
Anggara pulang ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya tanpa membuka sepatu apalagi
baju seragamnya. Ia tertidur lelap dan melupakan janjinya untuk segera
kembali lagi ke TKP. Seorang perempuan tanpa sengaja melewati kamarnya
dan kembali untuk mengintipnya.
"Hey, mau apa di situ?" tegur Endraw.
"Oh, em--em, Om. Gak cuma mau lihat-lihat aja kok," jawabnya gugup.
"Ngapain kamu masuk ke kamar orang, mau maling? Apa mau ganggu laki orang?" sindir Endraw.
"Ish, Om. Ngomong kok gak disaring dulu," katanya dengan nada marah dan segera pergi.
Endraw mendatangi kamar Anggara. Ia masuk dan melihat Anggara yang sedang tertidur pulas. Endraw
menggeleng dan segera keluar dan menutup pintunya.
Shabita pulang lebih cepat karena ia merasa sangat letih akibat semalam kurang tidur. Ia
melirik arlojinya, jam masih menunjukkan pukul 2 siang. Sembari bersenandung ingin membuka pintu, Endraw datang dan membuatnya kaget. "Eh! Endraw! Kupikir tadi siapa," katanya.
"Sorry, kebetulan Anggara juga sudah pulang, jadi aku juga mau ngasih tahu saja sama kamu, hati-hati," pesannya.
"Dia pulang?" Shabita menunjuk kamarnya sendiri.
"Dia di kamarnya sendiri," jelas Endraw. Lelaki itu tahu kalau selama ini Anggara selalu tidur di kamar gadis itu.
"Oh," Hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu.
"Tadi ada perempuan mau masuk ke kamarnya." Endraw lalu menceritakan tentang kejadian tadi.
"Jadi sekarang Anggaranya masih tidur?" tanya Shabita.
"Iya," jawabnya. "Oh, ya. Kamu dan dia segeralah menikah, tidak enak dilihat oleh orang kalau
kalian satu tempat begitu," sarannya.
Shabita hanya mengangguk dan tersenyum hambar. Endraw pergi setelah menasehatinya.
Menikahlah dan lahirkan keturunan untukku. Anakmu akan jadi tubuh baruku. Hihihi....
Shabita berkeringat, ia sadar dengan situasinya, sesuatu yang harusnya jangan terjadi. Ia tidak boleh menikah. Apakah aku harus mengubur perasaanku lagi dan pergi meninggalkannya? Ya Tuhan ... sakit rasanya.
Shabita merebahkan dirinya di ranjang, ia mengambil boneka beruang pemberian Anggara. Kenapa aku harus hidup begini? kenapa?! Hikz... hikz. Shabita menangis sembari membenamkan wajahnya pada bonekanya.
"Van, Van," panggil sebuah suara serak dan mendesah.
Shabita meremang, bulu kuduknya tiba-tiba merinding. Ia ketakutan setengah mati saat sebuah
kepala dengan organ dalam yang menjuntai mendekatinya. "Pergi!" usirnya
__ADS_1
seraya menjadikan boneka beruang itu sebagai perisainya.
"Jangan menghindari aku terus Vanesa. Aku lapar, aku memerlukanmu untuk makan," kata Iblis itu.
"Cari makan sendiri!" teriak Vanesa.
"Hihihi ... kalau bisa sudah kulakukan dari dulu, Van."
"Jangan ganggu aku lagi!" bentak Shabita. Ia mencoba meraih bantal dan melepar Iblis itu
dengan benda yang diraihnya. Percuma saja karena iblis itu berupa bayangan yang tembus bila disentuh.
"Hihihi...."
Anggara mendengar suara Shabita yang berteriak-teriak mengusir seseorang. Ia segera bangun dan
berlari ke kamar gadis itu. Dilihatnya Shabita mengamuk sendirian
sembari melempari benda di sekitarnya.
"Vanesa!" Anggara segera merangkul gadis itu untuk meredam kemarahannya.
Vanesa menunjuk-nunjuk pada tembok yang dilemparinya tadi. "Dia di sana Anggara, dia tepat di sana!" tudingnya.
"Mana? Tidak ada apa-apa?" tanya Anggara heran setelah melihat ke dinding.
"Itu!" Tunjuk Shabita saat Kuyang itu tepat di belakang Anggara.
