TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
131


__ADS_3

Shabita heran mengapa suara Dara terdengar seperti berbicara dengan seseorang. Ia kemudian mendatang Dara dan mendapati anak itu sedang bermain boneka.


"Dara lagi apa?" tanya Shabita seraya berjongkok.


Dara cantik mengenakan pakaian merah dan jepit rambut ungu menoleh. "Main boneka!" jawabnya cepat. Ia mengambil sisir kecil dan menyisir rambut boneka tersebut.


"Dara tadi ngomong sama boneka?"


"Mama ..." ucapan Dara terputus. Ia kemudian tersenyum memandang sesuatu yang menarik di belakang Shabita.


Shabita curiga, ia lantas berbalik. Tidak ada siapa pun di belakangnya. "Dara lihat apa?"


Dara menggeleng, ia kembali bermain. Shabita meremang, ia mengusap tengkuk dan kedua lengan secara bergantian. Apakah orang itu mengikuti hingga ke sini? "Dara kita bobo dulu," bujuk Shabita.


"Main!" rengek Dara ketika dirinya hendak digendong Shabita.


"Nanti, ya. Ini udah ciang!" rayu Shabita.


"Em," jawab Dara dengan cemberut.


Shabita membawanya ke kamar. Ia membaringkan Dara. "Tidur," bisik Shabita. Dara memejamkan mata, tidak lama bukannya Dara yang terlelap, tetapi malah Shabita yang pulas.


Dara membuka matanya. Ia berjalan pelan menuju tempat bermain tadi. "Mama bobo!" katanya.


Hantu perempuan di rumah mereka muncul di hadapan Dara. "Mamamu sayang sekali sama kamu, Dara."


"Iya, Mama cayang!"


"Tapi mamamu udah ada adek baru di perutnya, Dara."


"Iya, Dara cayang adek!"


"Kalau mama sayang adek terus Dara disayang?"


"Macih, pasti macih!" Dara melompat riang seraya tertawa.


"Papa sayang, Dara?"


"Cayang, papa cayang!"


"Kalau ada adek, papa masih sayang?"


"Adek?" Dara menghentikan kelakuannya. Ia berkerut dahi lantaran selalu adek yang disingungnya.


"Kalau ada adek, Dara tidak disayang lagi sama papa, sama mama."


"Cayang, kok!" Dara ngotot. Ia tidak percaya mama dan papanya tidak sayang lagi padanya.


"Dara anak siapa?"


"Mama sama papa."


"Anak mama aja."


"Anak papa!" Dara bersikeras. Walau usianya dua bulan lagi menginjak empat tahun, tapi Dara sudah bisa berpikir dengan baik.


"Bukan! Dara anak Toni. Anak orang lain!"


"Anak papa!" Dara merengek. Ia berteriak.


"Dara bukan anak Anggara. Dara tidak akan disayang lagi kalau adik di perut mama lahir. Dara dibuang!" Ia berhasil menghasut Dara. Hanya tinggal sedikit lagi untuk membuat anak itu percaya dan nantinya memusuhi ayahnya.


"Bukan! Papaku, ya papaku!" teriak histeris Dara.


Shabita tersentak dari tidurnya ia terbangun lantaran mendengar Dara berteriak sembari menangis. "Dara!" panggilnya saat anak itu tidak berada di sisinya. Shabita segera berlari menuju arah suara anak gadisnya.


"Papaku cayang aku!"


"Dara!" panggil tantenya Anggara. Ia lebih dulu datang dari Shabita. "Kenapa?" Ia merangkul cucunya yang kini menangis.


"Papa cayang aku, Nek!"


"Iya, iya. Papa sayaaaang, Dara!" Ia mengusap lembut rambut cucunya.

__ADS_1


"Dara!" Shabita berjalan cepat mendatangi Dara. "Kenapa dia, Tan?"


"Enggak tahu, nih. Tadi teriak-teriak," jawabnya.


"Dara, tadikan bobo. Malah di sini?" Shabita membujuk Dara untuk kembali padanya.


Dara memandang perut Shabita. Ia tidak mau saat diraih oleh ibunya. "Sama nenek!" jawabnya.


Shabita memandang perempuan itu. Karina mengerti, ia kemudian berkata, "Biar sama tante saja."


"Oke, Tante." Shabita berdiri. Ia hanya memandang Dara yang digendong, dibawa ke kamar Karina.


Anggara pulang, ia kelelahan lantaran harus keliling mengawasi bawahannya. Memandang Shabita yang sedang berbaring sendiri malam itu, tanpa ditemani Dara, membuatnya mangurungkan niat untuk mandi.


"Mana Dara?"


"Sama neneknya," jawab Shabita lemah.


Anggara menghampiri Shabita. "Kamu tumben melepas Dara?"


"Dara-nya yang mau sama neneknya."


"Aku mandi dulu. Nanti kita ngomong lagi." Anggara kemudian meninggalkan Shabita.


Dara bermain dengan Karina. Ia tertawa saat Sonia menceritakan sesuatu yang lucu. Anggara datang dan langsung mengusap lembut rambut Dara.


"Papa," sebut Dara.


"Dara bobo di sini apa sama papa?"


"Nenek!"


Anggara memandang Karina. "Biar saja. Kali ini juga," kata Karina.


"Dara nggak sayang papa dulu." Anggara memberikan pipinya untuk disayang Dara.


"Cayang, Papa!" Dara mencium pipi Anggara.


"Ngapain kamu ketawa-ketiwi di depan pintu?" tanya seorang bapak. Zulfikar namanya. Bertubuh besar, lebih tinggi dari Anggara. Berkumis tipis serta cambang rapi di wajahnya.


"Om?" Anggara terkejut karena melihat pamannya telah tiba dari tugasnya.


"Om, baru pulang sore tadi, tapi karena tantemu sibuk sama anak kalian, om jadi tidak ada teman main. Yuk, main kita!"


"Ta-ta-tapi, Om!" Anggara berusaha menolak saat dirangkul pundaknya kemudian ditarik menuju ruang tamu.


"Ayolah, udah lama kita tidak ngopi bareng di warung. Om traktir makan sate di pinggir jalan!"


"Tapi, Om! Anggara masih pakai piyama!"


"Nggak usah ganti. Orang ganteng biar telanjang juga, oke punya!" Ia berusaha menarik paksa Anggara.


Asam! Orang ini mengganggu saja! Akhirnya Anggara hanya cemberut saat mereka sedang duduk di warung kaki lima.


"Sate, Bang, seratus tusuk!" seru Zulfikar.


"Seratus tusuk? Itu orang apa Sundal Bolong," olok Anggara.


"Om, udah lama tidak makan enak. Mempung di sini, om pengen balas dendam." Zulfikar melambai pada seorang perempuan yang sedang tersenyum padanya. "Mantan!" tunjuknya.


"Enggak tanya!"


"Siapa tahu kamu kira itu selingkuhan saya," jawab Zulfikar seraya meraih garpu kemudian dimainkan di atas meja. "Om, kangen sama tantemu, tapi lihat dia asyik sama Dara, om jadi iri. Pengen dimanja."


"Itu juga saya nggak nanya, Om."


"Saya yang mau cerita! Mau apa kau?!"


"Mau makan," jawab Anggara. Ia menciut dibentak Zulfikar.


"Tinggal mendengarkan saja kamu repot betul!"


"Iya, Om. Silakan kalau mau cerita lagi. Mulut berbusa juga enggak papa, cerita deh."

__ADS_1


"Asam!" umpatnya.


"Pak, pesanannya. Minumnya apa?" tanya pedagang sate itu.


"Es teh dua--eh! Empat, deh. Soalnya saya kalau makan banyak minumnya!" pesannya.


"Pantas badan besar, makannya tidak kira-kira."


"Om, ini besar, tapi bukan gemuk. Lihat badan om, berbentuk kan?" Zulfikar menegakkan tubuhnya.


"Iya," kata Anggara. Ia malas membahas tubuh pamannya yang kekar itu. Bila sudah membahas itu nanti dia yang repot sendiri.


"Makanya, olah raga," ceramahnya.


"Iya," jawab Anggara.


"Makan, ayo!" Zulfikar mengunyah sate.


Terpaksa Anggara makan. Ia hanya tidak senang dan tidak selera memandang cara makan pamannya yang rakus. Bahkan ketika minuman datang, tiga gelas besar teh dihabiskan semua. "Lagi, empat gelas lagi!" pesannya.


Anggara ternganga. Ia memandang Zulfikar yang masih lahap makan. Itu tadi makan atau ngemil?


"Makan, kalau kurang kita pesan lagi!" perintahnya.


"Kenyang!" tolak Anggara.


Shabita gelisah, Anggara katanya akan datang setelah menemui Dara, tapi ini sudah dua jam lewat pemuda itu tidak datang. Ia ingat Karina, sempat mengutarakan isi hatinya tentang Anggara. "Apa jangan-jangan mereka lagi selingkuh? Ooo, awas!" Shabita kemudian pergi ke kamar Karina.


"Tante," panggilnya.


"Susss, dia tidur." Karina menyuruh Shabita untuk memelankan suaranya.


"Anggara tidak datang ke kamar saya. Tadi dia bilang mau datang setelah menemui Dara," kata Shabita.


"Oh, tadi ada di sini, tapi udah pergi dua jam lalu."


Shabita berusaha menengok ke dalam sana. "Boleh saya mencium Dara?"


Karina membuka lebar pintu, kemudian Shabita masuk. Ia melirik seisi kamar. Ke mana orang itu? Ia kemudian mengusap lembut kening Dara.


Terdengar dari luar suara Anggara dan pamannya. Shabita segera keluar. Ia melihat Anggara sedang menuju kamar dan pamannya menuju kamar Karina.


"Dari mana?"


"Tadi nemanin paman minum kopi," jawab Anggara seraya masuk kamar.


"Kan, bisa bilang dulu."


"Ditarik tadi, dipaksa ikut."


"Kukira tadi kamu ..." Shabita diam ia malas membahas. Sangat memalukan bila Anggara tahu ia cemburu dengan Karina.


"Ada apa, sayang?" Anggara merangkul Shabita.


"Enggak ada," jawabnya seraya berbaring.


"Aku ngantuk banget, nih. Aku tidur duluan, ya." Anggara kemudian mengambil tempat tidur di sebelah Shabita.


Shabita melamun, ia masih jengkel dengan Anggara. "Eh!" teriaknya. Ia kaget saat Anggara merangkulnya.


"Melamun memelulu. Tidur, Yang."


"Gimana mau tidur kalau tanganmu menjalar ke mana-mana?!"


"Eh, iyakah. Itu mungkin tikus masuk selimut. Kamu, sih bau belum mandi."


"Ngarang aja!" Shabita mendorong Anggara.


"Sini, biar bau tetap dicinta, kok." Anggara meraih kembali Shabita.


"Asam!" umpat Shabita.


Anggara hanya terkekeh, ia menciumi pipi Shabita dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2