
Maaf beberapa hari tidak up. Soalnya saya lagi demam. Jadi sorry sekali.
Talia memandang Dara yang kini sedang bermain di depan rumah. Shabita kini sedang memasak di dapur. Ia cukup tenang karena ada gadis itu di rumah. Dara berlari-lari sendirian sambil tertawa. Masih, setia Talia mengawasinya. Hingga Dara berbicara sendiri. Barulah Talia bergerak menghampiri.
"Dara ngomong apa sama temannya?"
Dara diam, tidak mau menjawab, tapi dari matanya ia tahu Dara sedang diintruksi oleh hantu itu agar Dara diam.
"Kakak ada hadiah kalau Dara mau bilang," bujuknya. Dara menggeleng. "Dara, tidak mau? Tidak menyesal?" Dara masih menggeleng.
Talia memutar otak. Ia meluruskan berdiri kemudian kembali membungkuk. "Dara sayang sama papa?"
"Cayang," jawab Dara penuh semangat.
"Mau papa Anggara tambah sayang Dara?"
"Mau!"
"Sini, kakak bisikin!" Talia membawa Dara masuk ke rumah. Ia yakin hantu itu tidak berani mengikuti. Hingga mereka sampai ke kamar, Talia mengangkat Dara agar duduk di atas kasur. "Dara betul mau papa Anggara sayang Dara?"
"Ya," jawab Dara sambil mengayunkan kaki.
"Sayangi mama, adik, kalau Dara sudah sayang papa pasti sayang sama Dara."
"Tapi kata olang Dala halus bunuh adik!"
Talia tidak kaget lagi mendengar itu. Ia hanya tersenyum maklum. "Kalau bisa lakukan saja, tapi papa pasti marah sekali."
"Dala bukan anak papa. Dala takut!" Dara merengek.
"Susst!" Talia membelai lembut kepala Dara. "Kalau papa tahu Dara jahat, papa Anggara pasti marah sekali. Makanya diam, ya? Jangan sampai papamu tahu kalau kamu tahu dia bukan papamu."
"Tapi Dala akan dibuang!"
"Siapa yang bilang? Itu bohong. Setelah adik lahir Dara disayang papa." Dara diam, ia cemberut. Walau begitu Talia tahu Dara masih bisa menerima nasihat. "Janji, tidak akan nakal dan buat papa marah?"
Dara mengangguk kuat-kuat dengan wajah tidak berubah. Ia tetap cemberut. Shabita mencari-cari Dara dan Talia dengan matanya. Mereka tadi bermain di depan rumah. Ia melihat sendal mereka masih di teras.
"Lagi cerita apa ini?" tegur Shabita. Ia meraih handuk di belakang pintu.
"Dara ngantuk." Talia sengaja berbohong. "Ayuk, tidur!" ajaknya. Namun, Dara enggan diajak tidur. Maka Talia meniupkan sihirnya. Kini Dara terkulai di pangkuannya. "Ngantuk banget rupanya. Sampai tidur saja kayak orang pingsan," kata Talia.
"Kamu sendiri kapan pulang?"
"Ngusir?" sindir Talia.
Sebenarnya ia tidak enak dengan Anggara. Suaminya selalu tidur di sofa semenjak Talia ada, tapi ia juga terbantu karena dengan adanya gadis itu. Ada yang mengawasi Dara bermain. "Enggak."
__ADS_1
"Kamu tidak bisa lagi melihat roh, Sa?"
Shabita berhenti dari langkahnya untuk keluar dari kamar. "Semenjak aku melahirkan Dara, semua penglihatanku dengan roh hilang kecuali roh itu sendiri yang sengaja menampakkan diri, seperti Sariani." Ia kemudian beranjak dari sana.
***
Anggara kembali pukul 12:00, ia ingin istirahat di rumah sebentar. Melihat Talia sedang memandangnya, ia menjadi heran.
"Kenapa?"
"Duduk," pinta Talia. Anggara mengikuti. "Anakmu itu tidak suka adiknya karena kamu, Ang."
"Terus?"
