
Bingung mau kasih judul di tiap capternya. Baca aja, deh ya.
Talia beberapa kali menghubungi Anggara, tetapi pemuda itu tidak mengangkat teleponnya. Dalam hati terbesit rasa curiga bila telah terjadi sesuatu dengan mereka dalam perjalanan pulang atau berangkat. Ia mendesah sambil menyisir rambutnya naik ke atas kepalanya.
"Ke mana dia?" gumam Talia. Ia keluar menuju balkon, ingin melihat ke bawah, siapa tahu mereka datang. Namun, ia kembali mendesah dan memukul pagar pembatas balkon. "Kenapa ini, tidak biasanya sudah semalam ini mereka tidak pulang?!" kesalnya. Ia berjalan menuju kamar Shabita, membuka perlahan pintu dan memandangi kamar Shabita yang kosong. Dicoba menghubungi kembali, hasilnya tetap nihil. "Sial! Kenapa ini?"
Di tempat lain Shabita sedang mengelus perutnya. Ia kemudian terkejut memandang ke tempat lain. "Siapa?" tanyanya. Saat itu Anggara dan Sean sedang mengobrol di dalam dan Shabita meminta izin pada mereka untuk menghirup udara di teras. "Siapa di sana?" Ia menghampiri pohon hias milik Sean.
"Memangnya rencanamu akan ke mana saat ini?" tanya Sean. Ia duduk di sofa sambil meraih secangkir teh buatan Shabita yang telah disediakan di atas meja untuk mereka berdua.
"Kalau bisa pulang ke In--"
"Tolong! Anggara!"
Mereka kompak memandang ke luar dan segera berlari. Dilihat Shabita sudah tidak ada lagi di sana.
"Van!" panggil Anggara sambil mencari gadis itu.
"Shabita!" Sean ikut pula mencari.
"Ke mana dia?" tanya Sean. Ia tahu Anggara juga bingung. Namun, begitu tetap saja bertanya.
"Tadi dia di sini!" Anggara emosi. Ia berjalan ke luar pagar dan memandangi semua sisi jalan. "Di mana kamu?" Nyaris menangis lantaran putus asa.
"Kita cari dengan mobil. Siapa tahu dia belum jauh!" ajak Sean. Pemuda itu segera masuk ke rumah, kemudian meraih kunci mobil yang terdapat di laci meja tamu. Ia segera berlari ke mobil BMW merah miliknya. "Anggara, cepat!" teriaknya dari dalam mobil.
Anggara segera masuk saat Sean telah mencapai pintu pagar. "Semoga saja belum jauh," harapnya.
Di tempat berbeda Shabita di dorong ke rumah yang pernah menampungnya dulu. Hanya saja Ia tidak mengenali lagi lantaran bukan dirinya yang dulu di sana, melainkan Wati.
"Mau apa kamu membawaku?" tanya Shabita.
"Mau apa katamu? Sudah kubilang aku pernah memungutmu dan kamu tidak tahu terima kasihnya sudah menolakku!" bentak Leo.
"Tahu dari mana kamu aku di sana?" tanya Shabita seraya mundur menghindari Leo.
"Kuintai sejak hilangnya kamu." Leo maju.
"Mau apa kamu?" tanya Shabita. Ia tegang saat Leo menodongkan pisau ke arahnya, walaupun tahu dirinya kebal apa pun. Namun, tetap saja ia ketakutan.
"Anak ini," tunjuknya pada perut Shabita. "Aku mau anak ini!"
__ADS_1
"Nggak! Ini anakku!" tolaknya sambil menutupi perut.
"Maria menolak keturunan dariku, maka aku menginginkan anak darimu. Kamu tahu Sha? Sudah berapa orang yang kuhabisi karena menolak memberi anak padaku ... nasibnya pun sama denganmu bila menolakku!" ancamnya sambil mengelus wajah Shabita dengan pisau.
Shabita menyipitkan mata, ia menelan ludah. "Kamu gila!" hinanya.
"Ya, aku gila! Aku tidak mau cinta, tidak peduli anak siapa yang penting anak! Anak!" tekannya. Ia berteriak di wajah Shabita.
"Jangan! Tolong, biarkan aku pergi!" mohon Shabita sambil meraih pas bunga keramik.
"Enak saja! Tidak akan kecuali kamu mau hidup bersamaku untuk menggantikan Maria yang kabur entah ke mana!"
Prak! Shabita menghantamkan pas bunga pada Leo. Kepala Leo berdarah, ia meringis kesakitan dan memandang marah pada Shabita.
"Awas!" Ia mengejar Shabita sambil mengayunkan pisaunya ke arah gadis itu.
Shabita berlari ke belakang, ia mencari tempat bersembunyi. Memandang ke sana-kemari dan ketika langkah Leo mendekat, ia segera berlari cepat menuju pintu belakang.
"Ayolah, terbuka!" Ia mencoba membuka pintu. Sebenarnya sangat mudah, hanya saja karena gemetaran, beberapa kali jarinya tergelincir.
"Mau ke mana kamu, hah?!" Leo mendekat.
