
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Kembali hari Senin. Berarti sudah delapan hari dari tragedi video CCTV di rumah lama Wiwien. Hari ini dia mulai tidak bekerja lagi. Siang nanti dia bisa mengambil gaji terakhir juga semua tabungan di koperasi perusahaan. Tentu juga surat keterangan pengalaman bekerja yang suatu saat akan sangat berguna bila dia ingin kembali mencari pekerjaan di sebuah perusahaan lain.
“Selamat pagi, dengan ibu Wienarti?” sapa seorang perempuan di ujung telepon.
“Benar saya sendiri,” sahut Wiwien dengan sopan.
“Bu, kami dari kantor pengacara mau memberitahu kalau kasus yang ibu ajukan sudah terdaftar di pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan nomor xxx/ccc dan seterusnya,” Wiwien mendengar keterangan yang diberikan oleh penelepon tersebut.
“Baik terima kasih infonya,” sahut Wiewin senang. Satu langkah sudah dimulai. Walau sampai saat ini dia masih tak percaya pernikahannya hanya bertahan dua tahun saja. Tapi apa mau dikata kalau garis nasib mengharuskannya seperti itu. Apa dia harus bertahan?
Siapa yang akan tahan hidup bersama sampah seperti Bayu? Wiwien hanya bertekad untuk hidup lebih baik lagi agar orang bisa tahu siapa dirinya. Wiwien meletakkan Awan di box, lalu dia kembali membuka laptopnya untuk search usaha apa yang cocok baginya juga lokasi usaha yang bagus untuk dirinya.
‘Sore nanti aku antar keliling-keliling,’ pesan WA dari Arno masuk ke ponsel Wiwien.
‘Siyaaap Komandan,’ balas Wiwien. Lalu Wiwien kembali menatap layar laptopnya. Berbagai gerai wara laba sedang dia perhatikan satu persatu. Dia buat catatan singkat di laptopnya. Nama wara laba, besar biaya investasi dan seterusnya. Dia buat tabel sehingga semua bisa dia compare dalam satu file.
Setelah merasa matanya perih, Wiwien keluar kamarnya, tak dia tutup rapat pintu kamarnya agar bila Awan menangis ada yang mendengar. Dia mengangkat jemuran baju miliknya dan Awan, lalu dia lipat dan taruh di bak plastik. Setelah selesai, dia angkat baju Arno serta ayah dan ibunya, dia lipati juga lalu dia taruh di bak yang berbeda. Agar mudah bila ada yang ingin mencari.
“Mbak, ini dari tadi bunyi,” mbok Ranti memberikan ponsel Wiwien yanag dia letakkan di meja makan. Ada dua misscall di sana.
“Assalamu’alaykum,” Wiwien segera menghubungi nomor yang barusan menghubunginya.
“Wa’alaykum salam. Apa aku mengganggu?” tanya suara berat di ujung sana.
“Enggak koq Kak, saya sedang melipat baju kering. Karena sejak hari ini saya sudah tidak bekerja,” jawab Wiwien. Niatnya nanti setelah selesai makan siang baru dia akan kekantor, sehingga tak perlu berganti baju lagi bila akan pergi dengan Arno sore nanti.
“Kamu besok pagi bisa bertemu dengan saya dikantor enggak? Ada berkas yanag harus kamu tanda tangani,” Tonny sang penelepon meminta Wiwien hadir di kantornya esok pagi. Walau secara online dia sudah mendaftarkan perkara gugatan cerai Wiwien, tapi berkas baru bisa diserahkan bila sudah ditandatangani oleh Wiwien.
__ADS_1
“Bisa Kak, besok saya kesana jam sembilan pagi,” sahut Wiwien cepat.
“Oke, saya tunggu. Assalamu’alaykum,” Tonny langsung memutus sambungan telepon. Padahal yang menghubungi adalah Wiwien.
***
“Bu, Wiwien berangkat dulu ya,” Wiwien pamit pada ibunya. Dia akan mengurus surat-suratnya di kantor. Karena memang dijanjikan bisa diambil jam sebelas. Dan Wiwien sengaja mengambil sesudah jam satu saja agar tidak mengganggu waktu istirahat orang bagian keuangan dan HRD.
