TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
PEMBAWA SIAL


__ADS_3

Zesi terbangun. Dirinya tak sadarkan diri semalam. Gadis ini meraba wajahnya kemudian bercermin. Terlihat normal. "Apa aku semalam salah lihat?" Ia menggaruk kepala. Zesi melirik weker. "Eh, jam 10!" Ia meremas kepala. "Aku harus bertemu Bagus!" Gadis ini lantas bersiap. Ia tidak tahu bahwa Maika berada di belakangnya. Dengan tidak sadar semudah itu Zesi berganti pakaian dan ke luar "Eh, kok motor mogok, padahal tadi malam aman?" Ia coba memeriksa bensin. Masih ada. "Ini apa yang salah?" Zesi menggaruk kembali kepalanya. "Ah, kacau, deh!" Zesi ke luar dari area rumahnya. Ia berencana menggunakan jasa taksi, tetapi hingga setengah jam tak jua ada taksi yang lalu. Zesi menggaruk kasar siku kanan. "Duh, bisa hitam kalau begini!"


Tak lama ada sebuah angkutan umum. Ia segera melambai. Angkutan pun berhenti. Gadis ini masuk. Seorang nenek sedang mengajak cucunya ke pasar, kini kewalahan. Cucu tersebut yang kini usianya baru menginjak emat tahun menangis sembari memaksa pergi. "Bentar-bentar lagi kita turun, Cu."


"Nenek, tulun!"


"Iya, nanti. Sabar, Cu!" Sebisanya menghadapi, tetapi si anak masih saja tidak tenang. "Kamu mau apa, sih, Cu? Nenek, bingung. Ngomong, dong!"


"Tulun! Tulun, Nek! Akut!"


Zesi menawarkan permen. "Mungkin Adik mau ini?"


"Nenek!" Si anak langsung kejang-kejang. Wajahnya membiru.


"Aduh, kenapa itu cucunya, Nek?!" seru seorang ibu yang duduk di hadapan mereka.


"Kenapa ini? Cu ... Cu!"


Zesi terdiam. Ia juga tidak menyangka. Hingga dirinya turun dari angkutan. Anak itu barulah menjadi normal. Zesi memandang kepergian angkutan. Maika melambai saat si nenek melihat ke arah Zesi. Ia terkejut saat mengetahui bahwa gadis itu membawa sial. Pantaskan cucunya panik. Zesi yang masih belum menyadari kini mendatangi supermaket di mana Bagus sedang bekerja. "Hai, Bagus!" Zesi melompat dan mengejutkannya di meja kasir.


Bagus mengendus aroma melati. "Kamu pakai parfum Kuntilanak, ya?"


"Ih, bercanda, deh."


"Serius! Tadi nggak ada bau ini, loh."


Zesi akhirnya mengendus diri. "Eh, iya. Kok, bau melati, aku nggak ngerasa pakai, loh!"


"Tapi, dapat dari mana, tuh bau?"


"Em, aku tadi naik angkot. Mungkin ketularan bau parfum salah satu penumpang." Zesi kemudian menumpukan dagu pada tangan yang menumpu pada meja. "Gus, i love u. Kamu suka juga, atau suka sekali?"


"Ngomong apa, sih kamu?"


"Serius, kamu itu lagi aku tembak, tahu! Nih, aku bela-belain pakai dress kemeja ungu kayak Dara biar kamu tertarik."


"Oh, ho'oh."


"Ih, kok, gitu, sih?!" Ia memukul pelan tangan Bagus.


"Kamu belanja atau cuma mau nyatain itu aja?"


"Keduanya."


"Oke, yang pertama sudah. Belanja sana!"


"Bagus!" Zesi menghentak kaki.


"Apa?"


"Kamu kok, gini?"


"Aku lagi kerja Zesi."


"Huh, aku belanja!" Zesi pergi. "Kok, dia tidak terpengaruh, sih?" Ia berpura-pura sedang memilih mie kemasan.


Bagus melirik Zesi diam-diam. Ia heran mengapa senang melirik Zesi. Namun, Bagus berusaha menahan diri. "Ada Dara!" tekannya.


"Gus, aku beli mie. Kamu temani aku makan!"


"Aku jaga kasir. Temanku belum datang."


"Ih, masa aku makan sendiri?!"


"Bagian air panasnya di pojok kiri."


"Ah, nggak jadi!" Ia menyerahkan mie.


"Nggak jadi dibeli ini?"


"Nggak!"


"Baiklah. Silakan datang lagi nanti. Terima kasih telah berkunjung."


"Hah!" Zesi mendesah kesal. "Gus, kamu nggak suka sama aku?"


"Suka."


"Terus?"


"Apa?"

__ADS_1


"Market ini kok, sepi?" gumam Bagus.


"Gus!" Zesi menggebrak meja.


"Apa?"


"Kamu dengar aku nggak?" Mulai kesal. Hingga ingin sekali menahan wajah Bagus agar menghadap dan melihat padanya.


"Dengar."


"Terus kalau suka kenapa tidak menerimaku?"


"Ada cewekku, Zesi."


"Selingkuh aja."


"Nggak malu kamu ngomong gitu? Nanti kamu yang diselingkuhi."


"Gimana kalau putus aja?"


"Nggak, ah!"


"Apa, sih hebatnya dia?"


"Rahasia, dong."


"Hem, kayaknya aku kurang persembahan," batinnya. "Gus, aku pulang dulu, ya. Nanti kalau kamu kangen bisa telepon aku."


"Ya, kalau ingat."


"Dasar!" Namun, begitu gadis ini tak sakit hati.


