TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
116


__ADS_3

Cittt! Mobil Ridwan menghentikan laju kendaraan orang yang membawa Tini. Pemuda itu terkejut, ia segera memundurkan mobilnya sesaat menyadari mobil yang telah menghentikannya adalah mobil dinas polisi.


Tini segera panik, ia kemudian memukul kaca depan dan berteriak, “Tolong! Tolong, saya!”


“Diam!” Ia memukul wajah gadis itu dengan sikunya. Tini tidak sadarkan diri seketika,


Ridwan  menginjak gas di saat pemuda itu mundur dengan cepat. Brak! Ia manubruk mobil lawannya.


Pemuda itu tersentak. “Asam!” Ia  marah. Ia menginjak gasnya untuk membalas Ridwan.


Namun, pemuda itu mundur seraya menembak ban mobilnya. Dar! Ban mobil meletus, sehingga mobil sekarang menjadi miring. Pemuda itu menyiapkan pistolnya, siap menembak Ridwan. Ia menunggu hingga tembakan pemuda itu berhenti.


“Menyerahlah!” perintah Ridwan seraya turun dari mobil. Sikapnya siaga dengan senjata mengarah pada lawannya.


“Tidak mudah!” Pemuda itu tersenyum miring seraya menarik pelatuk senjatanya. Dor! Ia menembak Ridwan.


Beruntung Ridwan segera memiringkan tubuhnya. Kini Ridwan berlari ke belakang mobil. Saling tembak itulah yang terjadi sekarang. Tini tersadar, ia membuka matanya. Terkejut saat mendengar senjata lawan mengarah kepada Ridwan. Ia segera bangun dan menggigit tangan pemuda itu.


“Sial!” umpatnya. Ia kembali memukul gadis itu, tetapi sekarang dengan menggunakan ganggang pistol.


“Agh!” erang Tini sebelum dirinya akhirnya tidak sadarkan kembali.


“Angkat tangan!” Ridwan telah berada di sisi mobil. Ia memiliki kesempatan di saat pemuda itu lengah dengan Tini.


Pemuda itu mengangkat tangan dengan sikap tenang dan senyum yang mengembang. Ia dengan


kilat mengarahkan pistol ke arah kepala Ridwan dan … door! Ridwan terkejut. Ia tidak merasa menarik pelatuk pistolnya. Namun, orang itu terluka di punggung kiri.


“Lambat sekali!” omel Rustam. Pemuda bertubuh kekar dan besar itu membuka pintu mobil dan segera menggendong Tini. Dibawanya ke mobil Ridwan. “Bawa  orang itu ke Rumah sakit sementara saya akan


membawa perempuan ini ke puskesmas terdekat. “Oh, ya. Telpon orang untuk mengambil motor itu!” perintahnya.


Ridwan hanya merasa jengkel dihina Rustam, tetapi ia bersyukur pemuda itu datang tepat waktu sebelum nyawanya melayang. Pemuda itu kemudian membawa tahanannya ke Rumah sakit.


Adi merasa lega mendengar Tini berhasil diselamatkan oleh Ridwan dan Rustam. Kini  ia tidak perlu cemas bahwa perempuan itu akan menjadi kelemahannya. Hanya tinggal menunggu saat mereka berkumpul barulah ia akan mengabari mereka untuk bertindak.


Gadis manis itu datang kembali, ia menghampiri Adi. “Malam nanti mereka akan mengadakan pertemuan. Kurasa mereka akan pindah dari sini,” katanya.


“Kamu yakin?” tanya Adi ragu. Apa gadis ini bisa dipercaya? Namun, begitu ia tetap mendengarkan ceritanya.


“Percayalah, saya berkata benar.”


“Kenapa kamu mau menolongku, apa tidak takut mereka?” Apa hubungan mereka dengan anak ini, kenapa dia tidak takut atau ada yang menghalanginya berkeliaran di sini?


Gadis itu menggeleng lemah seraya tersenyum. “Kakak akan tahu nanti.” Ia kemudian pergi.

__ADS_1


"Kalian dengar apa kata gadis kecil itu?" tanya Adi kepada camera yang selama ini dibawanya.


"Tidak ada gadis di sana selain Tini," jawab Burhan.


"Tadi dia di sini, di kamar ini!" Pemuda itu tetap ngotot memertahankan kepercayaannya akan adanya gadis itu tadi. "Masa, aku mimpi!"


"Dari kemarin kami tidak melihat adanya seorang pun kecuali dua orang pemuda dan nenek masuk ke kamarmu."


"Ah! kamu bercanda. Jelas-jelas dia ada di sini!"


"Adi, gila boleh, tapi tolong jangan ditulari ke kami!" omel Burhan.


"Ada apa, sih?" tanya Anggara. Ia sempat mendengar Burhan mengomel.


"Adi nampaknya prustasi. Dia terdengar kacau," jawabnya kepada Anggara.


