
Hari ini Anggara telah bersiap untuk pergi. Pemuda itu mengenakan kemeja cokelat sedangkan Shabita telah mengenakan baju merah dengan panjang melebar selutut. Gadis itu sedang terdiam, ia masih syok dengan tragedi semalam.
Anggara menghampirinya dan duduk di sisi ranjang sambil mengelus punggung Shabita. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu nggak salah sama sekali," ucapnya.
"Tapi aku udah ... Ang, kalau polisi datang gimana?" tanya Shabita sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Susstt ... jangan ngomong gitu. Kita akan segera pergi dari sini," kata Anggara sambil merangkul Shabita.
"Ke mana?" tanya Shabita.
"Untuk sementara kita pergi ke perkampungan di dekat pantai. Sean punya rumah di sana."
"Kenapa tidak pulang saja?" rengek Shabita.
"Berbahaya. Polisi dan Talia pasti mencari kita berdua. Biar yang mengurus semuanya adalah Sean."
"Ey, sudah siap? Kita harus cepat sebelum Talia dan mereka menuju kemari." Sean telah berdiri di depan pintu. Pemuda itu mengenakan pakaian yang warnanya nyaris sama dengan Anggara. Hanya saja kancingnya merah sedangkan Anggara cokelat.
Anggara mengangguk kepada Sean. "Ya," jawabnya. "Ayolah," ajak Anggara pada Shabita.
"Cepat!" desak Sean. Pemuda itu segera pergi lebih dulu.
Talia mulai merasa curiga. Sudah satu harian ini, bila hingga malam nanti mereka tidak datang maka genap dua hari mereka tidak pulang ke rumahnya.
"Anggara! Kamu bawa kabur ke mana ibuku!" Ia berteriak sambil menendang sofa di ruang tamu. Ponselnya berdering, Talia segera menerimanya. "Ya, ada kabar apa?" tanyanya pada orang di dalam telepon.
"Nona, mobil yang dibawa Anggara telah ditemukan di sisi jalan. Namun, mereka tidak ada. Kami telah menduga bahwa mereka memang sengaja kabur." Seorang pemuda bertubuh besar berpakaian hitam bicara di sebelah mobil yang tadinya digunakan Anggara untuk mengantar Shabita ke klinik.
"Apa dugaanmu itu tepat?" tanya Talia.
"Akan saya kirimkan rekaman CCTV!" Ia mematikan sambungan telepon. Mengirimkan vidio pada Talia.
__ADS_1
Talia mengetuk-ngetuk ponsel ke dagunya sambil berpikir. Dahinya berkerut karena bingung. Sebuah pesan datang, membuatnya tersentak dan segera membuka pesan tersebut. Sebuah vidio rekaman yang dikirimkan padanya membuatnya terkejut. "Apa ini?" Ia melihat Anggara bergandengan tangan dengan Shabita meninggalkan mobil. Setelah itu rekaman padam. "Kenapa mereka terlihat mesra padahal Shabita tidak menyukainya?" Kembali ia menggumam.
Talia mulai berjalan mondar-mandir. Ia memandang ke atas. Sebuah camera, baru diingat bahwa mereka juga memasang CCTV. Bodoh! Talia segera berlari ke kamar Anggara. Ia menghidupkan layar monitor. Mencari rekaman beberapa hari yang lalu. "Sial! Mereka bersandiwara di belakangku!" Marah sekali saat melihat Anggara dan gadis itu terlihat mesra di layar. Bila kudapat akan kubunuh kamu Anggara! Talia segera ke kamarnya. Ia mengambil kunci mobil yang terdapat di meja rias kemudian pergi dalam keadaan marah.
Sean meminta mereka berdua duduk merendah di belakang karena ada patroli di depan sana. "Hati-hati," pesannya.
Satu orang polisi menghampiri Sean yang seharusnya berjalan, tetapi karena dicegah ia akhirnya berhenti. "Ada apa di depan?" tanya Sean lebih dulu.
"Ada jenazah dan kuburan yang banyak di rumah sana." Polisi itu menunjuk ke arah rumah Leo.
"Oh. Terus apakah kami bisa lewat?" tanya Sean sambil menatap tajam mata polisi itu.