“Hati-hati yo Nduk,” pesan Iin.
Tak ada kendala yang Wiwien hadapi, hanya teman-temanya tak percaya Wiwien resign karena selama ini mereka tak mendapat khabar apa pun dari Wiwien. Jam tiga sore Wiwien telah selesai dari kantor lamanya. Dia bersiap hendak pulang saat pesan dari Arno masuk.
‘Bersiap Mbak, aku on the way pulang.’
‘Iya,’ Wiwien menjawab singkat dan dia pun segera melajukan motornya ke rumah.
***
“Lha kamu jadi pergi dengan Arno?” tanya Indarwati atau Iin.
“Jadi Bu, tadi Arno sudah ngabari aku untuk bersiap,” jawab Wiwien.
Arno dan Wiwien hanya muter-muter mencari rumah mungil. Sengaja mereka mencari yang sekitaran rumah kedua orang tuanya yang sekiranya tidak mereka lihat di iklan online.
“De, makan empek-empek itu yok,” Wiwien mengajak Arno mampir ke kios penjual empek-empek. Kios berada di seberang sebuah perumahan dan ada ruko di depan perumahaan itu. Perumahan baru, tapi tadi mereka tak melihat ada rumah yang dijual.
“Kamu pesan apa de?” tanya Wiwien.
“Aku minta empek-empek lenjeran dan ada’annya masing-masing dua Mbak,” sahut Arno.
Wiwien menulis pesanan Arno ditambah pesanannya berupa empek-empek kapal selam besar dan mini.
__ADS_1
Sambil menunggu pesanan siap Wiwien memandang kesebrang jalan. Dia melihat ruko depan perumahan ada tulisannya. Tapi tak terbaca di jual atau dikontrakkan.
‘Kalau aku kontrak ruko itu, kira-kira usaha apa yang bagus ya?’ pikir Wiwien. Selain jadi tempat penghuni perumahan, ruko juga mudah dilihat oleh orang umum untuk mampir.
“De, nanti lihat tulisan di ruko itu ya,” Wiwien memberitahu Arno agar melihat ruko dari dekat saat mereka akan pulang nanti.
Mereka menikmati empek-empek pesanan mereka dengan lahap. Selain itu Wiwien membeli beberapa empek-empek untuk dia bawa pulang. Tentu masih mentah tanpa di goreng.
“Enak nih Mbak, belum ‘punya nama’ tapi rasanya enggak kalah enak ama empek-empek ngetop,” Arno berbisik pada Wiwien.
“Asal mereka bisa jaga mutu, pasti survive. Biasanya begitu ngetop mereka down grade karena bahan baku naik. Mereka ragu naikin harga. Memilih harga tetap tapi down grade akibatnya pelang-gan kabur,” Wiwien yang terbiasa menelaah pasar langsung memberi pendapat tentang rasa empek-empek yang sedang mereka nikmati itu.
“Nah itu, mayoritas produsen ragu naikin harga takut konsumen kabur. Padahal konsumen setia tahu harga bahan baku naik jadi mereka enggak akan kabur kalau harga komoditi jadi ikut naik. Daripada bahan baku naik, harga tetap tapi size atau mutu diturunkan. Itu malah lebih bikin konsumen kecewa dan balik badan,” jawab Arno. Dia sering kecewa terhadap kedai makan kesukaannya yang tiba-tiba rasanya jadi berubah atau ukuran jadi lebih kecil walau harga tetap.
Buat pelang-gan setia, mutu adalah yang utama. Mereka tak akan kabur bila harga disesuaikan akibat harga bahan baku naik.
Wiwien dan Arno meninggalkan kedai empek-empek itu dan sekali lagi Wiwien mengingatkan Arno agar mampir ke ruko melihat tulisan yang ditempel dirolling door.
‘DIKONTRAKAN 2 TAHUN, TIDAK BISA 1 TAHUN. HUBUNGI 0812 …’ demikian tulisan yang tertera di rolling door itu. Entah mengapa Wiwien tertarik dan memfoto tulisan itu untuk dia hubungi esok siang. Buatnya tak sopan telepon malam-malam.
\===============================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE BERJUDUL CINTA KECILNYA MAZ YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta