
Talia tiba di rumah Anggara. Ia memandangi dari luar sebelum masuk. "Kukira ibuku akan hidup mewah, tak tahunya miskin begini," sindir Talia. "Tau begitu aku tidak izinkan dia menikah denganmu."
Anggara mendesah, ia kesal mendengar ucapan Talia. Gadis ini meremehkannya sekali. "Mau masuk atau menilai?"
"Di mana adik dan ibuku yang tercinta? Aku ingin cepat melihatnya."
"Mereka di dalam," jawab Anggara seraya membawa koper milik Talia.
Gadis berbaju ungu ini segera masuk. Ia celingukan mencari keberadaan Shabita. "Aku ingin lihat wajah ibuku yang mirip bidadari itu. Kutakut tak kuat mental melihatnya lantaran sekarang jadi buruk rupa karena meni-"
"Iya-iya! Aku miskin. Tidak punya harta untuk ibu dan adikmu. Bisa tidak mulutmu itu jangan mengungkit itu. Aku tahu kamu dendam, masih cinta, cemburu denganku!" balas Anggara. .
Asam betul manusia satu ini! "Diam-diam ia menyesal sudah pernah naksir dengan Anggara. Ia memang dendam, hingga kini masih senang melukai Anggara.
"Sayang, ada tamu, nih!" seru Anggara. Ia sengaja ingin pamer kemesraan dengan Talia.
"Siapa?" sahut Shabita dari dalam. Ia segera merapikan daster yang ia kenakan.
"Ha? Ibuku jadi kusut begitu? Kamu apakan, Anggara?" tuduhnya lantaran memandang penampilan Talia.
"Talia," sebut Shabita. Ia tidak menyangka anak tirinya datang.
"Aduh, Sha, kenapa kamu kusut begini? Baju bagusmu ke mana?" Talia melirik Anggara yang berbalik sambil berkacak pinggang.
Pemuda itu menggerutu. Diam-diam menyesal juga menyuruh Talia datang. "Tau gitu tadi kulempar saja dia ke tikungan yang ada buayanya!"
"Ayo, duduk, Talia. Kok, kamu datang, tumben?" Ia duduk setelah Talia duduk.
"Aku datang ingin ketemu adik dan kamu. Kangen berat sama kalian, dia nggak termasuk, tuh. Mukanya ngeselin!" Ia menunjuk Anggara.
"Kalian gibah saja. Aku mau balik ke kantor dulu!" Anggara segera pergi. Ia tidak peduli bila nanti Talia berbicara yang bukan-bukan tentangnya pada Shabita.
"Dia marah, kamu, sih!" omel Shabita.
"Biarin! Siapa suruh ngambil kamu dari aku. Kupikir kamu hidup enak, ternyata begini amat."
"Aku senang di sini, Talia. Kamu tidak perlu ribut masalah itu."
"Ke mana adikku?"
"Dara?" panggil Shabita.
"Mama!" Dara berbaju merah. Berlari mendatangi Shabita.
"Ini, adikku?" Talia segera meraih Dara. Anak itu menolak, ia merangkul pinggang Shabita. "Sini, ini kakakmu!"
"Sana, itu kakakmu." Shabita mendorong pelan Dara.
"Berat, ya?" Talia memangku Dara. "Aku nggak nyangka dia mirip aku selagi kecil." Talia tertawa pelan. Dara memang mirip dengannya.
"Kamu berapa hari di sini?"
__ADS_1
"Kenapa, mau ngusir, nggak betah aku duduk di sini? Oke, aku balik!" Talia menaruh Dara kemudian berdiri.
"Astaga manusia ini! Ke mana, woy?!"
"Pulang, diusir kan?"
"Gila! Masuk lagi."
Talia kemudian duduk kembali. "Jangan marah, Mama. Tambah keriput. Jeleknya sama seperti Anggara."
"Kamu dendam betul dengan dia."
"Harus!" jawab Talia. "Ngomong-ngomong, aku tidur di mana, nih? Jangan bilang di ruang tamu?" intimidasinya.
Shabita menggaruk pelipisnya. Ia serba salah. "Kayaknya ucapanmu itu doa. Soalnya kami punya satu saja kamar."
"Hah! Miskin sekali!" Talia mendesah. "Pokoknya aku tidur denganmu, Anggara di ruang tamu!"
