TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
BAU DARAH


__ADS_3

Dara baru saja terbangun di sebuah kamar. Ia terkejut karena kamar itu bukan miliknya melainkan kamar asing. Bagus masuk mengantarkan dua mangkuk mie rebus. "Aku, ko, tidur di sini?"


 


 


"Habisnya kasihan kalau tidur di sofa."


 


 


"Kok, aku bisa ketiduran?"


 


 


"Coba ingat-ingat kita lagi ngapain?" goda Bagus.


 


 


"Eh, kita nggak lagi gila-gilaan, kan?" Dara panik.


 


 


"Widih, pikirannya sampai ke sana. Bahaya ini anak." Ia meledek, tetapi didorong Dara. Nyaris mie yang ia hendak suap jatuh ke lantai.


 


 


"Aku serius, Gus!"


 


 


"Nggak ada. Aku cuma nggak mau mama aku tahu ada cewek di rumah ini. Dia dan papa baru pulang dari belanja di emol!"


 


 


"Mall!" ralat Dara.


 


 


"Mulutku, kok. Protes aja! Makan, tuh!"


 


 


"Jadi caraku pulang gimana?"


 


 


"Tunggu mama kita--eh! Mama aku maksudnya! Tunggu mamaku sama papa lengah. Kita bisa pergi diam-diam."


 


 


"Terdengar seperti kawin lari."


 


 


"Terserah. Yang jelas mereka tidak suka aku dekat dengan orang lain apalagi sampai diajak ke rumah."


 


 


"Jadi kamu berteman cuma di luar?"


 


 


"Aku sempat bisu hingga umur sembilan tahun karena tidak ada teman. Mama dan papa sibuk."


 


 


"Bisu apa ngambek?"


 


 


"Benaran bisu."


 


 


"Kenapa sekarang bisa ngomong?"


 


 


"Karena disekolahkan di sekolah normal. Orang tuaku mengira aku memang bisu, mereka menyekolahkan aku di sekolah luar biasa. Aku tidak terima jadi aku kabur. Suatu hari aku bertemu seorang gadis kecil dia cerewet, bawel. Bicara terus, tapi aku suka dan tertawa. Aku mulai belajar mengucapkan setiap kata yang aku ingat. Dua, tiga kata meyakinkan mereka bahwa aku anak normal. Aku menulis ingin bersekolah di sekolah biasa. Awalnya mereka tidak yakin, tapi aku merengek tidak mau makan dan terus marah? Akhirnya permintaan itu dituruti. Awalnya aku diejek bisu, tapi sebulan aku di sana mulai mempelajari setiap gerak dan ucapan. Aku menirunya diam-diam. Setahun kemudian saat dibully, aku berteriak memanggil guru. Kamu tahu? Mereka kaget. Nggak nyangka aku bisa bicara." Bagus tertawa saat berkata demikian.


 


 


"Hem, kasihan."


 


 


"Ah, sombong!"


 


 


"Papa dan mama pasti cari aku."


 


 


"Oh, aku lupa hubungi calon mertua. Aku hubungi dulu, deh." Ia bersikap hendak meraih ponsel.


 


 


"Heh, jangan ngomong sembarangan sama papa aku!" ancam Dara dengan garpu.


 


 


"Anu, Papa mertua."


 


 


"Hey!" protes Dara.


 


 


"Sussst, kamu jangan berisik. Lagi ngomong sama papa!" Ia menutup mulut Dara. Gadis itu melotot. Ia menggigit tangan Bagus hingga berdarah. Seketika Bagus meringis. Ia menutup telepon. "Dara?!" Mata Dara menyala. Gadis ini sedang menghisap darah Bagus. "Dara!" Bagus mendorong Dara.


 


 

__ADS_1


Dara tersadar, ia melihat telapak tangan Bagus. "Bagus, aku nggak sengaja!"


 


 


Bagus mengangkat tangan, memberi isyarat agar Dara jangan mendekat. "Kamu ini jangan begitu. Kalau mau darah aku bisa beri, tapi jangan gini." Ia lantas meraih laci dan mengeluarkan perban. Membalut lukanya.


 


 


"Aku nggak sengaja. Aku minta maaf!" Dara terisak.


 


 


Bagus mengusap air mata Dara. "Sudahlah, aku paham."


 


 


"Kamu nggak marah?"


 


 


"Nggak."


 


 


"Gus, aku nggak mau jadi Kuyang!"


 


 


Seketika Bagus mencium aroma dupa. Ia memandang Dara. Gadis ini menahan perih di lehernya. "Dara!"


 


 


"Gus, aku tidak tahan! Agh! Leherku sakit!"


 


 


"Susst, nanti ada yang dengar. Jangan menjerit!"


 


 


"Saa--em!" Bagus membungkam mulut Dara dengan kain. Ia kemudian keluar.


