TITISAN PUTRI KUYANG

TITISAN PUTRI KUYANG
21 MAYAT HIDUP


__ADS_3

Bau busuk menyebar di kantor. Para karyawan sedang sibuk bukannya bekerja, mereka malah mencari bau busuk yang memenuhi ruangan kantor. Chang menutup hidungnya karena tidak tahan dan bahkan ada yang muntah karenanya. Semua pekerja diliburkan dan tugas mereka semua berganti menjadi pembersih kantor. Masker-masker dibagikan oleh para OB kepada mereka.


"Ngeri betul baunya. Padahal kita sudah menggunakan masker, tapi masih tercium juga," kata Lani yang bekerja di bagian asisten atministrasi keuangan.


"Iya, astaga! Aku mau muntah!" sahut Sina yang sekarang sedang menyemprot parfum ruangan.


"Cari terus, kita tidak bisa bekerja kalau begini!" perintah Chang.


Shabita baru saja datang dan terheran-heran melihat mereka tampak sibuk membersihkan seluruh kantor dan menggunakan masker lebih. Bau busuk mulai tercium olehnya, ia hampir muntah dan segera mengipas wajahnya.


"Ambil ini," kata Chang seraya menyerahkan masker kepada Shabita.


"Bau busuk apa ini, Pak?" Shabita menerima masker itu dan mengenakannya.


"Saya gak paham. Pokoknya bau ini sudah dari tadi," jawab Chang sambil mengawasi bawahannya yang bekerja.


"Maaf, Pak. Baunya seperti di ruang atministrasi," lapor seorang OB perempuan muda.


"Bereskan segera," kata Chang.


"Permisi, saya mau ke ruangan dulu. Mau menaruh tas dulu," pamit Shabita.


"Kamu diam saja di situ. Tidak usah keluar-keluar!" perintahnya.


"Tapi-"


"Tidak usah ikut membantu. Nanti badan kamu bau," potong Chang.


"Gak enak sama yang lain, Pak." Shabita protes. Ia tidak mau dianggap curang karena hanya diam saja tanpa membantu sama sekali.


"Siapa yang marah. Nanti saya pecatin semua," kata Chang sedikit keras sehingga suaranya membuat mereka menoleh padanya. "Sudah sana," lanjutnya.


"Iya," jawab gadis itu. Shabita diam-diam melirik mereka yang memandangnya dengan pikiran masing-masing.


Shabita segera masuk ke ruangannya. Ia menaruh tasnya di meja dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. Cuma di dalam ruangan itu bau busuk tidak menyebar. Sesekali gadis itu menghirup dan menghela udara segar dari AC yang sudah diberi pengharum ruangan.


Chang memijit keningnya karena pusing mencium bau busuk tersebut. Ia tidak sabar dan membuka semua jendela kantor. "Baunya bikin kita keracunan. Siapa yang mati di sini?!" teriaknya.


"Pak, mungkin bangkai tikus di atas plafon," kata OB lelaki berusia dua puluh tujuh tahun. Berwajah manis dengan banyak tahi lalat di dagunya.


"Bongkar!" perintah Chang.


Para lelakinya segera mengambil kursi mereka masing-masing dan membongkar plafon itu, tetapi mereka tidak menemukan apa pun selain hanya tikus yang berlarian.


"Pak, di sini juga tidak ada!" lapor mereka.

__ADS_1


"Yang belum mandi, mandi sana. Yang sampahnya belum dibuang, cepat buang!" perintah Chang. Ia sudah kehabisan akal dan oksigen.


Mereka saling lirik dan membaui tubuh masing-masing, karena dirasa bukan mereka yang berbau, mereka lalu mengendus tubuh sesama rekannya.


"Bau ketek!" Sina memukul lengan OB lelaki bertahi lalat tadi. Yang dipukul hanya tertawa.


"Saya mau ke ruangan saya dulu untuk bernapas. Kalau kalian mau keluar, keluar saja dulu. Hirup napas di luar sebanyak-banyaknya jadi kalian tidak mati juga di sini."


Karena diberi izin ke luar, maka mereka berhamburan keluar dan menghirup udara segar di sana.


Shabita melihat Chang yang masuk langsung mengunci pintu dengan cepat. Pemuda itu membuka maskernya dan menghirup napas sebanyak-banyaknya. "Bau betul, Van. Saya mau mati keracunan," keluhnya seraya duduk di sofa dan langsung berbaring. Ia memijit keningnya yang pusing. "Kalau saya mati, tolong tunggu arwah saya. Saya gak mau mati begitu saja," katanya seraya memejamkan mata.


Shabita mengulum tawanya, ia geli mendengar perkataan bosnya itu. "Bapak ada-ada aja," katanya.


"Saya heran, kok bisa ada bau bangkai di kantor kita. Padahal kemarin masih segar baunya?" Chang membuka matanya dan memandang Shabita yang tertangkap basah sedang mentertawakannya.


Shabita segera bersikap normal dan mendehem. Ia menggeleng dan tersenyum. "Saya tidak paham. Bukan saya yang menaruh bangkai," jawabnya.


Kini gantian Chang yang tertawa. Tawa Chang tergantikan oleh perkataan Shabita yang membuatnya merinding dan ia mengusap tengkuk dan lengannya. Chang segera berlari dan mendekati gadis itu.


"Mungkin saja ada yang mati di sini dan dia sedang bersembunyi. Saya bisa rasakan itu, dia makin mendekat dan makin menyeramkan," kata Shabita. Ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Maaf, Pak. Saya asal bicara," ralatnya.


"Kamu kok nyeramin gitu. Saya takut!" Chang merangkul lengan Shabita dengan erat seraya mengawasi setiap ruangan.


