TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
35 SUKMA BERKELIARAN


__ADS_3

Ali mengemudikan kendaraan bermotor dengan membonceng Anggara di belakangnya. Pemuda itu tampak sedang  bersiul riang, sedangkan Anggara memerhatikan setiap jalan yang mereka lewati. Malam telah menunjukkan pukul 00:22. Mereka masih patroli walau tidak menggunakan mobil dinas. Masuk ke desa Rapak Dalam daerah perumahan warga. masih terdapat sawah yang di tanam warga di pinggir jalannya. Nampak hijau   walaupun hanya diterangi cahaya  temaramnya lampu jalanan yang tak seberapa menyorot jalan.


Ali tiba-tiba hentikan siulannya dan memandang ke kanan dan kiri. "Kok, merinding?"


Anggara memandang sahabat sekaligus bawahannya dengan curiga dan ikut pula memandang ke seluruh jalan. "Jalan terus!" perintahnya setelah tidak ada hal yang perlu ditakuti apalagi dicari tahu alasannya.


Ali diam, pemuda itu menurut dan terus maju. Sementara Anggara mulai merasa merinding di bagian tengkuknya, tak sadar ia usap bagian itu dan bergidik sendiri.


"Apa tu?!" teriak Ali cepat seraya mengerem mendadak motor mereka.


''Gila! Ngapain rem mendadak?! Sengaja biar aku meluk kamu dari belakang?!" bentak Anggara. Ia segera turun dari motor dan bermaksud untuk menjitak kepala Ali, tetapi niatnya urung karena Ali terlihat pucat dan menunjuk ke langit. Mau tidak mau Anggara pun memandang ke sana.


"Kuyang?" gumam Anggara tanpa rasa takut karena terbiasa dengan kekasihnya.


Kuyang melayang tinggi makin lama makin menjauh. Ususnya berkelap-kelip bagai bintang, rambut terurai dan darah menitik di setiap dia mengerakkan ususnya. Bau amis tercium pekat. Anggara mengerutkan dahinya heran. Hendak ke mana si pemangsa bayi itu?


''Keren, baru ini aku lihat bintang!" seru Ali. Wajahnya tidak sepucat tadi malah terganti dengan wajah senang.


Anggara malas membahas kekaguman Ali yang terkesan bodoh. Pemuda kini meraih ponselnya dan menelepon. ''Irwan, dari desa Rapak Dalam. Coba kamu cek ke atas langit, awasi siapa tahu sampai ke tempatmu. Tadi kami melihat Kuyang menuju Kota." Setelah berkata Anggara segera menyimpan HP-nya.


Ali baru sadar setelah Anggara menepuk bahunya dan menyuruhnya untuk jalan. Tak banyak bantah Ali segera melajukan motornya.


Sementara di pos penjagaan simpang antara Palaran menuju kota ada Irwan yang sedang berdiri depan pos sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sesekali memandang ke atas dan sesekali membalik badan melihat rekannya yang malah asyik menonton televisi Bola bersama rekan lain. "Enak betul mereka! Mentang-mentang senior, aku dah, yang disuruh-suruh! Bangke amat!" gerutunya pelan. Walau kesal takut jua didengar oleh mereka.


"Apa yang kamu temukan di langit, Anakku?" ejek Tono. Pria berusia tiga puluh tahun dan berambut tipis itu tertawa di sela tanyanya.


"Layangan!" jawab ketus Irwan.


"Hari gini percaya Kuyang... ada-ada aja, Pak Anggara tuh,'' sahut Aji. Pemuda kurus mengenakan jaket kulit hitam.


Tiga polisi di dalam pos terbahak dan kembali menonton televisi walau masih susah meredakan tawanya. Anggara datang bersama Ali, mereka memandang Irwan yang segera berlari ke arahnya.


''Kenapa?'' Anggara heran sambil turun dari motor.


''Lihat sendiri anak buahmu, Pak." Irwan menunjuk pos.


Anggara paham, ia tidak marah walaupun Irwan bersikap lancang padanya karena mereka dulu satu angkatan, oleh karena Anggara lebih berprestasi makanya Anggara mendapatkan kenaikan jabatan lebih cepat daripada Irwan yang terkesan santai tak mau kejar target.


Anggara berjalan ke pos, sedangkan Irwan asyik mengadu pada Ali dan mereka terlihat asyik pasang taruhan untuk Tim bola idola masing-masing.


Anggara meraih HP yang terdapat pada saku depan celana coklatnya. "Aji, apa kamu menemukan sesuatu di sana?" tanya Anggara seraya berjalan pelan dan segera bersembunyi di balik pos. Bersandar dan mengawasi ke bagian pintu.


Aji nampak bingung ingin membalas, ia masih meminta pendapat dua rekannya. Dua rekannya memberi isyarat yang tidak dimengerti Aji, hingga pemuda itu jengkel dan mencubit lengan Arman dan melempar HP-nya pada pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu.


Arman meringis, mengusap pergelangan tangan yang dicubit tadi dan berniat melempar kembali.


"Halo?" Anggara.


Arman menunjuk Aji dengan melotot. "Iya, Pak. Saya Aji," jawab Aji cepat.


Anggara memandang Ali dan Irwan yang juga memandangnya. "Napa kamu yang balas? Aji-nya mana?"


"Aji-nya mati, Pak. Baru kubur pagi tadi, makanya HP saya yang pegang!" jawab Rahman asal dan otomatis sebuah kaki kiri melayang ke perutnya.


"Kurang ajar! Teman gila!" sungut Aji.

__ADS_1


Sadli tertawa tertahan mendengar ucapan dan tingkah mereka. Arman mengusap perutnya dan cengar-cengir kemudian menjauh sedikit.


"Ah, ya sudah. Kamu saja yang jawab. Apa yang kamu pantau dari sana?" tanya Anggara seraya menjauhkan HP dan membuang napas jengkel.


"***...eh! Anu langit, Pak!" sergah cepat Arman setelah itu ia menampar mulutnya sendiri.


"Kamu di mana?"


"Di Simpang menuju Rapak dalam ke Samarinda," jawabnya spontan dan jawaban itu langsung mendapat acungan jempol dari dua rekannya.


"Apa saja yang sudah kamu temukan?" Anggara mulai memainkan tongkat polisi yang sering ia selipkan di balik punggung bajunya. Greget dia dibuat oleh Trio malas itu.


"Bulan, bintang, awan, capung dan banyaaakkkk lagiiii!" tangan kiri yang tidak memegang HP itu memutar di udara membentuk bulatan. Bak bocah berusia lima tahun yang sedang mempraktekkan besarnya balonku ada lima kepada teman sepermainannya. Dua rekannya sama-sama menepuk jidat masing-masing, merasa malu dengan kelakuan Arman.


"Terus Tim mana yang menang?" Anggara mulai tak tahan.


"Eh! Jaringan putus-putus!" Arman segera menyadari. "Pak, Bos tahu!" serunya cepat dengan berlari ke luar dan mengawasi sekelilingnya. Ia sempat melihat Ali dan Irwan yang berpura-pura tidak melihatnya.


"Mana, Anggara-nya?" tanya Sadli yang telah berusia tiga puluh lima tahun dan berkeluarga.


"Tu HP, udah putus belum?" tanya Aji.


Rahman baru ingat, ia segera memutus teleponnya. Pucat sudah wajahnya.


"Lompat 100 kali di tempat!" Anggara sudah ada di belakang mereka.


Ketiganya saling senggol dan berbalik. Tak mampu membantah karena Anggara menusuk dengan pandangannya. Mau tak mau menjalankan hukuman itu. Anggara memberi isyarat agar Ali dan Irwan masuk ke pos. Mereka datang sambil mengulum tawa. Kini Anggara yang duduk dan menikmati camilan mereka, ia segera menelepon ke rumah.


"Sayang lagi apa?"


"Ini sudah jam berapa, kok kerja nggak kira-kira?" Anggara berkerut dahi. Diam-diam cemburu.


"Rencananya besok off, jadi harus selesai semua malam ini," jawabnya.


"Kamu berdua?"


"Ada Anes dan Maya di sini," jawab Shabita sambil berpaling ke belakang dan memandang dua gadis itu yang sibuk mengatur folder.


"Ya, sudah. Aku tutup dulu." Anggara segera menutup teleponnya.


Shabita menimang HP-nya, pandangan semu sejenak kemudian tersadar dan segera meletakkan HP itu di meja. Kembali sibuk dengan laporan.


 



 



Tiga orang yang kena sanksi oleh Anggara tampak berjalan mengelilingi perumahan. Mereka memang dihukum mengawasi lingkungan, tanpa motor dan mobil.



"Ah, apes!" kata Aji sambil meraih anak rumput di sekitar mereka kemudian membuangnya di sembarang tempat.

__ADS_1



"Kamu sih, ngajakin taruhan." Arman menyalahkan.



Aji melotot tidak senang dituding sebagai penyebab mereka dihukum. Sadli diam dan berjalan lebih dulu.



"Hihihi...."



"Suara apa, tu Ji?" Arman sigap memeluk Aji dan Sadli terhenti dan segera mengedarkan pandangannya ke segala arah.



"Ah, perasaanmu aja!" tekan Aji seraya mencoba melepaskan diri dari Irwan.



"Hihihi...."



"Tuh, kan! Suaranya adalagi!" Arman makin erat merangkul lengan Aji.



"Aku tahu kamu jomlo, tapi nggak gini juga!" ejek Aji kesal.



Arman langsung menjitak kepala Aji. Yang dijitak langsung merenggut paksa dirinya hingga terlepas dari Arman.



"Hihihi...."



"Kayaknya aku juga dengar," kata Sadli sambil menatap kepada mereka berdua. "Suara Kuntilanak ... lari yuk!" Yang menyuruh sudah lari lebih dulu dan suaranya dikeluarkan sambil lari.



"Ah, penakut!" ejek Aji. Ia pandang Arman yang telah lari jua. Pemuda itu mendelik tidak percaya, dirinya sendiri di jalan sepi itu. "Sia..." kecamannya terhenti saat sesuatu melintas di sampingnya.



Sebuah kepala melayang setinggi pinggang. Memiliki ciri seperti Kuyang kemudian menghilang di depan sana.



Arman terkencing\-kencing, bergetar kemudian sadar dan lari. "Setaan!!"

__ADS_1


__ADS_2