw!" Sean menjerit saat sariani menusuk pinggangnya dengan garpu. "Kamu ini genit!" omel Sean.


"Mulutmu itu kejam, tidak pernah diamplas. Makanya begitu kasar!" hina Sariani.


"Mulutku bukan papan!" bentak Sean.


Shabita dan Anggara telah berada di meja makan. Mereka hanya diam saat Sariani dan Sean sedang bertengkar mulut.


"Van," kata Anggara sambil menyajikan piring dan isinya dengan sebelah tangan.


"Biar Dara aku yang gendong. Kamu saja yang makan!" Shabita mendorong piring yang disajikan Anggara untuknya ke arah Anggara.


"Makan saja. Gantian, ya." Anggara menolak untuk makan lebih dulu.


"Melihat kalian aku jadi ingin menikah. Hanya saja perempuannya yang gila nggak mau sama aku!" sindir Sean. Ia melirik Sariani yang sedang menusuk-nusuk daging dengan garpu. Penuh emosi.


"Siapa perempuan bodoh itu?" tanya Shabita. "Ah," jerit tertahan Shabita saat Anggara mencubit lengannya dan wajahnya menunjuk ke arah Sariani. Kini tahulah ia bahwa Sariani-lah perempuan yang dimaksud Sean. Ia jadi tidak enak hati lantaran mengatakan 'bodoh' pada sahabat sendiri.

__ADS_1


Sariani menghentikan kegiatannya di saat Anggara dan Shabita diam-diam memandangnya. "Apa lihat-lihat? Mau mengatakan aku bodoh lagi?!" bentak Sariani. Ia kembali menusuk-nusuk daging.


__ADS_2