
Anggara menguap saat di kantor, pemuda itu memang tidak tidur semalam lantaran harus ikut melihat ke rumah kosong yang dijadikan tempat bersembunyi Tini dan majikannya. Hari ini pun ia harus tiba di kantor untuk membuat laporan, selain harus tugas lain.
"Lembur keknya semalam?" tegur Ridwan. Pemuda sedikit lebih langsing tubuhnya dari Anggara itu menaruh secangkir kopi hanga di meja Anggara.
"Makasih," kata Anggara. "Iya, nih. Malam tadi ada kasus di tempatku," jawabnya.
"Kasus apa?" tanya Ridwan. Ia mengambil tempat duduk di depan Anggara.
"Penangkapan Kuyang," jawab pemuda itu sambil bersandar dan meraih topi untuk dipeganginya.
"Cantik tidak?" celutuk Adi. Ia mendengar Anggara bercerita dengan Ridwan pada saat akan keluar untuk patroli.
"Apa urusanmu?" sindir Anggara.
Pemuda manis itu cengar-cengir. "Kalau cantik titip salam."
"Sinting," ejek Anggara.
"Dia niat buat dekat sama binimu," bisik Ridwan.
"Hums." Anggara menghela napas maklum dengan kekurangan sahabatnya. "Sana kerja!"
"Jangan dihiraukan." Ridwan mengalihkan perhatian Anggara padanya. "Kenapa tidak dibawa ke sini?" tanyanya.
"Sama aja. Di sana ada masyarakat yang mengamankan." Anggara diam sesaat. "Ternyata ada majikannya, aku baru tahu ada peternakan Kuyang."
"Iyakah?" Ridwan tidak percaya. Ia berkerut karena baru mendengarnya. "di mana itu, siapa yang cerita?"
"Tini, orang yang jadi Kuyang. Di Banjarmasin katanya."
"Ada-ada aja," kata Ridwan sambil mengibas tangannya ke udara. "Setahu aku yang jadi Kuyang itu: belajar, warisan, dipilih. Apa mereka pilihan?"
"Kayaknya pilihan, tapi yang milih ini manusia bukan jin itu."
"Baru dengar aku." Ridwan tertawa getir. Ia meminum kopinya. "Tetanggaku pernah itu, suka tidur di waktu orang salat Magrib. Kata ibuku jangan tidur di senja hari nanti jadi hantu orang. Eh, benar dia jadi Kuyang gara-gara tidur senja mulu." Ridwan tertawa gelak.
"Pilihan mungkin, nggak juga kali." Anggara membantah ucapan Ridwan. "Paling sulit jodoh atau kerasukan." Anggara kembali menguap.
"Pulang saja. Izin saja dulu," sarannya.
"Aku mau mengurusi laporan wargaku dulu baru pulang," jawab Anggara.
***
Tini sedang membantu memotong sayuran di depan rumah Pak RT. Ia sesekali melirik Dara yang sedang diasuh Shabita. Gadis itu mengalihkan pandangannya ketika Shabita memandang langsung ke arahnya.
"Hati-hati, dia suka melihat Dara dari tadi," bisik perempuan di sebelah rumah Shabita.
Pelakor ini lagi, sok perhatian. "Saya lebih berhati-hati sama Anda," cetusnya.
"Mengapa, apakah Anda takut kalah pesona dengan keindahan, kemolekan, kejelitaan saya," ujarnya sambil berlenggok memamerkan kecantikan dirinya.
Tini tertawa dikulum saat memandang kelakuan perempuan itu.
Shabita tersenyum manis, ia memberikan Dara pada Tini. Tini sempat heran mengapa Shabita tidak takut dirinya memegang anaknya. "Kamu bilang apa, cantik lebih menggoda dari saya?" singgungnya seraya maju. Perempuan itu malah mundur. "Kamu mau niat ngambil Anggara dariku kan? Ayo ngaku aja?"
"Anggara-nya yang mau. Bukan saya yang menggoda," dustanya.
"Masa?" Shabita menggeratakkan tangannya. Merenggangkan semua otot tubuh, siap untuk memberi pelajaran pada perempuan itu.
"Oh, mau main otot. Ayo!" tantangnya.
__ADS_1
"Tini, ngapain kamu pegang anak orang!" bentak Bu RT karena tidak tahu permasalahannya. Dipikirnya Tini sengaja menculik Dara.
"Di depan," tunjuk Tini.
Bu RT segera memandang ke depan. Shabita sedang menghajar perempuan itu habis-habisan. "Hey! Apa-apaan kalian?!" bentaknya seraya berjallan ke arah mereka berdua.
Para warga yang rumahnya dekat dengan mereka, akhirnya keluar dari rumah untuk melihat keributan itu.
"Kurang Asam!" bentak perempuan itu sambil membalas menjambak rambut Shabita.
Shabita yang rambutnya ditarik tidak mau kalah ia menendang, kemudian dipelintirnya tangan orang itu lalu digigitnya leher perempuan itu.
"AAA! Mama!" pekiknya kesakitan.
"Rasain!" Salah satu warga bukannya melerai malah menyumpahi.
"Pisah-pisah!" Akhirnya Pak RT datang melerai. "Kalian seperti anak kecil saja!" amuknya.
Shabita berantakan, terlebih lagi perempuan itu sudah amburadul tampilannya.
"Dia menggigit saya!" tuding perempuan itu sambil memegangi lehernya.
"Udah biasa makan orang, sih. Harap maklum, jiwa bar-bar suka kumat," dalih Shabita sambil mengusap pelipisnya dan mengalihkan pandangan ke lain arah.
