
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Serius?" kata Seroja pada Tonny setelah tiga tamunya pulang.
"Serius Ma, tapi aku lupa cerita. Hari itu aku pulang jam 04.00 pagi. Aku langsung salat Subuh langsung tidur," kata Tonny pada Seroja.
"Sejak kapan kamu tahu Tria itu bandar besar. Paling besar di Asia," tanya Seroja.
"Sejak aku tanganin kasusnya Brian, Ma," sahut Tonny santai.
"Kamu dua tahun nggak cerita ke Mama?" Seroja tak percaya Tonny sudah tahu kalau Tria bandar besar.
"Waktu itu Mama sakit, itu alasan yang pertama. Alasan kedua aku nggak cerita adalah urusan begini nih nggak bisa diceritakan walau pun ke Ibu atau ke istri kalau belum terbongkar."
"Enggak boleh Ma karena nanti bisa jadi istri atau mama diculik atau ditekan supaya cerita rahasia seperti ini. Memang harus benar-benar rahasia sampai kasus terbuka Ma," Tonny menjawab mengapa diam selama dua tahun ini.
"Oh gitu," kata Wiwien.
"Iya nggak boleh *sweetheart* kalau belum terungkap kita nggak boleh ngomong walau pun ke istri atau ke orang tua gitu. Nggak boleh kita cerita ke siapa pun" kata Tonny.
"Baik aku ngerti," jawab Wiwien.
"Jadi Ma suaminya tante Tria itu dulu bandar Ma. Saat digerebeg, dia ketangkap itu terus kan mau kabur."
"Saat itu dia ditembak. Rupanya luka tembakannya terjadi komplikasi dengan diabetesnya jadi sulit sembuh kan Ma, hingga membuatnya meninggal."
"Usahanya diterusin sama tante Tria ternyata otak bisnis dia lebih hebat dari Om Danu. Jadilah usahanya lebih besar!"
"Ealaaah, edan tenan," kata bu Seroja. Dia tak percaya teman SMA nya bandit besar.
"Iya Ma. Suaminya Ibu Irene yang bernama William Hudaya yang memelihara Vita."
"Dia pemodal utama Vita saat ini. Dia juga yang bikin acara ulang tahun semu Vita agar barang kiriman bisa mereka terima dengan santai di ruang terbuka."
__ADS_1
"Tante Tria itu udah dua kali ditangkap loh Ma, tapi selalu bisa lepas kembali karena buktinya selalu bisa dia mentahkan. Dia selalu bisa berkelit. Ada aja alibinya.'
"Jadi nggak bisa ditangkap kalau dia nggak tangkap tangan. Makanya enam bulan ini benar-benar dipantau."
"Dua minggu lalu itu aku dipanggil Pak Victor terus kita bahaslah kematangan rencana ini."
"Saat sekolah dulu Tria memang paling jago kalau untuk bikin alasan buat bolos ke bu guru. Ternyata sifat itu berguna buat dia bikin alasa ke polisi."
"Makanya rencana Tria mau jodohin Vita sama Pangestu, targetnya bukan Pangestu!"
"Vita dijodohkan dengan Pangestu supaya Irene nggak curiga. Jadi Vita bisa gampang ketemuan sama William."
"Bukannya Vita sama Brian? Kok lari sama Pangestu. Gimana sih?" Wiwien malah puyeng dengan lingkaran yang Tria buat.
"Kalau dia cuma sama Brian, dia enggak punya penyandang dana! Dia kan harus ada penyandang dananya."
"Dijaring lah Pangestu. Kalau Pangestu kan masih kelas kecil perusahaannya, jadi dia harus cari yang lebih besar itulah Omnya Pangestu."
"Tria ngejebak buat kenalannya itu pintar banget kok. Kayak waktu njebak Tonny." Seroja ingat pendekatan Vita dan Tria padanya.
"Mama kan tahu sendiri aku udah tunangan sama dia aja belum pernah nyium bibir atau pipinya aja belum. Pernah satu kali cium kening itu pas tunangan doang. Kalau ama orang lain, Vita bisa udah tidur berkali-kali. Tapi aku enggak mau kejebak ama dia."
"Saat itu aku kok punya feeling nggak enak Ma," kata Tonny.
"Ternyata mau dijebak ya Mas. Buat bemper kalau di pengadilan," Wiwien malah serem membayangkan bila Tonny terjebak dalam lingkaran bandit ketika sudah jadi suami Vita.
"Iya kalau dia jadi istri ku, wah sudah enak gitu keluarganya,"kata Tonny.
"Di belakang aku dia enak-enakan sama Brian. Di depan dapat perlindungan hukum dariku," Tonny juga sadar akan hal itu.
"Jadi mereka muter itu. Brian sam Vita. Tapi Vita diumpan ke William. Briannya juga ama Cindy."
"Semua berdasarkan kepentingan. Kalau sama William kan kepentingannya di uang. Mungkin cintanya cuma sama Brian. Begitu pun Brian ke Cindy kan bukan cinta tapi kan uang."
"Mama nggak nyangka aja. Makanya mama nyesel aja ya Allah. Untung aja terbebas dari dia. Nggak kebayang sampai sekarang suka masih ketakutan inget Mama hampir njeblosin anak Mama kejurang nista."
__ADS_1
"Udah Ma santai. Sekarang kan semua sudah berlalu," Wiwien menghibur mertuanya.
"Eyang enapah?" Awan bertanya pada ayahnya karena melihat eyangnya sedih.
"Eyang enggak kenapa kenapa," balas Tonny sambil mengusap puncak kepala anaknya.
"Nda pa pa? Nda nanis?" Desak Awan.
"Enggak apa apa," Tonny memastikan Seroja tak apa apa pada Awan.
"Eyang nggak pa pa Wan," jawab Seroja pada cucunya.
"Ndak apa apa?" jawab Awan sambil menggelengkan kepala.
"Iya sayang, eyang nggak apa apa," jawab Seroja.
Puas mendapat jawaban eyang dan ayahnya lalu Awan pergi lagi. Kembali mengatur balok-balok mainannya.
"Onn, kemarin Om Bachtiar bilang lusa mau datang ke Jakarta," Seroja memberi khabar pada Tonny.
"Oh ya Ma ada apa?" Tonny pikir om nya mau urus masalah yayasan yang hartanya ada dibawah naungan hukumnya.
"Om Daus dan istrinya kan mau umroh dan akan adain pengajian. Kita juga diundang ke rumah Daus," Seroja memberitahu anak dan menantunya.
"Oh jadi dia mau pengajian. Kita terakhir ketemu itu pas resepsi ya Ma," kata Wiwien.
"Iya resepsi pernikahan kalaian mereka semua datang, Daus Yusuf. Semua datang."
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ ya.

__ADS_1
Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul CINTA KECILNYA MAZ itu ya.