
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
“Aku ingin secepatnya Mas. Biar aku bisa mulai menata hidupku. Tadi aku juga sudah ajukan resign dari kantor. Habis ini aku akan pindah ke rumah sendiri. Aku tak mau tinggal dengan ibu dan bapak. Aku akan mandiri,” jawab Wiwien dengan pasti.
Wiwien sudah berpikir panjang. Kalau dia hidup sendiri dengan predikat janda bagaimana efeknya. Dan kalau dia tetap tinggal di rumah orang tua bagaimana efeknya. Semua ada plus minusnya. Dan dia sudah siap menerima kenyataan itu.
“Oke. Mas setuju apa pun langkah yang akan kamu ambil. Mas tahu kamu sanggup memikul beban ini. Kalau begitu kamu langsung janjian saja dengan Tonny. Ini kartu namanya,” Slamet tak menyangka adik iparnya lebih tegar dari yang dia dan Asih bayangkan.
“Sebentar Mas, aku ambil ponselku. Aku ingin telepon dia langsung di depan Mas aja biar bisa segera ada pergerakan,” Wiwien cepat masuk ke kamarnya. Mengambil ponselnya dan kembali ke teras belakang.
“Ini ada dua nomor Mas. Yang mana yang harus aku hubungi?” tanya Wiwien melihat kartu nama pengacara tersebut.
“Sebentar Mas lihat yang ada di ponsel Mas,” Slamet melihat kartu nama itu dan melihat nomor ponsel yang tertera disana. Tapi malah keduanya tak ada yang sama dengan nomor yang dia save.
“Malah bukan keduanya,” Slamet akhirnya menekan tombol telepon dari ponselnya.
“Wa’alaykum salam,” sahut Slamet menjawab salam yang kawannya berikan.
“Kamu kasih aku kartu nama, tapi dua nomor ponsel disana enggak sama dengan nomor yang aku hubungi sekarang. Ini adikku mau bicara ke nomor yang mana?” tanya Slamet langsung ke topik yang ingin dia tanya.
“Oh, dia bisa hubungi kedua nomor yang ada di kartu. Itu memang nomor untuk pekerjaanku. Dan kedua nomor itu hanya aktiv saat jam kerja saja. Kalau nomor yang kau hubungi sekarang ini bukan soal kerjaan,” terdengar sahutan dari temannya itu.
“Baiklah. Adikku akan menghubungimu sebentar lagi,” sahut Slamet.
“Apa saat ini adikmu sedang bersamamu?” tanya Tonny.
“Dia ada di depanku,” Slamet menjawab pertanyaan Tonny. Dia tak paham mengapa temannya bertanya hal itu.
__ADS_1
“Kalau begitu berikan ponselmu padanya. Biar kami berkenalan lebih dulu,” pinta Tonny.
“De, dia ingin berkenalan dulu pakai nomor ini. Untuk selanjutnya kamu bisa hubungi di dua nomor itu langsung,” Slamet memberikan ponselnya pada Wiwien.
“Assalamu’alakum Pak. Saya Wienarti. Adik mas Slamet,” Wiwien memperkenalkan dirinya pada calon pengacara yang akan membantunya mengurus surat cerai dengan Bayu.
***
Bayu makin terpuruk. Dia tak bisa konsentrasi bekerja. Dia bukan kehilangan sosok Ririn pemuas nafsunya. Dia kehilangan sosok pengisi hatinya. Berkali-kali pak Herman atasannya menegur karena hasil pekerjaannya makin buruk.
Setelah ditegur sering terlambat menyerahkan pekerjaan karena sering mencuri waktu untuk bertemu Ririn. Sekarang dia ditegur karena malah tak mengerjakan apa pun setelah dia bercerai secara agama dengan Wiwien.
“Yu, kalau satu minggu kedepan kamu masih seperti ini, terpaksa saya akan memberikan kamu SP1, kamu sudah sangat kelewatan,” bisik Herman pada sahabatnya itu.
