
DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI
\~\~\~\~\~
Semua melihat papan nama usaha yang terpasang didepan kios kecil yang cantik ini. WIENDA ~ BREAD
nama yang terpampang.
‘Selalu Mbak Wien bergerak sendiri,’ Arno sang adik kagum pada kakak nomor duanya ini.
‘Bayu memang terlalu bodoh. Permata seperti ini dia buang ke comberan,’ Joko Susetyo mantan mertua Wiwien tak percaya menantunya semakin bersinar melangkah seorang diri.
‘Dia memang hebat, jauh beda dengan anakku,’ Iswarni mantan ibu mertua Wiwien hanya bisa menyesali mengapa putranya bertindak sangat bodoh .
‘Sejak kecil memang aku sudah bisa membaca kemampuan anak tengahku ini. Semakin ditekan, dia akan semakin melesat. Sekarang terbukti. Dia mengepakkan sayapnya yang patah dengan segala kekuatannya,’ Teguh Susilo ayah kandung Wiwien sangat bangga dengan sepak terjang anak keduanyaa ini.
‘Apa yang waktu itu kamu bilang mau cari sesuatu itu, berhubungan dengan usaha ini Wien?’ pikir Tonny. Lelaki ini sama sekali tak menyangka kehebatan Wiwien dalam bergerak.
‘Dia sibuk kuliah, lalu setiap hari masak untuk kami semua di rumah sakit, kapan perempuan hebat ini mempersiapkan usaha barunya?’ Seroja tak percaya Wiwien membuka usaha lain lagi.
Akhirnya semua mengucap selamat atas pembukaan usaha baru Wiwien.
“Ya ampuuuuuuun Wien. Kamu koq ya sempet sih bikin tumpeng unyu gini?” Sashi memuji tumpeng di piring yang Wiwien hidangkan.
“Ini hanya membuktikan semua home made, enggak pesan di orang lain,” sahut Wiwien santai sambil mempersilakan semua makan tumpeng yang dia buat.
“Gimana. Enak enggak nasinya.kurang gurih enggak?” tanya Wiwien pada Seroja yang sedang duduk bersama Sashi dan Kia.
“Enak,” sahut Seroja yang jelas didengar Sashi.
“Mama suka?” pancing Sashi.
“Iya,” sahut Seroja.
Tonny menghindar ke belakang. Dia terisak didepan kamar mandi. Dia jelas melihat sang mama bicara dengan Sashi.
Tonny merasakan tepukan lembut dipunggungnya. Dan satu kotak tissue tetiba dia lihat didepannya dengan sebuah tangan dari belakang tubuhnya menyodorkan kotak itu.
“Terima kasih. Kamu membuatnya berubah,” Tonny mengambil beberapa lembar tissue dan menghapus air matanya.
“Masuk yok, masak Awan ulang tahun malah ayahnya nangis,” goda Wiwien.
__ADS_1
“Aku dengar dengan jelas lho ya, kamu enggak boleh ralat,” bisik Tonny. Dia jelas mendengar Wiwien menyebut dirinya AYAHNYA AWAN!
“Aku enggak bawa tip ex buat hapus tulisan koq MAS,” jawab Wiwien sambil meninggalkan Tonny yang masih tak percaya akan panggilan baru dari Wiwien untuknya.
“Mama mau tambah apa?” tanya Tonny. Dia juga sangat ingin mendengar mamanya bicara padanya.
“Cukup,” jawab Seroja lirih. Dia masih sulit bila menghadapi Tonny. Karena dia paling merasa bersalah pada anak bungsunya itu.
Mendengar balasan itu hati Tonny seperti disiram air dingin. Sangat Adem.
“Mbak Asih nambah,” Wiwien menawarkan kakaknya untuk mengambil lagi nasi dan lauknya.
“Cukup De,” sahut Asih.
“Bu Waode, mbak Ira, jangan malu-malu lho,” semua yang hadir disapa satu persatu oleh Wiwien.
“Dulu yang kamu cari tu, berkaitan dengan usaha ini?” tanya Tonny yang duduk disebelah bu Seroja.
“Iya, aku nyari lokasi yang bagus,” sahut Wiwien.
“Emang kalau ama aku kenapa?” Tonny penasaran.
“Enggak pengen ada yang tahu usahaku. Lebih seneng mikir sendiri, jalan sendiri, kalau sudah seperti ini baru di siarkan,” jawab Wiwien.
“Cukup Wien. Masakanmu paling top. Ayah hampir dua piring karena punya ibu enggak habis dan Ayah yang habisin,” balas Joko.
