
Leo diberitahukan bahwa Shabita sudah bisa dijenguk. Maka ia langsung ke dalam diikuti Maria dari belakang. Leo menghampiri Shabita dan menggenggam tangan gadis itu. Maria panas hati, ia ingin menarik Leo dari sana. Namun, urung lantaran takut suaminya itu bertambah murka padanya.
"Kamu nggak papa, kan?" tanyanya seraya mengusap rambut Shabita.
"Nggak papa," jawab Shabita seraya tersenyum.
"Bagaimana anakmu?" tanya Leo sambil mengelus perut Shabita.
"Baik," jawabnya.
Sial! Kenapa dia yang jadi pusat perhatian? Kenapa sepertinya seolah Leo ayah dari bayinya?! Maria meremas roknya untuk meredam emosi yang nyaris tak terkendali. "Kamu sudah baikan, Dik?" tanya Maria. Wajahnya dibuat secemas mungkin agar terlihat natural. Ia ingin menyentuh tangan Shabita, tetapi segera ditepis Leo dan dipandangi dengan tatapan menusuk. Sial! Dia membuatku muak! Maria mundur perlahan dan keluar dari sana. Ia sakit hati karena Leo.
Maria bersandar pada dinding Rumah sakit. Ia menunggu hingga Leo keluar dari sana. Tidak lama Leo ke luar dan meninggalkan tempat itu. Namun, sebelumnya Leo sempat berpesan pada suster agar menghubunginya bila terjadi apa-apa. Maria menyelinap diam-diam menemui Shabita.
Shabita sedang membaca majalah, ia sempat melirik Maria yang menghampirinya. "Ngapain kamu ke sini?" tanyanya sinis. "Mau meracun?" sindirnya.
"Apa sebenarnya maumu masuk ke rumahku? Kenapa kamu mengganggu rumah tangga kami?" tanya Maria. Ia memandang marah Shabita yang masih asyik membalik halaman majalah.
"Sengaja, pengen mengambil suamimu," akunya.
Maria mengeram marah. "Dasar gembel!"
"Mayat yang kamu simpan di belakang rumah ... rasanya enak." Shabita memandang Maria dengan mata nanar.
"Apa maksudmu?" tanya Maria. Ia takut Shabita tahu segalanya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku akan seperti mereka? Berakhir ditanam di belakang rumahmu. No! Tidak akan terjadi." Shabita menaruh majalah di meja sebelahnya dan duduk. "Aku kebetulan sedang lapar, ingin makan," ucapnya.
Maria masih tidak paham dengan ucapan Shabita hanya memandangnya dengan rasa benci. "Maksudmu apa?!" bentaknya karena mengira Shabita menyuruhnya mengambil makanan untuknya.
"Hihihihi ...." Shabita terkikik. Ia kembali berbaring, berpura-pura tidur saat Leo datang ke kamarnya.
"Kamu ngapain di sini?!" Leo menarik Maria untuk keluar dari sana.
"Le--Leo, dengar dulu. Aku bisa jelasin!"
"Pulang sana! Aku tidak mau melihatmu berada di dekatnya!" usir Leo.
"Leo! Kenapa kamu begini, dulu kamu tidak seperti ini ke aku?!" teriak Maria.
"Maaf, sebaiknya Anda bicara di luar!" tegur Suster yang kebetulan lewat untuk memeriksa pasien.
Maria telah tiba di rumah. Ia segera mengganti bajunya dengan baju piayama berwarna hitam, kemudian mengambil cangkul di dalam gudang, setelah itu pergi ke belakang rumah. "Ini kuburan untukmu Shabita! Mati kamu, harus mati!" Wajahnya gemetar saat mengatakan itu. Rasa bencinya sangat dalam hingga kini hanya ada niat menghabisi.
Hujan turun membasahi tanah yang Maria gali. Perempuan itu masih terus menggali hingga lubang menjadi dalam dan terisi banyak air hujan. Petir menyambar di langit, menjadikan suasan nampak mencekam apalagi hawanya sangat dingin. Maria basah kuyup dengan lumpur di sebagian tubuhnya. Ia tidak sadar ada seseorang sedang berdiri di atas sana, mengawasinya. Setelah dirasa dalam Maria memutuskan untuk naik ke atas. Susah payah ia naik ke atas, ada sebuah tangan meraihnya. Langsung saja ia gapai dan kini ia bisa naik dengan mudah. Kilat menerangi tempat itu, menjadikannya terkejut lantaran melihat Shabita sudah berada di hadapannya sedang memandangnya dengan wajah pucat tanpa darah.
