TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
79


__ADS_3

Talia sedang memandang Anggara dari kejauhan, saat pemuda itu sedang memandang ke arahnya, ia berpura-pura melihat ke arah lain. Ia mendesah saat berada di taman hanya memetik bunga mawar sambil melirik diam-diam pemuda itu. Entah kenapa malu rasanya menatap langsung Anggara.


“Kenapa kamu?” tanya Shabita. Saat ni ia sedang membaca majalah di teras rumah.


Anggara berbalik, ia menghampiri gadis itu dan sekarang duduk di hadapannya. “Nggak papa,” jawabnya.


“Jangan gelisah gitu, kamu mengganggu tahu!” protes Shabita. Ia kesal lantaran Anggara selalu mondar-mandir di depannya.


“Nanti kalau kamu nggak aman aku lagi yang salah.”


Shabita menaruh majalah di meja. “CCTV di sini tidak rusak, bisa tidak awasi dari situ saja.”


“Kenapa kamu selalu galak padaku, sayang. Jauh-jauh aku datang cuma buat kamu saja?”


“Jangan ngomong gitu, nanti Talia dengar. Bisa mengadu dia sama papanya.”


“Aku nggak peduli!” bantah Anggara.


Shabita kembali membaca majalah, ia sempat melirik Talia yang sedang memandang ke arah mereka. Anggara selalu memandang Shabita dengan pandangan yang sulit diartikan oleh gadis itu. Kadang ia merasa kesal, kadang malu.


“Ke mana baju yang kubelikan untukmu?”


“Kubuang, tidak ada gunanya memakai baju orang lain.”


“Kejamnya.” Anggara tertawa. Ia mengusap wajahnya.


“Berikan saja pada Talia. Dia sepertinya naksir kamu,” kata Shabita sambil member isyarat mata agar pemuda itu melirik Talia.


Anggara melirik Talia, ia berdiri dan malah menghampiri gadis itu. Memetik setangkai mawar dan memberikan langsung pada Talia. Saat ia melirik Shabita, gadis itu malah tidak ada di sana. Ke mana dia? Anggara mencari-cari dengan pandangannya.


“Hey, lagi nyari apa?” tanya Talia.


“Oh, nggak apa-apa,”  jawab Anggara seraya tersenyum manis.


“Dalam rangka apa, nih kamu ngasih aku bunga?”


“Kata ibumu, kamu hari ini sedang berulang tahun.” Terpaksa berbohong. Dasar, Rani!


“Enggak, tuh. Apa cuma alasanmu saja,” tebak Talia. Wajah Talia memerah, ia curiga Anggara menyukai dirinya.

__ADS_1


“Oh, ya memeng untukmu,” jawab Anggara sambil melirik ke sana-kemari. Mau bohong tak perlu tanggung-tanggung. Sekalian saja biar dia cemburu, tapi mana tu anak, ya?


“Makasih,” ucap Talia malu-malu.


“Ha, apa?” tanya Anggara. Mata ke lain arah.


Talia memerhatikan perbuatan pemuda itu, ia pun memandang ke sana-kemari. “Kamu lihatin apa, sih?” protesnya karena dari tadi tidak diperhatikan sama sekali malah pemuda itu sibuk memandang ke arah lain.


“Rani,” jawab Shabita.


“Ngapain tanya dia?’ kesalnya.


“Bukannya aku di sini untuk menjaganya,” singgung Anggara.


Talia tertawa singkat, ia lupa tugas pemuda itu. “Cari saja,” sarannya.


Anggara tidak menjawab ia hanya mengangguk seraya tersenyum, kemudian berjalan meninggalkannya menuju ke dalam rumah. Shabita sedang mengambil sebotol susu di dalam kulkas, ia hendak menuangkannya ke dalam gelas, tapi Anggara meraihnya dan meminuumnya lebih dulu.


“Dasar!” Shabita kesal. Ia ingin pergi dari sana dan tidak jadi meminum susunya. Namun, Anggar mencegahnya dengan memberikan botol susu itu. “Nggak jadi.”


“Ini perintah Talia. Aku harus mencicipinya dahulu sebelum kamu meminumnya,” dalihnya.


“Bekasmu, tidak mau!” tolak Shabita. Ia menyingkirkan Anggara.


telah pergi ke kamarnya.


Shabita sedang berbaring di kamarnya, Talia datang membawa makanan untuknya. “Kudengar kamu tidak mau makan dan minum karena Anggara,” ujarnya seraya duduk dan menaruh makanan itu ke atas kasur. “Kenapa?” tanyanya.