"Sha! Kenapa lari? Sini sayang!" teriaknya. Leo mencari-cari gadis itu. Ia menyingkap dedaunan hias milik Maria. Krak! Ia menendang pot bunga anggrek di ujung taman belakang. "Ayo sini, sayang!" rayunya.
Shabita berbaring di antara gundukan tanah yang tinggi. Hujan begitu datang tiba-tiba. Tanah itu lama-kelamaan longsor dan meyusut berlubang.
Gawat! Shabita menyadari itu. Ia segera bangkit, tetapi sebelum itu Leo sudah lebih dulu menemukannya.
"Mau ke mana?" Otomatis pertanyaan Leo menyentakkan Shabita. Leo menodongkan pisau sementara Shabita meringsut di tanah. Ia tidak dapat berdiri karena Leo merangkak mendekatinya.
"Kalau kamu masih bersikeras, apa boleh buat. Anak ini kupaksa keluar!" Ia menikamkan pisau ke perut Shabita.
"Ah!" Shabita berteriak. Ia terkejut diserang tiba-tiba.
"Apa ini?" Leo keheranan memandang Shabita tidak terluka sedikit pun.
Shabita membuka matanya dan memeriksa diri. Ia memang tidak terluka sama sekali. Leo mengayunkan pisaunya sekali lagi, tetapi Shabita menahannya dengan kedua telapak tangan. "Agh!" Rasanya sakit walau tidak terluka.
Hujan semakin deras, air mulai memasuki sumur dari gundukan tadi. Shabita tercengang memandang ada sesuatu yang mengapung dari dalam sana. Ia tidak tahu apa, yang pasti sekarang harus bertahan dari serangan Leo.
Leo menarik pisaunya agar Shabita berhenti menahan serangan kemudian ia meraih rambut gadis itu dengan paksa. "Akan kubelah perutmu dan kukeluarkan bayiku!" katanya.
__ADS_1
Shabita berusaha melepaskan diri, ia meraih sesuatu yang kiranya bisa ia raih. Ia kecewa lantaran tidak dapat apa-apa. Diambilnya segenggam tanah kemudian dilempar ke wajah Leo, tetapi Leo mengelak dengan memiringkan wajahnya.
"Trik lama. Sekarang waktumu!" Ia kembali melayangkan pisau ke perut Shabita.
Leo berhenti karena ada sesuatu yang menyenggolnya. "Apa ini?" Ia memandang sesuatu itu. Walaupun samar ia akhirnya tersentak melihat yang menyenggolnya adalah Jenazah Maria. "Maria?!" Leo melepaskan Shabita. Ia meraih istrinya yang mengapung. "Kenapa bisa begini, kenapa kamu mati?" Syok sekali itu yang dilihat Shabita.
Aku harus pergi! Shabita tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera berlari cepat, masuk ke rumah dan akan segera menuju pintu luar.
"Pergi ke mana kamu?!" teriak Leo. Ia berlari mengejar Shabita yang hampir sampai ke pintu.
"Aduh!" Shabita merasa nyeri. Ia tidak bisa berlari sekuat tadi karena sedang hamil besar.
"Ke mana kamu, hah?!" Leo merenggut rambut Shabita.
"Lep--pas!" elaknya. Shabita memukul dan mencakar tangan Leo.
"Tidak! Beri aku anak baru kulepas!" negosiasinya.
"Enggak!" teriak Shabita. "Egh!" Ia mengerang sakit karena dirinya ditarik masuk kembali. "Lepaskan!"
"Kuberi kamu pelajaran!" Leo terus menarik Shabita masuk ke kamarnya.
Gadis itu bertahan di pintu kamar. Ia menarik tiang pintu agar tidak terbawa masuk ke sana. Leo murka, ia menusuk tangan gadis itu. "Ah!" pekik Shabita. Tangannya terlepas, akhirnya terseret masuk ke kamar. Shabita meraih apa pun yang dilaluinya. Hingga Brak! Ia menghantamkan lampu tidur yang memang sengaja di taruh di dekat pintu kamar.
"Agh!" Leo memegang kepalanya yang berdarah. Ia menodongkan pisau ke arah Shabita.
Shabita kalap, ia memukulkan kembali lampu itu berkali-kali hingga Leo tewas. Setelah semua itu barulah ia menyadari kesilapannya. "Apa tadi? Aku ...." Ia mundur perlahan kemudian memandang tangannya yang berdarah.
Anggara masih mencarinya, saat mereka sedang putus asa, Shabita berlari ke arah mereka dengan keadaan yang kacau.
"Shabita?"
"Vanesa!"
"Apa yang terjadi?" tanya Anggara setelah ia keluar menemui kekasihnya.
"Di--dia--aku ... membunuhnya, Anggara! Aku membunuhnya!" teriak Shabita histeris sambil memerlihatkan darah di kedua tangannya yang mulai luntur akibat terkena hujan.
"Anggara! Bawa gadismu masuk!" perintah Sean.
"Kita pulang dan cerita di rumah," saran Anggara sambil menuntun Shabita yang gemetaran. Sesekali gadis itu melihat ke arah rumah Leo.
__ADS_1