TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
TERPAKSA


__ADS_3

Lani tersenyum saat Anggra dan Shabita hendak pamit bulan madu ke tempat Talia.


"Kok, mendadak, Pa?" tanya Dara.


"Tantemu katanya mau nikah. Jadi sekalian aja kita jalan. Papamu juga belum pernah ambil cuti."


Lani yang tidak terlalu banyak bicara ini hanya tersenyum mendengar mereka. Ia melirik Dara.


"Berapa hari lagi kalian akan pergi?" tanya Dara.


"Dua hari lagi. Soalnya tantemu mendadak sekali, sih. Malah udah dipesan sama dia jauh hari."


"Tante sama siapa, sih?" tanya Dara lagi.


"Nah, itu mama nggak tahu. Tantemu main rahasia-rahasiaan."


Dara sebenarnya tahu bahwa Talia bukan tantenya. Melainkan kakaknya. Hanya saja Shabita dan Anggara tidak ingin sampai Dara mengetahui masa lalu ayahnya dan semua garis darah hitam mereka.


"Mama, kok, Tante Talia baru akan nikah, udah tiga puluh lima lebih, loh." Lani menatap Anggara. Ia curiga pada Anggara yang perhatian pada Dara.


"Namanya juga jodoh." Anggara yang fokus menyaksikan televisi kini melirik Dara.


Lani memperhatikan sikap Anggara yang berbeda. Sangat spesial pada Dara. Shabita juga menyadari, tetapi ia tidak ingin kembali bersikap seperti kemarin-kemarin. "Papa, sayang mana, Dara apa Lani?" Ia merangkul lengan kiri Dara.


Anggara memandang baju kembar mereka. Warna biru muda bermotif beruang kecil memegang balon warna-warni. "Keduanya."


"Ih, harus pilih salah satu!"


"Keduanya, sayang. Kan semua anak mama dan papa," sela Shabita.


"Lani ingin jadi kakak. Papa, boleh Lani lurusin rambut?"


"Dibotak cantik sangat," canda Anggara sembari bersandar.


"Ilih, Papa gitu amat!" Lani cemberut.


"Ngapain, sih, kamu ikut kakakmu? Nanti mama susah bedain kalian berdua."


"Kakak banyak ditaksir cowok. Lani juga mau."


"Masih SMP kelas tiga juga!" Dara menepuk kening Lani.


"Sudahlah, mama sama papa mau siap-siap dulu." Shabita segera menuju kamar disusul oleh Anggara.


"Kak, rumah Kak Bagus di mana?"


"Kamu mau ngapel?"


"Kok, ngomong gitu? Kakak, kok, bilang gitu kayak nggak ada beban, nggak suka dia?"

__ADS_1


Dara meluruskan kakinya yang ada di lantai. Bermaksud merilekskan semua sendi. Ia hela napas sembari tersenyum. "Nggak tahu, ya. Kakak terus terang sukanya sama papa. Jadi nggak ada selama ini yang bisa mengalihkan hati kakak ke papa."


"Papa? Kok, dia?"


"Kayak semacam cinta pertama. Kakak sangat sayang dia."


Lani diam, ia melirik wajah Dara dari samping. Sementara Dara sedang bersandar sembari menggigit kuku jempol kanan. Terlihat jelas pikirannya saat ini sedang mengawang. "Apa itu suka sebagai anak, atau ...." Tak ingin berandai. Ia hanya memilih mengalihkan pandang ke siaran televisi yang saat ini mereka saksikan.


Anggara dan Shabita sedang menyiapkan baju serta keperluan lain. "Ma, ngasih kado apa, sih sama anakmu itu?"


"Nggak tahu. Risih rasanya. Talia kan, punya segalanya."


Anggara tahu, ia juga sebenarnya bingung. Talia orangnya suka mengejek. Ia cemas barang yang dihadiahkan tidak sesuai dengan Talia. "Sudahlah. Nanti kita pikirkan saat diperjalanan."


***


Bagus sedang mengenakan kaca mata. Ia duduk di kursi belajar sembari membaca komik. Terdengar suara ribut kedua orang tuanya di kamar bawah. Ia menutup telinga dengan earphone.


"Aku udah nggak tahan lagi kek, gini, Pa! Sampai kapan jadi gini terus, apa sampai mati?!"


"Iya, aku tahu salahku semua, tapi nggak bisa kita kembalikan lagi. Papa, mau ambil jabatan itu. Sebentar lagi pemilu. Papa, mau daftar jadi calon Bupati."


"Dapat uang dari mana untuk semua itu?"


"Mama sayang, kamu kan, bisa cari uang buat itu. Ini demi kita, masa depan kita, Ma."


"Kenapa selalu aku?!" Akhirnya Fine menangis sembari memukul dada sendiri. Ia amat tersiksa. "Aku selalu tidak tahan. Selalu haus darah. Aku tersiksa sekali!"