Anggara mengerutkan keningnya, kalau dia prustasi mana mungkin. Secara Adi orangnya selalu ceria walau sifatnya kadang gemar mengusili mereka.


***


Pukul18:35. Tini baru sadarkan diri. Rustam dipanggil dan diperbolehkan menemui Tini. Gadis itu memandang Rustam.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rustam seraya duduk di bangku dekat ranjang.


"Apa aku aman?" Pertanyaan itu yang tercetus di pikirannya.


"Apakah Adi baik,baik saja?"


"Ya," jawab Rustam. Kendati dirinya tidak tahu, tetapi ia yakin pemuda itu baik-baik saja di sana.


Gadis itu tersenyum. "Bolehkah aku melihatnya?"


Rustam diam, ia diskak dengan pertanyaan itu. Tini memandang pemuda itu, ia heran kenapa orang ini tidak menjawab permintaannya. "Dia sedang sibuk," kata Rustam. Ia tidak berdusta. Memang benar Adi sedang sibuk.


"Pak," panggil Ridwan dari balik pintu.


Rustam berbalik, ia memandang Ridwan, kemudian beralih pada Tini. "Tunggu sebentar," kata Rustam pada Tini.


"Adi memberi perintah."


"Apa katanya?"


"Malam ini kita bergerak, tapi ..." Ia ragu menuntaskan perkataannya.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Sepertinya mereka tahu bahwa kita mengincar tempat itu. Sebabnya malam ini rencananya mereka akan pindah."


Rustam memandang Tini yang kini memandangnya, ia kemudian berkata pada Ridwan. "Kita tidak tahu apakah Adi akan dibawa atau bahkan dihabisi oleh mereka di tempat itu yang pasti suruh orang dengan menyamar untuk mengikuti gerakan mereka!" bisiknya.


"Baik," jawab Ridwan.


"Hey, Ali!" Rustam melihat Ali sedang mondar-mandir di depan pintu.


"Ada apa?" Adi menghampiri.


"Sedang apa kamu di sini?"


"Sedang menunggu pelaku tabrak lari. Habis dihajar warga tadi, makanya dilarikan ke sini."


"Kamu sibuk?" tanya Rustam. Ia berharap pemuda itu punya waktu untuk membantunya.


Pemuda bernama lengkap Muhammad Rojali itu hanya mengangguk. "Tapi setelah ini aku senggang."


"Kalau begitu bisa kamu tolong jaga saksi di dalam?" harapnya.


Ali menengok ke dalam. Ia memandang gadis manis yang sedang memandang ke arahnya. "Tahu aja, Bro. Aku baru putus dari pacar. Hehehe...."


Plak! Rustam menampar tangan pemuda itu. "Dia itu saksi utama, bukan calonmu!" omelmya.


Ali mengusap lengannya yang perih. Bagaimana tidak perih bila pemuda berotot itu yang memukul. Ia yakin sekali kena tinjunya pasti musuhnya akan melayang dalam satu tinjuan saja. "Bercanda, Pak."


Rustam kemudian berbalik pada Tini. "Kamu akan dijaga oleh pemuda tadi."


"Baik," jawab Tini.


"Sementara Ridwan ada di depan pintu. Saya harus bersiap untuk pekerjaan bersama Adi." Rutam mengambil topinya yang tadi diletakkan di atas meja. Ia berdiri dan pamit.


***


Adi masih penasaran dengan gadis itu. Ia heran kenapa mereka tidak melihatnya padahal jelas-jelas Tini melihatnya. "Siapa sebenarnya dia?"


Suara pintu terbuka mengagetkannya. Ternyata gadis manis itu berdiri dengan wajah pucat. Ia kaget melihat gadis itu bersimbah darah di leher dan juga bagian perut. "Apa, Kakak ingin tahu siapa aku?" tanya gadis itu.


Adi bergeser, ia merapatkan diri pada kepala ranjang. Merinding sudah pasti, tetapi sebagai lelaki ia coba menguatkan diri.


bersambung


_____________


AINAHJumainah, JumainahAina, Jumainahsll, Jumainah, JUMAINAHS, SaniaAinaDamian, Aina  adalah nama pena saya di lapak lain. Bila kalian menemukan nama pena selain yang saya sebut atau nama lain yang judulnya, atau isi  mirip dengan cerita saya maka hendaklah bertanya kepada saya agar saya tahu apakah itu memang saya atau orang lain yang menyamar atau mencuri karya saya. Terima kasih sudah membaca. Kalau bisa mampir ke cerita saya berjudul DUKUN CANTIK di lapak lain. Ada Rustam, Anggara, Aina, dan banyak lagi. Silakan ikuti kisah cinta unik Rustam bersama Perawan Abadi yaitu pendekar pedang perak. Jangan lupa vote dan like cerita ini agar saya lebih semangat lagi.

__ADS_1


Saya tidak pindah lapak ya, untuk cerita TITISAN PUTRI KUYANG masih setia di sini. Jadi tunggu saja upnya setiap hari


__ADS_2