
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Sehabis salat Subuh Bayu meluncurkan mobilnya ke Rumah Sakit Carolus Ruangannya berbeda dengan ruangan yang lama.
Dia sudah tahu ruangan terbaru dari pak Syamsul
"Assalamu'alaykum," Bayu menyampaikan salam saat masuk ke ruang rawat.
"Bapak," tentu saja Nisa kaget saat Bayu datang lebih dulu dari Murni.
"Ada apa ya Pak?" Nisa bingung pagi-pagi Bayu sudah ada di ruang rawat ayahnya.
"Saya dan ibumu mau bicara dengan kamu," Bayu langsung mengatakan itu pada Nisa.
"Ibu memang semalam bilang, saya suruh nunggu dia karena dia ingin bicara," Nisa memang menunggu ibunya tiba pagi ini.
"Iya itu bersama dengan saya," jawab Bayu.
'*Ada apa ya ibu dan pak Bayu ingin bicara denganku? Rasanya aku tak ada salah pada pak Bayu. Pekerjaanku tak ada masalah koq*,' Nisa membereskan baju kotor dan semua sampah agar dibersihkan oleh cleaning servise. Sejak kemarin pak Syamsul sangat lemah. Sadar hanya tak bisa apa pun.
Tak lama Murniati ibunda Nisa datang.
"Sudah lama nak Bayu?" Murni bertanya.
"Belum Bu baru aja datang," Bayu memberi salim pada Murniati.
"Sebentar Ibu taruh barang-barang ini dulu," kata Murni. Dia menaruh baju bersih dan makanan untuk dia makan nanti, karena dia malas bila harus pergi keluar beli makan siang sampai sore menunggu Nisa pulang kantor.
"Kita bicara di kantin aja Bu. Sekalian sarapan," kata Bayu.
"Oke ayok Nis. Nanti kalian kesiangan berangkat kerja," Murni tahu jam tujuh biasanya Nisa sudah harus berangkat kerja agar absentnya tidak merah.
Mereka bertiga pun meninggalkan ruang rawat Pak Samsul.
"Sambil menunggu pesanan kita langsung mulai aja ya nak Bayu," kata Murni.
"Ya Bu. Silakan aja dimulai. Nggak apa-apa," mereka sedang menunggu bubur ayam pesanan mereka.
"Nis kamu tahu kan kalau kamu bukan anak ibu," Murniati memulai inti pembicaraan
'*Apa yang akan Ibu bicarakan? Mengapa harus ada pak Bayu? Apa hubungan pak Bayu dengan kalimat ibu*?' Nisa berpikir menghubungkan apa maksud ibunya.
__ADS_1
"Sebelum terlambat Ibu mau bicara sama kamu siap tidak siap harus siap." Murni menjeda kalimatnya. Saat itu bubur ayam mereka datang.
"Sebenarnya, kamu itu keponakan kandungnya ayah Syamsul."
"Ibumu adalah Nurbaeti yang biasa dipanggil Nunung. kakak kandung ayah Syamsul. Dia Meninggal saat melahirkan kamu."
'*Jadi yang sering Ayah kunjungi dan ngajak aku itu makam ibu kandungku? Ayah selalu bilang ke aku dia bude Nunung*.' Nisa mengingat sering dibawa ayahnya ziarah ke makam budenya sejak dia kecil.
Nisa tertegun ternyata selama ini dia dirawat oleh pamannya sendiri.
"Sejak kamu lahir ayah dan ibu ingin mengadopsi kamu secara legal agar kami punya kekuatan hukum. Tapi tidak boleh oleh ayah kandungmu."
"Siapa ayah kandungku? Kenapa nggak boleh," Nisa langsung memutus cerita ibu Murni
"Ayah kandungmu adalah kakek Ahmad," sahut Murniati.
"Bagaimana mungkin kakek jadi ayah kandungku?" Nisa tak percaya dia anak kakeknya sedang ibu kandungnya anak si kakek.
"Kakek Ahmad bukan ayah kandung Nunung. Dia memperkosa anak tirinya sehingga Nunung hamil. Pemerkosaan itu bukan sekali tapi berkali-kali."
"Nenek Yuni tak bisa bertindak apa-apa karena selalu diancam mau dibunuh oleh kakekmu."
"Saat kau lahir di surat kelahiranmu kamu atas nama anak Yuni dan pak Ahmad," kata Murniati.
"Kalau dia ayah kandungku, kenapa dia jahat? Kenapa sejak kecil dia selalu menjodohkan aku dengan orang tua yang umurnya sudah lebih tua dari kakek sendiri?" tanya Nisa.
"Karena dia berhutang banyak. Dia raja judi. Selama ini dia sudah menjualmu berkali-kali tapi selalu ditebus oleh nenek Yuni dan ayahmu."
