
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Tonny ingat di pertemuan berikutnya dunia memang terasa terbalik secara cepat!
Saat itu Wiwien nama gadis itu datang untuk menangani berkas pengajuan cerainya.
Setelah semua selesai Tonny tanya Wiwien mau kemana, gadis itu ternyata satu tujuan yaitu bank ABC di jalan Sangaji.
Kebetulan yang merubah segalanya!
Di bank tersebut Wiwien akan bertemu dengan mantan mertuanya untuk menandatangani penjualan rumah yang selama ini dia tinggali.
Sehabis berkenalan dengan mantan mertua Wiwien, Tonny menyelesaikan urusannya sendiri. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing karena memang mereka tak janjian.
Ketika hendak pulang Tonny terlihat Wiwien terluka, dia melihat gadis itu terisak. Terpanggil untuk melindungi, Tonny langsung menghampirinya.
"*Are you oke*?” Tonny yang baru saja berpisah dengan kliennya dan hendak pulang melihat Wiwien yang terisak, dia segera mendekati dan memeluk pundaknya.
“Maaf, bukan maksud kami mengingatkan lukamu,” Joko jadi bingung sendiri karena istrinya juga ikut terisak.
Tonny membawa Wiwien menjauh dari Joko dan Iis. Dia tetap memeluk perempuan yang sedang terpuruk itu. Joko juga membiarkan Wiwien dibantu Tonny karena dirinya sibuk menangani iis istrinya.
Tanpa sadar Wiwien ikut kembali masuk ke mobil Tonny. Tonny memberikan tissue untuk Wiwien.
‘*Mau diantar kemana perempuan ini? Apa dibawa makan siang aja ya? Masa harus hubungi Slamet dulu nanya alamatnya*?’ Tonny akhirnya menunggu dengan sabar hingga Wiwien bisa diajak bicara.
Akhirnya Tonny membawa Wiwien ke sebuah cafe yang sepi. Dia ingin membuat perempuan itu agak tenang dan juga dia butuh makan siang. Saat ini sudah pukul 13.20.
“Kita makan dulu ya, kamu siap turun kan?” akhirnya Tonny mengajak Wiwien bicara dan mengajak perempuan itu turun.
Wiwien baru sadar mereka telah berada di parkiran sebuah cafe.
“Lho, Kakak enggak kerja? Saya ganggu waktu kerja Kakak?”
__ADS_1
“Enggak ganggu, saya memang mau makan siang sehabis bertemu klien tadi. Kamu enggak ganggu. Ayok kita turun. Kamu ganggu saya kalau kamu enggak ikut makan siang,” Tonny membuka seat beltnya dan bersiap turun dari mobil.
Wiwien pun ikut keluar mobil dan bersiap ikut makan siang dengan Tonny.
“Maaf ya Kak, tadi jadi lihat kejadian itu,” Wiwien tak enak hati dibantu Tonny. Mereka telah menulis pesanan menu yang akan mereka makan siang ini.
“Saya enggak lihat apa pun, jadi kamu tenang saja. Kecuali memang kamu mau bercerita. Nanti ceritamu itu akan memperjelas apa yang saya ‘lihat’ tadi,” kalimat jawaban Tonny malah membuat Wiwien ingin memberitahu mengapa tadi dia menangis kesal
“Saya tadi terpancing emosi ketika mertua bertanya apa saya pernah bertemu dengan mantan suami. Saya jawab kalau saya Alhamdulillah enggak pernah bertemu, dan enggak pengen ketemu lagi. Dua bulan saya bersabar melihat kelakuan mereka hampir setiap hari."
"Mereka libur berzina kalau saya tidak kerja atau pas pembantu menstrua-si. Kurang sabar apa saya?” cerita Wiwien lirih.
“Rupanya Ayah mertua bertanya karena ingin menanyakan apa mantan sudah membagi uang penjualan mobil. Karena ada uang saya disana. Saya jawab kalau saya tak pernah minta harta gono gini. Saya hanya ingin cerai dan hak asuh mutlak milik saya. Karena Bayu sangat jahat membuat anak saya jadi tumbal perbuatan mereka. Awan dibuat tertidur pulas agar tidak mengganggu kegiatan be-jad ayahnya dengan pela-cur itu,” Wiwien menjelaskan mengapa dia mulai menangis.
“Saya langsung sedih dan terluka bila sudah bicara tentang Awan putra saya.”
“Besok saya akan ke kantor mantan suamimu. Saya akan perjuangkan agar dia tak bisa lagi mengunjungi Awan. Dia hanya bisa melihat dari jauh saja,” jawab Tonny.