 


 


Bagus masuk ke sebuah kamar kemudian membuka pintu yang terdapat pada lantai. Ia masuk menuruni anak tangga. Bagus menekan saklar yang terdapat pada dinding. Seketika semuanya menjadi terang. "Mama--Papa?" Ia segera berjalan. Saat tiba di sebuah kamar yang remang. Bagus melihat pembakaran yang menyala. Ia segera meraih air mineral kemasan botol di ranjang kayu tanpa alas apalagi kasur. Langsung saja disiram hingga api padam. "Ke mana mereka?" Bagus menaruh kembali botol kosong itu.


 


 


Bagus kembali ke kamar Dara tadi. Ia melihat  Dara yang berlumur darah. "Waduh, nggak mungkin dia pulang begini. Bisa mati aku dihajar bapak mertua, nih!" Bagus menggaruk kasar kepala. "Dara, bangun. Ganti bajumu!" Namun, Dara yang telah kelelahan menahan sakit tak jua sadar.


 


 


"Bagus, kamu di dalam sama siapa?"


 


 


Itu mama!" Bagus panik. Ia segera menutupi Dara dengan selimut.


 


 


 


 


"Apaan, sih, Ma. Ini loh, tangan Bagus digigit kucing." Bagus menunjukkan tangannya.


 


 


Fine memandang luka Bagus. Matanya berbinar melihat darah. "Boleh mama lihat?"


 


 


Bagus segera menyembunyikan tangan kanannya. "Jangan!" Bagus segera menutup kembali pintu.


 


 


"Aku yakin mencium bau darah. Masa, aku tidak mengenali bau darah anak sendiri?"


 


 


"Mama kenapa?"


 


 


"Pa, mama merasakan ada gadis di dalam kamar Bagus."


 


 


Lelaki berumur lima puluh tahun ini menghela napas. "Bila itu milik Bagus, jangan diusik. Kasihan dia."


 


 


"Tapi, Pa--"


 


 


"Sudahlah!" Ia menarik Fine yang enggan meninggalkan kamar Bagus.


 


 


Bagus mendengarkan dari pintu. Ia kemudian mengusap dada setelah mereka pergi. "Dara!" Ia coba membangunkan Dara. "Apa dia mati?" Ia mencoba memeriksa denyut nadi kemudian detak jantung. "Masih hidup?" Bagus menggaruk kepala. Ponselnya berdering. Ia segera meraih dan tahu itu dari Anggara. "Halo, Om?"


 


 


"Dara masih sama kamu?


 


 


"Iya, Om. Nanti saya antar pulang."


 


 


"Kok, lama sekali? Kamu apakan anak saya, hem? Mau dibunuh atau disiksa?"

__ADS_1


 


 


"Om, ini!"


 


 


"Om, bercanda, tapi kalau kurang satu di tubuhnya kamu bakal om hajar!"


 


 


"Kami mungkin pulang malam, Om."


 


 


Anggara berdiri dari kursinya. "What?! Dari siang hingga malam? Kalian ngapain?!"


 


 


"Nggak ada, Om. Cuma di kamar."


 


 


"Aduh, Gus, sakit banget!" ringis Dara. Ia berusaha duduk. "Gus, darahnya banyak banget! Aku gimana pulangnya, papa pasti cemas?!" Dara panik.


 


 


Bagus panas dingin. Anggara mendengarkan. "Heh, kalian ngapain di situ? Kamu apakan anakku?!"


 


 


"Eh, papa!" Dara merampas ponsel Bagus.


 


 


"Kamu diapakan sama anak asam itu, hah?!"


 


 


"Tidak ada, Pa."


 


 


"Kamu di mana sekarang?"


 


 


"Di rumah Bagus."


 


 


"Di mananya?"


 


 


"Kamar."


 


 


"Siapa lagi di sana?"


 


 


"Cuma kami berdua, Pa."


 


 


"Diapain saja kamu sama dia, hah? Dikasih makan, minum?"


 


 


"Iya, Pa. Makan dan minum. Dikasih obat juga."


 


 


"Aduh, anakku! Kamu setelah itu tidur atau pusing?"


 


 


"Ketiduran di sofa kemudian diangkat ke ranjang."


 


 


Bagus merapat pada dinding. Ia menciut sembari menutup diri dengan selimut. "Dasar cewek bodoh!"


 


 


"Tunggu di situ, Papa datang!" Anggara menaruh telepon kantor.


 


 


"Kamu kenapa, Pak?" tanya Adi sembari menyapu kantor.


 


 


"Mau ketemu calon mantu!" Anggara segera menuju motor kemudian pergi.


 


 


"Mau ketemu calon mantu kok, mukanya seram amat." Adi lanjut menyapu.


 


 


"Kamu kenapa, Gus?" tanya Dara heran melihat Bagus membungkus diri di sisi ranjang.


 


 


"Kenapa-kenapa! Bisa tidak kamu tidak jujur tadi. Papamu kira aku ini itu padamu!"


 


 


Dara menggaruk kepala bagian belakang. Ia tidak mengerti maksud Bagus. Ia hanya menjawab apa yang ditanyakan oleh Anggara. "Salahku di mana?"

__ADS_1


__ADS_2