TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
6 Geger Kematian Vanesa


__ADS_3

Terbangun di tempat yang gelap dan pengap, membuat gadis itu menjadi kelabakan. Pasalnya ia tidak paham kenapa ia bisa berada di tempat itu. Ia terus berontak dan menggedor benda yang keras yang menghalangi gerakannya.


"Kenapa aku bisa berbaring di sini? Tolong! Tolong!" teriaknya seraya terus mendorong benda keras yang menghalanginya untuk bangkit.


"Vanesa ... Vanesssa!" Suara seorang perempuan memanggil namanya.


Vanesa segera menghentikan kelakuannya, ia sekarang fokus mendengarkan suara serak itu memanggilnya. "Siapa itu?" tanya gadis itu.


"Aku, arwah yang selalu mendampingimu," katanya.


"Kuyang!" sebut Vanesa dengan nada kesal.


"Bukan," kilahnya.


"Lalu?"


"Kamu ingat arwah berpakaian putih yang tersenyum denganmu di Rumah sakit dan di dapurmu dua hari yang lalu, 'kan? Itu aku," kata suara itu.


Vanesa mulai menerawang ingatannya ke masa di mana ia pernah bertemu dengan arwah itu. Setelah ingat gadis itu kemudian tersenyum dan mengangguk. "Tahukah kamu di mana ini?" tanya Vanesa


"Alam kubur," jawab arwah itu.


"Kau bercanda?" tanya Vanesa seakan masih sangsi dengan pernyataan arwah barusan.


"Tidak," jawab arwah itu singkat dan jelas.


Vanesa tiba-tiba panik ketika mendengar kata 'tidak'. "Tidak mungkin, aku belum mati!" teriak gadis itu yang kembali berusaha mendorong sesuatu yang kasar di depannya.


"Dorong terus papan kuburan itu!" perintahnya.


Perbuatan Vanesa terhenti di kala mendengar arwah itu berucap 'papan kuburan'. "Apa, kenapa aku bisa berada di sini? Siapa yang menguburku?" tanyanya.


"Yang jelas kamu masih hidup. Untuk menceritakan itu semua kamu harus ke luar dari tempat ini sebelum waktumu habis(meninggal)."


"Bagaimana caranya aku ke luar?" tanya Vanesa dengan suara tertekan. Saat ini dia sedang mencoba mendorong papan kuburan yang dirasanya sangat berat. Rasa sesak mulai gadis itu rasakan. Vanesa mulai terbatuk-batuk.


"Berusahalah Vanesa." Arwah itu menyemangati.


"Uhuk, uhuk. Aku sudah tidak kuat lagi," keluh gadis itu.

__ADS_1


"Izinkan aku merasukimu, Vanesa?" ucapnya.


"Uhuk, uhuk. Baiklah," jawab Vanesa dengan suara dipaksakan keluar. Gadis itu sudah  menyerah dan sekarang berusaha percaya pada arwah yang berbicara padanya.


Kuburan di mana tempat Vanesa disemayamkan tiba-tiba bergetar dahsyat. Timbul asap putih menebal yang membumbung tinggi ke langit. Kemudian secara ajaib kuburan itu meledak. Sesosok tubuh melompat ke luar dan segera melayang ke udara.  Siapa lagi kalau bukan Vanesa sendiri. Kini di dalam tubuhnya bukan lagi jiwanya, melainkah arwah itu yang mengendalikan dirinya. Vanesa tertawa menyeramkan.


"Set-set-setaaan!!" teriak penjaga kuburan yang karena terkejut mendengar ledakan dahsyat tadi langsung mengecek lokasi kuburan.


Gadis itu menatap tajam penjaga kuburan yang lari tunggang-langgang sembari berteriak ketakutan. "Vanesa, akan kubawa kau ke duniaku. Sebelum aku mati," kata Vanesa yang sebenarnya dirasuki arwah tadi.Vanesa melayang dan melesat meninggalkan kuburan.


""""


Satu hari sebelum kematian Vanesa


Vanesa ada janji dengan Anggara untuk bertemu langsung di rumah sakit. Saat ini gadis itu tengah memandangi wajah pemuda yang tertidur lelap di sampingnya. Sesekali ia mendesah pasrah dan menghela napas berat.


Dokter datang dan berhenti tepat di depannya. Gadis itu segera berdiri dan mensejajarkan posisi mereka. Tampak dokter lelaki yang di dampingi oleh susternya itu sedang memberikan catatan hasil medis pada Vanesa.


Anggara terbangun dan mendapati dirinya tertidur di bangku rumah sakit, sedangkan begitu membuka mata ia sempat kaget bahwa gadis yang ditunggunya sudah berada di depannya. "Kamu, sejak kapan kamu datang?" tanyanya seraya berdiri.


Vanesa memandang sebentar ke arah Anggara, kemudian kembali lagi berbincang bersama dokter itu. "Saya tidak tahu, yang jelas saya juga akan memeriksanya. Karena ini juga berkaitan dengan saya," kata gadis itu.


Vanesa mengangguk saja. Ia membawa catatan medis Arsa di tangannya. Dengan didampingi para dokter dan juga suster, gadis itu masuk ke kamar Arsa. Anggara yang berada di belakang mereka juga ikut melihat.


"Dia tidur, tadi sudah saya beri bius dosis tinggi," kata Suster perawat.