"Apa masalah kalian, hah? Kenapa sampai berkelahi begini?"
"Dia duluan serang saya!" tuding perempuan itu lagi.
"Vanesa! Diam!" bentak Bu RT pada perempuan itu.
Shabita mendelik tidak percaya, nama perempuan itu juga Vanesa. Sial, napa nyama-nyamain nama orang!
"Tapi di sini saya yang paling menderita!" protes Vanesa. Ia menghentakkan kakinya.
"Karena namanya sama. Saya paling anti, kalau ada nama yang sama bawaannya pengen ngebunuh aja," jawab Shabita sambil melirik Vanesa.
"Cuma karena itu?" Bu RT tidak percaya. Ia kemudian beralih pada Tini yang sedang mengasuh Dara. "Kamu lihat awalnya seperti apa, kan? Jelaskan!"
"Dia memamerkan kecantikannya. Membandingkan dengan ibu dari anak ini," kata Tini.
"Ngapain kamu marah cuma dia bilang gitu?" tanya Bu RT.
"Dia mau merebut suami saya," jawab Shabita.
"Elah, pelakor lagi!" kata salah satu dari mereka yang melihat tempat itu.
"Bohong! Suaminya sendiri yang ngerayu saya!" ralat Vanesa sambil menunjuk wajah Shabita.
"Udah, panggil Anggara aja," bisik Bu RT pada suaminya.
"Kalian duduk di teras rumah saya. Saya akan panggil Anggara!" suruh Pak RT.
Shabita dan Vanesa mentaati, walau di jalan mereka masih saling dorong.
Anggara segera pulang sesaat mendapat chat dari Pak RT. Ia tiba dan merasa heran karena banyak warga yang berkumpul di rumah RT tersebut.
"Ngapain kalian kumpul-kumpul?" tanyanya heran.
"Bini lu, ribut!" sahut bapak yang malam itu sangkarnya dipakai warga untuk mengurung Kuyang malam tadi.
Anggara segera masuk, ia memandang kaget wajah Vanesa yang tidak karuan kemudian tersenyum memandang wajah istrinya.
__ADS_1
"Anggara, gimana ini binimu? Dia bertengkar dengan Vanesa!" lapor Pak RT.
"Siapa Vanesa?" tanya Anggara heran. Masa iya Vanesa bertengkar dengan dirinya sendiri.
"Itu, perempuan yang sok mirip denganku!" hina Shabita.
Anggara nyaris tertawa, ia baru tahu bahwa tetangga mereka memiliki nama yang sama dengan istrinya.
"Jangan senyam-senyum gitu. Ini gimana mereka?" tegur Pak RT.
"Masalahnya apa?" tanya Anggara.
"Dia nuduh saya merebut kamu. Padahal kamu yang menggoda saya!" Vanesa memutar balik fakta.
"Oh, gitu." Anggara tidak berkata apa pun. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Terus betulkah itu?" tanya Bu RT.
Tini datang, ia menyajikan minuman untuk mereka. Tini sempat kecewa karena Anggara ternyata telah beristri, tetapi membandingkan dirinya dengan Shabita sepertinya dirinya bukanlah apa-apa.
"Tidak. Saya setia, tidak akan selingkuh." Anggara memandang Shabita yang buang muka.
"Gombal!" hina Shabita pelan.
"Terus apa selama ini?!" protes perempuan itu. Ia berdiri hendak meraih Anggara.
"Maaf, Bu. Anda salah paham, saya baik bukan karena suka, tapi memang kewajiban saya kepada warga," jelas Anggara.
"Sa-"
"Sudah! Sebaiknya kalian pulang saja. Ini cuma salah paham!" kata Pak RT. Ia memotong perkataan Vanesa.
Semua warga bubar termasuk Anggara yang segera meraih Dara dan merangkul Shabita untuk pulang bersamanya.
"Awas kalian!" kata Vanesa.
"Ngapain masih di sini? Pulang!" bentak Pak RT.
Terpaksa Vanesa pulang dalam keadaan marah.
Shabita duduk di sisi kasur. Ia cemberut saat Anggara menaruh Dara untuk ditidurkan olehnya.
"Udah, jangan cemberut gitu," tegur Anggara. Ia mengusap lembut rambut Shabita.
"Huh!"
"Aku nggak nyangka kamu cemburu sampai begitu," kata Anggara.
"Nggak cemburu!" bantahnya, tetapi wajah merah malu tidak dapat disembunyikan dari penglihatan Anggara.
"Oh, nggak ya? Dia cantik, baik. dia--eh!" Ia berhenti karena bibirnya ditarik Shabita kuat-kuat.
"Ngomong lagi!" ancam Shabita. Shabita puas, ia melepaskan Anggara yang kini sedang mengusap bibirnya yang sakit.
"Tega amat," ucapnya pelan. "Aku harus balik lagi, nih. Tadi izin cuma sebentar," kata Anggara.
"Balik lagi? Kemarin kamu pulang telat, terus datang-datang mengurusi Tini. Sekarang mau balik lagi!" protes Shabita. Anggara hampir tidak ada waktu untuknya. Setelah mereka menikah Anggara hanya memeluk tidak pernah mencium apalagi melakukan hubungan suami-istri. Waktunya tersita untuk bekerja saja.
"Malam ini aku pulang lebih cepat. Janji, kok. Kan ada Tini, aku juga takut dia berubah terus ngincar Dara."
"Cuma Dara? Aku nggak kamu pikirin?"
__ADS_1
"Udah besar!" canda Anggara.
"Sial!" umpat Shabita.