TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
107


__ADS_3

Adi memandang heran kepada Anggara, ia menghampirinya sambil meraba wajah pemuda itu yang senyam-senyum sendiri, tanpa peduli ia menjadi bahan olokan teman-temannya.


"Keknya hari ini teman kita lagi kumat," sindir Tono. Ia masih sibuk menyusun data di mejanya.


"Apa malam tadi dia ... ah!" olok Ridwan sambil mengangkat secangkir kopi kemudian meminumnya.


"Aku nggak paham dengan orang ini. Dia gilanya makin nambah semenjak pulang dari negara tetangga." Adi kemudian menampar wajah Anggara.


"Apaan, sih?!" bentak Anggara sambil mengusap pipinya yang ditampar Adi.


"Cuma mau ngetes," dalih pemuda itu.


Semalam Anggara tidak mendapat jatah dari Shabita. Walau begitu ia tidak marah apalagi sakit hati karena sudah terbiasa tidur sekasur tanpa berbuat apa-apa. Mungkin akan terdengar tidak masuk akal, sehingga mereka akan mengatakan "masa tidur seranjang tidak pernah ini-itu?" tetapi itulah mereka. Yang menjadikan Anggara tersenyum, ialah kecemburuan Shabita padanya. Selama ini gadis itu cuek padanya dan sekarang menunjukkan sisi kecemburunya, bagaimana tidak bahagia. Yah, walaupun ia harus menerima dicemberutin oleh Shabita pagi tadi.


"Cantik sekali ...!" gumam Anggara sambil menyembunyikan kepalanya pada lipatan kedua tangannya di meja.


"Kalau kamu nikah, Adi, tolong jangan kayak gitu. Gilanya tambah parah!" sindir Tono.


"Pak, Pak!" panggil seorang perempuan kepada Tono yang sedang asyik menasehati Adi.


Tono melirik perempuan itu. Ia kemudian menghadapnya. "Silakan duduk. Ada yang bisa kami bantu?"


"Yang namanya Anggara ada di sini?" tanya perempuan berbaju hitam, bercelana coklat.


"Mau apa, ya?"


"Ada tidak?" desak perempuan itu.


"Itu yang lagi menaruh kepalanya di meja!" tunjuk Tono.


"Terima kasih." Perempuan itu menghampiri Anggara.


"Siapa?" tanya Ridwan kepada Tono.


Tono menggeleng tidak paham dengan siapa dan mau apa perempuan itu datang.


"Pak," panggilnya sambil mengetuk meja.


Anggara yang terkikik sendiri, menjadi kaget. Ia menegakkan tubuhnya. "Ibu," sebutnya heran. Ya, perempuan yang kemarin datang membawa rantang untuknya. "Ada perlu apa, Bu?"


"Ini saya bawa makanan, sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada situ karena sudah membenarkan listrik saya semalam." Ia mendorong rantang ke arah Anggara.


"Terima kasih," ucap Anggara sambil menaruh rantang di ujung meja.


Perempuan itu memandang wajah Anggara begitu lama. Ia lupa harus pulang setelah itu.


"Maaf, adalagikah?" tegur Anggara.


Lamunan buyar, wajahnya memerah. "Itu ... kapan-kapan datanglah ke rumah. Saya masak enak setiap hari."


"Baiklah, kalau ada waktu." Anggara tersenyum manis.


"Saya pamit," katanya sambil berjalan ke luar.


"Siapa itu, Ang?" tanya Rustam.


"Tetangga baru. Maukah, aku udah kenyang," tawar Anggara sambil menaruh rantang ke meja Adi.

__ADS_1


"Kok, dia yang antar. Binimu mana, apakah binimu tidak masak?"


"Dia memberi cuma mau bilang makasih. Soal biniku lain cerita," jawab Anggara.


"Kupikir dia bini keduamu, habis matanya beda saat memandangmu."


Mereka terkikik geli saat mendengar ejekan Adi.


"Sembarangan!" Anggara melempar bola kertas ke arah pemuda itu.


***


Shabita sedang membeli sayur, ia berkumpul bersama para ibu di depan rumahnya.


"Ada dengar, nggak? Semalam ada Kuyang memakani peternakan Haji Deni!" beritahu seorang ibu berdaster kuning, bermotif mawar. Rambutnya tersanggul asal-asalan.


"Eh ... saya juga dengar di kolong rumah saya ada Kuyang lagi menyedot parit!" sahut ibu gemuk berbaju piayama abu-abu.


"Sha, jagain anakmu itu. Nanti diincar Kuyang," nasehat Bu RT. Bu RT ini orangnya modis, berbaju ketat bercelana semata lutut. Ia tampil beda di antara yang lain. Walau umurnya sudah mencapai kepala empat, tetapi terlihat terawat.


"Iya, Bu." Shabita hanya tersenyum sambil menimang Dara.


"Siapa, ya yang jadi Kuyang di sini?" gumam Ibu berbaju abu-abu. Ia memilih sayur sambil berpikir.


"Musim pelakor sekarang. Mungkin aja takut lakinya lari atau dia yang mau ngambil laki orang." Ibu berbaju kuning menimpali sambil memilih labu.


Perempuan yang mengusik Anggara sempat tersinggung. Ia tak sengaja melewati mereka sehabis pulang dari tempat Anggara. Sial, nggak semua pelakor itu kuyang! Contohnya aku.


Ia sempat memandang Shabita. "Itu bininya? Boleh juga, tapi nggak level!" hujatnya pelan sambil berlalu.


"Eh, itu tetangga baru, kan? Kok, sombong. Udah gitu suka melirik ke arah Shabita?" tanya si baju abu-abu.


"Sepuluh ribu," jawab Abang sayur itu sambil membungkus pesanan Shabita.


Shabita kemudian masuk, ia menaruh Dara di atas kasur. "Mama masak dulu, ya," pamitnya sambil mengecup kening Dara.


Dara yang tertidur pulas tiba-tiba terbangun dengan mata merah menyala. Ia memandang ke atas.


"Hihihi ...." Sebuah kepala lengkap dengan isi perutnya sedang mengincar Dara. Saat akan turun Dara menembaknya dengan sinar yang keluar dari matanya. "Ah!" pekiknya. Matanya berdarah. Ia mengeram hendak membalas, tetapi urung karena kini Dara kembali akan menembaknya. "Akan kubalas nanti!" kecamnya. Ia kemudian terbang menembus jendela.


Uwek! Uwe! Tangisan Dara terdengar di saat Shabita sedang menggoreng tempe. Ia mematikan kompor terlebih dahulu sebelum menuju ke kamar.


"Ada apa, sayang?" Shabita merebahkan dirinya di samping Dara. Ia mencium bau amis di dekat bayi itu. Mengendus kemudian terbelalak menemukan tetesan darah menodai selimut bayi. Ia kemudian panik dan segera memandang ke atas. Tidak ada apa-apa, ia kini beralih pada Dara.


Shabita segera mengganti pakaian Dara. Ia menggendongnya dan membawanya ke ruang tamu. Tak jadi memasak lantaran takut Dara diganggu lagi.


Anggara kini berada di rumah Saleh. Ia mendapat laporan bahwa kemarin Saleh melihat Kuyang keluar dari kamar istrinya yang sedang melahirkan.


"Saya curiga Kuyang itu berada di kolong tempat tidur istri saya. Ia berusaha menghisap janin dari bawah," terang Saleh. Pemuda berusia dua puluh empat tahun bertubuh kurus berparas lumayan.


"Ada yang dicurigai?" tanya Anggara.


"Saya sering melihat perempuan lewat di depan rumah kami. Dia suka memandang ke arah perut istri saya. Kira-kira sudah beberapa bulan sebelum melahirkan semenjak dia ada istri saya selalu bermimpi bertemu dia," jelasnya.


"Kudengar seseorang juga bisa mendapatkan firasat bahwa dia akan didatangi Kuyang lewat mimpi. Bisa jadi itu dia," pendapat Ridwan.


"Tapi itu cuma mimpi, tidak bisa dipatok begitu saja," tolak Anggara.

__ADS_1


"Kebanyakan tidak pernah melesat. Bermimpi hal yang menyeramkan pertandanya bisa macam-macam bisa kejadian yang tidak terduga atau berlainan, tetapi bermimpi Kuyang ini lain cerita. Biasanya memang akan kena, mungkin memang aturannya begitu. Jadi hati-hati Anggara, kamu juga memiliki bayi. Bila istrimu atau kamu bermimpi itu maka bersiaplah," jelas Ridwan pelan.


"Ah, kalian bikin aku merinding aja." Anggara memukul pelan tangan Ridwan.


"Pak, tolong cari Kuyang itu. Terus terang saya sangat takut sekali anak saya diganggunya."


"Baik, Pak." Ridwan menyela jawaban Anggara.


"Aku harus pulang sebentar. Mau melihat istriku dulu," kata Anggara setelah mereka berada di luar rumah Saleh.


"Oke, aku antarkan. Sekalian aku mau nyari makan, bila udah beres kujemput," kata Ridwan.


Shabita memandang jam dinding, ia melirik ke luar. Anggara sedang berjalan menuju rumahnya.


"Kok, pulang ke sini, tidak pulang ke rumah sebelah?" sindir Shabita.


"Aku pulang mau melihat Dara," jawab Anggara. Ia duduk di sebelah Shabita sambil mencubit pipi Dara. "Sudah masak?"


"Enggak masak. Dara menangis," jawab Shabita ketus.


"Aku yang masak." Anggara segera menuju dapur.


Shabita masih kesal dengan Anggara, ia memalingkan wajahnya di saat Anggara kembali. "Sudah selesai. Makan saja, ya." Anggara mengusap rambut Shabita.


"Em," jawab Shabita.


"Kayaknya aku akan pulang terlambat malam ini, bisa jadi nggak pulang-pulang."


Shabita terkejut. Ia kemudian menghadap Anggara. "Bagaimana denganku?"


"Nggak tahu, deh."


"Anggara, izin sama bosmu. Bilang jangan kejam begitu," mohon Shabita.


"Ini tugas, biar tak disuruh juga harus kalau belum tuntas."


"Ang," rengek Shabita.


"Masa, Anggara melulu. Anak sudah besar, harusnya diajari memanggil mama-papa."


"Enggak nyambung!" bentak Shabita.


"Aku pulang asal kamu panggil aku 'papa'."


"Ih, geli," kata Shabita sambil mencibir.


"Ya sudah, nggak pulang-pulang!" goda Anggara sambil berdiri. "Aku kerja dulu, jangan lupa makan."


"Pa ... ah, sial!" umpat Shabita pelan. Ia tidak terbiasa dengan panggilan itu.


"Apa?" tanya Anggara.


"Berangkat sana!" usir Shabita.


"Oh, mobil Ridwan datang. Aku kerja, ya, Mama." Ia tersenyum manis.


"Pa--bodo amat!" maki Shabita. "Dadah, Papa," katanya pelan. Ingin sekali memukul mulut sendiri.

__ADS_1


Anggara diam-diam terkikik geli. Ridwan hanya mendesah memandang sifat Anggara yang kembali kumat.


__ADS_2