Slamet dan Rahmad yang lama tak jumpa asyik ngobrol berdua. “Mas Mas, nasi nambah dulu baru lanjut ngobrol,” Wiwien menginterupsi dua pria perkasa itu.
“Eh bener. Ayo Mad, kita ambil makanan lagi dulu,” Slamet mengajak konco lawasnya segera tambah nasi dan lauk lagi.
“Mbakku paling hebat,” bisik Arno yang memeluk erat Wiwien dari belakang. Semua itu tak lepas dari pandangan Tonny. Dia jadi tahu bagaimana kedekatan Wiwien dan Arno.
“Kamu tahu kan aku paling malas mendengar suara sumbang yang akan membuatku putus asa sebelum perang,” balas Wiwien sambil memegang erat kedua tangan adiknya yang ada diperutnya.
“Kuliah juga diem-diem ya. Kalau Bapak enggak ke ruko enggak bakal tahu,” Arno kembali menegur Wiwien yang tak menceritakan kalau Wiwien kembali kuliah.
“Aku sebel De, diejek buat apa buang waktu dan uang, wong usahaku enggak butuh ijazah,” keluh Wiwien.
“Iya sih. Bikin patah semangat ya?” balas Arno. Arno tahu siapa yang Wiwien maksud membuat semangatnya putus bagai layangan tak bisa terbang karena tak ada angin.
“Nah itu kamu tahu,” balas Wiwien.
__ADS_1
Satu persatu tamu pulang. Yang tinggal hanya Arno, Tonny dan tentu mas Suli dan mas Opik.
“De, anterin Awan dan simbok pulang duluan dong. Biar bisa tidur nyaman dan enggak kena debu pas lagi pada beberes,” pinta Wiwien.
“Ayok. Suruh siap-siapin aja yang mau dibawa pulang,” sahut Arno.
“Ini kunci mobilku, cuma bawa Awan sama simbok doang. Paling ama baju dia. Semuanya nanti biar dibawa pakai mobil bak,” sahut Wiwien.
“Mbak Ira, semua makanan diberesin. Bawa pulang ya. Jangan lupa bawain keluarga mas Bangun juga. Roti juga jangan pada ketinggalan. Dan kamu Sulis, nanti juga bawa makanan dan roti untuk dirumah ya,” Sulis adalah pegawai di kios roti ini.
“Iya Bu,” sahut mbak Ira dan Sulis.
Sulis adalah keponakan mas Bangun. Tonny melipat tikar dan meletakkannya di pojokan. Dia tak tahu tikar apakah semua milik Wiwien. Jadi hanya dia lipat rapi saja.
***
Wiwien melihat sepeda roda tiga yang tidak dibungkus, baru diturunkan dari mobil Tonny. Wiwien dan Tonny baru tiba di ruko. Mas Suli sejak tadi menutup kios Roti sudah duluan ke ruko, menurunkan semua barang lalu langsung pulang setelah Wiwien membayar sewa mobil bak.
Ada simbok yang memang sejak tadi pulang lebih dulu, sekarang sedang membereskan barang-barang yang tadi mereka gunakan di kios.
“Istirahat sik Mbok, kerjakan besok aja. Enggak ada yang nangis kalau dikerjakan besok,” Wiwien tak ingin simbok terlalu kelelahan.
“Tanggung Mbak, baru bangun. Suruh tidur lagi pasti sulit. Ta’ kerjakan semampunya aja sambil nunggu ngantuk lagi,” jawab simbok yang tadi memang ikut tidur tatkala ngeloni Awan.
“Mas mau ngopi dulu atau mau langsung pulang?” tanya Wiwien pada Tonny yang baru selesai membawa masuk semua alat yang tadi hanya diletakkan di depan oleh mas Suli.
“Aku pulang aja ya, rasane badan lengket,” jawab Tonny. Sebenarnya dia masih ingin di ruko. Tapi dia tahu Wiwien ingin istirahat setelah sibuk masak sejak kemarin.
“Oke,” sahut Wiwien.
“Kamu istirahat ya, night Sweet heart,” bisik Tonny dan dia kecup selintas kening Wiwien. Suatu perilaku yang sangat maju. Dulu dengan Vita tunangannya saja dia tak pernah mencium kening lebih dulu, KECUALI saat foto pertunangan karena memang dminta oelh penata gaya. Selebihnya tak pernah dia mendekati dan mencium Vita lebih dulu.
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
__ADS_1
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta