TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
27 DIA?


__ADS_3

Shabita terbangun di tempat tidur beralaskan kain putih. Saat bangkit dari tidurnya kepalanya tiba-tiba berkunang-kunang. Tubuhnya lemas dan wajahnya pucat pasi. Seorang pemuda tampan berkebangsaan Amerika duduk di kursi dengan mengenakan pakaian tidur berwarna hitam, tepat di depannya saat ini duduk di ranjang.


"Sudah bangun," sapanya. Gaya bahasanya ketika berbicara sangat lancar dan tidak terpeleset oleh bahasa asal dari negaranya.


"Mister?" tanya Shabita heran. Gadis itu kemudian memperhatikan seluruh ruangan di tempatnya itu.


Putih polos tidak berhias sama sekali, itulah gambaran dari desain kamar tersebut. Shabita memperhatikan pakaiannya sendiri yang tetap sama seperti yang ia kenakan kemarin. Berwarna ungu dengan rok biru.


"Shabita," panggilnya.


Shabita memandang Pramuda dengan tatapan bertanya-tanya. "Kenapa saya bisa ada di sini?" tanya gadis itu seraya menggeleng untuk menghilangkan rasa pusingnya.


Pramuda tersenyum memandang Shabita. Ia kemudian menghampiri gadis itu. "Ini rumahmu sekarang," katanya.


"Bu-bukan! Ini bukan rumahku! Kembalikan saya!" bentak Shabita.


"Sayangnya tidak semudah itu, sayang." Pramuda tersenyum simpul.


"Apa maksudmu?!" Shabita mundur saat Pramuda mendekatinya. "Mau apa kamu?!"


"Aku tertarik padamu Shabita. Aku ingin menjadi majikanmu," ungkapnya seraya ingin meraih rambut gadis itu.


Shabita menepis tangannya dan bergeser menjauh. "Gak mau! Aku bukan peliharaanmu!" tolaknya.


"Aku akan memberimu makan setiap hari, Shabita. Kau hanya cukup menjalankan perintahku," katanya dengan nada lembut.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Shabita heran.


"Aku ingin kaya, lebih kaya dari ini. Aku ingin semua yang ada padamu," jelasnya.


Kini tahulah Shabita apa yang membuat Pramuda berubah pikiran dan mau bekerjasama dengan perusahaan Chang, rupanya dirinyalah sedari awal yang menjadi incaran pemuda itu. "Gak! Aku bukan iblis. Aku manusia!" bentak Shabita. Gadis itu berusaha lari, tapi Pramuda menangkap tangannya dan menariknya agar lebih mendekat padanya. "Lepasin!" Shabita meronta.


"Aku belum pernah bertemu kuyang secantik kamu Shabita. Terus terang aku ingin menjadikanmu istri sekaligus penghasil uangku." Pramuda berbisik di telinga Shabita.


Shabita berusaha menarik dirinya dari Pramuda, tapi usahanya gagal karena pemuda itu tenaganya jauh lebih kuat darinya. "Gak akan. Aku gak mau!" teriaknya. "Lepasin!" rontanya.


"Apa kamu lapar Shabita?" Pramuda melepaskan gadis itu dan menjauh beberapa langkah.


Shabita mengurut pergelangan tangannya yang sakit akibat dipaksa untuk lepas dari kekangan Pramuda. Pemuda itu bertepuk tangan sebanyak dua kali dan masuklah seorang perempuan yang dikenali Shabita bernama Winda. Perempuan itu mendorong meja panjang yang memiliki alas meja berwarna putih dan ada beberapa hidangan yang ditutup.

__ADS_1


"Ini dia makanan untukmu, calon istriku." Pramuda mendorong Shabita untuk maju ke arah meja panjang itu. Gadis itu melotot marah diperlakukan Pramuda seperti budaknya. "Karena aku sayang maka ini kupersembahkan untukmu," katanya seraya berjalan mendekati meja dan membuka tutup makanan yang tersaji di sana. Winda pun membantu membuka tutup-tutup yang lain.


Mata Shabita membesar marah. Darahnya berdesir dan mencoba untuk menghindar, namun entah dari mana ada dua bodyguard yang menahan kedua tangannya untuk tidak bergerak ke mana-mana. "Lepaskan! Aku mau pergi!" Shabita mencoba melepaskan diri sekuat tenaganya.


