
Ada yang minta di komentar pengen yang uwu ... uwu, nggak ngerti uwu itu bahasa apakah? Yang jelas saya merasa senang kalau ada yang kasih saran begini, Thor ini dong, Thor, itu dong. Asal tidak merubah cerita awal, saya setuju saja. Jadi kali ini tidak ada ketegangan apalagi keseraman. Khusus buat kamu yang pengen baca 'uwu' katanya. Entah 'uwu' ini apaan? Nggak paham saya.
Di hari Minggu yang cerah, Anggara sedang menjemur pakaian. Ia berniat berangkat kerja setelahnya. Kemudian matanya memandang Shabita yang sedang berjalan sambil membawa Dara menikmati cahaya matahari pagi.
"Binimu buat aku saja. Soalnya kurasa dia kedinginan tiap malam," kata Adi di saat Anggara bertugas di malam hari. Pemuda itu masih ingat jelas saat itu Shabita juga tertawa renyah saat mengobrol dengan rekannya itu. Padahal di rumah gadis itu marah selalu dengannya, hingga disentuh pun tidak bisa.
"Awas!" gumamnya sambil mengingat wajah Adi dengan kesal.
Shabita masuk ke rumah. Ia mengabaikan Anggara yang sedang memandang ke arahnya."
"Yang," panggil Anggara saat Shabita menaruh bayinya di kasur.
"Apa?" tanya Shabita tanpa mengalihkan pandangannya pada Dara.
"Malam ini aku pulang cepat. Hehehe ...."
Shabita berkerut dahi memandang tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya. Terlihat gila di matanya. "Terus?" tanyanya seraya merapikan meja rias kemudian meraih handuk di belakang pintu.
Anggara memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan lirikan mata. "Bisa kita ... itu?" Ia memajukan bibirnya sedikit.
"Yang jelas kalau ngomong!"
"Anu ... itu?" Ia menggaruk belakang kepalanya. Bingung hendak berkata apa.
Shabita berdecit kesal lantaran sikap Anggara yang plin-plan. "Hah!" Ia kemudian pergi ke kamar mandi.
Brak! Pintu kamar mandi tertutup di saat Anggara mencoba masuk mengikuti Shabita. Nyaris mengenai hidungnya. Gagal! Ia menampar mulutnya lantaran tidak mampu berkata. "Susah banget mau minta jatah doang!" Tuk, tuk, tuk!" Ia membenturkan kepalanya ke pintu kamar mandi.
"Anggara, ngapain di situ!" tegur Shabita saat mendengar suara di pintu.
Anggara terhenti, ia segera berlari ke kasur duduk di sisi ranjang. "Ini, Dara nakal!" sahutnya.
Tidak terdengar lagi suara gadis itu yang ada hanya suara air. Anggara memandang arloji yang sengaja ditaruhnya di atas meja. Pukul 08:00, artinya ia harus bergegas ke kantor. Terpaksa mengganti pakaian kemudian menunggu hingga gadis itu keluar dari kamar mandi. "Sayang, papa mau berangkat!"
"Berangkat saja!" sahut Shabita. "Eh, tapi Dara, kan sudah mulai bisa merayap." Ia panik segera mengenakan handuk lantas keluar dari kamar mandi. "Belum berangkat?" tanya Shabita saat Anggara malah berada di depan pintunya.
"Kis dulu," kata Anggara sambil merendahkan tubuhnya agar gadis itu bisa memesrainya.
Shabita mendorong wajah Anggara, kemudian ia tidak peduli. "Mana bajuku?" gumamnya. Ia nampak kebingungan mencari baju di dalam lemari.
"Ma, papa mau berangkat kerja," rengek Anggara.
"Iya, pergi sana!" jawab Shabita. Ia masih asyik mencari pakaian.
Anggara cemberut. Terpaksa berangkat tanpa diberi sayang oleh istrinya.
"Wajahmu kenapa, Ang? Kayak kurang jatah gitu!" olok Adi. Ia menaruh secangkir kopi di meja atasannya ini. "Minumlah. Aku baik hari ini," katanya. Ia kemudian duduk di tempatnya tepat di sebelah Tono yang sedang bermain ponsel.
"Haeh!" Anggara menghela napas. Ia meraih kopi kemudian meminumnya.
__ADS_1
"Eh, aku naksir berat ama bini orang. Entah kenapa aku khilaf. Pagi ini kubuatkan kopi dia. Kuberi racun biar mati sekalian!" kata Adi kepada Ali yang sedang menyapu.
Tono melirik Anggara, ia tahu orang yang disindir itu dia. Anggara mendelik, ia memandang cangkir yang dipegangnya. "Asam!" umpatnya.
"Sudah, jangan bercanda melulu," tegur Tono.
