
Tidak terasa sudah dua bulan Anggara bekerja dan dicutikan. Kini ia harus kembali bekerja menjadi anggota kepolisian. Akhir-akhir ini pula mereka sering mendapat gangguan dari Kuyang, tetapi semenjak Anggara menjaganya, Dara tetap aman walaupun kadang selalu cemas bila Kuyang itu kembali lagi untuk meneror mereka.
"Kamu nggak papa, kan kalau aku tinggal kerja? Aku bisa tidak pulang semalaman lantaran kasus yang kuhadapi?" tanya Anggara di saat Shabita sedang memasak.
"Aku takut, tapi mau bagaimana lagi," jawab Shabita sambil memandang Anggara.
"Kamu sudah bersih, kan?"
"Emang kenapa?" tanya Shabita heran.
"Salat saja," sarannya.
"Tapi bagaimana aku meninggalkannya untuk mandi, atau ..."
"Aku pulang, SMS saja aku. Nanti aku pulang sebentar untuk menjaganya," usul Anggara.
"Em," gumam Shabita.
"Seminggu lagi kita nikah. Sudah siap belum?" bisik Anggara.
"Siap untuk ...?" Wajah Shabita memerah.
"Masak banyak. Hahahaha ...." Anggara tertawa.
"Memangnya berapa orang, sih yang diundang?"
"Sedikit, cuma tetangga dan teman-temanku. Kita jangan nikah besar-besar, aku takut malah Dara nggak keurus karena kita sibuk jadi raja dan ratu seharian."
Shabita heran memandang Anggara yang sekarang lebih banyak tertawa ketimbang berlaku tegas. "Kamu ketawa terus, Ang. Apa kamu gila?" tanya Shabita asal ceplos tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Aku bosan menangis, kecewa dan marah," jawab Anggara. "Aku cuma mau bahagia." Ia merangkul Shabita dari belakang.
"Aku sibuk di dapur, kamu nggak jagain Dara?"
"Oh, ya. Aku lupa!" Anggara menepuk dahinya. Ia segera pergi ke kamar Dara. "Papa datang," katanya sambil mengganggu tidur bayi itu. Dara nyaris menangis, tetapi karena memandang wajah Anggara ia diam dan berceloteh.
"Kuyang! Kuyang!" Suara dari luar mengagetkan Shabita. Ia segera berlari ke kamar mereka, Shabita lega karena Dara bersama Anggara.
"Eh! Ini kuping papa. Jangan dicubit!" kata Anggara sambil tertawa geli.
"Kuyang! Ada Kuyang!"
Tok, tok! Pintu mereka diketuk orang dari luar. Shabita segera menuju pintu kemudian membuka perlahan. Seorang perempuan cantik berbaju ungu nampak ketakutan. "Ya, ada apa?" tanya Shabita tapa curiga. Perempuan itu langsung menerobos masuk dan mengunci pintu rumah. "Hey! Kenapa kamu masuk tanpa kusuruh!" protes Shabita sambil mendorong perempuan itu agar keluar dari rumahnya.
"Jangan, Kak! Jangan suruh saya keluar!" mohonnya.
"Kuyang! Kuyang!"
Perempuan itu mengintip dari balik lubang pintu, nampak warga sedang membawa obor dan senjata tajam. Tok, tok ... tok! Pintu rumah mereka diketuk.
"Menyingkir!" Shabita segera mendorong perempuan itu agar menyingkir dari pintu. Karena ia kalah dengan tenaga Shabita maka perempuan itu berlari dan bersembunyi di dapur Shabita. "Ada apa, Pak?" tanyanya pada warga yang berkumpul di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
"Bapak Anggara ada?" tanya seorang bapak berpeci hitam mengenakan koko putih.
"Anggara!" panggil Shabita. ia sempat heran melihat perempuan itu tidak adalagi di dekatnya.
"Iya, sayang!" sahut Anggara sambil menggendong Dara.
"Mereka nyari kamu, tuh." Shabita menunjuk mereka.
"Ada apa, ya, Pak?" tanya Anggara.
"Ada Kuyang, Pak di sekitar sini!" kata bapak itu.
"Kuyang?" Anggara mengerutkan dahinya. "Di mana ketemunya?"
"Tadi dia mengintai bayi yang sedang tidur di gang sebelah. Terus larinya di area sini."
"Ciri-cirinya?"
"Berbaju ungu memakai selendang. Kami curiga dia Kuyang, soalnya ada yang sempat melihatnya mau mutus kepala di dekat rumah korbannya." Perkataan itu keluar dari bibir seorang pemuda tanggung berumur enam belas tahun, berbaju putih abu-abu.
"Anggara!" Shabita menarik Anggara ke dalam.
"Apa?"
"Dia tadi di dalam sini," adu Shabita dengan wajah cemas.
"Yang benar kamu?!" tanya Anggara dengan suara keras.