Pramuda tersenyum menatap pada makanan di meja yang telah tersaji untuk Shabita. Ada sloki berisi darah, daging segar tanpa di masak dan bahkan ada janin di sana. "Ini makananmu Shabita, kenapa tidak dimakan?" tanyanya.


"Bukan! Aku bukan iblis. Aku manusia, aku tidak makan itu!" tolaknya.


Pramuda mendekati Shabita yang telah dipegangi oleh dua bodyguard-nya itu dengan tersenyum dan senyumnya itu menghilang saat ia mencengkram pipi gadis itu. "Mau berdusta," katanya seraya menyingkap kerah baju Shabita. "Ini apa?! Kamu tidak bisa berbohong padaku Shabita. Selain kamu ada kuyang-kuyang lain juga di sini. Mereka tidak diperlakukan seistimewa kamu, cuma kamu yang kuberi kenyamanan seperti ini," katanya dengan melembutkan lagi nada bicaranya kemudian melepaskan gadis itu dan berjalan menuju meja lagi. "Atau kamu mau suamimu ini yang menyuapimu?" tanyanya sembari mengambil piring berisi daging segar itu dan dibawa pada Shabita yang berusaha keras meronta ingin dilepaskan.


"Jangan! Aku gak sudi makan itu!" elaknya saat Pramuda berusaha memberinya makan. Wajah Shabita kotor terkena noda darah saat Pramuda berusaha menyuapinya. Gadis itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Makan!" bentak Pramuda. Ia membuang piring itu ke lantai hingga pecah dan membiarkannya begitu saja. Ia mencengkram wajah Shabita dan memaksanya membuka mulut.


Shabita berusaha meronta dan menggeleng sekuat tenaga, tapi usahanya gagal. Rahangnya terasa sakit. Karena tidak berhasil memberi makan gadis itu maka Pramuda membuang daging itu begitu saja dan kembali ke meja untuk mengambil sloki berisi darah. Shabita meronta dan menggeleng tidak mau, tapi pemuda di depannya makin mendekat. Shabita berusaha menggunakan kakinya untuk menendang Pramuda, tapi usahanya gagal karena pemuda itu lebih dulu menendang kakinya hingga gadis itu tersungkur dan menjerit kesakitan.


"Pegangi dia kuat-kuat," perintahnya pada bodyguard-nya. "Minum!" perintahnya pada Shabita seraya mencengkram rahang gadis itu.


Darah masuk ke mulut Shabita secara paksa. Gadis itu menggeleng kuat-kuat untuk menolak Pramuda memasukkan darah lebih banyak lagi ke mulutnya. Akh! Sakit!" jerit Shabita saat lehernya mulai mengeluarkan darah.


"Lepaskan dia!" perintah Pramuda.


Shabita dilepaskan dan gadis itu kini sedang tersungkur merasakan sakit pada lehernya. Ia memegang lehernya yang mulai membuka lebar. "Akh! Aku gak mau! Aku gak mau!" jerit kesakitan darinya.  Air matanya sudah mengalir deras membasahi kedua pipinya. Ia bergulingan di lantai dan berteriak kesakitan.


Aku lapar Vanesa! Aku lapar!


"Aku gak mau! Ak-akh! Ah!" Shabita membisu, bibirnya mengucapkan sesuatu, tetapi tidak menimbulkan suara sama sekali. Tuhan, tolong aku, tolonglah aku dari derita ini. Matikan segera diriku bila harus menjadi budaknya, kirimkanlah segera diriku kembali pada-Mu. Shabita telah pasrah dan tidak mampu lagi berbuat sesuatu, akhirnya ia tidak sadarkan diri.


Pramuda tercengang melihat Shabita bukannya menjadi kuyang malah sekarang gadis itu sedang pingsan dan luka di lehernya mengatup kembali. "Apa-apaan ini?!" Pramuda berdiri dari duduknya dan mendatangi Shabita yang diam tidak berdaya. "Panggil dokter segera!" perintahnya panik saat memeriksa napas Shabita yang sudah tidak ada lagi.


