
Ada yang minta Rustam, ada yang pengen Sariani, ada yang pengen Anggara. Saya bingung yang mana dulu karena basis saya horor dan kriminal, kalau romantis larinya malah komedi. Jadi karena bingung saya tidak up beberapa hari ini. Maaf, sekali lagi. Selain akan ditamatin sampai pada Tini dan Rustam, saya juga akan mendengarkan pendapat pembaca. Oleh karena ada yang minta Rustam dan Tini diadakan, saya kabulkan. Untuk tambahan bonus besok Sariani dan berlanjut Anggara.
Tini sedang berada di kantor polisi bersama Rustam. Ia sedang dimintai keterangan soal kasus kemarin. Sedangkan Rustam sedang mengobrol dengan rekannya di luar sana.
"Sudah?" tanya pemuda itu saat Tini keluar dari sana.
"Saya tidak mau pulang. Takut nanti terjadi lagi," kata Tini seraya menjauh dari Rustam yang hendak meraih tangannya.
"Bagaimana kita akan menangkap mereka kalau kamu takut begini?" desah Rustam.
"Aku nggak mau jadi umpan," tolaknya. Cukup kemarin dirinya menderita, jangan ditambah lagi.
"Bukan kamu saja yang menderita. Banyak yang akan menderita karena kamu."
Tini memandang wajah Rustam yang kini menatapnya. Ia tidak percaya dengan pemuda ini. Kemarin saja nyaris ia tewas. "Aku berhak menolak!" tekannya.
"Aku juga berhak menuntutmu atas laporanmu itu. Atas pengaduanmu yang tidak akurat itu." Rustam menekannya tanpa Tini mampu melawan perkataan pemuda ini.
"Baiklah," lirinya. Ia menyerah untuk egois. Saat Rustam menaiki motor dan memberi isyarat ia naik maka gadis ini segera ikut dengannya.
Tini hanya bisa menangis diam-diam di motor. Ia tidak membayangkan akan jadi serumit ini.
***
Anggara merangkul Shabita. Ia meraih pisau yang ada di tangan gadis itu. Pisau yang dimaksudkan untuk memotong kentang.
"Tumben pulang cepat?" sindir Shabita.
"Pengen lihat istriku masak. Cantik kalau di dapur," pujinya.
"Nyindir. Mentang-mentang aku sibuk di dapur, tak pernah dandan."
Anggara menggantikan Shabita memotong kentang. "Cantik, justru aku naksir kamu karena alami."
"Kalau jelek?" tanya Shabita sambil bersandar pada meja dapur.
"Masa ganteng suka sama yang jelek. Dibuang saja!" canda Anggara.
"O, jadi kalau aku jelek kamu nggak mau?" Shabita berkacak pinggang seraya mendekati Anggara.
"Tunggu," cegah Anggara saat ponselnya berbunyi. Ia menjauh menerima telepon dari seseorang.
"Siapa?" tanya Shabita saat Anggara telah kembali.
__ADS_1
"Rustam." Anggara masih menatap layar ponselnya. "Aku perlu kontak Sean sepertinya," gumamnya.
"Buat apa?" tanya Shabita bingung.
"Apa kamu siap?" tanya Anggara.
Shabita terheran, ia tidak mengerti maksud Anggara. "Siap untuk apa?"
Anggara hanya tersenyum memandang istrinya. "Kamu akan tahu nanti," jawab Anggara seraya memotong kentang. Ia segera mencuci kentang setelah semua usai dipotong olehnya.
"Apa maksudnya?" Shabita menggaruk puncak kepalanya lantaran bingung. Terdengar suara Dara dari kamar. Ia segera menuju ke sana.
***
Tini memandang Rustam yang sedang bermain gitar di luar motel. Ia hanya berdiri di dinding pintu dengan santai. Baju putih yang dikenakannya sama dengan warna baju Rustam. Kadang ia merasa cocok dengan pemuda itu dalam segala hal. Kadang pula berlawanan. Walau masih marah, tetapi tidak dapat dipungkiri, Rustam seperti kakak baginya. Ia ingin sekali memanggil pemuda itu dengan sebutan 'kakak'. Namun, dalam bahasa mereka kakak berarti kekasih atau suami bila bukan termasuk saudara. Itulah sebabnya ia malu menyebutnya begitu.
"Tidur sana," saran Rustam. Ia menghentikan permainannya kemudian masuk ke kamarnya sendiri.
"Apa dia tidak takut aku celaka lagi?!" Kesal sekali ia dengan Rustam.
Gadis itu segera mengunci pintu. Ia gelisah setelah berbaring. Perasaannya tidak enak, sungguh tidak nyaman malam ini. Gerah, bila dinyalakan AC ia kedinginan. Bila dimatikan, ia kepanasan. Akhirnya diputuskan untuk mandi saja daripada tidak karuan. Namun, saat ia hendak menyingkap baju. Ada suara terdengar mendekat ke arahnya. Ia segera waspada kemudian bersembunyi di balik dinding.
Kepala tanpa tibuh dengan darah menetes di lantai sedang melewatinya. Tini terkejut, tetapi tidak sampai bersuara karena ia segera membungkam mulut dengan kedua tangannya. Tini hendak berlari ke luar dengan berjalan oelan sedikit agar tak di dengar. Namun, langkahnya terhenti oleh Kuyang di depannya. Ia mundur saat Kuyang itu menghampirinya.