"Sudah!" Bagus datang kemudian menarik Fine. "Jangan suruh mamaku lagi!"


"Bagus, ini demi masa depan kita. Masa, kamu tidak mau hidup dihormati."


"Hormat?" Bagus tertawa miris. "Tugas mencari nafkah itu adalah tugas seorang ayah. Bila begini apanya yang mau dihormati. Jangankan jadi Bupati, sebagai orang tua dan suami saja tidak pantas."


"Bagus, lancang kamu!"


"Sudah-sudah!" Fine menengahi. "Biarkan mama berpikir."


"Nah, begitu dong. Itu baru istriku yang sayang. Nanti papa belikan lagi perhiasan buatmu." Ia tersenyum, tetapi pada Bagus matanya tajam.


"Ma, kenapa dituruti, sih?"


"Walau tidak dituruti juga. Mama tetap akan menjadi Kuyang."


Bagus mendesah kesal. Ayahnya memang baik, tapi baik bila ada maunya. "Mama, tahu risikonya menjadi Kuyang? Cucu mama yang nanti jadi korbannya!"


Fine tertawa getir. Bagus tahu Fine mulai kumat. Ibunya ini pernah masuk Rumah sakit jiwa lantaran tidak kuat menahan iblis yang ada di dalam tubuhnya. Fine semacam tumbal demi memenuhi keinginan papanya. Dia memang hidup, tetapi milik orang lain.


***

__ADS_1


Anggara dan Shabita dari pagi tidak di rumah. Mereka sibuk mencari sesuatu untuk kado. Lani melirik kamar Dara. Ia masuk perlahan saat Dara di kamar mandi. Gadis ini terkejut saat melihat banyaknya darah pada perban di dalam tempat pembuangan sampah di sudut ranjang.


"Kok, banyak darah, Kakak terluka?" Kriek! Suara pintu membuatnya terkejut. Ia segera bersembunyi. Entah kenapa ia takut Dara marah karena Dara pernah mewanti agar jangan berani masuk ke kamarnya. Lani bersembunyi di sudut ranjang. Ia duduk menekuk lutut.


Dara segera mengunci pintu. Ia yang kini sekarang melepaskan baju handuknya kemudian berkaca. "Sial, ini makin panjang aja!" decitnya sembari meraba leher. Dara kemudian membalutnya dengan kain panjang kemudian memakai dress berkerah merah muda setinggi lutut. Sembari bersenandung ia sadar giginya yang sedikit bertaring. Dara kembali berdecit saat bercermin. Ia kemudian meraih tas kecil warna putih yang tergantung di belakang pintu kemudian pergi.


Lani berdiri, ia menatap cermin kemudian memeriksa lehernya. "Kok, dia ada itu, aku nggak? Kenapa itu, ya?" Lani kemudian keluar saat mendengar suara motor singgah di depan rumah.


"Kamu lama nunggu?" tanya Bagus. Pemuda ini mengenakan kaus putih tanpa kerah.


"Ih, kayak gembel aja. Aku nggak mau, ah!" Dara berniat hendak masuk kembali, tetapi tangan kirinya segera diraih Bagus.


"Ini udah full penampilan kerenku, loh."


"Keren dari mananya. Ini kusut, ada noda olinya. Terus rambut kamu itu ... ih, kok nggak rapi?"


"Lah, bukannya kita dulu ketemunya pas aku kek gini. Ingat nggak waktu kamu nembak aku dari lantai 5. Terus bilang kalau ditolak bakal lompat?"


"Eh, dapat kehaluan dari mana kau? Nggak ada kisah macam itu, ya!"


"Ada, nggak ada diadakan saja."


"Nggak mau."


"Ayolah, nanti aku malu terus nangis."


"Anak mami banget, sih."


"Eh, Kak Bagus. Mau jalan?"


"Iya, nih."


"Lani boleh ikut?"


Dara berbalik sembari melipat dua tangan. Bagus melirik Lani. "Nggak bisa bonceng tiga, sayang."


"Yah." Lani terlihat kecewa.


"Kakak, mengalah, deh. Kamu mau jalan sama, Ba-"


"Dara, kamu lupa, ya? Kita kan ke rumah Dosen. Gimana bisa aku tinggal kamu?" serobotnya.


Lani terlihat kecewa. "Ya, sudah. Lain kali ajak Lani, ya, Kak." Ia kemudian masuk.


"Kamu, kok, bohong?" protes Dara.


"Aku ngajakin kamu, kok. Buat apa aku dandan kece gini kalau bukan buat kam-" Kepalanya didorong Dara.


"Kayak gembel aja disebut dandan. Mimpi!" Ia kemudian merampas helm dari Bagus. "Ayo, naik!"

__ADS_1


"Hehehe ...." Bagus segera menjalankan motornya.


Kini tinggal Lani sendiri yang mengintip di kaca teras. "Bagus, kenapa dia milih Kak Dara. Emang aku nggak cantik? Aku ingin seperti Dara."


__ADS_2