“Pulang Kak, saya tinggal di jalan Garharu 1, dari sini dekat, bisa naik ojek online atau bajaj kalau taksi enggak ada didepan cafe,” sahut Wiwien.
“Bareng aja, saya juga ada jadwal dengan klien tapi anaknya sakit, saya nanti ke rumah sakit Fatmawati, jadi kita satu jalur,” sahut Tonny yang mau bertemu dengan pak Pangestu yang anaknya sakit.
Tonny kasihan bila klien harus datang ke kantornya, maka dia mengalah. Dia yang akan mendatangi sang klien.
“Baiklah, nanti saya turun di jalan MPR Raya saja, saya bisa jalan kaki ke rumah atau naik ojek,” sahut Wiwien. Tentu dia tak berharap Tonny akan mengantarkannya ke rumah.
“Enggak perlu, saya belok sedikit enggak apa-apa. Lalu bisa keluar ke jalan Pangeran Antasari lalu ke rumah sakit,” sahut Tonny sambil memberikan uang cash pada server yang tadi dia panggil untuk meminta bill.
“Maaf, saya terima telepon dulu ya,” ada panggilan dari nomor telepon rumah di ponsel pribadinya bukan telepon kantor.
“Seperti biasa, langsung bawa ke rumah sakit, kita ketemu disana. Sekarang saya on the way,” sahut Tonny. Dia langsung menghubungi telepon kantor.
“Pending semua telepon, karena telepon kantor saya matikan. Saya ke rumah sakit karena ibu saya anfal. Dan katakan pada pak Pangestu saya tetap akan datang hanya setelah urusan ibu saya selesai!” Tonny memberi perintah pada staffnya di kantor untuk tidak menghubunginya karena dia akan mematikan ponselnya.
__ADS_1
“Sudah Kak, saya disini saja. Nanti saya naik taksi gampang koq,” Wiwien sadar diri Tonny sedang kalut.
“Kamu bisa temani saya ke rumah sakit ?” Tonny entah mengapa butuh teman. Dia sudah sering mengalami kejadian seperti ini. Tetapi entah mengapa dia butuh teman.
Saat itu Tonny merasa sangat butuh Wiwien mendampinginya. Padahal ini bukan pertama kali mamanya sakit.
“Bisa Kak. Kalau tidak mengganggu, saya bisa koq nemani,” sahut Wiwien cepat. Dia berpikir saat ini Tonny butuh teman.
“Ayah saya sudah meninggal dua tahun lalu. Saya punya satu kakak perempuan yang tinggal di Kuala Lumpur karena suaminya bertugas di KBRI sebagai dokter disana. Kakak yang juga seorang dokter gigi juga ikut pindah walau bukan sebagai dokter yang ditugaskan,” tak disangka Tonny membuka jati dirinya.
“Mama kena stroke ringan dan guncangan jiwa satu tahun lalu. Sejak itu mama seperti mayat hidup. Dia tak pernah bicara pada siap pun. Tak pernah senyum dan memandang mata siapa pun. Tatapannya kosong,” Tonny menjelaskan kondisi mamanya.
“Tadi tetiba tekanan darahnya naik dan dia pingsan, maka suster yang merawatnya langsung membawa ke rumah sakit. Dia langsung melapor ke dokter yang memang merawat mama sejak awal,” dengan berat Tonny menarik napas panjang. Dia belum berani mengabari kakaknya bila belum melihat langsung kondisi terkini sang mama.
“Semoga kondisinya tidak mengkhawatirkan,” Wiwien hanya bisa berkomentar seperti itu. Dia berharap mamanya Tonny kuat menghadapi serangan sakit kali ini.
“Aamiiiin. Semoga saja dia tidak kena serangan stroke ulangan. Sebab menurut pengalaman, serangan stroke kedua itu lebih berbahaya,” sahut Tonny. Dia juga berharap sang mama selalu kuat. Tonny jadi ingat perkataannya kemarin, akan segera menikah bila sang mama kembali sehat.
Tonny ingat saat sampai di rumah sakit dia terpaksa meninggalkan Wiwien menemani ibunya karena dia harus menebus obat dan perawat mamanya kembali ke rumah buat ambil perlengkapan mamanya. Saat kembali ke ruang rawat dia melihat keajaiban.
Mamanya yang selama ini tutup mulut mau bicara dengan Wiwien di pertemuan pertama mereka!
Wiwien memang perempuan special.
Dan Tonny sangat bersyukur mendapatkan perempuan itu menjadi istrinya.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.