
Shabita diminta untuk masuk ke mobil. Gadis itu menurut saja, tidak membantah sama sekali. Sean kembali duduk di dalam sambil memegang tangan gadis itu. Shabita berpikir keras untuk dapat pergi darinya. Ia terus memutar otaknya selagi kendaraan melaju di jalan tol. Ia melirik tangannya yang digenggam Sean.
"Tanganku gatal, bisakah kamu melepasnya agar aku bisa menggaruk?" kata Shabita. Ini bagian dari akalnya saja.
"Bagian mana yang gatal, sini kugaruk?" tawar pemuda itu.
Shabita menyumpah dalam hati dan berdecih kesal. "Aku bisa garuk sendiri kalau kaulepaskan," tolaknya.
"Aku menawarkan jasa garuk gratis padamu. Kenapa tidak mau padahal kalau yang lain pasti bayar padaku?" racau Sean. Memangnya aku bodoh!
Dasar, kamu ini! Ada saja dalihmu untuk membuatku kalah! "Baiklah, garuk bagian pergelangan yang kamu pegang ini," tunjuknya.
Sean mengangkat tangan Shabita dan menggaruk bagian itu. Shabita hanya memalingkan wajahnya sembari mendesah kesal.
"Sudah cukup!" perintah Shabita.
Sean kembali menurunkan tangan gadis itu dan memandang kaca jendela samping. "Sudah berapa lama kamu hidup di tubuh ini?" tanya Sean tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan yang mereka lalui.
"Sewaktu gadis ini lahir," jawab Shabita jujur.
"Benalu sampai ke akar, ya. Pantas dibasmi, sih," sindir Sean.
"Bukan urusanmu!" ucap Shabita separuh nada membentak.
Perutnya terasa mual, ia tiba-tiba ingin muntah. Namun, ditahan lantaran tidak ingin itu mengganggu pelariannya. Ia tidak ingin sakit saat berusaha kabur nanti, tetapi rupanya janin dalam perutnya lebih kuat dan menendang. Maka termuntahlah Shabita di mobil. "Hueek!"
Sean kelabakan, ia segera meminta supir berhenti, "Stop!" Setelah mobil berhenti ia memandang Shabita yang kotor lantaran muntah. "Kamu tidak apa-apa?!" tanyanya cemas. Ia mengetuk punggung sopir. "Tolong tisu!" Tisu diberikan olehnya dan segera memberikan tisu pada gadis itu.
__ADS_1
"Aku mual, aku tidak tahan berada di dalam mobil terlalu lama. Rasanya bayiku makin membuatku sesak bila harus menghirup udara AC mobil ini," katanya.
"Baiklah, kita cari tempat menepi. Di sini kita tidak boleh berhenti sembarangan," kata Sean. "Pak, jalan dan cari daerah yang segar untuk menepi," pintanya pada sopir.
Mobil pun melaju kembali. Shabita membersihkan dirinya dengan tisu sedangkan Sean hanya memandangnya diam-diam. Mereka menepi di sebuah tepian dan di bawahnya ada lautan yang sungai yang dilewati oleh kapal-kapal angkut. Shabita keluar dari mobil dan menuju pagar pembatas antara tepian dan sungai. Ia menghirup udara sebebas-bebasnya. Tersenyum manis pada Sean. Pemuda itu jadi salah tingkah dan mengalihkan pandangannya ke lain arah. Ia tanpa sadar melepas Shabita dan menggaruk kupingnya lantaran grogi. Di saat itulah Shabita tersenyum jahat dan byur! Melompatlah gadis itu ke air.
Sean segera berlari untuk melihat ke bawah. "Hah! Hey!" Shabita sudah tidak terlihat lagi. "Aku dikerjainya!" Sean ikut melompat ke air dan mencari-cari gadis itu. Namun tidak menemukannya. Ia menyelam lagi mencari-cari. Hasilnya nihil, Shabita sudah tidak terlihat lagi. "Sial!" Ia menampar permukaan air dan menyesali kelalaiannya. Basah kuyup pemuda itu naik ke permukaan air, ia coba mendeteksi dengan kesaktiannya melalui sinar perak yang keluar dari telapak tangannya. Hasilnya percuma, masih tidak terdeteksi sama sekali.
