TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
ROMEO DAN JULIET


__ADS_3

Sariani memandang mereka yang sedang berusaha menyelamatkan Shabita. Gadis itu kini terbaring di ranjangnya lagi, dengan mengenakan pakaian putih bersih. Ia menembus seorang dokter perempuan yang sedang berusaha memompa jantung Shabita.


"Vanesa," panggil Sariani dalam mimpi gadis itu.


Shabita yang sedang memandang lautan lepas, angin deras mengibarkan rambut panjangnya. Sariani menghampiri gadis itu yang menangis dalam diamnya. "Mau apa kamu ke sini?" tanyanya.


"Bangunlah, Van. Hidupmu tidak boleh berakhir di sini," pinta Sariani.


"Apa gunanya aku hidup di sana, semua lebih sakit. Lebih baik aku di sini," kata gadis itu.


"Tidak adalagikah harapan bagimu untuk bertahan, Vanesa?" tanya Sariani lirih.


Shabita tersenyum getir sembari menggeleng lemah. "Mati lebih baik ketimbang hidup penuh dengan dosa, dan aku selama ini telah berjuang semampuku. Aku hanya meminta satu pada Tuhan, agar Anggara bahagia tanpaku." Air mata Shabita sudah tidak terbendung lagi.


Sariani mundur perlahan dan berbalik pergi, tapi sebelum pergi ia menghentikan langkahnya. "Kebahagiaan Anggara itu adalah kamu. Bila kamu pergi aku tidak yakin bahwa Anggara akan mampu bertahan tanpamu," ucapnya kemudian menghilang dari mimpi Shabita.


Sariani keluar dari mimpi gadis itu dan mengusap kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. Para dokter kalang-kabut berusaha menyelamatkan gadis itu, mereka melihat di layar monitor detak jantung Shabita mulai melemah. Pramuda panik dan mendesak mereka melakukan segalanya untuk membawa gadis itu kembali.


"Daya tahannya mulai melemah," kata salah satu dokter yang menangani gadis itu.


"Saya tidak peduli! Selamatkan dia!" desak Pramuda.


"Pak, tenangkan dirimu." Winda berusaha menenangkan Pramuda.


Pramuda mencengkram kedua bahu Winda sehingga perempuan itu meringis sakit. "Tenang katamu?! Mana bisa saya tenang! Saya sangat mencintainya ... dia beraninya mau pergi dariku!" teriaknya. "Akh!!" Pramuda mendorong Winda dan segera mendatangi Shabita yang diam kaku di ranjangnya. Ia meraih jemari gadis itu. "Aku menyesal Shabita, bukan maksudku membuatmu begini. Aku memang salah, pukul aku, maki aku, sepuas hatimu. Asal kamu kembali lagi, apa pun aku turuti," ucapnya lirih. Air matanya menetes membasahi jemari Shabita yang digenggamnya.


Sariani tidak mampu berbuat apa-apa lagi, ia menghilang secara perlahan dengan wajah kecewa dan sedih. "Selamat jalan teman," ucapnya sebelum semua arwahnya menghilang, lenyap tanpa terlihat lagi.

__ADS_1


"Dia sudah tidak ada lagi," beritahu mereka.


Pramuda terkejut dan menatap tajam mereka, kemudian kembali mengguncang tubuh Shabita. "Bangun! Bangun! Gunakan dia untuk memperpanjang hidupmu Shabita! Gunakan dia!" paksanya. "Jangan pergi," ucapnya lirih hampir tanpa suara karena tertelan isakan tangisnya.


****


ANGGARA merasakan sesak di dadanya, hampir saja ia terjatuh dari motor kalau saja ia tidak segera menepi. Pemuda itu mengusap dadanya yang terasa sesak, ngilu yang ia rasakan sangat menyiksa sehingga tanpa terasa air matanya mengalir. "Vanesa," ucapnya lirih.


"Pak, kenapa berhenti di sini?" tanya Polisi yang menyusulnya dari belakang.


"Bapak baik-baik saja?" tanya Polisi satunya lagi.


Anggara menaikkan sebelah telapak tangannya memberi isyarat kalau dia dalam keadaan baik-baik saja. "Saya tidak apa-apa. kita lanjutkan lagi perjalanan kita," ajaknya.


"Sepertinya Bapak sedang tidak sehat. Biar kami yang ke sana," tawar salah satu dari mereka.


Anggara menggeleng dan memaksakan agar tersenyum. Ia segera menghidupkan motornya kembali dan melajukan lagi motornya. Mereka berdua masuk ke mobil dan mengikuti Anggara dari belakang. Mereka sampai pada tujuannya di rumah besar di atas perbukitan sahang yang disebutkan tersangka tadi. Anggara segera memarkirkan motornya di tempat tersembunyi. Melihat atasan mereka berhenti, mereka segera berhenti dan menyiapkan pistol masing-masing. Anggara memberi isyarat agar mereka mengepung di dua arah, agar tidak ada yang bisa kabur dari sana.


"Pak, tenang," kata Bodyguar-nya sembari menangkap Pramuda.


"Kalian semua tidak ada gunanya! Percuma saya membayar kalian!" teriaknya.


DOOR!! Suara tembakan mengaketkan mereka, membuat Pramuda terdiam sesaat dan memandang mereka semua. Ia curiga jangan-jangan ada polisi di sekitar mereka. Dua bodyguard yang kaget itu tidak menyadari kalau di belakang mereka sudah berdiri polisi yang mengacungkan pistol ke arah mereka.


"Angkat tangan!" perintahnya.


Mereka mau tidak mau menuruti perintah polisi itu. Sedangkan polisi satunya memborgol mereka. Anggara menghampiri Shabita yang terbaring kaku di atas ranjang. Gadis itu tertidur dengan tenang dengan wajah damai, senyum terlukis dibibirnya. Pemuda itu meraih jemari Shabita yang mulai dingin dan pucat.

__ADS_1


"Apa ini sudah menjadi pilihanmu Van, apa kamu tidak memikirkan aku?" Anggara berusaha tegar walau senyumnya tidak bisa menutupi kesedihannya. "Tahukah kamu kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, kalau kamu mati aku pun akan mati jua." Aggara meraih pistolnya dan mengarahkan benda itu pada kepalanya sendiri.


"Pak!" cegah Polisi itu menghentikan perbuatan Anggara. Ia menangkap tangan Anggara yang sudah menarik pelatuknya.


DOORR!! Tembakan mengarah ke atas. Anggara berusaha mengambil pistolnya kembali, tapi pistol itu sudah dibuang oleh polisi ke luar jendela. Ia merangkul atasannya yang sedang menangis tersedu-sedu.


"Tenang, Pak." Ia berusaha agar membuat Anggara tenang.


Tidak lama polisi lain datang menyusul dan membereskan meraka semua. Anggara dituntun agar berdiri dan membiarkan Shabita ditangani oleh mereka.


"Saya mau melihatnya sekali lagi," kata Anggara lemah.


"Silakan," kata Polisi itu.


Anggara membuka kain putih yang menutupi wajah Shabita dan berbisik, "Aku pasti akan menyusulmu, Vanesa," ucapnya.


Di sana Shabita merasakan angin kencang menerpa wajahnya. gaun putihnya berkibar. Gadis itu menangis dan menyentuh dadanya yang terasa sakit. "Anggara," ucapnya lirih.


"Tunggu aku sayang." Anggara mengecup kening Shabita dan akan meninggalkannya. Anggara terhenti saat tangan Shabita meraihnya. "Vanesa!" seru Anggara dengan segera memeluk Shabita yang membuka matanya dan tersenyum lemah.


Anggara mencurahkan rasa syukurnya kepada Tuhan atas kembalinya Shabita yang kini sedang memandangnya dengan penuh kebahagiaan walaupun dalam keadaan lemah. Gadis itu kemudian tidak sadarkan diri lagi dan membuat Anggara kembali panik.


"Periksa dia!" perintah Ali yang kebetulan ikut menyusulnya.


"Baik," kata salah seorang dokter yang tadi dibayar oleh Pramuda. Setelah memeriksa, ia memandang pada Anggara yang nampak menunggu jawaban darinya. "Dia hanya perlu pemulihan saja." Ia mengangguk memberi isyarat bahwa pernyataannya dapat dipercaya.


Anggara tersenyum bahagia. Saat mereka akan mengangkat Shabita dengan tandu, Anggara menolak. Pemuda itu yang menggendong Shabita sendiri. Para polisi itu terharu dan adapula yang menangis, melihat kegigihan cinta mereka berdua.

__ADS_1


"Saya paling benci menonton Romeo dan Juliet, karena ceritanya enggak masuk akal, tapi di depan itu bikin saya terharu," kata Ali pada rekannya seraya menyeka air matanya dengan tisu.


Mereka segera pergi dari sana dan membawa semua tersangka, sedangkan Anggara menumpang mobil polisi. Motornya dibawa oleh Ali.


__ADS_2