
Shabita terbangun tepat pukul 2 pagi, ia memandang Anggara yang meringkuk kedinginan di bawah sana. Dibawa rasa kasihan akhirnya diambilnya selimut untuk menutupi tubuh pemuda itu. Alangkah terkejutnya dirinya saat tangan Anggara meraihnya. "Panas!" Shabita lalu memeriksa keningnya. "Ang!" Ia panik. Suhu tubuh pemuda itu begitu tinggi. Gadis itu segera keluar dari kamar, sedangkan Anggara menggigil. Tidak lama ia datang lagi membawa air putih dan sebaskom kecil untuk mengompres pemuda itu.
"Minumlah," pintanya seraya membantu Anggara untuk duduk dan meminumkan air mineral itu.
"Ran," sebut Anggara.
"Berbaringlah, aku akan merawatmu!" perintah Shabita. Ia mulai mengompres dahi pemuda ini.
"Kenapa sampai sakit, hem?"
"Biar dirawat kamu," jawab Anggara lemah.
"Sial! Kalau gitu tidak usah saja dirawat sekalian!" omel Shabita.
"Aku beneran sakit, kamu tega!"
"Makanya jangan ngegombal! Kamu itu!"
"Habisnya aku bosan dicuekin kamu," dalih Anggara.
Shabita menghela napas. Ia selesai mengompres Anggara. "Jangan terlalu serius bekerja hingga lupa makan, lupa kesehatan," nasehatnya.
"Karna kamu aku gini," keluh Anggara.
"Hem," hela Shabita. "Kamu tahu tempat ini berbahaya Anggara, tapi kamu tetap saja masuk. Apa kamu tidak takut dengan Talia dan ayahnya?" Shabita memandang Anggara yang sekarang menutup habis dirinya dengan selimut.
"Aku nggak mau jawab! Sakit hati rasanya!"
"Sakit hati kenapa ditungguin?" sindir Shabita. Ia kemudian duduk di sebelah pemuda itu.
"Kamu mungkin main pelet ke aku," kata Anggara.
Shabita menepuk punggug pemuda itu. "Enak aja kalau ngomong! Siapa yang memelet siapa?!" jengkel sekali Shabita, tetapi ia tertawa setelahnya.
Anggar membuka selimutnya, ia duduk dan memandang wajah Shabita. "Kamu bisa tertawa?" godanya.
"Kamu kira aku robot!" bentak gadis itu. "Tidurlah," pintanya. Nadanya mulai melunak.
"Enggak, kalau aku sembuh nanti kamu berubah lagi. Biar saja begini," tolaknya.
"Pintar," ejek Shabita. Gadis itu hendak berdiri, tetepi Anggara meraih tangannya. "Apa?" tanyanya.
"Di sini saja, ya?" mohonnya.
"Ngapain?" tanya Shabita ketus.
"Ran, jangan tinggalin aku, ya? Aku takut kehilanganmu," pintanya.
Shabita mendesah, ia mengalihkan pandangannya ke kiri. "Statusku dilihat. Jangan cuma mengandalkan perasaanmu saja," tekannya.
"Ran, apa kamu tidak suka padaku?"
Shabita diam, ia mencoba memandang mata Anggara. "Apa yang kamu lihat dariku?" Ia bertanya balik.
"Cinta," jawab Anggara.
"Bodoh! Aku tidak menyukai, sedari awal juga sudah tidak senang padamu. Letak cintanya dapat rumus dari mana kamu?"
"Rumus cintaku," goda Anggara seraya terbatuk.
"Sudah, istirahat saja. Nanti tambah parah, aku lagi yang kena omel Talia," kata Shabita seraya membaringkan pemuda itu kembali.
__ADS_1
"Janji, ya? Tidak akan berubah, walau aku sudah sembuh?"
"Lihat sicon," jawab Shabita.
"Kejamnya!" desah Anggara.
Shabita kembali ke tempat tidurnya, ia berbaring sambil memandang ke atas. Terdengar suara batukan Anggara, ia memiringkan tidurnya untuk melihat keadaan pemuda itu. Batuknya tambah parah, sehingga Shabita harus bangkit dari baringnya. "Bangkit!" paksanya.
"Kenapa?" tanya Anggara. Ia bersikeras tidak mau. "Apa kamu mau mengusirku?"
"Berdiri saja!"
"Tidak mau!"
"Berdiri!" bentak Shabita.
Terpaksa Anggara berdiri dan hendak menuju keluar kamar. "Ngapain kamu?" bentak Shabita.
"Keluar, mau apa lagi?" jawab Anggara dengan nada jengkel.
"Yang suruh keluar siapa?"
"Kamu!"
"Sembarangan! Kalau kamu ke kamar terus jatuh menggelinding di tangga, aku lagi yang salah!"
"Lalu?"
"Berbaring di ranjang!" perintah Shabita.
Anggara memandang ranjang dan Shabita secara bergantian. "Boleh?"
