TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
134


__ADS_3

Shabita penasaran dengan siapa  Dara berbicara, ia Nampak sedang asyik bermain di luar. Bila diminta masuk, ia akan marah dan menangis.


“Anggara aku curiga kalau hantu itu masih mengikutinya,” curhat Shabita saat pemuda itu


sedang duduk di ranjang sembari mengusap rambutnya.


“Suuutt …. Jangan ngomong gitu. Didengar Dara.”


“Tapi aku nggak tenang.” Shabita berputar menghadap Anggara.


“Diam dulu, aku akan cari tahu siapa itu yang mengganggu anak kita,” jawab Anggara.


“Cepatlah, aku sudah khawatir sekali,” pintanya.


“Iya, tapi kamu jangan singgung itu di depannya,” nasihat Anggara. “Ingat anak kita bukan hanya dia, tapi di dalam juga.” Ia meraba perut Shabita.


“Masalahnya rumah sudah bersih, di luar dia bikin ulah. Maunya semuanya dibersihin!”


“Pakai apa, hem. Disiramkah kota ini?” goda Anggara.


Mau tidak mau Shabita tertawa sembari memukul pelan dada Anggara.


“Namanya anak-anak, mana bisa kita cegah penglihatannya. Kita yang harus paham sendiri, nasihati dia.”


“Hem,” jawab Shabita. Ia tidak dapat membantah Anggara. Memang benar, kita yang dewasa mungkin mampu menghindari, tapi anak-anak mana bisa tanpa dibimbing oleh kita, itupun kadang luput dari perhatian dan ingatan mereka. Apalagi Dara baru bisa bicara, ia mana bisa membedakan kecuali terancam.

__ADS_1


***


Talia menerima pesan dari Anggara, ia  heran. Tumben  manusia satu itu menghubunginya.


Anggara: Adikmu itu sedang dalam masalah. Aku  tidak tahu siapa dia. Terus saja mengusik Dara. Bahkan menghasutnya untuk membenci calon adiknya.


Talia kembali menaruh ponselnya di atas meja rapat. Ia sedang membahas proyek pembangunan pabrik mereka yang baru. “Pesankan aku tiket ke Indonesia!” perintahnya pada sekretarisnya. Kebetulan dia duduk di sebelah Talia.


Talia meminum secangkir kopi di café depan kantornya. Ia memandang Lay yang kini  sedang membaca  dokumen yang ia berikan. “Kamu urus dulu perusahaan, aku akan berkunjung ke tempat ibu tiriku,” katanya.


“Percaya kamu aku, kalau kurampok gimana” goda Lay.


Ia tahu sifat Lay yang mudah berubah, bisa baik, bisa pula jahat. Ia bahkan tidak tahu isi hati Lay, apakah pemuda itu menaruh dendam pada keluarganya dan Shabita karena menyebabkan kematian ibunya, tapi untuk  saat ini cuma dia yang bisa diandalkan. “Adikku dalam masalah. Aku harus pastikan dia tidak mengikuti sifat ayah.”  Talia memandangi wajah tampan Lay. “Kamu hari  Minggu tidak ke Gereja?”


“Kenapa memang?” Kini perhatian Lay terfokus pada Talia.


“Oke,” jawab Lay.


Talia memandangi sekitarnya, banyak sebenarnya lelaki yang menarik, tapi ia tidak ada keinginan melirik mereka. Setelah cintanya kandas dengan Anggara ia sulit sekali menyukai orang lain, hanya Lay selama ini menjadi temannya. Lay sendiri tidak melirik siapa pun,entah mengapa pemuda itu mengalihkan pandangannya pada semua orang. Seperti menutup diri,kecuali ditegur lebih dahulu. Tak jarang mereka menyebutnya ‘tuan sombong’ bahkan sering disandingkan dengan Talia karena Talia yang paling akrab dengannya.


***


Anggara diam, ia heran mengapa hantu itu menghasut. Seperti tahu rahasianya dan Shabita, ia curiga. Tono menepuk kirinya. Ia tersentak dari lamunan.


"Mikirin apa?"

__ADS_1


"Aku bingung, rumahku sudah dibersihkan, tapi hantu itu masih saja mengusik." Ia mengusap kasar wajahnya.


"Rumah boleh bersih, tapi hati anak kecil itu polos. Mana bisa lupa begitu saja, apalagi bila terlanjur akrab. Sedang yang membuatnya takut saja ia ingat hingga menjerit, padahal sudah tidak adalagi yang mengusik. Apalagi yang akrab dan berteman dengannya. Anak kecil itu bandel, semakin dilarang semakin dia diam-diam melanggar. Jadi, yah. Tidak ada cara lain. Pertama pindah, kedua dibuang."


"Masalahnya dia mengikuti ke mana kami pergi," desah Anggara.


"Masalah itu sulit, tunggu hingga anakmu besar kalau gitu. Aku juga bingung." Tono akhirnya menyerah.


Anggara hanya diam, ia kembali berpikir sedangkan Talia belum membalas SMS-nya kemarin sore. Ia berpikir apakah nomor ponsel itu sudah benar atau salah sambung. Saat akan memeriksa nomor tersebut, Talia mengiriminya pesan.


Talia: Aku akan tiba Senin siang. Doakan saja supaya aku tidak mati di jalan karena pesawatku meledak di atas.


Anggara tertawa tanpa suara membaca pesan Talia barusan.


Anggara: oke, kami menunggumu di sini.


Talia membaca pesan Anggara. Ia saat ini mengenakan piyama silver berlengan pendek. Gadis ini sedang berkemas, mamasukkan baju ke kopernya.


"Nona, apa perlu saya temang?" tanya Jesica.


"Jaga saja rumah. Aku hanya sementara di sana. Bila ternyata hanya sepele aku akan segera pulang."


"Baik, adalagi yang bisa dibantu?"


"Sepertinya tidak. Kamu istirahat saja."

__ADS_1


Jesica kemudian meninggalkan Talia yang kini telah menutup kopernya.


Oh, ya ada yang bilang, gini thor kenapa tidak pajang ayat ini ayat itu? Kenapa begini dan begitu? Saya cerita sedikit ya. Dulu saya awal menjadi ibu punya bayi usia setahun. Belum bisa ngomong lancar, baru belajar bicara. Salat, rajin bahkan ngaji juga. Dipajang pula ayat ini dan itu sebagai penangkal bala. Mengapa masih diganggu. Ini saya masih merinding hingga sekarang bila bercerita. Saya sebagai ibu, merasa takut saat itu. Bingung anak saya dihampiri hantu. Dia tunjuk sana-tunjuk sini. Saya sudah baca doa, sudah saya bisiki tapi tidak ada ketenangan. Rumah juga sudah dibersihkan, tapi masih diikuti. Anak saya akhirnya trauma, dia kejang-kejang. Empat tahun bisu, tidak bisa bicara sama sekali. Setelah lima tahun berlalu alhamdulillah anak saya bisa bicara, itupun saya selalu berdoa, akhirnya dikabulkan. Karena saya yakin Tuhan pasti punya cara lain. Saya senang sekali dia memanggil "mama" untuk pertama kali. Walau akhirnya lupa ingatan dan mulai kembali pulih di usia sembilan tahun. Dia cerita pernah melihat hantu hingga tidak bisa bicara. Sampai sekarang saya masih merinding. Kesimpulannya, ingatan anak itu sulit dibuang, walau sudah dibersihkan kecuali kita gigih memberi nasihat dan mengalihkan pikiran mereka.


__ADS_2