
Anggara menyadari bahwa kini mereka sedang diikuti oleh seseorang. Ia melirik ke belakang sambil menarik Shabita. "Ada yang mengikuti kita," katanya pelan.
Shabita ingin melihat ke belakang, tetapi Anggara menghentak pelan tangannya, memberi isyarat agar gadis itu jangan sesekali berbalik. "Kita harus apa?" tanya Shabita.
"Jalan terus!" perintah Anggara.
Shabita merasakan nyeri di perutnya. Ia meringis, tetapi ditahannya agar Anggara tidak cemas dengan kondisinya. "Ehm!" Tiba-tiba saja suara itu tidak sengaja keluar dari mulutnya.
"Kenapa?" tanya Anggara. Ia berhenti untuk memandang Shabita.
"Enggak papa," jawab Shabita. Di bibir memang berkata begitu, tetapi di luar sikapnya menunjukkan gelagat lain.
"Bohong, kamu kesakitan begitu!" tangkis Anggara. Ia melihat wajah Shabita yang mulai memucat dan keringat dingin yang membasahi wajahnya.
"Kamu sakit," kata Anggara sambil memapah Shabita.
"Aku nggak papa," balasnya sambil mencoba untuk bertahan berjalan sendiri tanpa bantuan pemuda itu. "Auh!" ringisnya sembari memegangi perutnya.
"Van, satu minggu! Tinggal beberapa hari lagi kamu akan melahirkan!" kata Anggara. Ia panik dengan situasi mereka.
"Aku kuat, kok!" tekan Shabita sambil menghela dan menghembuskan napasnya kembali.
Anggara terpaksa menggendong Shabita. Ia tidak tega bila kekasihnya harus berjalan dalam keadaan menderita begini.
Shabita memandang ke belakang, ia melihat Jesica sedang berjalan di belakang mereka. Tiba-tiba gadis itu dengan cepat berlari ke arah mereka berdua. "Anggara!" teriak Shabita panik.
__ADS_1
Sebuah pedang nyaris memenggal kepala Anggara. Jesica menangkisnya dengan pergelangan tangannya. Anggara terkejut ia memandang Jesica yang sedang menangkis serangan musuh dengan lengan yang dilapisi baja. Ia kemudian beralih pada lawannya. Seorang pemuda bertubuh besar sedang menarik serangannya.
"Pergilah!" perintah Jesica.
"Siapa kamu?" Anggara masih penasaran.
"Utusan Nona Talia. Ia memerintahkan aku menjaga ibunya dan karena kulihat dia dalam keadaan sekarat, aku tidak mungkin menghabisimu sekarang. Pergi dan pastikan dia baik-baik saja," katanya sambil mengawasi lawannya yang sedang menilai dirinya.
"Anggara!" panggil Shabita lirih.
"Ya, sayang." Anggara menyadari kondisi Shabita maka ia bergegas pergi dari sana.
"Beraninya kamu menghianati Tuan Toni, Jesica. Apa kamu tidak takut mati?" bentak Rang.
Jesica mudur saat lawannya menyerang dengan sebuah tendangan tepat di dadanya. Ia mengambil kaki itu kemudian memutarnya hingga lawannya berputar di udara kemudian dengan kecepatan penuh lawannya mampu melepaskan diri, melompat ke udara dan bersalto melangkahi Jesica. Gadis itu tersenyum, ia berkayang saat sebuah pedang nyaris menembus dadanya. Kemudian gadis itu berbalik dengan mengandalkan kekuatan tangannya bertumpu pada pantai. Pedang menusuk ke arah perut, Jesica memiringkan tubuhnya ke kiri kemudian menangkisnya dengan perisai baja di lengan. Percikan api terlihat saat dua baja berbenturan. Ia menagkis dengan tangan kanan kemudian menjawab dengan tangan kiri, sebuah tinjuan maut ke arah wajah lawannya. Rang berhasil memundurkan kepalanya, ia berdiri tegak menarik serangannya kembali, strateginya adalah menyerang wajah. Ia menggenggam pedang dengan kedua tangannya, menusuk kepala gadis itu, Jesica menangkis dengan satu tangan kemudian satu lagi secara bergantian. Ia termundur, kemudian maju kembali dengan tendangan menuju ke arah pedangnya. Trang! Sebuah suara nyaring berbentur dengan sepatunya, Ternyata terbuat dari bahan yang sama dengan lapisan pelindung tangannya. Ia melakukan tendangan memutar hingga Rang kesulitan untuk menangkis dengan pedanganya. Rang tidak kehabisan akal maka ia menunduk dan menyerang bagian bawah. Jesica segera melompat dan mendarat di atas kaki lawan yang sedang menyerangnya.
