UNCOMPLETED STORY

UNCOMPLETED STORY
ONNY KANGEN MASAKAN MAMA


__ADS_3

DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI


\~\~\~\~\~


Keluarga Teguh baru selesai makan malam ketika ponsel Wiwien berbunyi dengan anda panggilan masuk. Tertera nama ibu mertua sebagai orang yang menghubungi.


“Assalamu’alaykum Bu,” sapa Wiwien sopan.


“Wa’alaukum salam. Kamu sehat Nduk?” tanya Iswarni pada ‘anak perempuannya’.


“Alhamdulillah Bu, Wiwien dan Awan sehat. Ibu sama Ayah gimana?” Wiwien balik betanya tentang kesehatan mantan mertuanya itu.


“Ibu dan Ayah masih sedih Wien. Enggak percaya sama apa yang telah terjadi. Tapi kalau badan kami sehat,” jawab Iswarni.


“Wien, Ibu mau kasih tahu, besok kamu bisa ketemu Ibu dan pembeli rumahmu enggak?” Iswarni menjelaskan tujuannya menghubungi Wiwien.


“Kalau sesudah jam sepuluh bisa Bu,” balas Wiwien. Dia besok pagi jam sembilan sudah janjian dengan Tonny untuk menandatangani berkas perceraian miliknya.


“Oke, besok jam sebelas di bank cabang tempat kamu mendaftar aja ya. Transaksi lebih aman didalam bank,” Iswarni setuju besok jam sebelas bertemu dengan Wiwien.


“Ono opo Nduk?” tanya Iin pada Wiwien.


“Sepertinya rumah sudah laku Bu, besok aku diminta ketemu Ibu Iis di bank buat terima pembayaran,” sahut Wiwien. Dia bergegas ke kamar untuk mengambil buku tabungan guna transaksi besok. Walau untuk setor, buku tabungan tak terlalu diperlukan. Yang penting nomor rekening saja.


“Alhamdulillah kalau rumah itu sudah terjual,” Teguh mengomentari pembicaraan Wiwien dan Iin istrinya.


“Sepertinya Iis tak ambil untung. Yang penting balik modal dan segera menyerahkan uang itu untuk Wiwien. Dia mungkin juga sangat malu dengan kelakuan Bayu,” Iin menilai besannya gerak cepat menjual rumah hadiah untuk putri mereka.


“Untungnya Wiwien membongkar kebusukan Bayu dengan manis, sehingga tak ada yang bisa mengelak,” Teguh tetap merasa beruntung dengan kejadian itu. Bila Wiwien hanya bicara tanpa bukti tentu dia yang akan ditindas.


***

__ADS_1


‘Akhirnya, mulai selesai separo dari pekerjaanku yang tertunda karena aku fokus ke Ririn. Aku akan berubah dan tak akan lagi tergoda pada siapa pun. Aku akan mencoba kembali mendekati Wiwien dengan alasan ada Awan yang membutuhkan kami berdua. Aku akan menunggu Wiwien cooling down dulu. Sambil berupaya mendekati ayah dan ibu,” Bayu memberi ACC pada berkas yang sudah dia koreksi.


Cukup banyak pekerjaan yang bisa Bayu selesaikan dalam satu minggu sejak dia terpuruk karena ketahuan berselingkuh dengan pembantu rumah tangganya.


“Enggak makan?” tanya Herman yang melihat Bayu masih sibuk di mejanya menegur untuk makan siang bersama.


“Duluan aja, bentar lagi gue nyusul,” Bayu men-save data yang dia kerjakan. Baru dia matikan computer di meja kerjanya. Setelah semua terlihat aman, Bayu keluar ke kantin belakang. Semua karyawan mendapat jatah makan siang gratis dengan menandatangani form konsumsi. Diluar makan siang maka semua ditanggung oleh personal.


Jadi kalau makan siang pakai juice, kopi atau teh manis yang itu harus bayar kelebihannya. Kalau jatah free hanya makan siang dan teh tawar saja.


Bayu mengambil jatah makan siangnya. Tak lupa dia ambil kerupuk dan ekstra sambal. Lalu dia duduk dekat Herman.