Adi tidak peduli, ia tetap memandang Anggara dengan tatapan menyindir.
"Malam ini kamu patroli lagi!" perintah Revando tiba-tiba saat ia keluar dari ruangannya menuju Anggara.
"Tidak bisa. Saya sudah janji sama istri akan pulang cepat." Wajah Anggara memelas, meminta belas kasih.
"Mukamu kayak pengemis, Anggara. Benci saya melihat mukamu begitu!" hina Revando. "Pokoknya harus."
"Pak," rengek Anggara.
"Kemarin Adi, sekarang kamu. Kan, situ atasannya?" sindirnya.
"Tapi-"
"Giliran," potongnya. Tidak peduli, ia segera meninggalkan Anggara yang sedang galau.
"Indahnya malam ini," ucap Adi sambil bersandar pada kursi kemudian menaruh kedua tangannya di belakang kepala.
"Aaaaa!" teriak Anggara. Ia gemas kemudian mengacak rambutnya.
***
"Kamu jangan cemberut terus," tegur Irwan. Pemuda itu menepuk pundak Anggara. "Lebih baik kita ke lapangan untuk ikut memeriksa," sarannya.
"Anu ... itu ...." Anggara tampak ragu untuk bercerita kepada Irwan.
"Kenapa?" tanya pemuda itu.
"Caranya bilang minta jatah itu gimana?"
"Hahahaha!" Irwan tertawa gelak. Ia terhenti kemudian berkata, "Mana kutahu, dodol! Aku masih bujang!" bentaknya.
"Nggak usah marah," kata Anggara.
"Habis, kamu kayaknya nyindir kejomloanku!"
Anggara menggaruk kupingnya yang tak gatal. "Aku bingung, maaf."
"Tanya komisaris sana. Dia udah nikah!" sarannya sambil menunjuk Revando yang sedang bersandar di pohon seberang jalan sana.
"Malu, ah!" Anggara menggeleng.
"Atau kamu tanya sama Maira. Dia udah nikah," goda Irwan.
__ADS_1
"Apaan, sih. Masa nanya sama cewek," tolak Anggara. Ia kemudian memandang Maira yang sedang memeriksa ID setiap pengendara.
"Deritamu itu. Kalau aku jadi kamu, ngapain nanya atau minta. Terkam, habis perkara!"
"Ngeri!" ejek Anggara.
"Pada ngomongin siapa, sih?" tanya Adi. Tepat di sebelah tiang pos.
"Loh, bukannya kamu nggak ada tugas malam ini?" tanya Irwan.
"Aku cuma mau mastikan kalau lakinya ada di sini."
"Emangnya kenapa kalau aku di sini?" tanya Anggara tidak senang.
"Hohoho, mau ngapel!" jawabnya seraya beranjak dari sana dengan mengendarai motornya.
"Enggak usah didengar. Dia cuma bercanda," kata Irwan. Ia memandang Anggara yang memerah lantaran kesal.
"Tau, ah!" balas Anggara. Ia segera meraih ponselnya untuk menelepon Shabita. "Kamu sedang apa?" tanyanya seraya menjauhi Irwan.
"Lagi bikin teh. Emangnya kenapa?" tanya Shabita.
"Maaf, aku nggak bisa pulang cepat. Mungkin jam sepuluh baru bisa pulang," kata Anggara lirih. "Kamu kesepian?"
"Enggak, tuh. Ada Adi di sini."
"What?!" Anggara mendelik. Ia kemudian memandang Irwan dengan marah. Irwan tidak mengerti kenapa ia dipandangi Anggara dengan begitu. "Dia ngapain di situ?"
Irwan baru mengerti setelah mendengar pertanyaan Anggara terakhir itu. Ia tertawa diam-diam.
"Katanya kamu yang suruh jagain aku sementara kamu kerja," jawab Shabita.
"Sha! Mana teh pesananku? Kok, belum datang, sih sayang?" teriak Adi saat ia sedang mengasuh Dara di ruang tamu.
Pakai sayang! Anggara meradang.
"Aku udah dulu, ya. Soalnya Adi minta jatah!" Shabita segera menutup teleponnya.
"Jatah! Woy, jatah apa itu?!" bentak Anggara. Ia tidak terima diputus begitu saja hubungan teleponnya.
Kembali menelepon, tetapi tidak diangkat oleh gadis itu.
"Maaf, telat. Soalnya Anggara menelpon." Shabita menaruh cangkir teh di atas meja.
"Suamimu itu kalau tidak dibuat cemburu, mana peka dia."
"Emang berhasil?" tanya Shabita ragu.
"Lihat saja nanti. Paling-paling kalau cemburu dia bakal ngamuk pulang ke rumah," kata Adi sambil menyerahkan Dara ke Shabita kemudian mencicipi tehnya.
__ADS_1