"Kata istri saya dia di sini tadi," jawab Anggara.
"Kami boleh masuk untuk memeriksa?" tanya bapak berpeci itu.
"Silakan," jawab Anggara.
Shabita merangkul lengan Anggara. "Bagaimana kalau dia tidak jahat. Bisa jadi dia sama sepertiku?"
"Sama atau tidak yang penting cari aman dulu. Aku nggak mau sampai anak kita jadi korbannya," jawab Anggara tegas dengan nada pelan.
Mereka kembali dengan wajah kecewa. "Kami sudah mencari di dalam rumah ini, tetap tidak ada."
"Sebaiknya kita cari di tempat lain. Bisa jadi dia keluar lewat belakang atau jendela," usul seorang bapak bertubuh gemuk. Berbaju kuning pembawa parang.
Shabita kembali menutup pintu. Ia meraih Dara dari Anggara. "Aku takut, Anggara."
"Tidurlah, aku harus berjaga-jaga dulu." Anggara mengusap rambut Shabita. Ia mengantar gadis itu ke kamar kemudian keluar untuk ikut mereka mencari Kuyang tersebut.
"Siapa?" tanya Shabita saat suara langkah kaki mendekati kamarnya.
Uwe! Uwe! Dara menangis. Shabita segera merangkulnya. Ia merinding ketakutan. Dara masih menangis, ia berdoa semoga yang datang itu Anggara. Suara itu tidak terdengar lagi, Dara pun tenang kembali.
Tok tok tok! Pintu diketuk. Ia bergegas menuju pintu. Ia heran setelah dibuka pintu tidak ada seorang pun yang ada. Kemudian ia curiga setelah mendengar Dara menangis kembali. "Dara!" teriaknya. Dengan cepat Shabita berlari ke kamarnya.
__ADS_1
Perempuan yang mereka duga tadi berdiri memandang Dara yang sedang menangis.
"Jauhi dia!" bentak Shabita.
"Tidak akan. Aku sudah lapar, bila dalam seminggu tidak makan maka aku bisa mati!" katanya.
"Dia bukan mangsamu! Pergilah!" usirnya sambil meraih botol parfum kaca di atas meja.
"Hem," gumam perempuan itu. Ia tak peduli dengan Shabita. Ia meraih Dara yang menangis kemudian berniat membawanya pergi.
Shabita melempar botol itu tepat di kepalanya. Sehingga kepala itu berdarah. "Kurang asam!" umpatnya. Ia berbalik sambil menggendong Dara menuju Shabita.
"Anggara!" teriak Shabita di saat pemuda itu datang. Shabita menggunakan kesempatan itu untuk merebut Dara.
Perempuan itu mundur, bermaksud akan lari. Namun, Shabita telah mengait kakinya hingga ia terjatuh ke lantai. Anggara segera menarik Shabita agar menjauh dari perempuan itu.
"Aku mohon, jangan hukum aku. Tolong rahasiakan tentangku dari mereka!" mohon perempuan itu seketika.
"Anggara?" Shabita memandang pemuda itu. Berharap Anggara memberikan kepastiannya.
"Baiklah. Pergilah," kata Anggara.
Permpuan itu segera bangkit dan berlari keluar. Namun, di luar mereka telah mengepungnya. Ia hendak berlari kembali ke dalam, tetapi Anggara telah mengunci rapat pintunya.
"Biarkan," kata Anggara saat Shabita memandang kasihan perempuan di luar sana. "Bukannya aku tidak punya belas kasih, tapi percuma ditangkap. Dia akan berulah lagi, biarlah warga yang memutuskan."
***
Setelah kejadian itu Anggara dapat tenang bekerja meninggalkan Shabita di rumah. Ia bahkan sekarang sedang sibuk menyiapkan acara pernikahannya. Shabita yang sekarang sedang sibuk memasak dibantu para tetangganya, sesekali mengurus Dara yang kini dijaga Bela.
"Besok nikah ulang kalian. Gimana, sih rasanya nikah lagi?" goda Bela.
Shabita memerah, ia tidak tahu karena ini pertama bukan ulangan. Hanya saja Anggara mengarang semuanya agar tidak ada yang tahu bahwa dirinya seorang janda.
"Besok nikah lagi kau! Apa rasanya?" goda Komisaris.
"Bapak nggak usah tanya. Sana nikah lagi, biar tahu rasanya," ejek Anggara.
"Pengennya nikah lagi biar istri dua, tapi gimana ya ... aturan, sih!" Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Bukan poligami, Pak!" Anggara jengkel dengan pikiran atasannya.
"Oh," ohnya.
"Saya izin besok full tidak masuk."
"Cutimu udah habis, nggak bisa. Habis nikah balik kerja!"
"Kejam sekali," rengek Anggara.
"Oke, sehari deh." Akhirnya mengalah.
__ADS_1