
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
BAYU POV
Rumah sudah kosong. Semua sudah pulang. Hanya tinggal aku sendirian di rumah ini. Aku melihat bayangan mantan istriku yang duduk terdiam di teras berdua dengan kakak iparku.
“Saya minta kamu segera meninggalkan rumah ini. Karena saya tak rela rumah anak perempuan saya kamu tempati!” itu kata suara terakhir yang aku dengar. Suara pak Joko ayah kandungku sebelum keluar rumah. Setelah itu tak ada lagi percakapan.
Aku mengambil koper milikku. Aku masukkan semua ijazah dan surat-surat yang sekiranya aku butuhkan. Juga semua berkas kantor. Setelah itu baru aku masukkan pakaianku. Masih ada dua kardus rokok besar disana, sisa yang dibeli mas Slamet. Dan tak peduli pada mantan kakak ipar, aku gunakan kardus itu untuk mengisi semua barangku.
Aku masukkan sepatu, gitar, buku dan semua yang jadi milikku tanpa tersisa. Akhirnya semua barangku bisa aku masukkan di dalam dua koper, dua kardus besar, satu ransel dan satu tas pakaian besar.
Selesai sudah. Tak ada lagi barangku di sini. Selesai seperti kisah cintaku yang tak lengkap lagi. Uncompleted story.
Aku geret kardus berisi barangku. Tak kuat kalau aku harus mengangkatnya seorang diri. Satu kardus aku masukkan di jok belakang dengan susah payah dan satu aku masukkan bagasi walau tak bisa tertutup. Sisa yang lain aku selip-selipkan saja asal masuk di mobilku.
“Bund. Ayah minta maaf,” aku berupaya pamit pada mantan istriku. Tapi dia berpaling dan tak mau lagi melihat wajahku. Aku sadar, dia pantas berbuat seperti itu. Karena setiap hari dia melihat bagaimana pergulatanku dengan Ririn secara langsung.
Aku mengingat, memang sejak aku mendapat pelepasan dengan Ririn, aku tak pernah lagi bergulat dengan Wiwien istri sahku. Sepertinya aku senang dengan kegiatan sembunyi-sembunyiku. Ada sensasi deg-deg an takut ketahuan. Tak seperti aku lakukan dengan Wiwien karena kami memang legal secara agama dan negara.
Saat ini aku bingung mau kemana. Tak ada uang dan tak ada rumah dengan membawa barang seperti itu. Aku menepi di luar perumahan. Sengaja berhenti di bawah pohon agar tak kepanasan. Saat ini masih siang menjelang sore. Tadi Wiwien membuka laptop miliknya sehabis kami selesai makan siang. Jadi saat ini cuaca masih cukup terik.
Aku buka ponselku mencari rumah petakan bulanan dekat kantorku. Beberapa kali aku menghubungi nomor yang tertera di iklan. Aku harus aman untuk dua bulan kedepan. Aku tanya apa rumah termasuk kasur dan alat masak. Ternyata semua rumah petak tak ada yang punya fasilitas seperti itu.
Ternyata aku salah. Yang menggunakan fasilitas kasur dan lemari ternyata kamar kost. Bukan rumah petakan. Aku pun mencari kamar kost yang lokasinya dekat dengan kantor agar tak butuh bensin banyak. Tentu aku cari yang transportasi masuk mobil dan tidak di gang kecil serta bebas banjir.
Walau nanti aku menggunakan motor, aku agak susah beradaptasi bila tinggal di jalan kecil, yang mengharuskan saling sapa dengan tetangga.
Setelah berkali-kali menghubungi nomor yang tertera di iklan online, aku mendapat kamar kost yang mempunyai fasilitas cukup memadai. Kasur, lemari, meja belajar, kamar mandi di dalam dan fan, bukan AC. Kamar itu harus aku bayar sewanya tiga bulan dimuka.
__ADS_1
Aku down grade. Yang bisa aku sewa memang kamar dengan fan, bukan dengan AC. Apa mau dikata. Aku harus menerima kondisi ini.
Aku langsung menyanggupinya dan mengatakan akan segera masuk saat ini juga dan akan aku bayar begitu aku tiba disana. Tadi pemilik melakukan video call untuk aku melihat kondisi kamar.
