
Shabita terbangun di saat seorang palayan menggerakkan lengannya. Pelayan bertubuh sedikit gemuk bermata sedikit besar dan berbibir tipis. Ia membuka matanya dan mengusap, merasa silau dengan cahaya lampu kamar.
"Nyonya, Anda harus bangun karena Tuan ingin Anda berganti pakaian."
Shabita langsung memerhatikan dirinya, bajunya belum diganti dari semenjak ia diculik Toni. Hanya saja ia dikenakan mantel agar tak terlalu terlihat mencolok. Shabita kemudian bangkit setelah diberi handuk dan ditunjukkan kamar mandi di ujung kamarnya.
Pelayan nampak menyiapkan pakaian gadis itu. "Pakaian Anda telah siap. Saya akan tunggu di luar, sebaiknya segeralah karena Tuan Le menunggu."
"Siapa Tuan Le-mu itu?" tanya Shabita bingung.
"Tuan yang membawamu kemari! Permisi," katanya setelah itu beranjak dari sana.
Shabita diam, ia menduga nama pemilik tubuh sebelumnya adalah Le dan Toni merampasnya hingga kini Toni-lah Le itu.
"Pakaian ini," gumamnya sambil menerawang. Seandainya ada dia di sini dia pasti suka aku mengenakan ini. Lamunan buyar lantaran pintu kamarnya diketuk. Shabita segera mengenakan gaun merah darah bermotif bunga mawar.
Toni sudah berada di meja makan bersama Talia. Nampak terperangah dengan kecantikan gadis itu, namun berbeda dengan Talia yang berpura-pura tidak melihat keindahan itu.
"Ayo, sini!" Toni segera menarik Shabita agar duduk di dekatnya.
Shabita melirik Talia sekilas kemudian duduk.
"Nah, sekarang mau makan apa? Makanlah," tawar Toni ramah.
"Terserah," jawab Shabita lirih.
"Ini," tunjuknya. Lagi-lagi Shabita hanya tersenyum dan menjawab terserah.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Talia tanpa basa-basi langsung menusuk ke arah Shabita.
"Dua hari lagi," jawab Toni pasti.
Seperti petir, seperti badai. Perasaan gelisah langsung menyelimutinya. Namun ia berusaha tegar. Hanya bisa tersenyum saat Toni memaksanya lewat pandangan agar Shabita memberikan jawaban pada Talia lewat tingkah lakunya.
"Makanmu kok nggak bergairah? Sini biar disuapi," kata Toni sambil mengambil piring dan sendok gadis itu lalu menyuapinya.
Shabita tak bisa memandang ke mana-mana. Kini matanya hanya tertuju ke bawah, airmatanya hendak tumpah dan dadanya terasa sakit. Ia remas kuat-kuat gaunnya agar mampu menahan perih.
"Jangan bersikap seolah-olah kamu dipaksa di depan putriku. Ingat Anggaramu!" bisiknya sambil tersenyum. Seolah-seolah sedang merayu mesra Shabita.
Talia tidak bergairah makan karena melihat kemesraan palsu itu. Ia segera menyudahi dan pergi. "Talia ada urusan sama teman," katanya sebelum pergi.
Airmata Shabita mengalir dan Toni menyekanya. "Ya," jawabnya dengan susah payah agar suara itu mampu melewati tenggorokannya.
__ADS_1
"Bagus, itu baru calon istriku. Ingat dua hari lagi kita menikah, siap atau tidak kamu harus bersedia!" tekannya sambil makan.
Shabita hanya mengangguk. "Bisakah aku istirahat, aku sangat lelah," pintanya.
Toni tidak bersuara, namun isyarat tangan memberi izin gadis itu untuk pergi. Shabita segera berlari menuju kamarnya dan menghempaskan tubuh di sana.
"Kenapa nasibku begini? Kenapa? Apa aku memang ditakdirkan masuk neraka?!" jeritnya pelan.
Keluh kesah terlontar dari bibirnya hingga gadis itu kelelahan dan tertidur. Toni mendatangi kamar gadis itu dan menyelimutinya, kemudian keluar dengan hati-hati.
****
Anggara terbangun dan memandang ke sekeliling ruangan, matanya berhenti kepada sesosok pemuda yaitu Ali.
"Ali," panggilnya lirih. Ingin bangkit namun slang inpus mencegahnya. Rasanya nyeri ketika tak sengaja tertarik. "Ali," panggilnya sedikit keras.
Ali terbangun mendengar suara Anggara. "Eh, sudah sadar!" Ia cepat menghampiri dan duduk di samping dipan.
"Kenapa aku bisa di sini?" tanyanya heran.
Ali bingung ingin menjawab apa. Adi sempat berpesan, "Jangan disebut nama Shabita lagi. Kalau kausebut mati kau!" Itulah ancaman Adi. Ia pun heran dan bingung kenapa Adi melarangnya, pemuda itu hanya bilang Anggara akan kembali kumat kalau berhubungan dengan gadis itu lagi.