"Dia nggak mau punya adik, takut kamu nggak sayang lagi sama dia. Dia tahu kamu bukan bapaknya." Talia sengaja berbicara pelan sekali agar hanya mereka saja yang mendengar pembicaraan masing-masing.
Anggara menunduk, ia meremas kedua jemari. "Aku tahu. Itu yang kutakutkan dari dulu."
"Kenapa kamu sangat takut Dara tahu? Apa kamu takut dia balas dendam?"
"Bukan!" bantah Anggara. Ia tidak mungkin bercerita tentang mimpinya. Akan sangat memalukan dan dianggap terlalu mengkhayal.
"Lantas?"
Anggara memandang Talia. "Nanti aku akan cerita bila sudah tiba waktunya."
"Ngomong apa sama Talia, kok, mesra banget?" sindir Shabita.
"Cemburu?"
"Enggak, buat apa." Shabita berpaling untuk melihat ke luar.
"Masa?"
"Di dapur!"
"Ah, maksudku masa, kamu nggak papa?"
"Nggak papa aku, tuh. Biar kamu selingkuh, banyak istri di luar juga nggak papa, tuh! Peduli amat!" Mulutnya berkata begitu. Wajahnya muram.
"Oke, boleh deh. Nambah satu lagi." Anggara menepuk kedua paha kemudian berdiri. Masuk ke kamar mereka yang kini ada Dara dan Talia.
Shabita melotot, ia marah lantaran Anggara nyelonong masuk begitu saja dan malah tidur di sebelah Talia yang kini merangkul Dara. "Dasar buaya!" Shabita bersuara pelan sembari mendatangi Anggara.
"Eh, kok kalian ada di sini semua? Dara sedang tidur!" tegur Talia dengan suara pelan.
Shabita memandang tidak senang Talia. Ia beralih pada Anggara yang kini memejamkan mata. "Geser!" Ia tidur di sebelah Anggara.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa, sih? Bisa rubuh ranjang ini kalau didesak begini!" Talia terpaksa mengalah. Ia keluar.
"Ngapain kamu di sini?" sindir Anggara.
"Suka-suka!"
"Ganggu orang tidur aja."
"Apa kamu bilang?!" Shabita bangun. Ia memukul Anggara dengan bantal. "Bilang aja kamu suka dia, kan? Udah nggak usah pura-pura. Tiap malam aku ngintip kalian berduaan di sofa!"
"Susst, Dara tidur!"
"Enggak peduli!" Namun, lain di ucapan lain pula di perbuatan. Saat Dara merengek karena merasa terganggu tidurnya. Shabita langsung diam.
Anggara menepuk lengan Dara agar gadis kecil ini kembali tertidur. "Jangan berisik."
"Huh!" Shabita duduk bersandar di kepala ranjang sambil cemberut.
"Udah jam satuan. Aku harus kerja dulu." Anggara beringsut pelan agar tidak membangunkan Dara. "Jangan marah lagi. Aku cuma berteman dengan Talia. Bila dia anakmu, dia juga anakku."
"Dusta! Aku sering melihat Talia mendatangimu di sofa."
"Itu karena kamu telat. Coba kamu datang lebih awal."
"Maksudnya apa, nih? Kamu bakal selingkuh kalau aku telat?"
"Eh, anu..." Anggara serba salah.
"Apanya yang anu?!"
"Udahlah. Jangan marah lagi."
"Enak saja ngelarang orang marah."
"Aku bisa telat, nih kalau kamu begini terus."
"Pergi aja sana!"
"Mana bisa kerja kalau mikirin kamu terus!"
Shabita mendorong Anggara. "Jadi selama ini aku yang bikin nggak fokus kerja. Cerai!"
"Eh, mulut! Beraninya gitu?! Anggara kaget dituntut cerai.
Shabita tidak menjawab, ia berbaring membelakangi Anggara. Anggara membelai lembut rambut Shabita kemudian berbisik, "Jangan tinggalkan aku, Van. Aku selalu setia." Kemudian ia pergi.
Shabita mendengar, ia kemudian memejamkan mata.
__ADS_1