TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
64 SHABITA DENGAN KEKUATAN BARUNYA


__ADS_3

Talia melesat menyerang Shabita, melemparkan diri mereka ke lantai dan bergulingan di sana. Talia meninju wajah Shabita secara membabi buta, sementara Shabita menangkis serangan dengan kedua lengannya. Talia menyerangnya tidak tanggung-tanggung, ia bahkan mengeluarkan kekuatannya untuk menghajar ibu tirinya itu. Shabita berusaha melawan, namun kesempatan itu tidak dibiarkan oleh Talia.


" Germ!" Shabita mulai tidak bisa mengontrol emosinya. Ia bersuara seperti harimau meraung. Dibalasnya Talia dengan sekali tinju hingga gadis itu terlempar ke udara dan mengenai langit-langit gedung kemudian jatuh ke lantai.


Talia berusaha bangkit berdiri, sementara Shabita telah berdiri di sana, sedang memandangnya dengan tersenyum mengejek. Talia merasa tubuhnya sakit kembali. Terkejut saat Shabita menggerakkan tangannya melepas kepalanya dan mengangkat tinggi kepala itu. Tak sadar Talia mundur, ada rasa jerih yang membuatnya gentar menghadapi ibunya.


"Hihihihi." Kuyang itu tertawa dalam genggaman Shabita. Ia melepas kepalanya dan menunjuk ke arah Talia. Taring dan lidahnya memanjang, berwarna hitam.


"Bagaimana ini?" tanya Talia pada Sariani.


"Tingkat kesaktiannya hanya bisa dilawan oleh orang yang sama dengannya. Aku ragu kalau kita mampu."


Talia tidak ada waktu lagi memikirkan orang yang mampu menandingi Shabita, ia hanya harus bertahan paling tidak hingga subuh, ia harus menyelesaikan pertarungan ini. Kepala Shabita melayang tinggi ke atas, membuat Talia juga memandang ke atas. Kepala itu melesat turun dengan cepat menukik ke arahnya. Talia segera menghindari, ia berlari saat kepala itu mengejarnya dan menjadikan ususnya sebagai cambukan bagi musuhnya. Tubuh Shabita melompat tinggi menerjang Talia dengan sebuah tendangan berputar, Talia berusaha menangkis dan balas menendang.  "AH!" erang Talia saat lehernya dililit usus yang dibawa Kuyang Shabita. Ia berusaha melepaskan dengan menancapkan kukunya pada usus yang melilit, setelah berhasil lepas malah kini lidah Shabita yang melilitnya. Susah payah Talia melepaskan diri, namun Shabita telah menarik puncak rambutnya, hingga Talia mengerang kesakitan. Sariani melenyapkan Talia dari jeratan kematian, kini Talia mampu bernapas lega sambil mengusap lehernya yang biru lebam.


"Di mana ini?" Talia memandang ke sekitarnya. Heran melihat tempat yang berbeda.


"Untuk sementara atur strategi dulu di sini." Sariani memerlihatkan dirinya di hadapan Talia.


"Kamu roh itu?" tunjuk Talia.


"Ya," jawab Sariani.


"Di mana ini?" tanya Talia. Ia memandang alam yang berkabut, berbeda dari alam manusia.


"Tidak ada tempat yang lebih aman selain di dalam dunia berkabut," jelasnya. "Kita tidak cukup mampu melawannya, kecuali kamu menerima kesaktian ayahmu seutuhnya."


"Tidak, ibuku akan marah bila sampai aku menjadi seperti papa," bantah Talia.


"Ada satu orang yang sebenarnya mampu menyadarkannya ..." Sariani tampak ragu mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Siapa?" Talia mendekat dan memandang wajah Sariani.


"Anggara," jawab Sariani.


Talia nyaris tertawa bila tidak melihat wajah serius Sariani. "Bagaimana bisa sedangkan Anggara nyaris menjadi santapannya bila aku terlambat sedikit saja," tentang Talia.


Sariani menghela napas, ia memandang wajah Talia. "Kita harus kembali, bila tidak dia akan menghabisi Anggara."


"Yang benar saja, tadi bilang cuma Anggara yang mampu, sekarang kamu takut kalau Anggara akan terbunuh?! Aku bingung denganmu." Talia mengejek Sariani.


"Cerewet! Cepat pergi sebelum dia tewas!" bentak sariani. Sikapnya kembali pemarah.


"Sial!" umpat Talia.


Mereka segera kembali ke tempat di mana Shabita sedang mencari-cari Talia. Shabita memandang Talia yang baru terlihat olehnya, kini tubuh Shabita telah kembali utuh seperti semula.


"Kupikir kamu lari dan tidak kembali, Sariani! Ternyata kamu kembali juga," ejek Shabita.


Shabita memandang Talia dengan marah karena tidak didengar dan dipandang oleh musuhnya. Ia memutar bola matanya dan membuat api di kedua matanya, melesatkan ke arah Talia. Gadis itu tidak sempat menghindar, maka hanya mampu menangkis dengan kedua lengannya. Bum! Talia terlempar jauh karena terdorong ledakan yang sangat dahsyat dari tenaganya dan inti kesaktian Shabita tadi. Gadis itu memandang lengannya yang menghitam dan berasap. Ia merintih sakit, namun hanya sekejap karena kesakitannya tergantikan oleh rasa terkejutnya saat sinar dari mata Shabita melesat kembali menuju ke wajahnya. Talia terpaksa berkayang, dan segera menegakkan tubuhnya kembali. Ia sempat melihat dinding gedung jebol akibat sinar melewatinya.


"Hem!" gumam Shabita. Gadis ini mengelus perutnya dan berucap, "Aku sangat lapar. Tidak ada waktu meladeni kalian lagi!"


"Mau ke mana kau?!" Talia mencoba menghalangi Shabita yang hendak pergi dari pertarungan mereka.


Shabita menatap Talia begitu dekat. "Memberi makan adikmu!"


"Tidak akan kubiarkan kamu membawa tubuh ini!" bentak Talia. "Egh!" Lehernya tiba-tiba dicekik Shabita. Talia berusaha melepaskan tangan itu.


"Aku ingin makan!" teriak Shabita tepat di telinganya. Ia membuka mulut dan siap menggigit leher gadis itu. Gadis itu hilang kembali, membuat Shabita marah. "Pengecut!" teriaknya murka. Alam bergetar ketika ia berteriak.

__ADS_1


Angin badai datang membuatnya terkejut saat angin itu langsung menerjangnya, hingga tubuh Shabita terhempas dan jatuh dari atas gedung ke tanah. Gadis itu bangkit kembali, sementara kokokan Ayam telah terdengar. "Siapa yang berani ikut campur?!" bentak Shabita.


Talia hendak ke luar dari persembunyiannya, namun dicegah oleh Sariani. "Sebentar lagi subuh. kekuatanmu tidak boleh terlihat oleh manusia." Akhirnya Talia hanya memandang dari kejauhan Shabita.


"Siapa yang berani menyerangku, tujukkan dirimu?!" teriak Shabita lagi.


Talia memandang ke sana-kemari, ia pun sangat terkejutnya dengan Shabita. Ia tidak tahu maksud dari si penyerang. Apakah membelanya atau ada maksud lain untuk ikut campur dengan pertarungan mereka berdua.


"Siapa kira-kira yang memiliki kesaktian itu?" gumam Talia sambil memandang Shabita yang berputar mencari si penyerang.


Tidak ada suara, tidak ada pergerakan. Justru suasana sunyi itu membuat Shabita lengah, ia baru menyadari dan terkejut saat sebuah sinar putih nyaris saja mengenainya, apabila ia tidak memiringkan tubuhnya. Clap! Sinar itu menghilang sebelum mengenai tanah. Shabita terkejut tidak percaya. Sinar itu kembali datang dengan beruntun seperti hujan langsung menyerang ke arahnya. Shabita memanjangkan rambutnya, menjadikan rambut itu sebagai cambukan. Ia menggerakkan kepalanya setiap kali sinar itu akan menyentuhnya. Sinar kembali datang dari arah-arah berlawanan, ia terpaksa memutar kepalanya dan mengibaskan rambutnya pada tembakan sinar berbahaya itu. Setiap kali ditangkis setiap kali juga sinar itu menghilang di udara sebelum mengenai benda atau tanah.


"Keluar kamu! Dasar pengecut!" tantang Shabita sambil menghindari dan melecutkan rambutnya pada sinar itu.


"Tida perlu, cantik. Kamu tidak usah terburu-buru, santai saja!" Sebuah suara terdengar.


"Siapa kamu?" Shabita terkejut mendengar suara seorang lelaki yang menyahutinya.


"Siapa dia?" gumam Talia.


Suara siulan burung terdengar olehnya. Itu tandanya telah subuh dan sebentar lagi azan berkumandang. Ia cemas karena belum bisa menyadarkan Shabita.


Shabita memandang langit yang mulai berubah menjadi terang, suara azan membuatnya menjerit kesakitan lantaran ia memang berpantangan dengan itu, terpaksa ia harus pergi dan bersembunyi. Namun, sebelum melangkah pergi, ia telah dibawa oleh cahaya putih naik ke udara kemudian menghilang begitu saja.


"Ke mana dia?!" Talia kebingungan mencari sosok Shabita.


"Dia dibawa oleh orang lain," jawab Sariani.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

__ADS_1


"Beristirahat sambil berpikir. Kita masih punya empat pulu hari untuk menemukannya," saran Sariani.


__ADS_2