Shabita kesal ia menarik Anggara untuk berbaring. "Di sini saja, biar aku yang tidur di bawah."
"Mulutmu itu!" bentak Shabita. "Tidur saja!"
"Tidur di sini, ya?" pintanya.
"Enggak, ah."
"Kenapa, takut Talia, ya?"
"Apa perlu ditanya lagi?" tanya baliknya.
"Baik, aku tidur."Anggara mengalah. Ia berbaring dan menyelimuti dirinya.
Pagi jam 07:05, Shabita telah bangun. Ia ke dapur untuk membuat sarapan. Talia menguap seraya berjalan menghampiri kulkas.
"Kenapa kamu masak, bukannya biasa Anggara yang masak? Mana orang itu?" tanya Talia.
"Dia sakit," jawab Shabita. "Aku memasak untuknya."
"Sakit?" Talia heran. "Di mana dia?" tanyanya dengan wajah cemas.
"Di kamarku," jawab Shabita.
Talia segera berjalan menuju kamar Shabita. Ia melihat Anggara yang sedang berbaring di kasur Shabita. Gadis itu kemudian duduk di tepi ranjang sambil menempelkan punggung telapak tangannya. "Panas!" gumamnya.
"Rani," sebut Anggara.
"Ini aku Talia," ralatnya.
__ADS_1
"Talia," ucap Anggara. Ia segera duduk. "Kamu kenapa ke sini?"
"Tadi ibuku bilang kalau kamu sedang sakit, makanya aku datang untuk menengok," jawab Talia. "Apa perlu ke Rumah sakit?" tawarnya.
"Enggak perlu," jawabnya.
"Kamu kenapa bisa sakit? Apa ibuku terlalu kejam?"
"Sangat kejam!" tandasnya.
"Kenapa, kamu marah dengannya?"
"Tidak, cuma kesal dimarahi terus. Rasanya aku ingin berhenti saja," dalih Anggara. Ia sengaja membuat Talia memarahi gadis itu.
"Sebentar," pamitnya. Talia segera berjalan ke dapur. "Kenapa kamu selalu kasar padanya, hingga dia sakit begitu?"
Shabita yang menata makanan di atas nampan menjawab, "Apa kamu mau aku akrab dengannya, kemudian menikah dengannya?" sindir Shabita.
"Bu--bukan begitu--aku-"
"Sudahlah, ini memang salahku. Biar aku yang merawatnya," kata Shabita. Ia sempat tersenyum sebelum meninggalkan Talia.
Talia hanya menghela napas menatap kepergian ibu tirinya itu. Sungguh ia bingung dengan sikap Shabita terhadap Anggara.
"Makanlah," pinta Shabita. Ia menaruh nampan di atas kasur.
"Aku tidak selera," jawab Anggara.
"Biar kusuapi," tawar Shabita.
Anggara memandang Shabita yang menyiapkan makan untuknya. Ia duduk dan membuka lebar mulutnya ketika gadis ini menyuapinya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sakit, Anggara. Hanya saja aku takut kalau kamu terus di sini," jujurnya.
"Ran, kenapa kamu tidak pergi bersamaku saja?"
"Dengan keadaan mengandung begini?"
"Aku menerimamu," jawab Anggara.
"Jangan bercanda. Aku bahagia di sini," tolak Shabita.
"Aku yang menderita," jawab Anggara. Ia kembali membuka lebar mulutnya.
"Ternyata walau sakit, makanmu banyak, ya? Aku curiga kamu cuma pura-pura?" sindir Shabita.
"Aku tidak mau makan lagi!" Anggara mengambek. Ia akan tidur kembali.
"Jangan kayak anak kecil," cegah Shabita sambil menahan pemuda itu. "Makanlah," pintanya.
"Benci aku denganmu. Sangat benci!" bentak Anggara.
"Aku juga benci!" Shabita balas membentak.
"Apa yang kamu tidak suka dariku?" tanya Anggara.
"Tidak ada," jawab Shabita sambil memberi segelas air putih pada pemuda itu.
Bukannya meminum, pemuda itu mengambil gelas berisi air, kemudian disiramkan secara kasar ke wajah Shabita. "Aku benar-benar benci!"
Shabita menyeka wajahnya yang basah, ia tersenyum. "Rela mati untukku, kah? Apa kamu tidak takut pada mereka? Bagaimana kalau hidupmu berakhir dengan kematian karenaku?" Shabita memandang tajam Anggara.
__ADS_1
"Ku'tanya? Cinta atau tidak?! Kalau tidak aku tetap mengejarmu, kalau cinta ikut aku, kita pergi dari sini!" Anggara menatap Shabita penuh harap.
Shabita tersenyum seraya menggeleng lemah. Membuat Anggara meremas rambutnya dan menangis. Namun, segera ia ceria lantaran Shabita berucap, "Sembuhkan dulu dirimu. Aku akan ikut bersamamu," sedianya.