****


ANGGARA  tetap diam di tepian hingga pagi hari. Ia menunggu para polisi bertindak. Dari semalam ia tidak bisa tidur dan malah ketiduran di bangku tepian. Pemuda itu mengigau dan menangis menyebut nama Shabita. Dalam mimpinya Shabita datang mengenakan gaun putih panjang sedang tersenyum padanya.


"Anggara," panggil Shabita.


"Van," balas Anggara.


Ia meraih pipi Anggara dan berbisik, "Relakan aku," Kemudian gadis itu menjauh dan menghilang.

__ADS_1


"Van, Van, Van!!" teriaknya seraya bagun dari tidurnya. Ia melihat rekan-rekannya sudah berada di sana menunggunya bangun.


"Bapak bermimpi buruk?" tanya salah seorang dari mereka.


Anggara menyeka kedua matanya yang basah oleh air mata. "Apa sudah waktunya?" tanyanya.


"Ini surat izin beroperasinya, Pak."


Anggara menerima surat izin yang telah ditandatangani oleh atasannya. "Baik, kita cari sekarang!" perintah Anggara.


"Siap!" jawab mereka serempak.


Lima polisi itu memasuki mobil polisi sedangkan Anggara sendirian menggunakan motornya. Mereka telah diberitahu oleh Anggara mengenai plat mobil dan gambaran mengenai orang menculik Shabita. Mereka mencari-cari semua tempat hingga di sorum penyewaan mobil.


"Mobil ini dulu memang disewa di sini, tapi itu dulu dan sekarang mobil itu sudah tidak ada lagi. Hilang dicuri si penyewa," jawab pemilik showroom pada salah seorang polisi.


"Tahu siapa penyewa sebelumnya?" tanyanya.


"Tunggu saya cek dulu," kata si pemilik showroom mobil. Ia mengambil buku di dalam laci mejanya dan memberikan pada polisi itu.


Polisi itu mencari-cari. Setelah menemukan ia menyalinnya ke dalam sebuah catatan kecil yang selalu dibawanya dalam saku bajunya. "Terima kasih atas bantuannya," ucapnya setelah menjabat tangan orang itu kemudian pergi.


"Bagaimana?" tanya rekannya saat ia sudah kembali dalam mobil.


"Kita cari di alamat ini," suruhnya pada rekannya yang menjadi supir.


Anggara mengikuti mereka dari belakang. Pemuda itu tidak melakukan apa pun kecuali menunggu mereka menyelesaikan tugasnya. Mereka sampai di sebuah tempat kumuh, di mana banyak sampah bertebaran di mana-mana. Para polisi itu menutup hidungnya dengan saputangan.


"Cari siapa, Pak?" tanya salah seorang pemulung sampah yang kebetulan dilewati mereka.


Salah seorang dari mereka berbalik dan mendatangi si pemulung perempuan berusia dua puluh delapan tahun itu. "Maaf, kalau boleh bertanya. Apa Anda kenal dengan orang ini?" Ia memberikan fotret pelaku pada perempuan itu.


"Di saat rumahnya. Biar saya antar," tunjuknya seraya berjalan mendahului mereka.


Mereka mengikuti perempuan itu hingga sampai di rumah sederhana bercat hijau dengan banyak tanaman serai di sana. Mungkin sebuah kebetulan saat mereka tiba di depan rumah seorang pemuda bertubuh hampir sama seperti Anggara keluar dan segera lari ketika melihat polisi di depannya. Mereka segera mengejarnya dan menembak kakinya saat pemuda itu akan memanjat tembok. "Introgasi di sini saja," perintah Anggara saat pelaku akan dibawa ke kantor polisi.


"Di mana perempuan yang kamu culik itu?" tanya salah seorang polisi.


"Saya hanya disuruh mengantarnya ke rumah besar yang ada  di perbukitan hijau, tempat para petani sahang," jawabnya.

__ADS_1


"Dua orang ikut saya, sisanya kembali ke kantor dan bawa dia!" perintah Anggara.


 Dua orang tadi yang diperintahkan oleh Anggara ikut kembali masuk ke mobil untuk mengambil kendaraannya. Mereka membawa pelaku sedangkan Anggara pergi duluan ke tempat di mana Shabita terkurung sekarang


__ADS_2