"Mana?" Anggara berbalik dan menatap dinding itu lagi, tapi tidak satu pun terlihat. Padahal
ia akan syok karena Kuyang itu tepat berada di depannya, tiga jengkal dari wajahnya.
Shabita segera menarik Anggara untuk menjauh dari wajah iblis itu. Ia tidak sadar perbuatannya
itu membuat Anggara terjatuh dan tanpa sengaja mencium dirinya. Tawa
Kuyang itu membahana kemudian menghilang, membuat Shabita sadar dan
segera menjauh dari Anggara.
"Vanesa, kamu kenapa?" tanya Anggara. Pemuda itu kembali mendekati Shabita yang menghindarinya.
"Aku takut, aku gak mau nikah! Aku gak mau punya anak!" jeritnya seraya menempatkan dirinya di
ujung kepala ranjang. Ia meringkuk di sana dengan derai airmata yang
seringkali disekanya.
Anggara diam, pemuda itu menghela napas. "Mau menikah atau tidak itu kewajibanmu. Memiliki anak
itu juga kewajiban, tapi bila itu membuatmu tidak mau menikah hanya karena anak, bagiku tidak masalah," katanya. "Aku siap menjalani hidup tanpa adanya anak. Yang jadi masalahnya kamu bersedia tidak menikah denganku?" tanyanya dengan lirih menggenggam jemari gadis itu.
Shabita diam saja tidak mengucapkan sepatah kata pun. Anggara mengambil kesimpulan kalau Shabita
__ADS_1
memang dari dulu menolaknya. Dengan berat hati ia berdiri dari ranjang dan menghela napas.
"Semoga kamu bahagia, Van. Aku tidak akan mengganggumu lagi," kata terakhirnya itu yang
membuat Anggara tidak kuasa untuk segera pergi dan mengunci diri di kamarnya.
Dada Shabita terasa ngilu. Ia menangis histeris ditinggal Anggara. Selama ini pemuda itu
menerima dirinya apa adanya, tapi ia menolaknya.
****
DUA hari Anggara tidak pulang, ia menyibukkan diri pada kasus yang belum
selesai kemarin. Inspektur Zamal selalu menanyakan gadis itu dan dijawab
selalu tidak tahu oleh Anggara.
"Jawabanmu itu tidak tahu melulu. Sebenarnya kamu kenapa, setiap kali ditanya kamu
masam begitu?" tanya Inspektur Zamal dengan raut wajah jengkel.
"Gak tahulah, Pak. Rasanya pengen mati aja," kata Anggara.
"Astagfirllah! Nyebut woy! Mati itu gampang, tapi ngelakuinnya susah," katanya sembari
mengguncang tubuh Anggara yang lemas tidak bertenaga.
"Saya bosan hidup, Pak. Saya sakit hati... hikz ... hizk." Angara menangis.
"Jangan bilang ... kalian putusan?" Inspektur Zamal curiga.
"Iya! Dia gak mau sama saya! Dia nolak lamaran saya!" Anggara berteriak tepat di wajah atasannya.
Inspektur Zamal mengerutkan wajah dan memejamkan matanya, lalu menjauh dari
Anggara. "Jangan marahnya ke saya dong. Masa saya diteriakin begitu."
"Makanya jangan ditanyain terus, saya lagi sedih!" bentak Anggara.
"Makan apa anak ini semalam, kok berani bentak-bentak saya?" keluh atasannya.
"Kesampingkan dulu perasaanmu. Kita harus selesaikan masalah ini dulu,
coba kau tanya sekali lagi tentang kasus ini padanya," bujuk Inspektur
Zamal yang mencoba mendekati Anggara lagi, namun belum selangkah ia maju,
Anggara sudah memberikan tatapan menusuk padanya. "Tanyanya kapan-kapan
deh, terserah kamu," katanya yang segera mundur karena takut Anggara
mengamuk. Ngeri juga kalau lagi marah. Bisa ngamuk terus bunuh diri.
__ADS_1
Sementara Shabita melirik kamar Anggara yang telah tergembok. Ia merasa bersalah, ingin rasanya menhubungi pemuda itu, namun urung saat dirasanya lebih baik berucap langsung. Disimpan kembali ponselnya dan segera menuju keluar penginapan.