"Pulanglah suamiku!" Jesica tertawa.
Rang kesal, ia segera menghentakkan kakinya membuat Jesica melompat bersalto ke udara melewati dirinya. Ia mendarat dengan ringan tanpa suara. Ia terkejut karena pedangnya tidak berada di tangannya lagi. Ia berbalik memandang Jesica yang kini mengarahkan ujung mata pedang ke dadanya. Rang menatap Jesica sambil tertawa kekalahan. "Bunuh saja," katanya.
Jesica menggeleng ia berbalik, kemudian secara tiba-tiba menyerang Rang dengan pedang itu. Rang tersungkur di pantai. "Maaf suamiku," ucapnya sambil mengambil sarung pedang yang berada di pinggang pemuda itu. Ia menyarungkan pedang pada warangkanya. "Kupinjam!" katanya.
Rang berbaring telentang di pantai, ia mendapatkan luka di dadanya, tidak dalam hanya tergores saja. Ia meringis sambil tertawa. Jesica berjalan menyusuri pantai, ia menyusul Anggara kembali.
"Bos! Suruhan Tuan sudah tiba menyerang kemari!" lapor Jesica.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Talia sambil berbelok ke simpangan.
"Rang," katanya.
"Hem," jawab Talia sambil memutus hubungan teleponnya.
Hari semakin gelap, tetapi Jesica masih belum menemukan mereka berdua. Ia gerah memegang pedang itu maka ia menjatuhkannya ke tanah, ia meraih selendang yang disimpannya dari balik bajunya. Mengikat tubuhnya secara selempang kemudian berjongkok, menyelipkan pedang itu di punggungnya. Ia berdiri dan kembali berjalan menyusuri pantai. Para nelayan yang baru pulang memandang heran padanya, Jesica hanya melambai tangan tanpa menoleh ke arah para nelayan. Ia tetap cool menatap lurus ke depan.
Anggara dan Shabita tiba di sebuah gubuk. Entah siapa pemiliknya, tetapi sangat aman baginya untuk bermalam di situ sementara waktu. Anggara sengaja menggelapkan diri mereka agar Jesica jangan sampai mengetahui posisi mereka melaui api atau sejenisnya yang mampu membuat gadis itu curiga.
Shabita menelan ludah, ia menahan nyeri di pinggang dan perutnya. "Anggara," sebutnya.
"Ya, sayang." Anggara meraih jemari Shabita kemudian membalas genggamannya.
"Sakittt!" Shabita meringis dengan airmata yang tak dapat dibendung olehnya.
Anggara segera berbaring di sampingnya, ia merangkul Shabita dan mengusap bagian belakangya. "Apa sudah waktunya?" tanyanya.
Shabita menggeleng. "Aku nggak tahu."
"Sabar," kata Anggara sambil terus mengusap Shabita. "Bila sudah waktunya kamu harus bilang, ya?"
Shabita mengangguk, ia memejamkan mata, menaruh kepalanya di dada pemuda itu. Sesekali napasnya berat karena kesusahan bernapas.
Jesica memandang gubuk yang disinggahi Anggara, ia berdiri di depan sana. Jesica tersenyum, ia kemudian memandang ke atas gubuk. Jesica melopat dan mendarat di atap tanpa menimbulkan suara apalagi gerakan yang mencurigakan bagi Anggara. Gadis itu mengambil sikap duduk, menaruh pedangnya di samping kemudian ia berbaring dengan menjadikan lengan kanannya sebagai bantal sembari memandang bintang di langit.
__ADS_1