“Aku malas, bekas dia. Kayak aku ini apa, makan bekas terus!” singgung Shabita.


“Ini untuk kebaikanmu, Mama.” Talia tersenyum. Ia mengambil sendok dan nasi untuk Shabita. “Adikku pasti lapar.” Memberikan makanan itu, memintanya untuk meraih dan memakannya.


“Suruh dia keluar, aku malas melihatnya!” perintah Shabita saat Anggara masuk dan berdiri mengawasi.


Talia berbalik dan memandang Anggara yang diam saja menatap lurus ke depan. Talia menghela napas, ia member isyarat agar pemuda itu pergi. Anggara segera keluar. “Kenapa kamu begitu jahat dengannya, Sha? Salahkah dia, di mana salahnya?”


Shabita diam, ia hanya mengambil makanan yang disuguhkan untuknya oleh Talia.


“Dari awal kuperhatikan kamu sudah menaruh rasa tidak sukamu terhadapnya. Ada apa, Sha, adakah rahasiamu dengannya?”

__ADS_1


Shabita menyuap makanannya. Ia tampak malas-malasan makan karena mendengar pertanyaan Talia.


“Apa benar dia kekasihmu?” tanya Talia secara tiba-tiba. Membuat Shabita menghentikan makan dan menaruh piring ke baki. “Kenapa marah?”


“Aku tidak kenal dia. Tidak pernah bertemu!” tekannya.


“Kenapa kamu sembunyikan nama aslimu di depannya. Rani, itukan namamu dipanggilnya?” tuntut Talia.


“Namaku Vanesa Rania! Itu nama asliku yang sebenarnya sejak lahir! Shabita hanya nama samaran.” Shabita memandang tajam Talia. “Jadi apakah aku berbohong, tidak! Apa kamu tidak mendengar namaku disebut papamu saat menikahi aku?” Shabita tersenyum mengejek. “Kalau memang dia mengenalku. Masa tidak tahu ini aku,” tambahnya.


“Tapi, kata Wati—“


“Percaya kamu dengannya sama saja membuat kita bertengkar. Bahkan kalau memang aku kekasihnya, kenapa dia harus menderita?” tanya Shabita.


Talia diam, merasa kalah. Tak dapat ia memertanyakan lagi kecurigaannya selama ini. “Ya, kau menang, aku kalah. Tapi kuharap bersikap lembutlah padanya, plis demi aku.” Talia meraih jemari Shabita.


Shabita mengangguk seraya tersenyum. Saat Talia pergi, ia mendesah. “Bagaimana kalau Toni tahu anaknya menyukai musuhnya?” Shabita mengelus perutnya. Kurasa akan sia-sia pengorbananku bila Anggara tewas oleh ini semua.


****


Anggara memandang Shabita pagi itu sedang berada di atas balkon. Gadis itu sedang menghirup udara dalam-dalam, merasakan kesejukan udara pagi. Ia tersenyum melihatnya, Anggara segera ke dapur membuat susu untuknya. Ia menaiki tangga dan tanpa permisi memasuki kamar gadis itu.


Shabita merasakan ada seseorang datang dan sedang berdiri di belakangnya. Ia berbalik dan memandang Anggara dengan segelas susu di tangan. “Aku nggak mau susu darimu!” tolaknya.


“Aku tidak mencicipinya, ini kubuat khusus buatmu,” katanya sambil menenyerahkan susu itu pada Shabita.


Shabita mengelak, ia berjalan ke arah lain. “Aku bilang nggak!”


“Kenapa kamu begitu, Ran? Kenapa marah padaku,


apa salahku?” tanya Anggara.


“Karena kamu datang. Aku sudah bersuami, tapi kamu tidak mau memahami itu semua!”


“Bohong! Dari awal jumpa kamu sudah marah padaku, padahal aku baru bertemu danganmu waktu itu saja.” Anggara tidak terima, ia meraih pundak Shabita. Gadis itu menepisnya, Anggara meminum susu itu dan membanting gelas itu hingga pecah.


Shabita tersentak dan memandang gelas pecah itu. “Ke—kenapa?” Ia kaget saat Anggara menariknya masuk ke kamar.


Pemuda itu meminumkan susu dalam mulutnya ke mulut Shabita. “Sudah, itu bekasku!” katanya sambil tertawa.

__ADS_1


Shabita menghapus bekas susu di bibirnya. Ia tidak terima diperlakukan pemuda itu. “Kamu!” tudingnya. “Eh!” Shabita segera diraih Anggara kemudian diciumnya.


 Up sore untuk membalas yang kemarin tidak up. Semoga terhibur dengan part ini


__ADS_2