Adi," panggil Anggara di saat Ali termenung.
"Kenapa aku bisa di sini?" ulang Anggara.
"Oh, itu. Kamu sih, ngantuk dipaksakan nyetir. Jadi gini deh," dalihnya.
Anggara diam, ia coba mengingat kejadian semalam, namun belum terlalu jauh ia merasa sakit di puncak kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya Ali panik setelah melihat reaksi Anggara yang meringis dan memegangi kepalanya.
"Kepalaku terasa sakit," adunya.
"Em, Anggara. Apa kamu ingat Shabita?" tanya Ali. Ia penasaran dengan yang dikatakan Adi padanya.
"Shabita ... siapa?" Anggara balik bertanya. Wajahnya menggambarkan kebingungan dan coba mengingat nama yang disebutkan tadi, namun kepalanya terasa makin parah. Hingga ia mengerang kesakitan. "Egh!"
"Anggara!" Ali panik dan segera menekan tombol darurat.
Dokter dan suster segera datang menanganinya. Ali diminta menunggu di luar, pemuda itu sesekali menengok pada kaca pintu kamar Anggara. Sangat panik hingga tidak tahan untuk tidak mondar-mandir dari tadi.
Shabita terbangun setelah mendengar suara berisik di kamarnya. Gadis itu memandang ke sana-kemari. Heran ia melihat ruangan kosong, tetapi suara ribut itu menandakan keriuhan seperti pasar.
__ADS_1
"Suara apa itu?" gumamnya pelan sambil berjalan menghampiri dinding sebelah kirinya. "Aneh, tidak ada suara dari dinding, lalu dari mana?" Terdengar lagi suara gemericik air dan suara orang berbicara. Shabita menjauhi dinding dan meneliti seluruh sudut ruangan. Kosong, hampa suara. "Aneh, tadi ribut sekali?" Ia mencoba untuk kembali ke ranjangnya.
Krak! Suara mengejutkannya, menghentikan langkah menuju ke ranjang. Berbalik dan melihat arah suara tadi. Tak ada apa pun, ia merinding, puncak kepalanya terasa keram tak sanggup menerima kengerian di hati. Kras! Suara kembali terdengar di sudut kiri. Shabita terguncang seperti tersengat aliran listrik bertenaga tinggi.
"Siapa kamu?" tanya suara tanpa wujud.
Shabita kembali sadar dan terkejut melihat suasana di tempatnya berpijak saat ini bukanlah lagi sebuah kamar, melainkan sudah berganti dengan sebuah hutan gundul. Suasana gelap hanya diterangi kunang-kunang. Ia terheran, begitu banyak kunang-kunang dan bau amis serta daging busuk amat menyengat.
"Tempat apa ini?" Ia menyapu semua area itu dengan pandangannya.
"Siapa kamu?!" tanya suara dari atas.
Shabita memandang arah suara itu dan terkejut karena yang bersuara mendekat dan tampak jelaslah sekarang. Ya, dia adalah Krasue. "Aah!" teriak gadis itu.
Kunang-kunang yang dilihatnya tadi mendatanginya, ternyata bukan kunang-kunang melainkan lampu dari isi perut Krasue yang bersinar. "Tidak!" teriak Shabita saat semua berkumpul mengelilinginya. Ada ratusan hingga gadis itu berteriak histeris.
*Siapa dia?
Siapa gadis yang sama dengan kita ini*?
*Kenapa dia di sini?
Dia nampak berbeda. Sangat kuat*.
Suara itu terdengar oleh Shabita. Ia takut membuka matanya dan sekarang takut mendengar sehingga menutup kuping dengan kedua tangan rapat-rapat.
"Jangan ganggu aku, kembalikan aku ke asalku!" mohon gadis itu sambil berdoa dalam hati.
Mereka menjauh saat Toni datang. Pemuda itu segera meraih saat Shabita hampir tak sadarkan diri karena ketakutan.
"Dia ratu kalian. Jangan sesekali kalian mengganggunya!" Toni mengumumkan sambil menggendong Shabita.
Mereka riuh seperti pasar, mereka ada yang berbisik setuju ada pula yang tidak terima.
"Yang menentang akan kumusnahkan!" ancam Toni. Mereka terdiam dan menunduk hingga Toni menghilang dari mereka.
"Gadis itu akan jadi penerus Toni, aku tak mau dikekang selamanya oleh dia dan keturunannya!"
"Ya, kalau sampai gadis itu memiliki keturunannya maka kita akan selamanya jadi budak mereka!"
"Kita lihat saja, sampai di mana gadis itu akan bertahan. Akan kita habisi bayinya kalau sampai ia memilikinya!"
Hihhihihi....
__ADS_1