"Oh, kamu datang untuk mengantarkan nyawa rupanya!" Walaupun sempat terkejut, ia mampu menutupi dengan perkataannya tadi.
Shabita diam saja, ia memandang ke bawah sana. Lubang dalam terisi banyak air, kemudian memandang Maria. Ia terkikik melihat kebodohan perempuan ini.
"Apa yang kamu tertawakan?!" Maria sempat merinding saat memandang wajah Shabita yang sedang terkikik.
__ADS_1
"Kebodohanmu! Aku tidak menyangka kamu menyiapkan kuburanmu sendiri," sindirnya.
Maria mengeram, ia mengambil cangkul di tanah dan siap menghantam Shabita dengan itu. Namun, gadis itu sudah lenyap dari pandangannya. "Tidak mungkin! Dia tadi ada di sini?" Maria mengawasi seluruh area itu. Ia mengacungkan cangkulnya. "Hey! Jangan sembunyi! Kenapa, takut, bukannya kamu berani menantangku tadi?!"
Shabita tertawa di tempat gelap, ia baru terlihat saat kilat datang. Gadis itu lenyap kembali dari pandangan Maria yang sempat menangkap basah dirinya. Maria mencari-cari letak Shabita, ia sempat tersandung batu, tetapi segera sigap mengatur keseimbangan dirinya.
"Di mana kamu?! Hey, jangan sembunyi pengecut!" serunya.
"Siapa yang bersembunyi," jawab Shabita tepat di belakangnya.
Maria segera berbalik dan menyerang Shabita dengan cangkul. Gadis itu raib dari pandangannya. "Ti--tidak, mungkin? Kenapa dia bisa menghilang, siapa dia sebenarnya?" Maria akhirnya sadar dengan siapa ia berhadapan sekarang. Ia melangkah mundur, tiba-tiba meremang dan jantungnya berdetak kencang.
Shabita kembali berbisik, "Kuyang!" Ia menjilat leher Maria dengan lidah panjangnya.
Maria segera berbalik, tapi Shabita sudah lenyap. Dadanya naik turun dan napasnya menjadi sesak. Tidak sadar menelan ludah lantaran sangat ngeri. Matanya melirik ke kanan-kiri, mengawasi keberadaan gadis itu.
"Takut?" bisik Shabita sambil meraba leher Maria dengan kuku runcingnya.
Maria berbalik, menyerang kemudian, ia berputar mencari gadis itu. "Di mana dia?" desisnya.
Hujan semakin lebat, suara petir saling bergantian dengan kilat. Maria menggigil, ia mengusap wajahnya untuk menghapus air hujan yang menghalangi penglihatannya. Di saat itu pula ia terkejut melihat Shabita sudah berada di depannya, dengan taring dan kuku runcing. Maria mundur perlahan sambil mengayunkan cangkul di tangannya. "Mundur! Kalau tidak aku akan menyerangmu!" Ia mencoba menakuti Shabita dengan itu. Namun, Shabita tetap maju, sekarang malah dirinya yang terdesak hingga ke pinggir liang kubur yang ia buat sendiri. Ia memandang ke belakang, kemudian memandang ke depan. "Mundur!" ancamnya. Shabita tetap melangkah maju, maka tidak ada pilihan lain, ia harus maju menyerang. Maria berlari ke arah Shabita, ia menyerangnya dengan cangkul. Terkejut saat Shabita menangkap dan malah menarik dirinya untuk mendekat.
"Aku lapar!" Shabita mengeluarkan taringnya.
"Ja--jangan!" Maria berusaha lepas, tetapi terlambat. Shabita telah menghisap darahnya.
__ADS_1
Shabita mendorong Maria ke kuburan yang dibuat Maria sendiri. Shabita mengangkat tangannya dan menggunakan kesaktiannya untuk menggerakkan tanah di sekitarnya agar menutup dengan sendirinya. Ia tersenyum puas dan kembali ke Rumah sakit. Berpura-pura tidur kembali.