"Sekarang nenekmu sudah tidak ada Nis, kami tentu tidak sanggup bila harus menebus kamu lagi."
"Selama ini nenek dan ayahmu yang menebus dengan uang berdua sedangkan ayahmu sekarang sakit kami nggak sanggup lagi," Murniati jujur kalau sudah berkali-kali menebus putrinya.
Nisa mulai menangis, Bayu menyerahkan tissue di meja.
"Terima kasih Pak," ucap Nisa menerima kotak tissue dari Bayu.
"Sampai saat ini kakekmu ingin menjualmu. Dia berpikir nanti tiap hari kamu akan mendapat uang dari hasil menjadi pela-cur. Uang itu akan dia pakai lagi buat berjudi," jelas Murni
"Mengapa ada ayah sekejam itu?" tanya Nisa.
"Ada buktinya ayah kandungmu seperti itu," kata Murni.
"Dia bukan ayahku, ayahku adalah Syamsul." Nisa dengan tegas menolak kalau dia anak Ahmad.
__ADS_1
"Fakta yang pertama tadi kamu anak kandung pak Ahmad, fakta kedua keuangan ayah Syamsul menipis dan tak bisa cover bila kamu dijual lagi. Dan ketiga sebenarnya ayah Syamsul sakit jantung Nis. Dan kecil kemungkinan dia untuk bertahan hidup. Dan kanker rahim ibu sudah stadium akhir Nis."
"Kamu bisa mengerti kan kami sudah enggak bisa lagi melindungi kamu."
"Jadi Ibu minta anak Bayu untuk mencarikan jodoh bagimu agar kamu terbebas dari kakek mu Nis."
"Terserah kamu bagaimana Kamu mau tidak di tolong nak Bayu."
"Kalau kamu tidak mau ditolong anak Bayu ya resikonya kamu harus tanggung sendiri."
"Kamu tahu kan kakekmu seperti apa. Kamu ditangkap dia tapi ayah bisa membebaskan. Sekarang nggak ada lagi ayah dan nenek Nis," Murniati mulai ikut menangis.
Tentu saja Nisa tahu semua itu, dia tidak bisa melawan kakeknya yaitu Pak Ahmad.
"Ya kemarin ibumu bertanya pada saya siapa pacarmu. Saya nggak tahu saya udah tanya pak Herman nggak ada yang tahu," Bayu mulai bicara.
"Ini waktu sangat mepet melihat kesehatan ayahmu seperti itu, saya lalu bilang sama ibumu, bagaimana kalau saya yang menikahimu."
"Saya sudah jelaskan ke Ibumu saya duda bercerai karena perbuatan buruk saya. Perbuatan tanpa sadar sehingga saya dengan pembantu melakukan zina. Saya tidak mau kamu dengar dari orang lain."
"Tapi serius Demi Allah saya nggak sadar. Jangankan niat selingkuh, sejak pacaran dengan istri saya, maksud saya mantan istri saya, saya nggak pernah terpikat dengan perempuan lain. Tapi saya bisa tergila-gila sama pembantu di rumah saya yang wajahnya saja jauh dibawah rata-rats," kata Bayu.
"Karena waktu mepet Kemarin saya juga sudah bilang ke orang tua saya. Orang tua saya bilang kalau kamu setuju, sekali lagi kalau kamu setuju, kita langsung nikah di depan pak Syamsul. Hanya akad nikah. Urusan resepsi dan segala hal lain nanti dibicarakan melihat kondisi kesehatan pak Syamsul."
"Setelah akad nikah nanti pengacara saya akan memberitahu Pak Ahmad dan akan menekannya jadi dia tidak akan bisa lagi bergerak menjualmu."
"Mohon maaf orang tua saya adalah orang cukup. Ayah saya punya tiga supermarket. Tapi karena kesalahan saya semuanya diberikan untuk anak saya."
"Bahkan mantan istri saya tidak mau menerima Nis. Mantan istri saya tidak mau menerima harta saya tetapi ayah saya memberikan semua untuk cucunya jadi saya benar-benar 0 besar."
"Yang saya miliki hanya gaji saya saja. Saya tak ingin soal ini baru kamu ketahui belakangan. Saya bukan orang kaya," Bayu jujur pada jumlah hartanya. Dia tak ingin dikira anak orang kaya.
'*Jadi dia sama sepertiku? Tak punya harta juga? Apa kami berdua bisa mencukupi biaya panti asuhan? Apa aku cari orang lain yang lebih kaya aja buat membantu aku membiayai panti asuhan*?' Nisa galau sendiri. Dia masih saja memikirkan bagaimana kelanjutan panti asuhan.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.
__ADS_1