Dokter memeriksa denyut nadinya dan memperhatikan mesin pemantau detak jantungnya. Ia menatap Vanesa dan memberi tanda bahwa pasien dalam keadaan stabil.


"Vanesa, coba kamu dekati dia. Aku penasaran, bagaimana reaksinya saat melihatmu," bisik Anggara.


Vanesa diam sejenak, suasana menjadi sunyi. Nampaknya mereka juga menunggu reaksi gadis itu. Vanesa maju selangkah demi selangkah tapi sebelum maju ia berkata, "Menjauhlah. Ini akan berbahaya," ucapnya dengan suara sedikit pelan.


"Mundur!" perintah Anggara.


Semua mundur dan merapat pada dinding. Sementara Vanesa dibiarkan mendekati Arsa. Gadis itu sangat berhati-hati sekali. Arsa yang tertidur pulas dengan tubuh terikat itu mulai menggerakkan jemarinya. Perlahan,  tapi pasti dan lama-kelamaan bergerak liar. Tangannya bergetar hebat, disusul dengan matanya yang terbuka secara tiba-tiba. Mereka yang berada di sana terkejut dan hampir berlari keluar. Arsa memutuskan jerat di tubuhnya hanya dengan sekali sentak saja. Ia memandang Vanesa dengan senyum menyeramkan.


"Vanesaaaa," desahnya dengan suara serak.


"Bukan aku yang kamu tuju. Bukan aku yang membuatmu begini!" sangkal gadis itu.

__ADS_1


Seperti tidak ingin tahu urusan, Arsa tetap saja menyebut nama itu berulang kali. Hingga Vanesa geram dibuatnya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia dirasuki saat itu.  "Vanessa," sebutnya lagi.


"Diam!" teriak gadis itu kalap dan segera mencengkram kerah baju Arsa.


"Vanesaa," panggilnya lagi, kali ini disertai dengan tangisan darah dari matanya.


Melihat itu tak kuasa Vanesa ikut menangis pula. Darah mengalir dari kedua mata Vanesa. Anggara yang kaget di mana dua insan di depannya sama-sama menangis darah, membuatnya nekat membuka baju seragamnya dan berlari untuk menutupi mata gadis itu. Sedangkan Arsa segera ditangani oleh medis.


"Cepat bawa Vanesa ke kamar sebelah. Yang lain ayo bantu saya tangani pasien ini!" perintah Dokter.


"Vanesaaa!!" teriak Arsa histeris, tidak mau berpisah dari gadis itu.


Arsa diobati dengan sedikit paksaan karena pemuda itu berontak saat akan dibaringkan. Tubuhnya diikat kembali seperti semula. Suster menyuntikkan bius lagi ke tangannya.


Anggara segera membaringkan Vanesa ke kasur. Gadis itu kini diperiksa matanya. Darah terus mengalir tanpa henti dan membuat para dokter makin panik.


"Dia bisa buta, atau yang lebih parah lagi ia bisa meninggal," kata Dokter.


"Dok, suntikan ini gak mempan. Jarum suntiknya patah!"  lapor Susternya.


"Hah! Apa?!" Dokter itu segera berlari kecil memandang lengan gadis itu, diraba dan dipriksa tingkat keelastisan kulitnya. "Kemarikan jarum suntik itu lagi, berikan yang sedikit khusus!" perintahnya. Yang sedikit khusus itu yang bentuknya kecil, tipis dan lebih tajam. Suster itu dengan segera memberikan botol bius bersama jarum suntik.


"Pegangi dia!" perintahnya.


Vanesa dipegangi dan disuntik. Anggara memandang Vanesa dengan cemas sembari memperhatikan cara dokter menanganinya. Tidak lama kemudian gadis itu kini tertidur pulas.


"Kita akan cek kondisinya lagi setelah ia sadar. Untuk sementara bisakah Anda menunggunya di sini," pinta Dokter itu.


"Baiklah," jawab Anggara lemah.


Mereka meninggalkan Anggara bersama Vanesa. Pemuda itu memandang gadis itu dengan iba. Sebenarnya ia ingin bertanya tentang Arsa, tapi situasinya malah semakin parah begini. Helaan napas keluar lagi dari mulutnya, rasanya hari ini lebih melelahkan dari biasanya.


Pukul 18:00 sore, sebelum azan Magrib. Anggara memutuskan untuk keluar dulu sembari menengok Arsa. Dilihatnya Arsa masih tertidur dan perasaannya sungguh lega karena dokter mengatakan bahwa Arsa sedang sehat, hanya butuh pemulihan saja. Sungguh mukjizat padahal ia baru beberapa jam lalu dinyatakan sekarat.


Arsa kembali lagi ke kamar Vanesa dan mendapati seorang suster berteriak histeris ketakutan. "Ada apa?!" tanyanya penasaran.


Suster itu menunjuk ke arah ranjang dan alangkah terkejutnya Anggara menyaksikan kejadian tragis di kasur tersebut. Gadis yang dipikirkannya saat ini terbaring tanpa kepala.


Belum habis rasa terkejutnya, seorang dokter datang membawa kabar duka lagi padanya. "Gawat Anggara! Arsa meninggal," beritahunya.

__ADS_1


Bagaimana mungkin, mereka berdua meninggal. Apa yang terjadi sebenarnya?


__ADS_2