TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
40 PERPISAHAN


__ADS_3

Kisahku kini terasa berbeda


Kisah yang hadir dengan tiba-tiba


Rasaku ingin segera 'tuk bisa memilikimu


Meski tak tepat 'ku mendapatkannya


Cerita mengalir begitu saja


Begitu sulit untuk aku redam


Meski kutahu perasaan


Engkau dan aku tak bisa lepas


Biarkan ini adalah jalannya


Aku Tak ada yang mampu untuk menghentikanku


Cinta bagiku adalah pengorbanan


Tak ada yang mampu untuk menghentikanku


Mencintaimu adalah pengorbanan


Yang akan aku korbankan


Cerita mengalir begitu saja


Begitu sulit untuk aku redam


Meski kutahu perasaan


Engkau dan aku tak bisa bebas


Biarkan kini sudahlah jalannya

__ADS_1


Biarkan kini sudahlah jalannya


Lirik lagu Setia Band Pengorbanan


_________________________________________


Shabita saat ini sedang berada di Rumah sakit, ia sedang menunggu seseorang. Adi datang langsung menghampiri. Shabita terlihat pucat dan kebingungan.


"Di mana, Anggara?" tanyanya sambil memegang kedua pundak gadis itu. Shabita tidak menjawab, ia menunjuk pintu kamar di depannya. Adi paham dan segera masuk untuk membesuk Anggara.


Shabita hanya mampu berdiri dari luar sambil menggapai kaca jendela pintu, hatinya luruh tak dapat berbuat sesuatu. Tak mampu berpikir jauh, kini hanya mampu menangis dalam diam. Airmata tumpah tanpa bisa dicegah. Sesaat, hanya sesaat walaupun harus merasakan menderita paling tidak ia akan mengenang kisah cinta mereka. Toni datang dan menunggunya, Shabita menghapus kedua pipinya yang basah.


Shabita datang, saat Toni akan berbalik gadis itu berucap, "Bisakah kamu membuatnya melupakanku? Bisakah ia tidak mengejarku lagi?"


Toni berbalik memandang Shabita yang tunduk meremas kedua jemarinya. Menahan isak, namun airmatanya tak dapat dibendung. Menetes di antara jemarinya. Toni diam tidak merubah ekspresinya. "Tapi kamu jangan mencoba menghubunginya lagi. Kalau sampai ia mengingatmu lagi maka aku akan mengembalikan Anggara seperti saat ini!" ancam Toni.


Shabita mengangguk sambil menutup mulutnya yang hampir terdengar isak. "Ya," jawabnya. Sangat sulit satu itu keluar dari bibirnya.


"Shabita!" seru Adi sebelum Shabita melangkah mengikuti Toni.


Shabita segera menghapus airmatanya. Ia mengontrol emosi, namun masih tak mampu karena dadanya bergetar. Ia berbalik dan kemudian berbalik lagi memandang Toni.


"Shabita." Adi meraih bahu gadis itu sehingga Shabita kini berbalik padanya. "Mau ke mana kamu? Kudengar dia mengancammu, kenapa pergi, Sha? Anggara di sana sedang menantimu!"


Shabita memandang Adi, memohon agar dimengerti olehnya. "Plis, biarin aku pergi!"


Adi tersenyum miris. "Enak saja, terus Anggara gimana?!"


"Aku enggak tahu!" Shabita Shabita mulai menangis lagi.


"Dia rela begitu karena kamu! Kamu seenaknya pergi gitu aja!" tuntut Adi sambil mencengkram kedua lengan gadis itu.


"Aku enggak punya pilihan!" teriak Shabita sambil menepis tangan Adi.


"Siapa lelaki itu, hah?! Kenapa dia berhak atasmu?!"


"Plis, jangan tanya," mohon Shabita.

__ADS_1


Adi meraih lengan Shabita dengan paksa, mata mereka saling beradu. "Siapa dia, siapa?" Shabita menggeleng, Adi makin menarik Shabita. Wajahnya marah dan munusuk gadis itu dengan pandangannya. "Kamu meminta dia melupakan, apanya yang dilupakan?!"


"Sudah waktunya aku pergi," ucap Shabita lirih.


"Tidak boleh!"


Shabita menangis, ia menunduk isakannya keluar. Toni melepaskan gadis itu, ikut terluka mendengar isak tangis Shabita. Shabita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tersedu-sedu.Tubuhnya terguncang hebat. Toni meremas rambutnya kemudian segera meraih gadis itu dalam pelukannya.


"Aaakuuu, sakit. Aku takut, a--aku ...." Shabita kembali terisak. Shabita menggeleng saat Adi mengangkat wajahnya. "Biarkan aku pergi," mohonnya.


"Katakan dulu, siapa dia?" tanya Adi dengan lembut.


"Toni," jawab Shabita lemah.


Adi tidak terkejut mendengar Toni dari bibir mungil gadis itu, ia tahu pasti pemuda itu tidak akan mati walaupun sudah dibunuh beberapa kali. Adi mengecup kening Shabita. "Pergilah," ucapnya. "Shabita, aku juga mencintaimu, tapi merelakanmu. Tetapi Toni tidak." Ucapan itu membuat Shabita terkejut, pemuda itu mengatakan isi hatinya.  "Sejak pertama aku melihatmu Shabita, aku bukan tanpa alasan menggodamu. Sakit ketika hubungan kalian makin dekat, kucoba menjauh, tetapi kamu pergi dengannya. Pengorbananku sia-sia." Adi menggeleng wajahnya sendu.


"Maaf," ucap Shabita lirih.


"Pergilah sebelum Anggara mengingatmu. Aku akan berusaha menjaga ingatannya agar tak mengingatmu lagi," janji Adi.


Shabita memeluk erat Adi kemudian pergi meninggalkannya yang kini hanya mampu mematung. Di sana telah menunggu Toni yang sudah duduk di mobil warna silver.


"Sudah?" tanya Toni.


Shabita yang telah duduk di kursi belakang hanya mengangguk. Toni memberi isyarat agar segera mobil melaju ke bandara. Shabita tak berani memandang jalanan yang mereka lalui, gadis itu hanya menunduk dan menangis tanpa suara. Toni melihat, tetapi tak mempengaruhi pikirannya. Seakan kesengsaraan Shabita bukanlah dukanya.


Di pesawat Toni tersenyum, sedangkan Shabita menangis. Beberapa kali Toni mengusap airmata gadis itu dengan jarinya, membuat Shabita malah tambah parah.


"Makan?" tawar Toni. Shabita menggeleng lemah. "Sesampai di sana aku akan memerkenalkanmu dengan putriku."


"Putri?"


"Ya, kamu tidak percaya kalau aku punya putri. Usianya hampir sama denganmu, walaupun aku sering berganti raga, tetapi dia masih mengenaliku. Toni yang dulu."


Shabita diam, ia tidak ingin mengetahui siapa dan bagaimana lelaki itu dulu. Ia masih sakit karena jauh dari Anggara. Namun perkataan Toni lebih menyakitinya lagi.


"Dia pewarisku, dan anakmu juga akan mewarisiku. Aku menginginkan anak darimu," bisik Toni.

__ADS_1


Shabita tak dapat membayangkan bahwa anaknya kelak akan jadi monster seperti Toni. Resiko besar yang harus ia tanggung dan berimbas pada keturunannya. Ia hanya mampu menangis dan terus menagis.


Bersambung dulu. Lagi nyari inspirasi


__ADS_2