
Shabita memandang langit di balkon rumah Sean, sementara Anggara sedang bermain bersama Dara. "Ang, kapan kita nikah?" tanya Shabita tanpa mengalihkan pandangannya ke langit.
"Setelah kematian tiga bulanan Toni, sambil menunggu empat puluh hari kamu setelah lahiran, kita akan menikah," jawab Anggara sambil mencolek hidung Dara. "Anak, papa sayang."
Shabita memandang Anggara yang asyik bersenda gurau dengan bayinya. Ia tersenyum dan menghampiri Anggara, kemudian ia duduk di lantai lantas menaruh kepalanya di pangkuan Anggara. "Aku nggak nyangka kita akan bersama lagi, Ang. Dalam situasi seperti ini," kata Shabita lirih.
"Ngomong apa, sih?" ejek Anggara. "Ya, ketemu kalau jodoh."
Shabita menegakkan tubuhnya, ia memandang Anggara yang tetap asyik dengan Dara. "Kamu, kok tidak peduli aku sejak dia lahir?"
"Perasaanmu saja, sayang."
"Benar, Anggara. Kamu lebih fokus ke dia ketimbang aku!" protes Shabita.
"Cemburu kok, sama anak sendiri," sindir Anggara.
"Bukan itu, tapi kamu nggak fokus pas aku ajakin ngobrol. Selalu lupa arah pembicaraan kita, kadang kamu juga lupa makan kayak tadi. Bilangnya gantian, tapi malah tidak makan sama sekali. Bahkan aku kamu larang pegang dia!" kata Shabita.
Anggara diam, dalam hatinya membenarkan perkataan kekasihnya. Ia lupa makan, lupa tidur sudah dua hari ini. Entah kenapa selalu ingin mendekat pada Dara. "Aku nggak ngerti," jawab Anggara. "Rasanya tidak mau pisah."
"Kamu makan, ya. Aku siapkan, nanti aku suapi?" tawar Shabita.
"Em," jawab Anggara.
Shabita segera menuju ke dapur untuk mengambil makanan. Ia sempat melirik Sariani yang sedang memukuli Sean. Pemuda itu malah balas memukulnya dengan gemas. Shabita geleng-geleng kepala melihat keanehan mereka berdua.
Anggara mendengar langkah kaki Shabita. Gadis itu datang membawa nampan berisi makanan dan minum untuknya.
"Makan, ya." Shabita lalu menyuapi Anggara.
"Van, aku bisa sendiri."
"Kalau begitu kesinikan Dara," pinta Shabita.
"Biar aku makan tangan satunya saja," tolak Anggara. Ia merasa sayang melepaskan bayi itu.
"Makan!" bentak Shabita. Ia marah dengan tingkah Anggara. Shabita menyuapinya dengan cepat, sebelum Anggara sempat mengunyah makanannya.
"Udah, aku bisa mati keselek kalau begini!" cegah Anggara dengan mulut penuh saat Shabita akan memaksanya kembali.
__ADS_1
Shabita menaruh kasar piring di atas meja. "Keterlaluan kamu! Lupa mandi, mungkin kamu juga lupa ke kamar kecil, cuma ngurusin dia. Kamu nggak percaya sama aku, hah?!"
"Bukan gitu," jawab Anggara setelah menelan air putih. "Aku memang tidak gerah, tidak pengen pipis juga."
"Tapi kamu bau! Tidak mandi selama aku di Rumah sakit hingga sekarang!" bentak Shabita. "Kemarikan anakku! Urus drimu!" Shabita merampas Dara dari Anggara. Ia kemudian membawanya pergi ke kamar.
"Van!" Anggara mengejar Shabita.
"Tidak boleh menyentuhnya sampai kamu mengurus dirimu dengan baik!" seru Shabita dari dalam kamar.
Anggara terdiam di depan pintu sementara Sean hanya menggeleng sambil bersandar di dinding.
"Mandi sana, biar bisa bersama anakmu!" suruh Sean. "Kamu ini pemalas sekali, Anggara.
"Aku nggak tahu kenapa aku jadi lupa semua," keluh Anggara.
"Anak Toni dilawan," sindir Sean. Pemuda itu berlalu dari Anggara.
"Kenapa ribut sekali, sih?!" tanya Sariani tidak senang, saat ini ia di beri tempat tidur di kamar Sean. Sedangkan pemuda itu tidur di sofa.
"Aku cemas anak Toni itu akan menguasai Anggara."