"Pak, apa kita lanjutkan atau kita kembali?" tanya Sopirnya.
"Lanjutkan saja. Aku ingin bertemu kakakku," jawab Sean.
"Anda harus mengganti pakaian Anda," saran Sopirnya.
"Tidak perlu," jawab Sean. Ia mengusap pakaiannya dan secara ajaib pakaian yang dikenakannya kering seketika.
Shabita melewati mereka, ia masuk ke kapal dan menarik satu penumpang. Yang ditarik tidak percaya bahwa ia yang dipilih, maka ia melambai penuh kesombongan pada mereka.
"Agh!" jerit memilukan terdengar oleh mereka setelah tidak lama pemuda itu masuk bersama Shabita. Mereka segera berlari dan memeriksa. Jenazah sahabatnya tadi terkapar tidak berdaya dengan leher koyak.
"Di mana gadis iblis itu?!" teriak murka salah seorang dari mereka.
"Bunuh dia!"
Mereka langsung mengeluarkan golok dan memersiapkan benda tajam untuk menghabisi Shabita. Mata mereka mengawasi setiap sisi kapal. Ada yang mencari ke dalam kamar dan ada pula di dapur. Setelah pencarian yang cukup lama, akhirnya mereka berkumpul dan menggeleng tidak tahu.
Shabita terkikik di belakang mereka. Gadis itu bersembunyi di antara mereka semua. Satu per satu ditariknya dan dihisapnya.
__ADS_1
"Ke mana yang lain, kenapa yang berkumpul tinggal sepuluh biji?" tanya Ketua mereka. Ia berbalik melihat ke kiri sedangkan di kanan Shabita menarik seorang di situ. "Ka-" Ucapan Ketua terpotong lantaran merasa ada yang aneh. "Ke mana si cungkring?!" bentaknya. Mereka yang di kanan berbalik dan melihat si cungkring tidak ada. Saat mereka berbalik tadi Shabita mencuri lagi anak buah kapal yang berada di sebelah kanan.
Ketua berbalik dan terheran, "Kenapa di sini kurang, ke mana yang lain?!"
Mereka berbalik dan melihat satu sama lain. Akhirnya menggeleng tidak tahu. Shabita mencuri satu kembali di sebelah kanan dan itu terlihat oleh mereka yang berada di sebelah kiri. Terkejutlah mereka dan segera lari berhamburan menceburkan diri ke dalam air.
"Hey, kenapa lari?!" tanya Ketua yang masih tidak tahu apa-apa.
Shabita terkikik, kikikannya membuat bulu kuduk Ketua merinding. Ia memandang ke sana-kemari. Tidak ada apa-apa di sana hanya dirinya sendiri di kapal itu. Kikikikik. Kembali kikikan itu terdengar, ia melangkah mundur dan memandang ke setiap sudut kapal. Menelan ludah saat tubuhnya menubruk sesuatu yang lembut dan bernapas.
"Aku lapar, ingin makan!" bisik Shabita.
"Tolong!" Kocar-kacir orang itu lari dan menceburkan diri ke air. Berenang ke tepian.
Shabita mengeram marah. Ia melompat ke permukaan Air dan berlari mengejar Ketua. Orang itu panik dan memercepat renangnya.
"Tolong! Tolong!" teriaknya.
Shabita melompat dan telah berdiri di depannya. Ia menarik kepalanya dan mengangkat pria itu naik ke permukaan air. Rasa sakit dirasakannya, ia meronta sekuat tenaga mencoba lepas dari genggaman gadis itu.
"Tolong lepaskan saya! Tolong!" mohonnya.
"Makanan tidak boleh bicara," ucap Shabita. Ia menarik kerah pria itu dan menggigit lehernya.
"Ah!" eranganya.
Setelah tidak berdaya Shabita membuangnya hingga pria itu tenggelam ke dalam sungai. Ia menyapu darah di bibirnya dan sempat memandang murka pada kapal angkut yang secara kebetulan lewat dan tidak sengaja melihatnya sedang menghisap darah korban. Ada yang memfoto dan ada yang menelepon polisi. Shabita marah, matanya merah menyala dan membuat bola api kemudian menembak kapal itu. Boom! Kapal itu meledak dan memercik ke mana-mana.
__ADS_1