
Dara meraih sebuah pakaian berwarna hitam. Ia berencana akan jalan dengan Bagus hari ini. Lani duduk di kasurnya sembari memandang sang kakak sedang memilih pakaian di kamar ibu mereka.
"Kakak, serius mau pakai baju mama?"
"Iya, nih. Em, cuma ada baju hitam ini. Padahal kakak pernah lihat baju ungu yang cantik sekali. Katanya dibelikan papa sewaktu mama masih pacaran sama papa."
"Eh, nggak adalagi kali, Kak."
"Kakak yakin ada. Soalnya pernah membantu beres rumah." Dara duduk dengan memangku dress hitam kilat dengan renda putih di bagian dada. "Ke mana baju cantik itu, ya?"
"Udah, pakai ini saja, Kak. Cantik, kok."
Suara motor Bagus terdengar dari luar. "Aduh, Bagus datang lagi!"
"Buruan, Kak!"
"Eh, kamu mau ke mana juga rapi gitu?" tanya Dara saat adiknya meraih tas.
"Anu ... aku takut sendiri, Kak. Di rumah kita seram. Ada hantunya," bisiknya. Ia pun merinding.
"Oh, begitu. Ya, sudah. Kamu sama siapa pergi?"
"Sama teman. Nanti dijemput."
"Tapi, sendiri, loh."
"Biar Lani tunggu di luar aja, Kak."
"Okelah." Dara segera mengenakan pakaian hitam tadi. Ketika hendak menggunakan lipstik bibirnya mengalir darah segar.
"Eh, Kak. Ditunggu!"
"Eh, iya!" Dara segera sadar. Ia kemudian menaruh kembali lipstik.
"Lama amat dandannya. Nggak cantik juga!" ledek Bagus sembari bersandar pada motor.
"Kak Bagus minta dipukul sendal mulutnya, nih!" Lani kesal.
"Iya, nih. Emang dia itu pantas digitukan."
"Kalian kok, kompak ingin menyiksaku, ya?"
"Sudah, ah! Kamu antar Lani ke depan sana. Aku jalan kaki aja, deh!"
"Bonceng tiga aja," canda Bagus.
"Patah dua itu motor butut punya temanmu!" omel Dara.
"Disambung!"
"Nggak usah, Kak. Lani bisa jalan sendiri."
"Kamu katanya takut di rumah. Kalau kamu di sini nanti malah takut. Sudahlah, kakak bisa, kok jalan sendiri sampai depan."
"Ayo, Lani!" ajak Bagus.
"Pakai helm?"
"Apaan, sih. Gang depan doang jarak 200 meter aja pakai helm." Bagus bersungut-sungut.
"Tampar aja mulutnya Lani kalau banyak mulut!"
"Ah, sadis!"
"Kak, Lani duluan, ya."
"Iya."
Mereka akhirnya pergi lebih dahulu. Dara kini sendiri berjalan kaki. Di perjalanan ia melihat beberapa ibu hamil dan menyusui. Darah Dara berdesir. Rasa laparnya mulai tumbuh. Namun, sekuat hati menahan. Ia pun sempat heran mengapa akhir-akhir ini selalu tergoda bila melihat darah.
__ADS_1
"Dara, makan mereka. Mereka adalah makanan kita!" bisik sebuah suara. Inilah Wati.
Dara menutup mata kemudian hela napas. Tidak lama ia tiba di depan gang. Bagus dan Lani malah tidak terlihat. "Ke mana orang itu, ya?" gumamnya. Ia celingukan.
"Dek, numpang tanya alamat Gang Damai di mana, ya?"
Dara mencium bau darah segar. Ia melirik perut perempuan berumur dua puluh lima tahun itu. "Nangka," desahnya.
"Dek, dengar saya tidak?"
"Eh, iya. Apa tadi?"
"Gang Damai di mana?"
"Oh, itu. Nah, di kiri sana. Ibu lurus terus ada tuh gang Damai."
"Oh, makasih, ya, Dek."
"Iya, Bu sama-sama." Ia memandang si ibu muda. "Ais, jangan sampai!"
"Kenapa ditahan, Dara? Ayolah, bukankah kamu membutuhkannya?"
"Bisa diam, tidak! Muak aku!"
"Dara," tegur Bagus.
"Eh, ke mana aja?"
"Kasihan Lani sendiri nunggu di sini nanti. Jadi aku antar sebentar ke tempat temannya."
"Jadi kamu lebih kasihan Lani ketimbang sama aku?" Dara bermaksud akan kembali.
"Eh, ngambek! Ayolah, sayang! Masa, aku jahat sama adik ipar."