Chang menelan ludah. "Dulu di tempat kami, ada cerita mayat yang hidup dan berjalan layaknya manusia. Biasanya dia adalah penganut ilmu hitam atau orang mati yang dibunuhnya lalu diambil raganya dan didiaminya," kata Chang gemetaran dan suara pelan.


"Mungkin saja bau tikus, atau kaus kaki situ kali." Shabita mencoba mencairkan suasana.


Chang menampar pelan lengan Shabita. "Ngawur. Saya selalu bersih, kalau bau saya langsung buang."


Shabita tertawa, gadis itu geli melihat wajah Chang yang sudah pucat dan menatap ke sana-kemari dengan takut.


****


LALAT berterbangan memenuhi segala ruangan kantor. Sudah dua hari ini mereka tidak dapat bekerja dengan tenang. Kerja mereka hanya duduk menatap pada layar komputer sambil memukul-mukul lalat dengan cara menggulung map yang berada di sekitar meja mereka.


"Astagaaa! Mereka ada di mana-mana!" keluh Ana karyawan bagian pemasaran yang duduk di dekat meja Sina.


"Untung memakai masker, kalau tidak mereka pasti masuk ke mulut juga. Bajuku bau busuk karenanya." Sina ikut-ikutan mengeluh.


"Pagi, Pak." Mereka segera berdiri dan menyapa atasannya.


Chang menepis lalat yang hampir hinggap di wajahnya. Ia segera mengeluarkan saputangannya untuk menutup wajah. "Kalian, kalau mau libur, libur saja. Saya tidak melarang," kata Chang.


Mata mereka berbinar senang, saling tatap dan bersorak kesenangan. Mereka segera berlarian tanpa permisi kepada Chang. Pemuda itu tidak marah, ia maklum dan ia pun ingin segera pergi dari sana. Saat mereka sedang membereskan barang miliknya dan segera keluar dari kantor itu, Toni datang dengan pakaian hitam dan wajah pucat. Bibirnya putih kebiruan, matanya tidak bersinar, kulitnya putih tanpa darah. Lalat yang tadi berseliweran terbang, kini malah mendatanginya dan hinggap ke tubuh Toni. Toni menatap mereka semua, mereka merinding, jijik dan geli saat semua lalat menutupi seluruh tubuhnya. Bau busuk makin bertambah padat. Mereka saling sikut dan saling curiga.

__ADS_1


"Pak," panggil Sina pada Chang.


"Toni, kenapa kamu membiarkan lalat hinggap di badanmu? Cepat kamu buru mereka!" perintah Chang.


Toni diam tidak menjawab apalagi menjalankan perintah itu. Shabita baru saja datang, gadis itu segera menutup hidungnya dan memandang pada lalat yang berkerumunan berdiri membentuk seperti orang. Iya, lalat itu hinggap di tubuh Toni dan hanya menyisakan mata saja.


"Ke luar semua!" perintah Chang karena sudah tidak tahan lagi dengan baunya.


"Shabita!" teriak Toni.


Semua terhenti saat Toni menyebut nama gadis itu. Shabita merinding dan menatap Chang yang juga menatapnya. "Pak," sebutnya lirih.


"Shabita tolong aku. Aku tidak mau begini. Carikan aku tubuh baru," mohonnya.


Chang dan para karyawan lain merinding dan menatap Shabita dan Toni secara bergantian. Kasak-kusuk mereka membicarakan kedua orang itu.


"Shabita," panggilnya lagi.


"Gak! Aku enggak mau sama kamu! Kamu bukan manusia, kamu mayat. Kamu jahat!"  teriak histeris gadis itu.


Chang segera memerintahkan mereka semua untuk pergi dan Shabita dibawa secepatnya ke luar dari sana, sedangkan Toni marah karena Shabita menolaknya.


"Van, kamu gak papa?" tanya Chang saat mereka sudah berada jauh dari kantor.


Shabita menyandarkan tubuhnya pada bangku mobil dan memijit keningnya yang terasa pusing. "Entahlah, saya takut sekali," katanya.


Tangan Chang menjauhkan tangan Shabita yang memijat keningnya tadi. Kini Chang yang memijat kening gadis itu. Shabita sempat kaget atas perbuatan Chang padanya, tetapi ia tidak membantah, malah berkat pijatan itu ia merasa rileks kembali.


"Kulihat Toni dan kamu tidak saling bicara sewaktu di kantor, tapi kenapa dia terlihat memerlukan bantuanmu?" tanya Chang.


Shabita memejamkan matanya, ia sempat berhayal kalau yang berada di sampingnya adalah Anggara, tapi mendengar nama Toni disebut ia segera buka mata dan menepis tangan Chang. "Gak tahu!" jawabnya dengan nada kesal.


"Van, mungkin dia naksir kamu. Soalnya di antara yang lain, saya selalu memerhatikannya menatapmu diam-diam dengan wajah marah bila sedang bersamaku," kata Chang.


Shabita menghembuskan napasnya. Ia lelah dan ingin segera pulang ke rumah. "Antarkan saya pulang, Pak. Saya capek." Shabita menolak membicarakan Toni.


Chang terdiam, ia tidak menjawab apalagi membantah. Mobil segera dijalankan dan menuju penginapan Shabita. Gadis itu sempat mengirim pesan pada Anggara yang kini sedang mengobrol dengan sesama rekan polisinya.


Anggara tersenyum membaca pesan Shabita. Perilakunya diperhatikan oleh teman-temannya. Mereka semua tersenyum dan saling senggol, berbisik-bisik kemudian mengejeknya.


"Siapa tu, kok Abang Angga senyum-senyum," goda salah seorang dari mereka.


"Cieh ...," olok mereka.


Anggara tertawa singkat dengan wajah merah menahan malu dan geli. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2