"Darah Toni mengalir di diri Dara. Pastinya kejahatan anak itu juga turunan."
"Kenapa kamu ngomong gitu?"
"Dara itu Ratu Krasue. Sudah jelas dia adalah penerus Toni dan Wati."
Sariani terdiam, ia baru ingat bahwa kini Shabita terbebas bukan karena dibebaskan, tetapi iblis dalam diri gadis itu berpindah pada Dara yang artinya Dara-lah Titisan Kuyang berikutnya.
Shabita kembali bermimpi aneh. Kini di dalam mimpinya, ia melihat Anggara sedang duduk di sebuah bangku panjang di atas jurang bersama seorang gadis berambut panjang. Ia memang tidak mengenal gadis itu karena membelakanginya, tetapi ia yakin gadis itulah yang berniat mencederainya sewaktu ia bermimpi dirinya berada di dapur sedang memasak. Lamat-lamat ia mendengar perkataan gadis itu kepada Anggara.
"Aku ingin bersamamu. Aku tidak peduli kalau kamu miliknya! Jadikan aku walau untuk yang kedua!"
"Jangan mimpi. Kamu itu tidak seharusnya berkata begitu dengan orang tua. Sana belajar!" bentak Anggara.
"Tapi, Anggara. Aku cinta kamu!"
Anggara menepis tangan gadis itu. "Kalau Shabita tahu, ia akan marah padaku. Terus terang aku tidak bisa hidup tanpanya."
__ADS_1
"Aku pun tidak bisa!" teriak gadis itu. Terdengar suara tangis gadis itu.
Anggara memeluknya dan mengusap rambutnya. "Jangan begini. Hilangkan rasamu itu."
Shabita mengepalkan tangannya. Ia cemburu walau itu hanyalah mimpi belaka, tetapi ia merasa itu nyata sekali. Hingga ia terbangun dan memandang Anggara yang telah berganti pakaian sedang bermain dengan tangan Dara yang tengah tertidur pulas.
"Anggara, apakah kamu punya simpanan atau kekasih lain selain aku?" tanya Shabita.
Anggara tertawa canggung. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan gadis itu. "Apa maksudmu?" tanya Anggara.
"Apa kamu selingkuh atau akan ada niat selingkuh?"
"Sini!" pinta Anggara. Ia menarik Shabita agar bersandar padanya. "Kamu sudah tahu aku nggak akan berbuat begitu, kenapa masih tanya lagi?"
"Cuma firasat," jawab Shabita.
"Aku nggak pernah pacaran. Waktuku habis buat kerjaan. Ketemu kamu mungkin jodoh dan aku nggak nyangka bisa naksir kamu di saat pertama kali kita ketemu." Anggara diam sebentar untuk merangkul Shabita. "Aku janji, Van. Cintaku hanya untuk kamu, tidak akan luntur sedikitpun walau banyak cewek cantik di sana. Bagiku kamu yang paling cantik di dunia ini."
"Bohong!" bantah Shabita.
"Serius, Van."
"Aku mimpi ada cewek yang mau sama kamu," akhirnya Shabita mengaku. "Dia juga tadi siang yang pengen bunuh aku di dalam mimpi."
"Cuma bunga tidur, sayangku." Anggara mencoba menenangkan Shabita. "Mungkin kamu lelah, jadi mimpinya juga aneh-aneh."
"Aku takut itu jadi kenyataan," rengek Shabita.
"Enggak, sayang. Aku janji akan setia selalu."
"Aku takut tidur lagi, takut mimpi lagi."
"Sini," bujuk Anggara. Ia berbaring di samping Shabita. "Tidur dipelukanku saja, ya."
Shabita tersenyum, ia menuruti Anggara untuk tidur di dekatnya. Anggara terlelap sedangkan Shabita tidak dapat terpejam. Ia hanya memandangi wajah Anggara yang tenang. Lama-kelamaan Shabita terlelap sendiri.
Anggara bermimpi hal yang sama seperti yang dimimpikan Shabita. Ia bingung saat memandang dirinya berada di atas jurang sedang bersama seorang gadis asing. Ia tidak melihat gadis itu karena membelakanginya. Ia pula mendengar pertengkaran kecil kemudian ia merangkulnya. Anggara heran. Ia melihat Shabita di belakang mereka berdua, terlihat cemburu.
"Kenapa aku begitu?" gumamnya. Ia masih tidak terima mimpi itu.
__ADS_1