BAYU END POV
Perempuan itu nanar menatap kamarnya sejak kecil. Dia terpaksa harus kembali ke rumah kedua orang tuanya setelah tadi dia membongkar kebusukan mantan suaminya.
Ada kelegaan dia bisa membongkarnya dengan sukses. Ada kebanggaan dia bisa menuntaskan semua sendirian tanpa pernah bercerita pada siapa pun.
Tapi ada penyesalan. Penyesalan karena sejak saat ini anaknya akan tumbuh hanya dengan dirinya. Tanpa sosok ayah yang akan membimbingnya.
Semua barang miliknya masih berada di teras belakang. Ditutup terpal plastik agar tak kena tampias bila hujan tiba-tiba. Di kamarnya ini masih ada banyak pakaiannya. Tadi yang dikeluarkan hanya barang-barang milik Awan. Lelaki kecilnya itu tentu butuh semua peralatannya.
Sengaja Wiwien tak membongkar barangnya. Karena dia tak ingin tinggal di rumah ini lagi. Saat ini rumah kedua orang tuanya hanya sekedar tempat TRANSIT semata. Bila sudah agak tenang dia ingin hidup mandiri.
Wienarti memanaskan bubur milik Awan. Jagoannya harus sudah makan sore ini.
“Bismillah ya sayank. Kita ma’em dulu,” Wiwien berupaya tetap tegar. Dia mulai menyuapi putranya dengan sabar.
Dan Awan tak banyak rewel merasakan makanan yang masih baru dia kenal rasanya. Dia menelan semua makanan yang disendokkan Wiwien sang bunda.
“Pinter nih anak Bunda. Suka ya ama menunya?” Wiwien dengan telaten menyuapi kentang halus bercampur dengan daging ikan salmon pada Awan.
“Pintar sayanknya Bunda. Sekarang mimi dulu ya,” disuapi air putih sesendok demi sesendok. Setelah selesai semua dia membasuh wajah putranya dengan tissue basah agar tidak amis.
“Udah ma’emnya, sini sama Om,” Arno mengajak Awan untuk dia bopong.
“Hati-hati De, jangan banyak gerak dulu biar enggak gumoh,” Wiwien menasehati adiknya agar tidak sembarangan mengangkat Awan agar tidak muntah ( gumoh itu muntah tapi sedikit ).
Wiwien membawa peralatan makan milik putranya. Langsung dia cuci karena peralatan makan milik Awan menggunakan sabun khusus untuk peralatan bayi bukan sabun cuci piring untuk dewasa.
__ADS_1
“Kami pulang dulu ya De,” mbak Asih pamit pada Wiwien sesudah makan malam bersama. Sejak tadi tak ada satu pun keluarga perempuan itu yang membicarakan masalah Bayu dan Ririn. Sepertinya mereka sepakat untuk tidak membuat Wiwien tambah terluka.
“Iya Mbak, matur nuwun atas bantuannya.” Wiwien langsung mengucapkan terima kasih pada kakak sulungnya itu.
“Sing sabar,” bisik mbak Asih hati-hati.
“Aku sudah cukup sabar sejak melihat pengkhiatannya pertama kali Mbak. Jadi aku bisa pastikan aku kuat. Tak perlu khawatirkan aku,” sahut Wiwien. Karena memang itu kenyataannya. Selama ini dia menanggungnya sendirian dan dia kuat.
“Kalau butuh bantuan, kamu bilang aja ke Mas, jangan ragu,” mas Slamet berpesan pada adik iparnya. Dia tahu adiknya sudah lama terpuruk sendirian.
“Iya Mas, insya Allah akan aku kasih tahu kalau aku butuh bantuan,” sahut Wiwien.
“Mungkin aku butuh pengacara aja Mas. Aku malas berhubungan dengan Bayu,” balas Wiwien selanjutnya.
“Oke, nanti Mas carikan teman Mas yang bisa bantu kamu,” Slamet menjanjikan adik iparnya itu.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL BETWEEN QATAR AND JOGJA YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
__ADS_1
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta