TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
MANGSA


__ADS_3

Fina melayang di depan rumah salah satu warga. Ia sedang mencari sesuatu. Fine menemukan rumah yang sederhana. Ia mengintai jendela kemudian menembus. Ia mencari sesuatu. Saat pandangan jatuh pada sebuah tas kecil di atas lemari pakaian. Ia segera melesat kemudian berdiam.


Seorang perempuan dengan handuk membalut tubuh sedang bersenandung. "Eh, kok hangat?" Ia heran. "Aduh, aku lagi datang bulan." Baru ia melihat darah mengalir. Ia segera melangkah hendak kembali ke kamar mandi. Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa merinding. Seperti ada yang menyentuh betisnya. Ia perlahan menunduk dan ... "Aaaaa!" Melihat Fine sedang menjilat kakinya. Ia segera berlari keluar. "Tolong! Tolong!" Ia bersusah-payah membuka pintu. "Tolong!"


Fine melayang sebatas lutut. Usus yang menjuntai mengenai lantai. Membuat dara yang kini menetes malah seperti terseret di lantai. "Haus! Haus!"


"Tolong!" Akhirnya pintu terbuka. Ia segera berlari keluar. Handuknya tergigit oleh Fine. "Tolong! Lepaskan!" Ia menarik paksa hingga handuk nyaris terlepas. Beruntung ia dapat melepas diri.


Perempuan itu lari ke jalan raya. Banyak pengendara yang nyaris menabraknya. "Hey, gila, ya!"


"Mau mati jangan nyusahin orang, dong! Sana pergi!"


Perempuan ini kebingungan ia tidak tahu di tengah keramaian dirinya menjadi sorotan. Bahkan ada yang memfoto dan memvideo dirinya.


"Eh, ada apa di depan sana?" tanya Lani saat mereka sedang ingin ke tempat Bagus bekerja.


"Enggak tahu, nih. Coba kakak tanya sama orang, ya." Dara menurunkan kaca jendela. "Kakak, itu di depan ada apa, ya?" Ia bertanya pada seorang pemuda manis yang di punggungnya tersampir ransel satu tali.


"Nggak tahu, ya, Dek. Kakak juga bingung. Katanya ada orang kecelakaan atau apa gitu."


Merasa tidak puas dengan jawaban pemuda tadi Dara segera mematikan mesin mobil. "Kakak lihat dulu."


"Jangan lama."


"Sebentar." Ia segera menuju keramaian di sana. Membelah kerumunan. "Pak, permisi."


"Kamu ini waras tidak! Sana pergi!"


"Heh, panggil aja polisi atau Rumah sakit jiwa. Siapa tahu gangguan."


"Ada apa, sih?" Dara segera melajukan langkah. Ia kini berhasil di paling depan. Dara melihat seorang perempuan sedang mengenakan handuk menangis histeris. Dibujuk pulang tak mau, diamankan pula tak ingin.


"Aku nggak mau pulang! Ada setan di rumahku!"


"Ya Allah, Dek. Mana ada setan sekarang. Kamu ini jangan mengada-ada." Seorang ibu bertudung hijau berbicara. "Pulang sana jangan mengganggu lalu lintas!"


"Aku takut pulang!"


"Mungkin habis dianiaya suaminya. Dia kabur dari rumah."


Dara seperti mencium sesuatu yang wangi. Ia melihat darah yang mengalir dari sela betis perempuan itu. Seketika matanya berbinar merah. Seorang perempuan berumur dua puluh lima tahun menghampiri. Ia membujuk untuk tinggal bersamanya. Awalnya perempuan itu mau, tapi Dara segera maju. "Sama saya saja. Saya akan menampungnya sementara."


"Tapi, saya yang lebih dahulu mengajaknya."


"Saya tahu dia. Dia ini tetangga saya!" balas Dara.

__ADS_1


"Tapi, saya sudah bilang akan menjaganya."


"Hei, siapa pun kalian. Segeralah!" protes seorang bapak berkemeja putih.


"Dik, aku ikut saja dia."


"Tapi, Kak-"


"Tidak masalah di mana saya tinggal yang penting jangan di rumah itu."


Dara tidak menjawab. Ia segera kembali dengan perasaan kecewa. Dara membuka pintu mobil kemudian ditutupnya dengan kasar. "Sial!"


"Kak, kenapa marah?" Lani sempat terlonjak ia kaget dengan sikap Dara.


"Nggak papa. Ayo, kita jalan!" Nada bicara pun terdengar marah.


Lani tidak berani bicara lagi. Ia diam sepanjang perjalanan. Sret! Mobil mendadak berhenti. "Kak, kok mendadak? Lani nyaris benjol, nih!"


Dara tidak menjawab ia segera melaju kembali. Setibanya di teras supermaket Bagus Dara mengantar Lani ke dalam.