“Tumben sekarang lo balik makan siang di kantor lagi,” Herman yang belum tahu mengapa dua bulan lalu Bayu tak makan di kantor meledek rekannya itu. Andai dia tahu, pasti dia akan bersorak karena sejak dulu dia menyukai Wiwien.


“Kemaren gue lagi keder, sekarang udah waras lagi koq,” balas Bayu sambil sedikit menyesal karena pernah salah langkah.


“Gila lo, udah punya anak juga bisa keder, inget anak lah, kalau lu dipecat mau dikasih makan apa anak lo?” Herman mengingatkan temannya untuk tak salah langkah.


***


“Pak, pak Pangestu tidak bisa datang siang ini karena putrinya masuk rumah sakit,” seorang staff melapor pada Tonny seorang kliennya menunda bertemu karena ada yang lebih penting.


“Catat di agenda saja, kalau soal kesehatan anak, jangan diabaikan.” Tonny memberi toleransi untuk klien yang terpaksa menunda bertemu karena ada hal urgen seperti Pangestu.


“Berarti sore ini saya free?” tanya Tonny.


“Iya Pak, sore sudah tidak ada janji lagi,” staff tersebut melihat catatannya.


“Saya pulang lebih dulu. Ingat selepas jam kantor enggak usah coba-coba hubungi saya karena pasti ponsel saya off,” Tonny segera keluar kantor. Dia segera melajukan mobilnya kerumah mama tercintanya.


Setiap lepas jam kerja memang Tonny lebih suka di rumah. Dia akan betah hanya duduk manis disebelah mamanya yang tetap diam tak bergerak walau ditanya. Mamanya kena stroke ringan. Tapi sejak itu sang mama tak mau bicara sama sekali. Perempuan itu hanya diam seperti mayat hidup. Dia akan makan bila disuruh makan, akan minum bila disuruh minum dan akan tidur bila disuruh tidur.

__ADS_1


Hanya itu kegiatan sehari-hari sang mama.


“Hallo Ma. Onny bawa martabak ketan hitam buat Mama,” dengan telaten Tonny menyuapi martabak ke mulut mamanya.


“Cukup dulu ya, sebentar lagi Onny kasih lagi. Sekarang minum teh hijaunya ya,” Tonny menyodorkan cangkir yang berisi teh hijau hangat tanpa gula.


Lalu Tonny berbaring di paha mamanya. Dia selalu seperti itu, dia tarik tangan mamanya dan dia usap-usap kepuncak kepalanya sendiri, agar sang mama ingat ada anak yang selalu membutuhkan dirinya.


“Ma, Onny kangen Mama, kangen masakan Mama. Kangen omelan Mama, kangen cerewetnya Mama. Kapan Mama balik lagi ke Tonny. Kenapa Mama betah diem aja kayak gini?” tanya Tonny.


Adzan Maghrib, Tonny segera bersiap. Dia lari ke kamarnya dan mandi lalu berganti baju. Tadi sebelum masuk kamar dia minta ke perawat agar menyiapkan mamanya untuk bersiap di ruang salat.


Tonny melihat mamanya sudah duduk mengenakan mukena. Dia pun bersiap menjadi imam bagi sang mama, perawat juga dua pembantu rumah tangganya. Sehabis salat dan berzikir Tonny mengecupi tangan serta pipi sang Mama. “Sehat lagi ya Ma. Onny nunggu Mama sehat. Onny janji segera menikah kalau Mama kembali sehat.”


Tonny membaca Al-AQuran dengan duduk didekat sang ibunda. Dia membaca sambil memegang telapak tangan mamanya. Dia ingin menarik sang mama kembali ke kesadarannya sebelum kisah pilu itu dilihat langsung oleh mamanya.


Terlintas bayangan bagaimana sang mama sangat menyukai dan menyayangi Novita atau Vita mantan tunangannya. Dan Vita pula yang membuat mamanya terpuruk. Gadis manis berkulit putih yang sangat manja. Membuat semua orang sangat menyukai tapi tak termasuk Tonny walau lelaki itu berhasil mengikatnya dalam pertunangan.


“Babe, kamu sibuk banget sih. Aku pengen ditemenin belanja,” sering Vita mengeluh hal ini pada Tonny bila gadis itu ingin ditemani.


\===============================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA MILIK YANKTIE YANG BERJUDUL   KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR  YOK!



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya

__ADS_1


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta


__ADS_2