"Eh, kok?"
"Tamu ... raja!" Ia menekan ucapannya. Talia kemudian membawa masuk kopernya ke kamar Shabita. "Ini kamar, kok kecil amat?"
***
Shabita menarik Anggara, ia menjelaskan tentang Talia yang kini tidur di kamar mereka. Anggara hanya mendengarkan, ia tidak berkomentar apa-apa. Shabita takut pemuda ini tersunggung.
"Anggara, jangan diam. Ngomong!" rengek Shabita.
"Aku bilang ngomong!"
"Aku tidur di sofa."
"Bukan itu, aku pengen tahu perasaanmu. Marah atau tidak?"
"Mau tahu caranya biar aku nggak marah lagi."
Shabita mendekat, "Apa?"
"Waktu dia dan Dara tidur, kamu temani aku di sini."
Shabita terkikik geli. "Buat apa?"
"Mau nonton bola!" Anggara kesal karena Shabita tidak peka.
"Oh, ya." Shabita segera mendatangi Talia di kamar.
"Kamu lama amat di luar. Pacaran sama dia, ya?" goda Talia.
"Namanya juga suami-istri." Shabita berbaring di sebelah Dara.
"Aku tahu, Anggara mesra sama kamu. Sebenarnya aku iri," keluh Talia.
__ADS_1
"Kamu belum ada pasangan?"
"Sibuk! Enggak ada waktu." Talia merapikan tidurnya. "Selamat malam, Mama."
Shabita mengangguk, ia memejamkan mata pula. Anggara melirik jam dinding. Gelisah lantaran Shabita tidak jua datang menemuinya.
"Ah, mana orang itu?"
Talia terbangun saat Dara menuruni ranjang kemudian berjalan menuju Anggara. Ia mengintip.
"Papa!" Dara membangunkan Anggara yang lelah menunggu Shabita.
Karena Anggara tidak jua bangun, ia menuju ke pintu. Membukanya kemudian ke luar. Talia penasaran, ia kesal Anggara malah pulas. "Anggara, bangun!" Ia segera berlari ke pintu sedangkan Anggara membuka mata.
Dengan malasnya ia menyapa Talia yang sedang mengintip. "Kamu sedang apa?"
"Dara!" sahut pelan Talia dengan nada berbisik.
Anggara segera berjalan pelan. Ikut pula mengintai. Dara terlihat menuju ke arah pohon. Mereka tidak melihat siapa yang diajak Dara berbicara, tapi Talia menyimpulkan ada seseorang di sana.
"Anggara, panggil anakmu!" perintah Talia.
Anggara segera berjalan cepat menuju Dara. "Dara, lagi apa malam-malam begini?"
Dara tersentak, ia ketakutan. "Papa."
"Dara sedang apa? Enggak boleh keluar malam, Dara."
Dara tidak menjawab. Ia memandang hantu yang saat ini memberi isyarat agar Dara diam. "Papa," sebut Dara. Ia meminta digendong Anggara.
Anggara menggendongnya. Ia sesekali memandang ke arah pohon. Talia segera meraih Dara dari Anggara.
"Aku curiga dia di sana," kata Talia. Ia telah menidurkan Dara dan kini sedang duduk di sebelah Anggara.
"Kamu bisa lihat?"
Talia menggeleng. "Enggak."
"Terus gimana?"
"Usaha saja supaya dia jangan sendirian. Aku takut kalau sendirian dia bisa dibawa oleh arwah itu."
Anggara diam sejenak. "Dara sering nanya apakah aku sayang atau tidak bila adiknya telah lahir. Ini aneh."
"Yang dijaga bukan Dara sebenarnya, tapi adiknya."
"Kenapa gitu?"
"Sasaran hantu itu adiknya bukan Dara. Coba saja kamu artikan sendiri dari rengekan Dara yang bertanya apakah kalian atau kamu sebagai bapak sayang atau tidak dengannya. Ini sudah jelas, kalau sewaktu-waktu Dara bisa melukai adiknya."
Talia segera bangkit. "Jaga betul-betul Shabita karena musuhmu bukan orang lain." Kemudian ke kamar dan berbaring menjaga Shabita.
__ADS_1
Anggara termenung, ia harus mencegah Dara menjadi jahat seperti Toni.