"Eh, tumben datang? Kalian kompak sekali." Bagus tersenyum manis pada Dara yang terlihat datar. Lebih memiliki beban pikiran. "Kok, sewot?" Ia mencolek Dagu Dara.


"Nggak tahu, nih. Kak, Dara marah setelah kemacetan itu." Lani berbisik pada Bagus.


"Lani, beli saja apa yang kamu mau. Bagus, titip Lani."


"Ada urusan, Gus."


"Urusan apa yang lebih penting dariku."


"Gus, plis. Aku nggak ada waktu."


"Oke cuma satu jam. Jangan lama atau Lani aku jual," godanya.


"Jual aja. Bungkus rapi." Ia tidak bermaksud bercanda, tetapi Bagus malah tertawa.


Lani memandang kepergian Dara. "Kak, Kakak Dara mau ke mana?"


"Ada urusan katanya. Kamu di sini dulu, ya. Oh, ya, mau makan mie rebus? Kakak yang teraktir, nih."


"Wah, senangnya. Makasih Kak!" Lani segera mencari mie cup yang ia sukai.


Tidak lama saat mereka asyik makan di teras supermaket yang disediakan meja serta kursi untuk makan camilan. Dara kembali. Ia duduk di sebelah Lani.


Bagus memandang Dara. "Kenapa?" Dara heran.

__ADS_1


Bagus menggeleng maklum. Ia meraih tisu kemudian menyeka bibir Dara yang bukan merah karena lipstik melainkan darah. Dara terkejut saat Bagus memerlihatkan di samping meja darah pada tisu.


"Kakak, tadi ke mana?" tanya Lani dengan mulut penuh.


Sesaat tadi Dara pergi. Dara sebenarnya kembali ke tempat keramaian tadi. Ia bertanya pada orang di sana. Mereka menunjukkan arah perempuan itu diajak. Gadis ini bergegas menyusul. Dengan kecepatan melampaui batas berkendara. Ia segera menemukan mobil yang membawa perempuan tadi. Dara memelankan mobil.


"Turun, yuk. Ini rumahku."


"Terima kasih." Perempuan tadi masuk.


Dara segera menepi. Ia segera mengintip. "Mau apa dia?" pikirnya.


"Dek, kakak boleh pinjam pakaian?" tanyanya saat orang itu sedang berbalik. Merasa tidak ditanggapi ia menyapa pundak kiri. "Dek." Tiba-tiba kepala orang itu berputar. "Aaa!" Perempuan ini mundur.


"Iya, Kak." Ia maju. Namun, lantaran tubuhnya terbalik dengan keadaan kepala menghadap mangsanya maka akan terlihat mundur.


"Tolong! Tolong!" Ia coba untuk membuka pintu.


Kepala itu perlahan lepas dari badan kini dalam bentuk sempurna sementara tubuhnya tergeletak begitu saja. "Hihihihi ..."


Dara mencoba membuka pintu. Akhirnya ia berhasil. "Tolong, saya, Dek!" Ia segera bersembunyi di belakang Dara.


"Hihihi .... Kita tidak usah bertarung. Bagi dua saja."


"Bagi du--dua?" Perempuan ini tidak mengerti. Setelah mendengar Dara mengikik dengan darah yang tiba-tiba membasahi kerah lehernya. Ia baru paham. "Ti--tidaaak!" Ia segera mundur. Bermaksud akan lari malah terjatuh. "Ja--jangan!"


"Hihihi ...." Kuyang itu merendah. Ia menghampiri perempuan tadi.


Dara berjongkok. Ia menatap tajam kemudian menahan perempuan tadi agar jangan lari. "Tetap di sini!"


"Tolong lepaskan aku!" Ia menghiba. Kuyang kini tinggal beberapa langkah. "Tidaak!" Ia ketakutan saat kuyang itu menjulurkan lidah menjilat kaki kemudian hendak naik. Namun, hal yang terjadi membuat perempuan itu terkaget. Dara menginjak kepala Kuyang.


"Penghianat!" Kuyang tadi berusaha melepas diri. Dara segera melompat kemudian menginjak bagian usus. "Agh!" Dalam sekejap kuyang tewas. Dara memuncrat ke wajah Dara. Gadis ini menyeka wajah yang penuh darah. "Pergi ke mobil. Ini biar aku yang urus."


"Ba--baik!" Ia segera berlari ke mobil.


Dara meraih kepala itu ia begitu lapar. Memakannya hingga menyisakan kepala saja. Ia lantas melemparnya ke dalam. Dara segera masuk ke mobil.


Dara tersenyum manis. "Ada, deh. Mau tahu aja kakak ke mana."


"Habis mendadak sekalu, sih."


"Kamu mau makan?" tawar Bagus.


"Sudah makan tadi."

__ADS_1


"Eh, kita, kan belum makan apa pun?" Lani memandang Dara. Ia heran.


Namun, Dara tidak menjawab. Ia malah memandang langit. "Hem, bintang," batinnya.


__ADS_2