UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
MENERIMA UNDANGAN WIWIEN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Bayu melihat pesan yang dikirim oleh Wiwien. 



'*Ini serius? Alhamdulillah aku boleh bertemu Awan dan di rumah ibu. Artinya tak akan banyak orang*.' batin Bayu tak percaya kalau Wiwien dan ibunya mengundang makan siang di rumah ibunya



"*Insya Allah aku akan datang*,' balas Bayu cepat. Dia tak ingin Wiwien berubah pikiran dan membatalkan undangannya.



Saat ini dia mau kembali ke pekerjaan. Hari ini dia mulai satu ruangan dengan Khairunnisa. Gadis yang secara diam-diam dijodohkan Herman dengan cara memindahkannya menjadi satu ruangan dengannya. 



"Ini mau dibuat tabel baru seperti yang mana?" tanya Khairunnisa pagi ini pada Herman.



"Kalau menurut saya seperti ini tabelnya Tapi menurut pak Herman seperti ini. Kamu tentu aja yang mana yang lebih mudah dilihat orang secara umum," saran Bayu.



"Kalau menurut saya Pak, pendapat Bapak dan pak Herman itu sama sih. Sebenarnya tampilannya posisi letaknya aja yang beda." sahut Nisa.



"Makanya saya bilang alternatif saya seperti ini alternatif Herman seperti ini. Kalau kamu bilang sama ya silakan. Sekarang kamu tentukan yang mana yang lebih mudah dilihat untuk pengecekannya," kata Bayu.



"Baik Pak akan saya modif aja supaya lebih mudah dari kedua itu." Khairunnisa merubah kedua tabel yang ada.



"Bagaimana kalau seperti ini Pak?" Nisa memperlihatkan komputer mejanya pada Bayu. Bayu mendekat karena memang terlalu jauh untuk melihat layar monitor di meja Nisa.



"Kalau ini pindah ke sisi kanan gimana?" tanya Bayu.



"Kalau itu pindah ke sisi kanan maka tabel yang tengah ini akan menjadi pelik ketika diamati Pak. Karena kan dia berhubungan dengan lajur sebelahnya,"  jawab Nisa, memberi argumentasinya.



Mereka diskusi tanpa sadar dengan jarak yang sangat dekat. Bayu berdiri di sebelah meja Nisa. Sangat dekat dengan kursi Nisa.


__ADS_1


"Sudah waktu makan siang, sebaiknya kita makan siang dulu." Ujar Bayu.



"Biasanya kamu salat di mana?" tanya Bayu. 



"Saya di mushola sini Pak sekalian ke kantin," jawab Nisa.



"Kamu selalu makan di kantin?"  Tanya Bayu.



"Iya Pak, lebih murah daripada di rumah makan seberang. Dan bisa lihat-lihat wajah ganteng dari divisi lain buat cuci mata. Eh maksud saya sekalian berinteraksi dengan teman dari divisi lain," jawab Nisa.



Bayu tentu mendengar jelas kata-kata Nisa soal cuci mata di kantin.



"Rasa masakannya enak koq Pak. Hanya pilihan menunya memang beda dengan rumah makan Padang di seberang. Yang di kantin kan masakan Sunda." Lanjut Nisa.



"Oke nanti saya titip di kantin nasi rames lauknya dua ikan lele aja," jawab Bayu.




"Ini uangnya," Bayu memberikan satu lembar uang merah pada Nisa.



"Uangnya nanti saja Pak." Tolak Nisa.



"Pegang aja nanti kembalinya kamu pegang dulu nggak usah dikembalikan ke saya untuk makan siang berikutnya," kata Bayu pada Nisa.


\*\*\*



Nisa makan siang di kantin setelah salat Dzuhur. 



"Kok tumben Mbak Nisa beli nasi bungkus?" tanya pegawai kantin. 



"Kan udah makan di sini. Ini punya siapa?" Tanya si Ibu kantin.


__ADS_1


"Saya sekarang di mutasi ke ruangan Pak Bayu. Jadi tadi dia titip makan siang ini," kata Nisa.



"Oh ini punya Pak Bayu kalau gitu nasinya tidak terlalu banyak," kata Ibu Kartini pemilik kantin.



"Pak Bayu selalu minta nasinya sedikit daripada nanti dibuang mubazir. Pak Bayu makan nasinya nggak banyak. Tapi lauknya banyak," rupanya bu Kartini hafal satu persatu kesukaan para bos di kantor ini.



"Pantas ya Bu tadi dia pesan ikan lelenya dua," jawab Nisa.



"Jangan lupa kamu belikan kerupuk karena itu menu wajibnya Pak Bayu," kata ibu kantin yang hafal kebiasaan Bayu.



"Apa biasanya ada pesan minuman buat teman makan siang Bu?" tanya Nisa. Tentu Nisa takut salah.



"Tidak Pak Bayu tidak pesan minuman. Biasanya kalau makan dia pakai teh tawar." Kartini menjelaskan kebiasaan Bayu yang dia ketahui.



"Oh baik Bu nanti akan saya siapkan teh tawarnya," kata Nisa.



"Saya baru hari ini dipindahkan ke ruangan beliau," Nisa menjelaskan pada bu Kartini.



"Pak Bayu lebih mudah diatasi daripada Pak Herman. Kalau Pak Herman lebih cerewet dan lebih banyak kemauannya. Kalau kata pegawai yang biasa menemani Pak Herman kerja daripada Pak Bayu. Itu yang Ibu tahu dari cerita pegawai sini." Kartini menyerahkan nasi bungkus lengkap dengan satu bungkus kerupuk dan teh tawar pada Nisa.



"Baik Bu akan saya ingat,"  lalu Nisa melanjutkan makannya. Dia harus ingat harus ada kerupuk untuk Bayu juga teh tawar sebagai teman makan siang.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ ya.



![](contribute/fiction/6030990/markdown/10636434/1676097555111.jpg)


__ADS_1


Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul CINTA KECILNYA MAZ itu ya.


__ADS_2