UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
LAMARAN TONNY


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


“Ayok Kak. Biar tante enggak keburu sarapan makanan yang dari rumah sakit,” ajak Wiwien pada Tonny yang masih asyik bermain dengan Awan.


“Oke,” jawab Tonny.


“Pakde pergi dulu lihat eyang ya. Besok dan lusa kita main lagi,” Tonny menciumi Awan dengan gemas.


“Kalau sudah pengen punya baby, cepet nikah makanya. Jadi Awan punya teman,” goda Wiwien sambil membuka pintu mobil Tonny. Dia letakkan tas bubur dijok belakang.


“Gimana kalau Awan jadi anakku?” tanya Tonny serius. Dia belum menyalakan mesin mobilnya.


“Ih enak aja. Cari istrilah dan punya anak dengan istrimu Kak. Awan hanya milikku,” jawab Wiwien sambil mengenakan seat belt.


“Maksudku, Awan jadi anak kita. Aku mau jadi ayahnya Awan,” sahut Tonny sambil menatap lekat mata Wiwien yang sedang tak percaya menatapnya.


“Enggak usah becanda pagi-pagi gini. Ayok cepet jalan ah,” Wiwien jadi tak enak mendengar ‘lamaran’ Tonny barusan.


“Aku enggak becanda. Aku serius. Super serius dan tak pernah aku katakan hal ini pada perempuan lain,” balas Tonny.


“Kamu hanya terbiasa denganku Kak. Bukan mencintaiku. Dan kamu hanya butuh diriku karena mamamu. Bukan karena hatimu. Jadi untuk selanjutnya kita enggak usah bahas hal itu,” jawab Wiwien sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Aku mencintaimu sejak kejadian di Bank, saat mendapat telepon mama sakit. Saat itu aku merasa sangat membutuhkanmu disisiku. Jadi bukan karena kedekatanmu dengan mama. Kedekatanmu dengan mama mungkin rencana Allah memuluskan jalan hubungan kita,” sahut Tonny masih tetap melihat Wiwien.


Dipegangnya dagu perempuan ayu itu dan dia hadapkan ke wajahnya. “Aku serius mencintaimu dan ingin kita menikah. Aku tak akan membahasnya lagi. Aku akan menunggu dengan sabar sampai kamu bisa menerimaku.”

__ADS_1


Tonny kemudian menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke rumah sakit. Untung rumah Wiwien ke rumah sakit Fatmawati tak terlalu jauh. Sehingga jarak yang ditempuh dalam diam tanpa kata itu tak terlalu menyiksa keduanya.


***


“Pagi Tante, sudah semangat belum pagi ini? Kita lap badan lalu sarapan ya,” Wiwien langsung mengajak bicara bu Seroja. Tapi karena di ruangan itu ada Tonny dan bu Waode, maka bu Seroja tak menjawab perkataan Wiwien.


Bu Waode menyiapkan semua kebutuhan basuh badan bu Seroja. Kemudian dia keluar agar nyonya majikannya bisa leluasa bicara dengan Wiwien. Sedang Tonny sejak menaruh tas makanan memang langsung keluar kamar.


“Hari ini Wien bikinkan Tante bubur sumsum. Semoga Tante suka. Tapi nanti Tante tetap harus makan ransum yang dari rumah sakit ya. Biar tante cepat sehat dan segera pulang ke rumah lagi,” sambil membasuh badan bu Seroja Wiwien mengajak ngobrol.


“Iya,” jawab bu Seroja. Dia tentu akan suka makanan yang Wiwien bawakan.


Dan memang, satu porsi bubur langsung habis dimakan bu Seroja. Rasa lembur bubur sumsum yang Wiwien buat memang sangat nikmat karena bu burnya Wiwien but gurih karena banyak santannya.


“Sekarang Wien sarapan dulu bareng bu Waode ya. Sebentar lagi Tante bisa makan bubur sumsumnya lagi. Wien bawakan bubur cadarngan buat Tante”  Wiwien lalu memanggil bu Waode dan Tonny untuk sarapan bubur sumsum.


‘Bahkan dia meladeni Onny seperti seorang istri pada suaminya. Andai Onny mau menikahi dia,’ batin bu Seroja.


“Iya, satu jam lagi saya berikan makanan dari rumah sakit aja dulu Mbak. Buburnya bisa buat sehabis makan diang menjelang sore nanti,” sahut bu Waode.


“Wah gitu juga lebih baik. Simpan di kulkas aja buburnya. Jadi lebih enak,” sahut Wiwien.


‘Ada apa sih ama masakannya. Aku biasa makan bubur sumsum. Tapi serius bubur ini enak menurut lidahku. Gurih berpadu manisnya menciptakan sensasi rasa yang lain di lidahku,’ Tonny merasakan nikmat memakan bubur sumsum buatan Wiwien.


“Kak, nanti aku enggak langsung pulang ke rumah. Aku ada perlu ke Lebak Bulus, jadi aku enggak perlu diantar,” Wiwien memberitahu kalau Tonny tak perlu mengantarnya.


‘Apa dia akan menghindariku karena pernyataan cintaku tadi?’ duga Tonny curiga.

__ADS_1


“Oke, enggak masalah,” jawab Tonny sambil meminum kopinya.


***


“Serius kamu enggak mau aku antar ke tempat tujuanmu?” tanya Tonny saat mereka berjalan beriringaan keluar dari rumah sakit.


“Aku kan ke Lebak Bulus. Kakak ke Simatupang. Jalannya bertolak belakang. Nanti Kakak terlambat,” balas Wiwien.


“Aku enggak menghindar Kak. Jangan berburuk sangka. Tapi emang sejak dari rumah aku mau ke Lebak Bulus,” Wiwien menambahi perkataannya.


“Aku enggak terlambat, beritahu tujuanmu kalau emang kamu enggak menghindar,” desak Tonny dengan arogannya.


Wiwien memperlihatkan tanda kursus menyetir yang ada alamatnya. Dia malas bicara. Wiwien memang ingin membeli mobil agar Awan aman bila dia bawa bepergian. Tidak kena hujan dan angin serta debu.


‘Dia ikut kursus menyetir. Baguslah. Setidaknya Awan akan nyaman bila dibawa bepergian,’ Tonny membaca alamat yang tertera dan mengembalikan kartu kursus itu pada Wiwien.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL  CINTA KECILNYA MAZ  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2