
Malam itu wanita itu diadili secara adat. Seperti permintaan mereka wanita itu diikat dan diobati, akan tetapi dia berontak dan alhasil Ketua Adat tidak memiliki pilihan lagi selain memerintahkan mereka untuk
membunuh wanita tersebut. Konon katanya wanita yang telah menyatukan dirinya dengan Kuyang harus dipenggal kepalanya dan dikubur badan dan kepala secara terpisah agar nantinya ia tidak lagi hidup dan mengganggu
orang lain. Berduyun-duyun mereka membawa jenazah yang terbagi dua antara tubuh dan kepala secara terpisah.
"Mengerikan," kata Vanesa dengan sedikit ngeri di hatinya.
"Itu belum seberapa dengan yang ia perbuat pada mereka dan kita berdua," kata arwah itu dengan nada bicara menyimpan dendam.
Vanesa menatap arwah itu dengan pandangan iba, ia mengerti perasaannya. Nasibnya pun tidak jauh berbeda dan bahkan ia juga akan mati seperti
dia.
"Hey! Kepalanya hilang!!" teriak mereka, para lelaki yang hendak mengubur kepala wanita itu.
"Tidak diawasikah dia?!" tanya si penggali kubur.
"Malam-malam begini, aku mana lihat. Kainnya, 'kan hitam dan lagipula aku juga bantu menggali tanah," bela salah seorang dari mereka.
"Gawat! Kita harus kembali, jangan-jangan dia pergi untuk mencari tubuhnya," kata salah seorang dari mereka.
Di tempat lain, desiran angin sangat dingin. Bulu kuduk mereka tiba-tiba berdiri. Tubuhnya meremang dan hati berdesir tidak karuan. Sedangkan saat ini mereka sedang menggali sebuah kuburan untuk mengubur tubuh
wanita malang itu.
"Cepatin dong, Ali! Aku merinding nih!" desak orang yang berada di atas lubang yang sedang menjaga jenazah wanita itu.
"Entar Kuni, ini aku gali pakai cangkul, bukan pakai tombak sakti!" jawab Ali bernada kesal antara lelah dan marah.
"Kita di sini cuma berlima aja, yang lain nggak tahu ke mana. Jangan-jangan pulang terus tidur enak di rumah. Ah, dasar!" omel Dodi. Si tambun berkumis itu menggali sembari merokok.
"Tidak usah mengomel, cepat selesaikan saja. Biar semuanya cepat pulang. Ngeri aku di sini lama-lama." Darsa menyahut.
Saat mereka sedang sibuk berdebat, tiba-tiba jemari tangan wanita itu bergerak perlahan dan menunjuk ke atas. Tidak jauh di sana ada kelap-kelip cahaya bintang berwarna-warni. Melayang tinggi kemudian merendah menuju mereka.
"Apa itu?!" seru Kuni tegang.
"Ku--ku-ku-kuyang!!!" Darsa berteriak ketakutan dan segera naik ke atas. Kemudian lari terbirit-birit.
Tinggal mereka berempat yang menggigil ketakutan. Kepala wanita itu menurun dan menghampiri tubuhnya, kemudian menyatu dengannya. Tubuh itu kini sempurna dan sudah berdiri tegak di hadapan mereka. Tersenyum lebar dan menakutkan. Darah menetes segar di antara potongan leher dan kepalanya.
"Mu-mundur, Kuni!" Dodi memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk menjauhi wanita yang berjalan mendekati mereka.
"Lari!" seru Kuni pada semua sahabat-sahabatnya.
Semua lari pontang-panting hingga terjerambap beberapa kali ke tanah. Sedangkan wanita itu tertawa gelak.
"Sudah kuduga, hasilnya begini," gumam Vanesa jengkel. Gadis itu kecewa.
"Mari, akan kutunjukkan era di mana aku telah lahir," ajak arwah itu.
Suasana berubah menjadi siang menderang. Perkampungan yang tadinya sangat sederhana berubah menjadi perkampungan yang memiliki transportasi kendaraan. Banyak mobil yang sekarang di masa Vanesa adalah mobil dan motor unik dan kuno. Di masa ini mobil itu adalah keluaran terbaru bagi mereka.
__ADS_1
"Kamu di mana?" tanya Vanesa pada arwah itu.
"Aku belum lahir Van, aku akan lahir di masa ini, tapi bukan sekarang," jelasnya.
"Maksudmu kamu belum ada, katanya tadi-"
"Kamu gak mau tahukah, bagaimana kehidupan wanita itu dan bagaimana aku bisa menjadi keturunannya?" potong arwah itu.
Vanesa memalingkan wajah dan menghembuskan napas lelahnya. Kemudian memandang ke segala arah. Di depannya kini sedang berjalan wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah wanita tadi. Dengan memakai selendang untuk menutupi guratan di lehernya, ia berjalan bak model. Melenggak-lenggok di depan kaum lelaki yang terpesona memandangnya.
"Hebat juga kajiannya," gumam takjub Vanesa.
"Bukannya kamu juga begitu?" sindir arwah itu.
"Aku bukan perempuan genit," jawab tegas gadis itu.
Arwah itu tersenyum geli saat melihat Vanesa cemberut dan berjalan menjauhinya. "Aku cuma bercanda, yuk. Kita lihat lagi dia," ajaknya.
Wanita itu kini berada tepat di rumahnya, sebuah rumah yang cukup elite.
Seorang pemuda tampan dengan stelan jas putih datang dan memeluknya dari
belakang.
"Sayang maukah kau menjadi istriku?" tanyanya.
Wanita itu berbalik dan melepaskan rangkulan pemuda itu, dan kemudian berkata, "Ya, aku bersedia," jawabnya.
Mereka saling berpelukan bahagia dan merencanakan hari pernikahan yang megah.
sembari menyandarkan tubuhnya pada tiang rumah wanita itu.
"Belum," jawabnya.
"Kapan?"
"Belum, lihat saja nanti."
"Ini, sudah melihat!" geram gadis itu.
"Membuat anak, tidak semudah bikin kue," kata arwah itu.
"Majukan, ingatanmu ke masa di mana kau hidup. Bisakan?!" perintah Vanesa.
"Hem. Baiklah, tapi akan kuberitahu dulu padamu, ibuku adalah anak dari orang itu. Dia adah pewarisnya dan aku adalah korban dari ilmu itu, lantaran ingin berbakti pada orang tua, kami rela menerima beban dosa ini."
"Kalau ditolak bagaimana?" tanya Vanesa antusias.
"Orang tua kami tidak bisa wafat dengan wajar, tubuhnya akan mati separuh dan membusuk," jelasnya.
"Biarkan saja, orang tua zalim kepada anaknya karena menimpakan beban dosa pada
anaknya, itu patut kita tolak dan tidak layak kita berbakti kepadanya. Apa kau tidak berpikir bahwa Tuhan itu maha mengerti dan maha mengasihi, serahkan semuanya pada Tuhan dan tidak perlu mengambil jalan sesat
__ADS_1
hanya karena berbakti pada orang tua. Berbakti pun ada batasnya, selagi di jalan benar Tuhan akan senantiasa menjagamu," nasehat Vanesa.
"Orang tua tetaplah orang tua, setega-teganya kita padanya. Tetaplah tidak
tega melihatnya tersiksa begitu," kata arwah itu dengan wajah sendu.
"Sekarang apa yang kamu dapat dari berbakti pada orang tuamu?" singgung gadis itu.
Arwah itu menggeleng lemah. "Kesengsaraan, arwahku terus bergentayangan tidak
diterima bumi. Aku menderita, hidupku di masa aku hidup pun tidak seindah kehidupan orang lain, aku memiliki anak dari seorang lelaki baik dan sangat kaya, tapi kemudian ketika anakku mulai beranjak dewasa, aku
kemudian sadar bahwa anak gadisku akan mewarisi ilmu yang kuperoleh dari mendiang ibuku. Aku putuskan untuk mengakhiri hidupku dengan membakar diriku, tapi ternyata tubuhku kembali seperti semula, hingga
tidak ada pilihan lain. Aku memotong kepalaku sendiri dengan mesin pemotong kayu." Arwah itu bercerita.
"Kemudian mayatmu?" tanya Vanesa.
"Sebelumnya aku membuat surat wasiat agar menabur garam ke leher dan kepalaku yang terluka dan menguburnya secara terpisah. Pada suamiku aku berpesan," jelasnya.
"Suamimu mau! Dia tidak marah, dia tidak terluka?!" tanya Vanesa.
"Sudah terjadi. Terluka pasti, tapi ia mengerti keadaanku karena di surat itu juga kutulis kisahku," ucapnya.
"Kamu mati karena bunuh diri, itu sebabnya kamu penasaran hingga saat ini," gumam Vanesa.
"Selagi aku masih di Bumi, aku ingin menunjukkan jalan yang benar untukmu. Jangan mengambil langkah seperti aku, ya. Bagaimanapun jalannya hadapi saja, lawan saja," nasehatnya.
Vanesa tersenyum, gadis itu mendapat pencerahan baru dari kawan barunya. Dia memang benar, usahaku
untuk bunuh diri adalah perbuatan yang dibenci Tuhan, ini bisa dilawan dan bisa dihilangkan dengan bertobat dan mendekatkan diri padanya. Batin gadis itu.
"Gunakanlah kekuatanmu untuk membantu orang lain Vanesa, banyak yang membutuhkan uluran tanganmu. Kamu dipilih karena kamu sebenarnya indigo. Bukan hanya cocok dan enak saja," kata arwah itu.
"Indigo?" tanya Vanesa tidak percaya akan pernyataan arwah tadi.
"Buktinya kamu bisa berbicara dengannya, melihatnya dan bisa mengatasi arwah lain," jawabnya.
Vanesa diam terpaku. Gadis itu sedang menerawang ke masa ia berada di eranya. Memang benar apa yang dikatakan arwah di sampingnya. Ia punya kekuatan itu, dan ia memiliki harapan untuk merubah hidupnya menjadi normal kembali.
"Sepertinya tidak perlu aku menunjukkan ingatanku padamu lagi, toh kau sudah mendengar ceritaku," kata arwah itu.
"Ya, aku sudah paham." Vanesa tersenyum dan dibalas senyum lebar oleh arwah itu. "Boleh aku mengetahui namamu wahai sobat baikku?" tanyanya.
"Sari, namaku Sariani," jawabnya.
"Sariani," gumam Vanesa.
"Baik teman, akan kuantar pulang sekarang, tapi sebelumnya jangan kaget karena kamu telah dianggap tewas oleh mereka. Hiduplah menjadi orang lain dan tinggalkan kota itu," sarannya.
"Baiklah, kembalikan aku ke rumahku dulu. Ada beberapa yang harus aku ambil," pinta gadis itu.
__ADS_1