"Ipar kepalamu segitiga! Sejak kapan pacaran sama kamu. Belum pernah tuh nembak aku!"
"Eh, belum ya. Kukira kamu menganggap aku pacar setelah saling dekat. Bahkan aku tidur di rumahmu."
"Oh, jadi perlu ditembak baru mau mengakui."
"Halah, sok nggak peka!" Dara segera meraih helm. "Ayo, pergi!"
"Hem." Bagus segera membawa kendaraannya.
Mereka tiba di sebuah rumah sederhana. Dara melirik rumah itu dengan tatapan waspada. "Ngapain kamu ajak aku kemari?"
"Ini tempat nenek aku."
"Oh." Dara hanya ber-oh saja.
"Nek, Nenek!"
Tidak lama si nenek keluar. "Bagus, kan?"
"Iya, Nek."
"Nenek cuma hafal sama suaramu. Maaf, mata nenek rabun."
"Nek, aku bawa calon cucumu. Calon istri, Nek."
Si nenek kemudian memandang samar Dara. Awalnya samar. Namun, kemudian anehnya ia dapat melihat jelas wujud Dara. "Ya, allah!"
"Ada apa, Nek?!" Bagus panik.
"Dapat dari mana kamu perempuan itu? Pergi!"
"Bagus, nenekmu kenapa?" Dara sungguh kecewa.
"Nek, jangan begitu. Dia cintanya Bagus, Nek."
__ADS_1
"Dia persis ibumu, tapi yang ini sangat mengerikan!" Ia memucat. Nyaris terjatuh bila Bagus tidak memegangi. "Jangan lagi berhubungan dengan perempuan ini!"
"Nek, tolong tenang. Dia sangat baik, Nek."
"Tidak! Dia jahat. Dia bertanduk dan memiliki ekor!"
"Ekor?" Dara saja tidak percaya dirinya memili ekor.
"Maaf, Dara aku bawa nenekku ke dalam dulu."
Dara tidak menjawab. Ia masih memikirkan tentang tanduk dan ekor. "Ekor, tanduk? Apa aku memiliki itu?"
Bagus kembali. "Dara, sebaiknya kita ke tempat lain saja."
"Nenekmu?"
"Dia tidur. Sudah kuberi obat tadi."
"Bagaimana dia bisa melihatku?"
Bayu diam. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa sebenarnya neneknya dapat melihat hal gaib karena trauma pernah melihat ibunya berubah menjadi kuyang. "Sudahlah. Kita cari makan, yuk!"
"Tapi, Gus. Aku masih penasaran dengan tanduk juga ekor. Aku ingin tanya pada nenekmu. Kenapa dia bisa melihat sementara aku tidak?"
"Sudahlah. Dia saat ini sedang tidur. Percuma saja."
"Tapi-"
"Diam! Sudah, ya." Bagus segera memberikan helm.
Dara terpaksa diam. Ia kembali diajak Bagus. Mereka tiba di sebuah kebun buah wisata. Wajah Dara masih cemberut.
"Sudahlah, sayang. Kenapa cemberut?!" Bagus bahkan memarut wajah Dara dengan tangan kanan.
"Ah!" Dara segera menepis. Ia menuju ke pohon rambutan yang tingginya hanya setinggi orang dewasa.
"Duduk, dong. Kita makan rambutan sambil duduk."
Dara duduk dengan kasar. "Nggak mau!" Ia menolak saat Bagus memberikan rambutan.
"Diajak bukannya senang malah marah. Kesel banget. Cewek maunya apa, sih? Dibuang ke laut?"
"Mulutmu!" bentaknya.
"Biar, mulutku juga!" Bagus dengan santai memakan rambutan.
Sepasang suami istri sedang duduk bersandar pada pohon di sebelah mereka. Nampak yang perempuan tengah bermanja pada suaminya.
"Kenapa kamu melihat yang perempuan begitu?" sindir Bagus.
"Dia tengah hamil dua minggu." Mata Dara berbinar.
"Wah, mantap. Nggak perlu ke dokter atau beli alat uji kehamilan. Kamu aja tuh disuruh ramal."
"Ah, Bagus bercanda melulu!"
"Eh, emang benar, kan?"
"Dasar!" Dara cemberut.
"Makan ini daripada kamu makan janin," bisiknya.
Dara meraih rambutan kemudian mengunyahnya. "Rasanya hambar."
"Manis, kok."
"Iya, hambar. Manisan rasa da ...."
"Darah?" sindir Bagus. "Jangan dijadikan kebiasaan, Dara. Dikontrol, sayangku."
__ADS_1
"Iya-iya!" Dara menjawab dengan wajah kesal.