Kuyang tetap maju, ia mundur. "Rustam!" teriaknya. Ia sangat ketakutan saat Kuyang itu melesat cepat ke arahnya. Tini berjongkok sambil menutup mata.
"Hay," tegur sebuah suara yang dikenali Tini sebagai suara istri dari Anggara. Ia kemudian membuka matanya. "Kakak," sebutnya lirih.
"Tini!" teriak Rustam saat ia mendengar Tini berteriak memanggil namanya. Ia sempat heran memandang seorang gadis cantik sedang berdiri di depan Tini sambil mencengkram kepala Kuyang yang sedang mengamuk hendak lepas darinya.
"Pak," sebut Tini. Ia segera berlari menuju Rustam.
"Siapa dia, Tini?" tanya Rustam.
"Dia istrinya Anggara, temanmu," jawabnya.
Rustam heran, ia kembali memandang Shabita yang telah sepenuhnya dirasuki Sariani. "Di mana Anggara?"
"Di rumah," jawabnya kaku. Ia berjalan menuju pintu. Sempat berhenti tanpa berbalik. "Biar mereka aku yang atasi," katanya. Ia kemudian berjalan keluar.
Rustam dan Tini menyusul Shabita, tapi gadis itu hilang begitu saja.
***
__ADS_1
Gadis manis berbaju ungu sedang menguji ketahanan Kuyang-Kuyang miliknya dengan bertarung di dalam penjara. Mereka saling serang tanpa ampun.
"Bos, ada yang datang!" lapor seorang pemuda besar berbaju kemeja hitam.
"Siapa?" tanyanya di tengah kegaduhan mereka bertarung.
"Keluar!" tantang Shabita. Ia melempar kepala yang dipegangnya ke tembok hingga tewas.
Gadis itu baru keluar, sudah mendapat pemandangan mengerikan di temboknya. Darah dari Kuyang tadi menempel di sana. "Beraninya!" bentaknya.
"Aku benci dengan kalian semua!" kata Shabita sambil memanjangkan kukunya. Kini kuku itu meruncing dengan darah hitam yang siap melelehkan apa saja yang dikenainya.
"Siapa kamu sebenarnya?" Sedikit gentar ia melihat perubahan Shabita. Ia pula sempat melihat darah hitam itu menetes kini membakar tanah.
"Sariani. Titisan Kuyang!" jawabnya bangga. Ia harus bangga untuk menunjukkan pamornya kepada lawan.
Gadis itu tertawa singkat mendengarnya. "Buka sel untuk Kuyang andalan kita," bisinya pada pemuda tadi.
"Tapi-"
"Lawan ini bukan lawan biasa," bisiknya kembali.
Terpaksa pemuda itu memberi isyarat mereka membuka sel Kuyang ganas yang dulu pernah gadis itu tujukan untuk menghabisi Tini.
Ger! Kyang itu terikat oleh rantai. Ia meninggalkan tubuhnya yang tergeletak untuk makan. Mereka tampak ragu membuka sel. Namun, perintah harus selalu dijalankan. Oleh karena itu mereka segera membuka. Kuyang itu menatap pintu yang terbuka. Ia segera melayang dengan wajah penuh daging mentah, ia nampak terlihat seram. Mereka memberi jalan padanya untuk keluar dari sana.
"Hihihi ..." Kuyang itu segera menuju majikannya. Ia sempat memandang Shabita yang sedang berada di hadapan mereka.
"Serang dia!" Ia perintahkan Kuyang itu untuk menyerang Shabita. Kuyang itu tidak bergerak, ia hanya diam memandang majikannya. "Kenapa diam? Cepat?!" desaknya. "Agh!" Namun, Kuyang itu malah menerjangnya hingga nyaris putus lehernya digigit Kuyang tersebut.
Shabita memandang gadis yang kini tergeletak di tanah dengan bersimbah darah.
"Aku bukannya tidak menurut padanya, tapi sampai kapan aku akan mematuhinya." Kuyang itu berbicara normal. "Selama ini aku hanya diciptakan sebagai pembasmi Kuyang. Aku ingin normal, ingin seperti dulu."
Shabita menjadi pendengar yang baik sampai di mana saatnya mereka keluar untuk menyerangnya. Lantaran mereka semua manusia, maka Shabita menyimpan kembali kesaktiannya dan akan menghadapi dengan tangan kosong saja.
Ia menerjang lawan dengan tendangan melompat ke arah dada, kemudian datang pula penyerang yang secara kompak menghujaninya dengan tinjuan. Shabita hanya menangkis lengan kiri lawan kemudian berputar untuk menyerang lawan dengan siku kana. Kakinya ditangkis saat akan menendang lawan kirinya. Namun, bukan Sariani namaya bila tidak mampu mengatasi. Ia segera melompat kemudian berputar untuk menarik kaki dari tangan musuh dan hasilnya sangat baik. Ia melompat ke belakang kemudian mendarat dengan gerakan ringan.
Rustam datang setelah dihubungi Anggara. Ia tidak percaya bahwa pemuda itu nekat mengutus istrinya untuk urusan berbahaya tersebut. Namun Anggara bersikap tenang. Melihat pertarungan Shabita dan mereka membuatnya tidak ragu mengapa Anggara sangat percaya pada istrinya.
"Di mana yang lain?" tanya Rustam saat Shabita selesai dengan urusannya.
"Cuma ini. Oh, ya. Bos mereka adalah perempuan itu." Shabita menunjuk jenazah gadis manis tadi.
__ADS_1