
Mereka sama, namun dibedakan oleh negara. Mereka sama, namun berbeda kesaktian. Di sisi lain Shabita sendirian, sementara di pihak mereka Krasue berkelompok itu siap menyerangnya. Ia mengawasi dengan lirikan matanya, bersiap bila ada yang hendak menyerangnya dengan mendadak.
"Germ!" eram mereka menyatu dan menggema ke seluruh tempat itu.
Talia mendengar sementara ia tak dapat berbuat apa pun, karena menjaga Shabita. Gadis itu tak dapat memercayakan Shabita pada kedua pelayannya, mana tahu di antara mereka ada yang berhianat. Apa yang harus kulakukan? Talia masih mengawasi Shabita sambil sesekali memandang pada jendela terali besi di samping kamar gadis itu.
Shabita meraung dengan mulut terbuka lebar, memerlihatkan taringnya yang panjang. Mereka pun melakukan hal yang sama dengannya. Mereka maju menyerang berusaha menggigitnya, ia menghindar dan balas akan menggigit mereka, kemudian berbalik dan akan menggigit Krasue yang hendak menyerangnya dari belakang. ARRR! Shabita bersuara, sambil menggeratakan giginya. Mereka melakukan hal yang sama. Ia mulai menyerang dengan menggigit jantung lawannya, merasa salah satu dari mereka terluka, mereka balas menyerang Shabita. Shabita sadari itu. Ia melepaskan korbannya dan berbalik ada darah yang mengalir dari mulutnya bekas menggigit jantung lawannya. Mereka menyerang bersamaan. Shabita menghindar dengan terbang ke atas, mereka mengikutinya, Shabita berhenti kemudian menyerang lawannya yang mengejarnya. Digigit dengan cepat kemudian terbang lagi lebih jauh untuk memancing lawannya yang mengejarnya mendekat. Setelah datang lalu digigitnya hingga yang tersisa jerit kematian dari Krasue yang terbunuh olehnya.
Talia tersenyum, ia memang tidak melihat semuanya di luar sana, tetapi ia yakin dengan kekuatan Shabita. Gadis itu akan kembali ke tubuhnya, namun ia dihalangi oleh kekuatan besar, angin yang mampu membuatnya melayang menjauh dari rumah itu.
"Sial! Siapa lagi ini?!" Shabita mengumpat marah. Ia perhatikan ke seluruh penjuru tempat itu. Tak ada siapapun di sana.
"Kenapa dia belum kembali?" gumam Talia heran. Ia berdiri dan memandangi ke seluruh wilayah di depan rumahnya. "Kosong?" gumamnya dalam tanda tanya yang sulit diartikan.
Shabita berusaha maju, namun ia lagi-lagi terhempas jauh. "Kenapa lagi ini?!" teriaknya marah.
Shabita berusaha melewati arah lain, ia berkeliling dan berusaha maju kembali, namun lagi-lagi hasilnya nihil. "Mustahil! Apa ada lagi?" Ia memutar kepalanya dan mengawasi.
Sesuatu menyerangnya begitu keras membuat Shabita mengeram marah. Seekor burung elang hitam telah berada di hadapannya. Sangat besar bentuknya hingga sanggup menelan dirinya hidup-hidup. Shabita melirik ke sana-kemari, mencari jalan kabur, ia bisa terbunuh oleh patukan atau cakaran burung tersebut.
"Tidak!" teriak Shabita saat burung itu langsung menyerang dan mencengkram kepalanya dan membawanya jauh dari sana. Ia berusaha menggigit kaki elang, namun usahanya sia-sia. "Lepaskan aku!" mohonnya.
"Berhenti di sana!" Talia datang dan mencegah burung itu membawa Shabita.
"Jangan campuri urusan kami, wahai manusia!" Burung itu dapat berbicara, membuat Talia keheranan.
Dia bukan jenis Krasue, jangan-jangan dia Kuyang sama seperti gadis itu. Siapa dia?
__ADS_1
Sementara tubuh Shabita di sana dijaga oleh Toni, ya, sekarang Toni berada di sana. Talia sempat menghubungi ayahnya dan Toni langsung datang melepas kepalanya untuk menjaga istrinya.
Kedua pelayan itu saling tatap dan mendesah, gagal rencana mereka untuk menghabisi ibu dan bayi mereka. Talia masih berdiri melayang di udara menatap musuhnya, ia mewakili ayahnya untuk membawa Shabita pulang ke tubuhnya. Sayap besar hitam elang dikepak-kepakkan, menciptakan sebuah arus angin yang begitu dahsyatnya. sempat terkena dampaknya, gadis itu berusaha sekuat tenaga agar jangan sampai termundur dan kehilangan ibu tirinya. Ia berusaha maju walau teramat sulit baginya untuk mencapai mereka.
"Papa!" desahnya dalam perjuangan melawan arus yang berlawanan dengannya.
Pepohonan bergoyang di sekitar mereka semua yang terkena dampak angin besar yang dihasilkan dari kepakan sayap itu membuat hancur dan melayang jauh kemudian jatuh berdebam ke tanah.
"Arg!" erang Shabita. Ia tidak tahan bila kepalanya harus sakit begitu ditambah lagi kuku tajamnya akan menembus kepalanya. Bisa hancur dirinya bila terus begini.
Tubuh shabita bergetar, gadis itu mengangkat kedua tangannya dan memegang lehernya yang tanpa kepala. Toni masih diam memerhatikan, ia masih setia menungguinya.
"Hentikan!" bentak Talia dalam tenaga super dahsyat hingga mengguncangkan tempat itu.
Burung itu terhempas mundur kemudian jatuh ke tanah. Shabita terlepas, Talia dengan sigap menangkap kepala itu. Ia kemudian memandang ke bawah, tanah retak akibat benturan tubuh elang. Ia memandang Shabita yang tidak sadarkan diri, ketika akan kembali seketika itu pula burung itu telah berada tepat di hadapannya, siap menyerang.
"Shabita kumohon bangun, kembalilah ke tubuhmu!" bisiknya penuh harap.
Burung elang itu memutar kepalanya 90 derajat. Kini ia berubah menjadi Kuyang, bersayap. Gambaran yang pernah dilihat Shabita dalam mimpinya, sebuah kepala bersayap kekelawar.
Talia tersentak mundur, ia tidak menyangka bahwa sejenis Kuyang dapat melampaui batas, bahkan ia pernah mendengar Kuyang dapat menjelma menjadi seekor kucing, namun baru ini ia menyaksikan langsung, Kuyang Kalimantan yang mampu berubah sesuai mitos. Pantas saja bila ayahnya sangat menginginkan Shabita. Kita kembali pada pertarungan Talia, gadis ini ngeri dan takjub, namun juga marah lantaran elang itu mentertawainya.
"Apa maumu?!" tanya Talia.
"Menghabisi keturunan Toni."
"Kenapa, kenapa harus dia? Aku pun keturunannya?"
__ADS_1
"Kamu berbeda. Dia terlahir sudah menjadi Kuyang dan anak yang ia kandung adalah keturunannya," jawab elang berkepala manusia itu.
Talia menggeleng, ia masih tidak mengerti. "Apa urusanmu dengan keturunan kami?"
"Telah beberapa tahun kami tersiksa karena ayahmu, dia menjadikan kami budak. Sekarang bila anak itu lahir maka kami akan selamanya menjadi budaknya. Kami tak inginkan itu!"
Talia mendesah, ini akibat bila orang tua mengambil jalan buruk, maka si anak yang kena batunya. Sungguh sial memang ia rasakan hidupnya bila mengingat banyaknya musuh yang sering menjambangi mereka terlebih sekarang adiknya akan lahir maka prioritas jatuh pada adiknya.
"Tidak, jangan menyamakan adikku dengan papaku."
"Apa jaminannya kalau adikmu kelak tidak akan memperbudak kami?" sindir si elang.
Talia bimbang, tak ada jaminan untuk itu, apa yang mesti ia berikan agar makhluk itu percaya dan menjauhi mereka. Tidak ada! Tidak ada! Satu-satunya jalan ialah melawan.
Talia memusatkan unsur kesaktiannya, ia pusatkan di punggungnya. Mengerang sakit merasakan sesuatu menembus keluar dari dagingnya. "Agh!" Sayap hitamnya tumbuh, makin lama makin melebar. Ia berusaha mengepakkan kedua sayap dan menjauh sedikit.
Elang yang sedari tadi memerhatikan kini memutar kepalanya dan kembali ke bentuk elang seutuhnya, ia tak mau ambil resiko menjadi Kuyang. Maju menghantam dengan sayap, kemudian kembali dengan sebuah cakaran ke arah Talia yang masih memeluk Shabita. Gadis itu menghindar dengan terbang tidak beraturan. Ia berusaha lari dan menyerang sambil melayang.
Toni merasakan Shabita tidak berdaya, gadis itu kini terkulai lemah tanpa daya. Ia mengeram marah, kemudian mendengarkan perut Shabita. Bayi mereka dalam keadaan menyedihkan, ia memerlukan napas ibunya sementara sang ibu belum pulang hingga sekarang.
"Satu-satunya cara dengan menghabiskan waktu malam ini, tapi ..." Ia berpikir Shabita akan tiada bila menjelang subuh gadis itu tidak kembali ke raganya. Ia bimbang lagi, tidak banyak waktu yang ia dapat hanya mungkin ia dapat mengulur agar dapat mencari cara.
Elang ini maju ingin mematuknya, ia berhasil mencengkram kedua pundak Talia. Sakit luar biasa dirasakan gadis itu. Ia menjerit sakit, rasanya remuk tulang bahunya.
Mendengar jeritan putrinya, sang ayah marah. Ia segera melesat tinggi ke atas langit-langit kamar Shabita.
Bersambung:
__ADS_1
Bisakah gadis itu kembali ke raganya? Yuk dukung dengan like part ini. Biar saya makin rajin up-nya