
Dara menatap diri pada cermin. Ia melihat pantulan dirinya yang sungguh mengerikan di sana. "Apa maumu?" Namun, iblis itu tidak menjawab. "Aku benci dengan kalian. Aku kesal karena membuatku seperti ini."
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Itu sudah menjadi nasibmu, Dara. Kamu tidak bisa menghindari."
"Katakan siapa aku kenapa aku bisa begini?"
"Kenapa tidak bertanya pada Vanesa dan Anggara?"
"Apa mereka tahu?"
"Ibumu yang lebih tahu kenapa kamu begini?
Dara menunduk, ia merasa pantulan dirinya menembus cermin. "Aku haus darah," katanya.
Seketika pantulan dirinya kembali ke cermin. "Apa maksudmu melihatku seperti itu?" Ia melihat mata Dara yang merah.
"Aku merasa ada dua satu orang yang tertidur di dalam sini." Ia menunjuk dadanya.
"Wati."
"Siapa Wati?"
"Tanyakan pada ibumu."
"Kenapa selalu tanyakan pada ibuku?!"
"Asalmu dari dia maka hanya dia yang tahu."
Dara mencengkram wastafel. Wajahnya terlihat prustasi. "Kalian selalu bilang aku ini ratu. Ratu apa? Siapa aku ini?"
"Tanyakan pada kakakmu Talia."
Prang! Dara meninju cermin hingga pecah. "Kenapa berbelit-belit?!"
"Kak, ada suara kaca pecah!" Lani panik.
"Bentar kakak lihat dulu!" Bagus segera menuju toilet yang berada di samping supermarket. "Dara! Dara! Kamu ngapain di dalam?"
Dara terdiam memandang dirinya di pecahan cermin. "Aku benci kalian."
"Dara, keluarlah!"
"Aku akan makan kalian hingga tidak adalagi Kuyang di sini!"
"Dara! Dara!" Tidak lama pintu terbuka. Ia melihat Dara keluar. Bagus segera memeriksa toilet. "Dara, ini kenapa?"
__ADS_1
"Maaf, tadi ada cicak di cermin. Aku kaget terus kulempar dengan sikat toilet. Sorry," pintanya.
"Terus ini apa?" Bagus memandang tangan Dara.
"Kena kaca."
"Aneh, kok di sini lukanya?"
"Jadi kamu nggak percaya aku?"
"Iya, deh. Aku percaya. Sana datangi Lani. Aku bersih ini dulu."
"Kakak, kenapa tadi?"
"Nggak papa. Kakak cuma kaget aja karena ada cicak tiba-tiba ada di cermin."
"Tapi, Kak Bagus kasihan, lo Kak."
"Maksudnya?"
"Pasti nanti dihukum. Disuruh ganti atau dipecat."
Dara terdiam. Ia khilaf karena emosi sampai membuat Bagus dalam masalah. "Aduh, bagaimana ini?" pikirnya.
Bagus kembali. "Tadi ada pelanggan?"
"Biasa, namanya juga tengah malam. Kadang nggak ada orang yang datang."
"Teman Kakak ke mana sih?" tanya Lani.
"Izin dia. Jadi kakak yang jaga."
"Enggak takut?"
"Kan di depan ada satpam."
"Oh, Lani lupa." Lani tertawa malu.
Bagus meraih tangan Dara. "Kamu nggak papa?"
"Maaf, ya. Aku salah udah mecahin kaca itu."
"Nggak papa, kok."
"Aku ganti!" Dara segera mengeluarkan uang dari tasnya.
__ADS_1
"Eh, bukan aku yang suruh ya," ledek Bagus.
"Udah, Kak. Terima aja. Kak Dara bakal kepikiran terus kalau ditolak."
"Tapi, benar nggak papa, Dara," tolak Bagus.
"Terima saja!" Dara memaksa.
"Oke, aku terima. Sekarang senang?"
"Ya." Dara tersenyum manis.
Lani yang asyik meminum minuman kaleng sembari bermain ponsel tidak sadar bila Dara dan Bagus saling pandang begitu lama. Ia baru sadar saat minumannya habis. "Yah, habis." Ia mengguncang kaleng tersebut. "Kak, aku beli la...gi." Ia memandang mereka berdua. "Cieh, pandang-pandangan."
Dara tersadar. Bagus segera mengalihkan pandangan ke jalan. "Bagus, tuh duluan. Kakak cuma meladeni."
"Nuduh. Kakakmu tuh, lihat Kak Bagus duluan!"
"Alah, udah jelas Lani lihat kalian lagi tatap-tatapan begitu. Nggak mungkin kalian menatap biasa."
"Lani!"
"Aw! Sakit Kak!" Kupingnya ditarik Dara.
"Kamu itu masih kecil jangan begitu ngomongnya!"
"Iya-iya, ampun, Kak!"
Bagus tertawa diam-diam. Ia memotret mereka berdua. "Ha?" Bagus terkejut saat melihat Dara dalam fotret tersebut. Ia coba memotret kembali. Hasilnya sama. Di hadapannya bukan wajah Dara melainkan wajah orang lain.
"Ada apa, Gus?" tanya Dara.
"Eh, nggak papa." Bagus membalik ponselnya. "Siapa itu, kenapa berbeda?" pikirnya.
Dara tersenyum saat melihat Bagus. "Kamu, kok, kayak kaget gitu, pucat lagi?"
"Tidak-tidak apa." Bagus tersenyum manis sembari membelai rambut Dara.
"Akulah Wati." Dalam pikiran Dara ada yang berbicara.
Dara mengerutkan dahi. "Kenapa ada yang berbicara di pikiranku?" gumamnya.
"Kenapa?" tanya Bagus.
"Eh, nggak papa."
__ADS_1
"Kalian dari tadi kenapa, kok, kayak ada yang disembunyikan?" tanya Lani. Namun, mereka berdua hanya membalas dengan senyum.