Berselang beberapa menit barulah banyak pengunjung yang masuk ke market. Bagus kewalahan. Teman yang bekerja di siang hari kini masuk. Danu namanya. "Gus, kok tadi toko tutup?"


"Eh, tutup? Nggak kok, buka."


"Tadi tutup, banyak pembeli yang nunggu di teras."


Bagus berkerut dahi. Dia tak melihat ada mereka di teras. "Aneh."


Maika masih mengikuti Zesi. Gadis itu kini duduk di bangku panjang warung kaki lima. "Om, pesan bakso!"


"Iya, Dek!"


"Eh, apa, Dek?" Pedagang itu terkejut. Ia menghampiri. Di lihat dengan teliti. "Jangan mengarang, Dek. Ini nggak ada cacingnya."


"Iya, ini lihat!" Zesi berdiri saat cacing menggeliat keluar dari mangkuk. "Tuh, jalan dia!"


"Ada apa, Bang?" tanya seorang lelaki berbaju putih. menyandang ransel hitam.


"Ini, katanya cacing. Saya tidak merasa yang saya jual demikian!"


Pemuda ini memperhatikan bahkan diaduk-aduk. "Ah, fitnah! Cantik-cantik tukang bohong, nih!"


"Serius, ini cacing. Tuh, kenapa basonya berubah jadi bola mata!"


"Gila ini orang," sahut seorang ibu yang ikut pula menyimak sedari tadi.


"Sana pergi! Bikin warung aku mati aja!"


"Tapi, be-"


"Pergi!" usir mereka.


"Ye, dibilangin nggak percaya, sih!" Zesi kemudian mencari sebuah taksi. Hal sama terjadi. Taksi tak di dapat malah kini ia harus berjalan. "Kenapa aku sial banget!" pekiknya di tengah keramaian.


"Gila," gumam orang yang melihatnya. Gadis ini lantas segera berlari kecil menghindari tatapan mereka.


***


Sore hari Dara mengenakan celana hijau selutut dan baju kaus putih bermotif kupu-kupu emas. Ia saat ini sedang menyiram tanaman. Dara terkejut saat Bagus datang.


"Eh, kupikir kamu nggak ada waktu?"


"Ada, dong. Kuusahakan."


"Semalam bilang nggak bisa."


"Supaya kamu jangan berharap."


"Ih, nakal!" Dara mendorong Bagus.

__ADS_1


"Lagi ngapain?"


"Main air."


"Eh, kita ini pacaran nggak, sih?" bisik Bagus.


"Enggak. Kenal kamu aja, nggak. Kukira sales kosmetik atau cuma nanya alamat."


"Wih, kejam." Bagus berdecak. "Kenalan, yuk!"


"Ngapain, nggak mau, ah!"


"Sombong. Aku pulang, nih!"


"Eh, jangan dong. Aku sendirian di rumah."


"Papa sama mamamu?"


"Nggak ada."


"Eh, apa, tuh yang nggak ada?" seru Lani. "Jangan ini itu, loh. Nanti Lani aduin sama papa!"


Dara dan Bagus tertawa. Mereka menertawakan candaan tadi. Lani menghampiri. "Kak Bagus, kok jarang datang, dimarah apa?"


"Apalagi selain itu. Kamu, sih bilang."


"Ih, kok, Kak Bagus menyalahkan aku, sih?"


"Diam saja kalau kakak di sini."


"Oke, Lani diam."


"Diam mulutnya. Tangannya lagi ngetik pesan," sindir Dara.


"Eh, hehehe .... maaf." Dara bergelayutan manja di lengan kanan Dara.


"Bagus, mau minum apa?"


"Lagi puasa, nih."


"Kak Bagus, puasa?" tanya Lani.


"Iya."


"Dalam rangka apa?" tanya Dara.


"Dalam rangka nggak ada duit."


"Bercanda mulu, ah!" Dara meraih tangan Bagus. "Makan, yuk. Dara, tadi masak enak."


"Cuma tempe, Kak."


"Enak tahu!"


"Halah, bosan!" Lani menepis udara.


"Apa sajalah yang penting makan. Kalau mau enak nanti tunggu abang gajian."


"Wih, belum nikah sudah ada yang memberi nafkah nih," olok Lani.


"Sudah, ah. Malu tahu!" Dara mendorong lengan Lani.


Bagus duduk manis di teras. Ia menerima telepon. Bagus heran karena tidak pernah mengenal nomor itu sebelumnya. "Halo?"


"Kak, ini Maika!"


"Eh, Maika, kok tahu nomor kakak dari mana?"


"Maika nanya teman, Kak. Maika datang malam ini, ya, Kak!"


"Kakak nggak kerja."


"Eh, kenapa?"


"Rehat dulu. Besok sore baru kerja lagi."


Dara datang bersama Lani. Mereka menyiapkan makanan. "Gus, makan." Bagus menyimpan ponselnya. "Aku bermalam di sini, ya. Orang tua kalian nggak ada. Bagus, takut kalian kenapa-napa."


"Wah, seru!" Lani bertepuk tangan.


"Jangan bilang sama mereka!" ancam mereka.

__ADS_1


Lani terdiam. Ia mengunci mulut dan mengangguk patuh.


Zesi telah berganti pakaian. Ia tidak tahu bahwa ponselnya dipergunakan Maika dengan mengganti nomor selularnya. Zesi memandang ponsel yang harusnya ada di meja. Kini statusnya malah ada di atas kasur. Namun, ia menepis. Menganggap dirinya mungkin lupa. Ia lantas menaruh kembali ponsel. Zesi merasa ad yang menyentuh pundak. Ia melirik dan berteriak, "Aaaa!" Sebuah tangan dengan kuku runcing hitam lenyap saat dirinya melompat merapat pada dinding.


__ADS_2