
Polisi sedang melakukan razia di tengah jalan. Mereka memeriksa status pengendara dan penumpang. Mereka sepertinya sedang mencocokkan sketsa dengan wajah si sopir dan penumpang. Anggara terpaksa memelankan laju kendaraannya dan menengok ke depan sana.
"Ada apa?" tanya Shabita.
"Ada polisi," kata Anggara. Pemuda ini memandang kekasihnya. "Kita tidak mungkin mundur. Mereka akan curiga, lagipula kendaraan lain juga ada di belakang kita," gumam Anggara sambil menggenggam jemari Shabita.
"Terus gimana?" tanya Shabita. Ia cemas seraya mengusap perutnya yang terasa berat. "Apa aku keluar saja dan lewat hutan di tepi sana?" Ia menunjuk hutan di sisi jalan dengan pandangannya.
"Telat," kata Anggara sambil memandang ke depan sana.
Beberapa orang polisi datang menghampiri setiap mobil yang tersendat satu persatu. Saat giliran Anggara, ada polisi bertubuh sedikit kecil darinya mengetuk pintu.
"Bisa tunjukkan ID-nya, SIM, dan yang lain?" tanyanya setelah Anggara menurunkan kaca mobil.
Anggara segera memberikan yang diminta. "Ini," berinya.
"Anda sendiri?" tanya Polisi itu seraya memerhatikan dalam mobil. Ia menyerahkan apa yang dipintanya tadi pada Anggara. "Bisa buka bagasi?" pintanya.
"Bisa," jawab Anggara. Ia segera menjalankan perintah.
Polisi itu memeriksa isinya, tidak ada apa-apa. "Silakan jalan," berinya izin setelah menutup kembali bagasi.
Anggara mengangguk. Pemuda itu segera menjalankan mobilnya, setelah beberapa kilo, ia heran. "Di mana dia?" gumamnya sambil mencari-cari sosok Shabita. Apa dia pergi saat aku lengah ataukah dia masih di hutan itu? Anggara mulai panik. Ia keluar dari mobil. "Vanesa!" panggilnya. Va--" Terhenti lantaran Shabita sudah berada di mobil sedang melambai padanya. "Huh!" Ia menghembuskan napas lega.
"Van, aku pergi dulu. Bila ada kesusahan segera panggil aku," pesan Sariani yang duduk di bangku kemudi.
Shabita tersenyum, sementara Anggara datang setelah Sariani menghilang. Pemuda itu memandang Shabita dan meraih jemarinya.
"Kupikir kamu tertinggal," katanya lirih.
"Aku bersembunyi," jawab Shabita.
"Lain kali jangan membuatku takut, Cinta." Anggara melepaskan Shabita. Ia mulai mengendara kembali.
__ADS_1
Talia sedang mengendara, ia menuju mobil yang ditinggalkan Anggara dan ibu tirinya. Gadis ini memijat keningnya sambil mengemudi. Ke mana sebenarnya mereka? "Sial! Sariani juga tidak bisa dipanggil. Apa jangan-jangan Sariani juga ikut bersekongkol dengan mereka?"
Talia berhenti, ia telah ditunggu oleh pemuda yang mengirim rekaman tadi. Gadis ini keluar dari mobil sambil memandang mobil yang ditinggal di sisi jalan.
"Saya sudah memeriksa dalam mobil, tapi tidak ada petunjuk sama sekali," lapornya.
"Sudah disebar mereka semua?" tanya Talia sambil mengusap pintu mobil.
"Sudah, baru saja saya kirim foto mereka."
"Bagus. Katakan pada mereka untuk habisi saja Anggara, tapi jangan sentuh ibuku! Bawa dia jangan lecet sedikitpun!" perintah Talia. "Ibuku harus aman, sebab papa menyayanginya."
"Baik, Nona."
"Segera! Saya ingin segera temukan ibu!" Talia kembali ke mobilnya. Ia mengendara kembali.
Sariani berdiri di udara, ia mendengar yang diperintahkan Talia pada pesuruhnya. "Hem," gumamnya. Sariani kemudian lenyap.
"Kita harus menaiki KRL agar sampai ke desa Sean," kata Anggara. Ia menghentikan mobilnya di stasiun kereta api. Ia meraih tangan Shabita untuk ikut bersamanya.
Seorang pemuda berjalan cepat dari belakang dan langsung menubruknya. Awalnya mereka di sana biasa saja, tetapi setelah mendengar Anggara meringis dan pinggangnya berdarah, maka riuhlah mereka.
"Anggara!" pekik Shabita. Gadis ini segera meraih Anggara dan mendudukkannya di kursinya tadi.Shabita meraih selendang seseorang tanpa meminta izin terlebih dahulu. Ia mengikat luka Anggara. "Bertahanlah," katanya.
"Segera bawa ke dokter!" kata seorang ibu berbaju kuning.
"Adakah dokter di sini?" seru seorang bapak.
"Ish, aku nggak papa," jawab Anggara. Ia memaksakan duduk tegap.
"Anda harus segera turun!" kata pemuda berbaju hitam sambil menodongkan pistol ke arah Shabita. Ia memiliki lima teman yang juga menggunakan senjata untuk berjaga-jaga agar penumpang tidak ada yang membantu Anggara dan Shabita.
"Siapa kalian?" tanya Shabita. Ia memandang mereka semua.
__ADS_1
"Kami utusan Talia!" jawabnya. Pemuda itu segera meraih Shabita.
Anggara berdiri dan menepis tangan itu. "Jangan menyentuhnya!"
Pistol ditodongkan di kepala Anggara. "Talia meminta kami menghabisimu!" Ia menarik pelatuk, siap akan dilepas.
"Jangan!" Shabita mendorong orang itu hingga tembakannya meleset.
"Kya!" Mereka panik dan segera berlari ke ujung kereta. Ada pula yang bersembunyi sambil merendah di kursi masing-masing.
Pemuda itu memandang Shabita. Ia memberi isyarat agar sahabatnya membawa gadis itu. "Bersiap mati Anggara!"
Shabita mencoba menghindar saat dirinya akan diraih sedangkan Anggara melakukan perlawanan. Tak jarang peluru menyasar ke sana-sini. Nyaris saja mengenai Shabita yang sedang berlari menghindari tangkapan mereka.
"Sariani!" teriak Shabita. Ia merasakan nyeri di perutnya. Gadis itu berlari ke kamar mandi. Ketika hendak mengunci pintu, tangannya terlanjur ditarik oleh mereka. "Lepas! Tolong!"
"Hey, ada apa ini?" Seorang pria membentak lantaran tidak tahu tentang orang yang menangkap Shabita. Ia mencoba menyelamatkan gadis itu. Namun, dorr! Dadanya ditembus peluru.
Shabita syok, ia memandang pria yang terkapar bersimbah darah. "Tolong!" teriaknya kembali setelah sadar.
Anggara mencoba mengambil alih senjata lawan. Ia menangkap tangan itu dan menghantamkan tangan lawan ke tiang kereta. Lawannya tidak diam saja, ia juga membalas dengan menendang perut Anggara. Anggara tersurut mundur sambil memegangi pinggangnya yang berdarah. Anggara maju kembali dan menendang lawan. Kini pemuda itu terdorong mundur. Pemuda itu kembali berdiri tegap, ia membuang pistolnya ke sembarang tempat kemudian maju untuk menyerang Anggara.
"Sariani!" teriak Shabita. Ia dipaksa mengikuti mereka.
"Halo, Pak. Ada--" Dorr! Naas, seorang perempuan tewas lantaran mencoba menelepon polisi.
Pemuda bertubuh besar memandangi para penumpang yang ketakutan melihatnya menghabisi perempuan tadi. "Angkat telepon kalian!" bentaknya. Mereka tidak ada yang berani, semua menunduk ketakutan.
"Sariani!" teriak Shabita. Ia didudukkan di kursi depan. Dijaga agar jangan sampai gadis itu melarikan diri. Shabita berusaha berontak, tetapi tenaganya kalah kuat.
Anggara berhasil menghajar lawannya, walau darah mengalir di bibirnya. Ia memandangi mereka yang bersembunyi kemudian mencari gadis itu di antara mereka semua. Karena tidak menemukan, maka Anggara terus meju untuk mencari Shabita. "Vanesa! Vanesa!" panggilnya.
Shabita mendengar, ia ingin berdiri. Namun, ditahan agar tetap duduk. "Anda tidak boleh menemuinya!" perintah pemuda itu sambil memegang erat lengan Shabita. Shabita meringis lantaran sakit. Pemuda itu memberi isyarat agar ketiga temannya melawan Anggara.
__ADS_1
bersambung