Herman dan Bayu memang bersahabat sejak SMA. Herman pula yang merekrut Bayu di kantor milik ayahnya ini. Walau anak pemilik, Herman pun berkarier di kantor ini dari bawah. Dia dan Bayu menjadi team yang solid sehingga bisa menduduki jabatan yang sekarang mereka pegang.
‘Nomor ponselku sudah di blokir Wiwien, ayah dan ibu. Apa aku datangi mereka saja ya untuk minta maaf? Dan nanti bila mobil terjual aku juga akan langsung menyetor separonya ke rekening Wiwien agar dia tahu aku tak memakan uang miliknya,’ Bayu kembali menatapi berkas iklan yang menumpuk di meja untuk dia periksa lay out yang di ajukan team marketing dan design.
Sepulang kantor Bayu melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya. Dia ingin minta maaf pada ayah dan ibu yang telah dia kecewakan.
“Ngapunten Mas, Bapak pun ngendiko mas Bayu mboten pareng mlebet mriki malih,” satpam rumah ayahnya tak mau membukakan pintu dengan mengatakan kalau ayahnya sudah memberi pesan tidak boleh membuka pintu untuknya.
Pak Joko ayahnya sudah melarang Bayu masuk rumah itu lagi. Sang satpam berkali-kali minta maaf harus menyampaikan hal itu. Sattpam tak enak haati pada anak majikannya yang selama ini sangat baik pada siapa pun.
“Apa ayah dan ibu ada di rumah?” tanya Bayu tak putus asa. Tak percaya kalau ayahnya sampai memberitahu satpam untuk mencegahnya masuk rumah.
“Bapak baru saja pulang. Ibu sedang pergi,” sahut sang satpam.
“Baiklah, nanti saya temui ibu dan ayah di kantornya saja,” Bayu tahu, sang ayah punya sebuah rumah kecil yang dijadikan kantor untuk mengurus administrasi semua mini market miliknya.
__ADS_1
‘Tapi, kapan aku bisa ke kantor ayah? Sementara di kantor pun aku sedang mengejar tugas yang menumpuk karena telah banyak lalai saat berhubungan dengan ular itu,’ Bayu bingung mencari waktu untuk mendatangi kantor ayahnya.
‘Ular? Mengapa aku baru sadar kalau dia ular? Mengapa sejak dia berani duduk disebelahku dan meremas jariku aku malah tertantang untuk menaklukkannya?’
‘Sebenarnya, apa lagi yang hendak dia lakukan dengan hubungan kami? Apa nantinya dia juga akan meracun Wiwien sedikit demi sedikit agar dia bisa menjadi istri sahku? Enggak menutup kemungkinan kan hal itu dia lakukan?’
‘Kalau aku ke kantor ayah? Apa tidak lebih malu bila disana pun aku juga ditolak? Disana banyak orang. Sangat malu bila semua pegawai ayah tahu hal ini. Aku harus cari jalan aga bisa bertemu ibu dan ayah.’
Bayu melajukan mobilnya, dia mampir ke warung nasi untuk membeli lauk. Memang dia hanya butuh lauk saja karena sejak hari Senin dia sudah membeli sebuah majic jar kecil. Jadi tak perlu beli nasi. Lumayan pengiritan. Lauk yang dibeli pun dia gunakan untuk dua kali makan. Yaitu makan malam dan sarapan. Dia tak bisa bila hanya sarapan roti.
Lauk tentu tak perlu dipanaskan. Dia cukup simpan di majic jar saja. Dia punya satu buah kompor gas kecil satu tungku dan wajan serta panci kecil bila butuh masak. Tapi tiga hari ini belum pernah peralatan itu dia gunakan.
Sejak awal memang Bayu sadar harus punya semua itu, karena bila tiap hari dia sarapan dan makan malam di luar maka uang gajinya tak akan cukup. Memang dia tak punya cicilan apa pun. Tapi dia tetap akan memberikan nafkah untuk Awan putra semata wayangnya. Dan setelah dia hitung, sisa uangnya nanti tak akan cukup bila dia boros selalu makan di luar.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YAAAA
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta
__ADS_1