
Shabita kini sedang termenung di kamarnya, seorang pelayan datang menawarkan secangkir teh. "Minum, Nyonya. Selagi hangat."
Shabita mendesah, kemudian melanjutkan lamunan. Ia tidak memikirkan apa pun, namun suara tadi terdengar jelas olehnya. Merasa tidak digubris apalagi diperhatikan suguhannya, pelayan itu membungkuk hormat dan pergi.
Shabita memandang secangkir teh yang diberikan di atas meja rias. Ia mengambilnya kemudian dipegang dalam pangkuan, kemudian diminum tanpa rasa alias hampa. Pandangannya semu tanpa cahaya. Gaun putih yang ia kenakan tiba-tiba berdarah, anehnya gadis itu tidak menyadarinya. Ia minum lagi teh itu, airnya tiba-tiba menghitam. Tanpa sadar ia tetap meminumnya hingga habis.
"Agh!" erangnya sambil memegang leher. Rasa sakit mulai mendera membuatnya sengsara. Ia coba berdiri, namun terjatuh, kendati telah mencoba bangkit dengan menyasar pada ranjang ia pun tak mampu. tangannya terasa mati, kakinya lumpuh seketika. "AGH!" bibirnya kelu yang keluar hanya erangan kesakitan. Anggara! Hanya nama itu yang mampu ia ingat. Menangis tanpa suara, merasakan betapa sendirinya dirinya hingga putus asa dan tidak sadarkan diri.
Dua Krasue menghampirinya, mendekat dan terkikik.
"Lihat dia, dia akan tiada!"
"Hihihi.... Apa kita akan makan bayinya?"
"Diam-diam saja. Kalau mereka tahu kita tidak akan kebagian."
Mereka berdua maju sambil menyeret usus yang menyentuh lantai. Mencoba menjilati tubuh Shabita, kemudian mata mereka tertuju pada bagian perutnya. "Germ!" Shabita masih tak sadarkan diri ketika gigi taring mereka memanjang dan siap menghisap janinnya.
"AGH! GERM!" Mereka marah saat merasakan betapa sulitnya menghisap makanan(janin) di tubuh gadis itu.
"Kenapa dia bisa begini?!" Krasue berambut keriting marah.
"Sepertinya janin itu begitu kuat!" duga Krasue berambut cokelat lurus sambil memandang pada sahabatnya.
"Akan kucoba lagi!" ucap si rambut keriting. Ia maju dan menghisap kembali janin Shabita. Tetapi ia terhempas ke udara dan mengeram marah. Cahaya merah menyelimuti gadis itu. "Kurang ajar!"
Krasue berambut lurus itu menghampiri dan meneliti asal cahaya merah itu bisa berada di tubuh Shabita. "Hem, kita tidak dapat memakan janin ini bila dia memasang prisai pada ratunya. Sekarang bagaimana?"
Krasue tadi melesat mendatangi sahabatnya. "Kalau kita tidak bisa memakannya, bunuh saja!"
Langkah kaki mengejutkan mereka, mereka segera melesat ke atas dan hilang di langit-langit kamar gadis itu. Kuyang berambut keriting melesat menembus kamar salah satu pelayan dan menghilang sedangkan Kuyang berambut lurus menuju ke dapur dan mendatangi sebuah tubuh yang terduduk di belakang meja dapur. Menyatu dan bangkit, kini tahulah kita bahwa pelayan yang menawarinya minuman adalah Krasue yang hendak memakan janin Shabita. Talia membuka kamar gadis itu dengan hati-hati, takut mengganggu ketenangannya.
"Shabita!" teriaknya seraya berlari mendatanginya. "Kenapa kamu?!" Ia marah dan memeriksa di sekitar gadis itu.
__ADS_1
Pecahan cangkir menjadikan pandangannya langsung tertuju di bawah meja rias. Ia menaruh kepala Shabita dengan hati-hati dan meraih pecahan cangkir, ia membaui dan menjauh curiga. "Pelayan!" panggilnya dengan suara keras. Ia menuju Shabita dan membawanya untuk berbaring di kasur. Shabita diselimutinya. "Pelayan ....!" teriaknya marah segera menuju ke ruang tamu. "Di mana kalian?!" teriaknya penuh tenaga sehingga semua prabotan rumah itu bergetar.
Semua pelayan baik lelaki maupun wanita segera berlari dan berbaris di depannya dan menunduk takut. Talia memandang mereka dengan wajah murka. Dua pelayan yang menjadi Krasue tadi saling lirik dalam tunduk, Talia mendatangi dan memerhatikan wajah mereka masing-masing.
"Siapa yang menyajikan minuman tadi pagi?!"
Mereka saling pandang dan bertanya-tanya pada salah satu pelayan lain dan menggeleng tidak tahu.
"Siapa?!" bentak Talia murka. "Akan kuhabisi kalian bila menyakiti adikku! Bila nanti kutahu salah seorang dari kalian yang berbuat ... lihat saja apa yang akan kulakukan!" Talia mengacungkan telunjuknya ke arah mereka.
Gadis itu meraih sebuah jambangan mawar di meja tamu dan membantingnya ke lantai. Meraka terkejut, ada yang memejamkan mata takut adapula yang mundur sedangkan Talia segera menelepon dokter.
****
"Anggara, dipanggil komisaris, tuh!" kata Irwan saat melihat Anggara termenung.
Anggara tidak membalas, namun sebagai jawaban ia segera menuju ruangan Komisaris. Tok, tok, tok. Ia mengetuk pintu sebelum masuk. Langsung duduk di hadapan atasannya.
"Ada apa, Pak?" tanyanya dengan pandangan tak bersemangat.
"Lagi malas baca, Bapak saja yang bacakan, deh," perintah Anggara kembali. Pemuda itu bersandar sambil memainkan pulpen di atas meja atasannya.
"Iya, deh. Pokoknya tidak perlu dibaca karena saya yang tulis. Jadi langsung saja ke intinya," katanya mengalah.
"Hem," gumam Anggara pasrah.
"Gini, Anggara sayang--"
"Jijik, Pak. Ganti!" protes Anggara dalam nada lemah.
"Dasar," omelnya. "Begini, karena prestasimu mulai menurun dan kamu tidak fokus maka saya mengambil keputusan berat buatmu, sangat berat dan berat. Betul-betul berat dan teramat berat hingga kamu-"
"Hah!" Anggara mendesah kesal untuk menghentikan ucapan atasannya. "Sebetulnya yang berat itu apa?"
__ADS_1
"Kamu dihentikan dari bekerja selama enam bulan terhitung sampai besok." Ia memerhatikan wajah Anggara, berubah atau tidak, ternyata tidak. "Ini demi kebaikanmu, mengingat kamu baru keluar dari Rumah sakit dan belum pulih benar."
"Ya, terserahmulah, Pak." Anggara pasrah.
"Saya akan hubungi kamu lagi bila telah enam bulan," ujar Komisaris.
"Terserahmu," balas Anggara.
"Anggara, bukannya saya ingin turut campur dalam urusan pribadimu. Sebaiknya kesampingkan dulu perasaanmu itu, utamakan pekerjaan baru kemudian."
"Berakit kehulu!" jawab Anggara kesal. "Sudahlah, Pak. Saya akan kembali bila Anda telah selesai bicara." Anggara segera pergi sambil membawa surat yang diberikan tadi.
Pemuda itu kembali duduk di tempatnya dan mendesah. Ali memerhatikan Anggara, kasihan.
Talia menjaga gadis itu, kini ia duduk di depan ranjangnya. Dress hitam yang ia kenakan membuatnya nampak manis.
Shabita terbangun. "Aduh!" rintihnya pelan. Seraya memegang lehernya.
"Sha," panggil Talia. "Sepertinya kamu tidak akan tenang di sini," ucapnya.
Shabita menatap Talia dengan maklum. Ia tahu dan telah menduga.
"Aku tidak tahu kalau mereka akan berhianat," ungkapnya.
Shabita hanya diam mendengar, tak ada sedikitpun untuk membalas percakapan gadis itu
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Talia saat Shabita termenung.
Shabita memandang Talia kemudian mengelus perutnya. "Aku tidak mau anakku menjadi ayahmu dan aku," jawabnya lirih.
Talia menghela napas. "Jangan berpikir membunuhnya, aku tidak akan membiarkan adikku tiada!"
Shabita tersenyum dalam luka yang dalam. "Tidak, aku masih memiliki perasaan untuk kasih sayang ini," ucapnya sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
Talia hanya memandang, tidak ada kata yang keluar dari bibir mungilnya. Apa yang dipikirkan, Gadis ini? Kenapa dia bersikap seolah mati rasa kepada papa?