Seperti telah tersengat Polisi itu berucap, "Silakan."
Sean tersenyum, ia segera melajukan kendaraannya. "Kali ini kita selamat, tapi kalian harus hati-hati karena tadi."
"Ang, mereka mencariku," kata Shabita. Wajahnya sangat ketakutan.
Sean memandang mereka di balik kaca kemudi. Ia hanya mampu menghela napas melihat mereka berdua. Shabita memejamkan matanya begitupula Anggara.
"Ang, Sha! Turun di sini!" perintah Sean sambil melepas sabuk pengamannya.
Anggara dan Shabita terbangun. "Di mana kita?" tanya Shabita.
"Keluarlah, ganti kendaraan."
Anggara mengerutkan keningnya. Ia memandang ke depan. "Naik itu?" tanyanya setelah melihat mobil hijau terparkir di depan mereka.
"Ya, kalian harus naik itu. Aku tidak bisa ikut karena harus menghadapi Talia dulu," katanya.
Anggara keluar lebih dulu, kemudian ia meraih Shabita. Kunci diterima olehnya dari Sean. "Makasih," ucapnya.
__ADS_1
"Hem, cepatlah!" desak Sean.
Anggara segera memasuki mobil disusul oleh Shabita. Gadis itu menatap ke belakang, memandang senyum Sean sebelum pemuda itu berbalik arah.
Talia berada di rumah Sean. Ia mengetuk keras pintu rumah pemuda itu. Dimana dia? Tidak lama mobil Sean telah datang. Talia bersidekap dengan tangan menyilang di dada. "Dari mana kamu?" tanyanya curiga. Ia perhatikan gerak-gerik Sean yang terlihat santai tanpa terpengaruh oleh pertanyaan yang dilontarkan barusan.
"Sedang mengunjungi pasien," jawabnya dengan senyum memukau.
"Dari mana saja?" ulang Talia. Ia ingin melihat kesalahan di wajah pemuda ini.
"Dari tadi sudah kuberitahu, kan. Nggak mungkin gadis secantik kamu tuli," sindir Sean. Pemuda itu berusaha membuka pintunya. "Silakan masuk. Kita minum teh di dalam," ajaknya saat pintu terbuka.
"Shabita dan kakak gilamu itu ke mana?" tanya Talia sambil mendekat.
Sean tersenyum, ia tetap berjalan ke dalam. Menaruh kunci mobil di atas almari hias yang juga digunakan untuk tempat menaruh televisi. "Bukannya bersamamu?" Justru Sean balik bertanya.
"Sudah semalaman mereka tidak pulang," jawab Talia. Gadis ini menghampiri Sean.
Sean berkerut dahi, memberi tanda bahwa ia pun terkejut dan tidak tahu. "Semalam ... yang benar saja?"
"Kurasa dia semalam di sini?" tudingnya secara halus. Kembali Talia memerhatikan gerak-gerik Sean yang dirasa terlalu tenang bahkan sangat enjoy sekali dalam perannya. Apa dia memang menyimpan rahasia?
"Aku tidak tahu," jawab Sean. Ia memandang Talia yang telah berdiri di hadapannya. "Memangnya kamu tidak bisa menghubunginya sama sekali, apa?" balas Sean. Ia malah menuding Talia karena kurang komunikasi dengan mereka.
"Aku sudah coba menelepon Anggara. HP-nya mati."
"Bagaimana dengan ibumu. Jangan bilang HP-nya mati atau kalian tidak memberinya HP sama sekali?" sindir Sean. "Sangat ceroboh dan pelit sekali gaya hidupmu yang kaya itu."
Talia sudah mengangkat tangan, siap menampar wajah Sean. Namun, segera urung lantaran ia masih menyimpan emosi itu agar jangan sampai meledak. "Baiklah, Sean. Aku menyerah, tapi bila kuketahui kamu telibat jangan salahkan aku!" ancamnya sambil menuding wajah Sean.
Talia segera meninggalkan rumah Sean dengan marah. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sean tertawa sekilas memandang Talia yang hilang dari pandangan.
__ADS_1
"Ke mana roh itu pergi, kenapa tidak ikut membantu?" gumam Sean. Ia menyadari bahwa Sariani telah satu pekan ini tidak menampakkan diri.